Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Lamaran part 2


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari sangat membahagiakan bagi Dina. Dengan memakai kebaya berwarna pink lembut, gadis itu terlihat sangat anggun.


"Dina, kamu cantik sekali," kata Indah dan Riri yang sengaja datang untuk membantunya bersiap-siap.


"Calon suamimu seperti apa, Din? Aku sangat penasaran. Apakah lebih tampan dari suaminya Ameera, Si Bule Turki itu?" tanya Indah.


"Kamu ini, Indah. Selalu meleleh kalau lihat pemuda ganteng," ucap Riri.


Dina pun tertawa mendengar ucapan kedua sahabatnya itu. Empat tahun belakangan ini merupakan saat-saat yang penuh perjuangan baginya. Ia harus meyakinkan hatinya untuk menerima lamaran itu.


"Kalian akan tahu nanti. Calon suamiku seperti seorang pangeran,"


Indah dan Riri pun menjadi sangat penasaran seperti apa calon suami Dina.


***


Sementara itu, di rumah keluarga Chandra Jaya, para penghuni rumah sedang bersiap-siap.


Ozan sudah rapi dengan setelan jasnya, sedangkan Ameera terlihat cantik dalam balutan kebaya.


"Yank, aku ganteng ya..." kata Ozan memuji dirinya sendiri.


Ameera pun menghampirinya dan memeluknya dari belakang.


"Aku jadi ingat pernikahan kita, Mas. Waktu itu kita menikah di rumah sakit, tidak ada acara lamaran yang indah, tidak acara meriah."


Ozan lalu memeluk Ameera. "Tapi kan kita sudah menggelar acara resepsi di Turki,"


"Hehe, Aku akan menjadikan pernikahan Dina sebagai pernikahan terindah di dunia," kata Ameera dengan mata berbinar.


Erzan dan Elmira kemudian masuk ke kamar itu. Mereka sangat lucu. Elmira dengan gaun indahnya dan Erzan memakai jas yang sama dengan Ozan.


"Ayah, Ibu... Ayo!" ajak mereka.


"Ayo, Yank. Kita berangkat. " Ameera lalu berpegang di lengan suaminya itu. Berjalan beriringan keluar kamar.


Di lantai bawah seluruh keluarga sudah menunggu. Beberapa pelayan di rumah itu memasukkan beberapa seserahan ke dalam mobil.


Hendri dan Aliyah yang sudah datang sejak tadi bersama Naura dan Dion, duduk menunggu di ruang keluarga. Tinggallah Rangga yang duduk merenung di sudut ruangan dengan wajah suramnya.


Apa aku kuat menerima semua ini. Kenapa mereka semua terlihat bahagia sedangkan aku tidak. Dina akan menikah dengan orang lain.


"Rangga..." panggil Ameera.


"Apa?" sahut Rangga dengan kesalnya.

__ADS_1


Ameera kemudian duduk di samping Rangga, mengcoba mengibur sahabatnya itu.


"Kamu tidak akan ikut kan?" tanya Ameera.


"Ikut? Tidak!" jawab Rangga.


Kalau aku ikut kesana, aku hanya akan mengacaukan acara lamaran itu. Bisa-bisa aku nekat menculik Dina. Jadi lebih baik aku jangan ikut. batin Rangga.


"Wajahmu jangan begitu. Tenang saja. Nanti akan aku kenalkan dengan beberapa temanku." tawar Ameera.


"Apa temanmu cantik?"


"Tentu saja. Tapi temanku sepertinya tidak ada yang sanggup menunggumu selama empat tahun. Jadi bagaimana?" Ameera sudah mulai lagi dengan keusilannya, Rangga yang kesal langsung menatapnya dengan tatapan tajam mengintimidasi.


"Kamu jangan mulai, Ameera!" kata Rangga seraya membulatkan matanya.


"Haha, aku kan mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kamu tidak terima?"


Rangga terdiam sejenak. Menyandarkan kepalanya di kursi. Ameera menatapnya dengan senyuman penuh arti.


"Apa Bang Ramon ikut kesana?" tanya Rangga kemudian.


"Tentu saja tidak. Kan pamali. Kak Ramon itu orang Makassar. Disana pamali kalau mempelai laki-laki datang saat acara lamaran. Bisa batal acara pernikahannya,"


Rangga tersentak mendengar ucapan Ameera. "Lalu kenapa kamu tidak paksa Bang Ramon ikut?"


Ya kan biar pernikahannya batal. Ya ampun... benar kata Ameera. Aku sudah gila. Kenapa aku malah berharap mereka tidak jadi menikah...


"Sudahlah, kalian pergi saja. Jangan pedulikan aku." Rangga kemudian melengos meninggalkan Ameera. Sementara Ameera terkekeh saat melihat wajah Rangga yang sangat kusut itu.


Aliyah pun mampu melihat raut wajah sedih Rangga. Wanita paruh baya itu merasa tidak tega melihat anak yang telah ia besarkan dengan penuh kasih sayang itu mengalami patah hati.


"Mas, aku akan melihat Rangga dulu..." kata Aliya pada Hendri.


"Jangan lama-lama, Al... kita akan segera berangkat."


" Iya sebentar saja, Mas." Aliyah lalu menyusul Rangga masuk ke kamarnya. Sedangkan Hendri mengajak Erzan dan Elmira bermain bersama anak perempuan Naura.


"Papa, bagaimana proyek pembangunan yayasan Papa, aku dengar dari Ameera pembangunannya sudah mulai."kata Ozan yang duduk di sebelah Hendri.


"Iya, Zan. Ameera sangat senang saat mengunjungi tempat itu."


"Kalau Papa butuh bantuan, aku siap membantu,"


"Terima kasih, Zan. Papa masih bisa mengatasinya. Kau kan juga pasti sangat sibuk sekarang."

__ADS_1


Setelah seluruh persiapan telah selesai, mereka bergegas menuju rumah Dina. Acara lamaran itupun berjalan dengan lancar. Dina di dampingi beberapa keluarganya dari Bandung yang menjadi walinya.


"Dina, kamu cantik sekali, Nak..." Kata Zarima sesaat setelah prosesi lamaran selesai.


"Terima kasih, Tante. Kalian juga cantik-cantik," kata Dina pada Aliyah dan Zarima.


Sementara Ameera sedang melepas rindu dengan kedua sahabatnya, Riri dan Indah yang sudah beberapa lama tidak bertemu.


Sejak kelahiran anak kembarnya, Ameera memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus merawat kedua anaknya. Sejak saat itu, ia jarang berkumpul dengan teman-temannya.


"Aku sangat merindukanmu, tahu... Aku pikir kamu sudah lupa dengan kami," kata Indah.


"Ameera, aku sangat penasaran bagaimana calon suami Dina. Dia merahasiakannya dari kami. Kamu fotonya tidak?" tanya Indah.


"Jangan lihat. Nanti kamu pingsan. Nanti saja lihatnya di acara resepsi." kata Ameera seraya tertawa puas.


Indah mengerucutkan bibirnya, gadis itu masih seperti dulu, selau terbawa perasaan saat melihat lelaki tampan. Ameera tertawa saat mengingat betapa dirinya terbakar cemburu saat Indah memandangi foto Ozan dengan kekaguman saat berkemah dulu.


"Apa dia lebih ganteng dari bule Turki suamimu?" tanya Indah lagi.


"Kurang lebih sama," jawab Ameera.


"Kamu jahat Ameera. Ayolah... Perlihatkan fotonya. Kalau tidak beritahu akun sosial medianya saja. Aku akan mengintipnya melalui akun sosmednya..." Indah yang sudah sangat penasaran itupun terus merengek pada Ameera. Hingga akhirnya, Ameera mengambil ponselnya dan menunjukkan foto seorang pria tampan.


Indah dan Riri pun membulatkan matanya ketika melihat betapa tampannya calon suami Dina.


"Ya ampun. Ini sih lebih ganteng daripada bule Turkimu... Dia sangat imut..." kata Indah kemudian.


"Enak saja. Bule Turki ku lebih ganteng," sahut Ameera.


"Ameera, kenalkan aku dengan seseorang yang setampan ini. Di keluargamu pasti masih ada kan?"


Ameera berpikir sejenak seraya terkekeh, "Nanti aku kenalkan. "


***


Rangga yang masih termenung di kamarnya seorang diri hanya dapat memandangi foto Dina dengan perasaan sedih. Ia menyesali semua perbuatannya di masa lalu yang mengabaikan seseorang yang sudah menunggunya dengan ikhlas.


Maafkan aku, Din. Sekarang aku hanya bisa mendoakan semoga kamu selalu bahagia.


***


BERSAMBUNG*.


AWOKAWOK SELAMAT PATAH HATI BABANG RANGGA.

__ADS_1


Gimana gimana? kalian setuju Ramon menikah sama Dina??? wkwkwk


__ADS_2