
Setelah putus asa dengan segala macam terapi yang tidak membuahkan hasil, malam itu Dina mencoba menghibur Rangga dengan mengajaknya bersantai di sebuah cafe yang menjadi favorit Rangga.
Walaupun Rangga telah menjelma menjadi sosok pemarah dan galak, namun Dina tetap sabar menghadapinya. Ia sadar Rangga sedang frustasi, sehingga sering melampiaskannya dengan marah-marah tidak jelas.
"Aku pesankan minuman kesukaanmu, ya..." ucap Dina. Namun Rangga tidak menjawab. Ia hanya diam membisu.
Dina lalu memanggil seorang pelayan cafe. Dan, ketika melihat Rangga, pelayan itu terbelalak kaget. Betapa tidak, ia tidak menyangka jika pria di hadapannya yang sedang duduk di kursi roda, adalah sang pemilik cafe.
"Apa yang kau lihat?" tanya Rangga dengan tatapan mengintimidasi.
Sungguh, bagi sebagian orang, tatapan Rangga yang tajam itu sangat menakutkan. Seolah mampu membelah apapun yang ada di hadapannya.
"Tidak, tidak. Maafkan saya." ucap pelayan itu seraya menundukkan kepala. Dina yang menyadari situasi itu pun segera menyela.
"Buatkan minuman kesukaan Rangga saja, satunya aku minta jus alpukat. Jangan lupa roti bakarnya, ya." pinta Dina pada pelayan itu.
"Baik..." setelah mencatat pesanan Dina, pelayan itupun pergi meninggalkan mereka berdua. Dina memperhatikan beberapa pelayan di cafe itu sedang melihat ke arah Rangga. Dina pun segera mendekati mereka.
"Jangan di ambil hati, ya... kalau Rangga marah-marah pada kalian. Mood-nya sedang rusak." ucap Dina lembut pada beberapa pekerja cafe.
"Jangan khawatir. Kami tahu seperti apa bos yang sebenarnya." sahut seorang pria yang merupakan manager cafe itu.
"Terima kasih, Wan... Maaf, ya... Sejak kecelakaan itu, dia mudah marah. Aku harap kalian tidak tersinggung dengan sikapnya."
"Jangan khawatir, santai saja." sahut pria itu.
"Maaf, ya..."
Setelah itu, Dina kembali ke meja dan duduk bersama Rangga. Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Tidak seperti biasanya, kali ini Rangga hanya menatap menu favoritnya itu tanpa menyentuhnya. Selera makannya hilang seiring semangat hidupnya.
"Tolong antar aku ke panggung, Din..." pinta Rangga.
Tanpa banyak tanya, Dina mendorong kursi roda Rangga menuju sebuah panggung kecil yang terdapat di cafe itu. Setelah itu, Dina duduk di kursi di sudut panggung, memperhatikan pujaan hatinya dari sana.
Rangga mendekati sebuah piano dan mulai memainkan lagu favoritnya. Sebuah lagu dari Coldplay yang berjudul Everglow. Lagu yang mengingatkannya pada Ameera.
Oh they say people come, say people go
This particular diamond, was extra special
And though you maight be gone,
And the world may not know
Still I see you, Celestial
Like a lion you ran, a goddes you rolled
Like an eagle you circled, in perfect purple
So how come things move on,
how Come cars don't slow
When it feels like the end of my world
When I should but I can't let you go
But when I'm cold, cold
Oh When I'm cold, cold
There's a light that you give me,
When I'm in shadow
There's a feeling you give me, an everglow
Like brothers in blood, sisters who ride
And we swore on that night, we'd be friends
til we die
But the changing of wind, and the way
__ADS_1
Waters flow
Life as short as the falling of snow
And now I'm gonna miss you, I know
But when I'm cold, cold
In water rolled, salt
And i know you're with me, and the way
you will show
And you're with me wherever I go
And you give me this filling,
this everglow
What I wouldn't give for just a moment to hold
Yeah, I live for this feeling, this everglow
So, if you love someone,
you should let them know
Oh the light that you left me will everglow
Dina begitu terpukau mendengarkan lagu yang di mainkan Rangga, namun juga ada perasaan sedih dalam hatinya. Diam-diam ia menyeka air matanya agar tidak terlihat oleh siapapun.
Sampai sejauh ini, hatimu masih sepenuhnya milik Ameera. Apakah perjuanganku selama ini sia-sia? Bahkan kamu menyanyikan lagu itu dengan sangat indah. Lagu yang isinya tentangmu dan Ameera. Apa aku masih sanggup, Rangga? Bahkan kamu memberi nama cafe ini dengan gabungan namamu dan Ameera. 'Ra-Ra cafe'... kenapa aku sangat menyedihkan?
Sekilas, Rangga melirik Dina dengan ekor matanya. Ia yakin gadis itu sedang menangis.
Dina... maafkan aku. Kamu pasti sedih mendengar lagu itu.
Dan bukan hanya Dina, semua pengunjung cafe sangat terpukau dengan suara merdu milik pria yang sedang duduk di kursi roda itu seraya bertepuk tangan. Ada yang terkagum-kagum, namun ada pula yang terlihat saling berbisik.
Mungkin mereka sedang membicarakan seorang pria dengan ketampanan yang nyaris sempurna, namun sialnya harus terbelenggu di atas kursi roda.
"Kamu tidak minum jusnya?" tanya Dina.
"Aku sedang tidak berselera. Aku mau pulang saja." pinta Rangga.
"Baiklah..." Dina kemudian memanggil seorang pelayan untuk membereskan meja itu.
Rizal masih setia menunggu di parkiran. Ketika melihat Rangga dan Dina, ia segera menghampiri mereka dan membantu Rangga naik ke mobil.
"Lu baik-baik aja kan?" tanya Rizal pada Rangga ketika melihat dua orang itu murung sejak keluar dari cafe.
"Nggak apa-apa." jawab Rangga singkat.
Mereka pun terlibat drama saling diam selama perjalanan. Menyembunyikan perasaan masing-masing.
"Sepi amat, ya... kayak sepinya hati ini..." ucap Rizal seraya menyetir, mencoba memecah kebekuan.
"Makanya cari pacar, Lu... Siapa namanya? Sherly kan?" tanya Rangga.
"Nyerah gue, dia nggak suka sama gue. Menunggu sesuatu yang nggak pasti itu menyakitkan, Bro... " jawab Rizal.
Dan lagi-lagi si Rizal ini bicara tidak pada tempatnya. Mungkin sudah sifatnya yang kadang tidak mengontrol terlebih dahulu ucapannya, membuat Dina menunduk. Ucapan Rizal benar-benar tepat mengenai dirinya. Dina menunggu Rangga sudah 4tahun lamanya. Namun belum ada tanda-tanda Rangga membuka hati untuknya. Gadis itu tidak tahu saja perasaan Rangga yang sebenarnya.
"Kita langsung pulang nih?" tanya Rizal pada dua makhluk yang berada satu mobil dengannya.
"Antar Dina pulang dulu, Zal." jawab Rangga.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah Dina. Begitu mobil memasuki halaman rumahnya, ia langsung keluar dari mobil dan masuk ke rumah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan dua pria itu mampu melihat raut kesedihan di wajah Dina.
Bukannya segera pulang, mereka malah mengobrol di depan rumah itu.
"Lu ngapain sih? Lihat tuh, hasil perbuatan lu!" ucap Rizal seraya menunjuk Dina dengan dagunya.
"Gue kasihan sama dia, Zal... Dina pantas bahagia. Kalau dia terus bertahan sama gue, dia akan lebih banyak sakit hati. Gue nggak mau itu..."
__ADS_1
"Lu yakin, dengan cara lu sekarang memperlakukan Dina, dia bisa menjauh dari lu?"
"Nggak tahu. Coba aja..."
"Ribet banget, hidup lu. Gue tanya nih, lu... mulai ada perasaan sama Dina kan?"
Dan pertanyaan itu seperti sebuah tamparan keras bagi Rangga. Dia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan Rizal. Ia hanya menatap Rizal dengan tatapan mengintimidasinya.
"Oke... oke... gue ngerti..." ucap Rizal seraya melakukan gerakan seperti sedang mengunci mulutnya.
"Lu nggak mau pulang? Mau nge-ronda di depan rumah orang?" tanya Rangga kemudian.
"Iya... bentar, bawel lu ah..."
***
Terjemahan lagu
Mereka bilang orang-orang datang dan pergi
Berlian khusus ini sangat istimewa
Dan meskipun kau pergi, dunia mungkin tak tahu
Ku masih dapat melihatmu di angkasa
Seperti singa kau berlari, berputar seperti dewi
Layaknya burung elang, kau sempurna dengan warna ungu
Lalu bagaimana hal bisa berubah dengan cepat, mengapa tak melambat
Saat terasa seperti akhir duniaku
Saat aku harus melupakan, namun tak bisa melepasmu
Tapi saat aku kedinginan,
Ada cahaya yang kau beri saat aku dalam kegelapan
Rasa yang kau beri padaku, seperti sinar
Seperti kekuatan, yang mengendalikan
Dan kita bersumpah pada malam itu,
Kita akan berteman sampai mati
Tapi perubahan angin dan arus perairan
Hidup sesingkat turunnya salju
Dan kini, aku akan merindukanmu, aku tahu
Tapi saat aku kedinginan,
Bergeliat di dalam air garam
Aku tahu kau bersamaku,
dan caramu kan menunjukkan
Dan kau bersamaku kemanapun aku pergi
Kau memberiku perasaan damai ini
Apa yang tak ku beri hanya
untuk menahanmu
Aku hidup untuk perasaan ini
Jadi, jika kau mencintai seseorang,
Kau harus memberitahunya
__ADS_1
Cahaya yang kau tinggalkan memberi kedamaian
***