
"Dok, detak jantung pasien berhenti." ucap salah satu perawat.
"Suster, tolong siapkan defibrillator." pinta dokter pada perawat.
"Baik, Dok..." Perawat itupun segera menyiapkan alat pacu jantung yang di minta oleh dokter, sebagai upaya terakhir menyelamatkan Rangga.
"Sudah siap?" tanya dokter.
"Siap, Dok." jawabnya.
Dokter pria itu pun menempelkan alat tersebut di bagian dada Rangga, saat di tekannya tombol shock, tampak dada Rangga terangkat. Namun, setelah di lakukan upaya pertama, hasilnya nihil. Dokter melirik monitor yang masih menunjukkan garis lurus.
"Sekali lagi..." ucap dokter.
Dokter yang merupakan paman Rangga itu mencoba untuk yang ke dua kalinya, namun setelah di berikan kejut, hasilnya tetap sama. Masih tidak ada detakan di jantung Rangga. Salah satu dokter tampak menggelengkan kepalanya pada dokter yang memegang alat kejut, seperti memberitahu bahwa Rangga tidak dapat di selamatkan. Dokter itu pun terlihat sedih, ia memandangi wajah Rangga yang pucat. Setitik air matanya terjatuh melihat keponakan laki-lakinya itu.
Di luar ruangan, masih ada Ameera yang terus menangis dalam pelukan Ozan. Sementara Dina dan Ramon bersama Aliyah duduk di kursi sebelahnya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Tidak lama kemudian Rizal datang, ia begitu terkejut mendapat berita tentang sahabatnya tersebut. Ia pun ikut duduk bersama Ramon.
"Mas, aku nggak bisa kalau Rangga sampai kenapa-kenapa. Dina dan Tante Aliyah akan membenciku. Ini semua salahku, Mas." ucap Ameera seraya terisak. Entah sudah berapa kali Ameera mengucapkan kalimat itu. Rasa bersalahnya pun semakin menjadi-jadi.
"Sayang... jangan menyalahkan dirimu. Ini bukan salah kamu. Ini kecelakaan." sahut Ozan berusaha menenangkan.
"Aku yang harusnya terbaring di dalam sana, bukan Rangga."
"Jangan bicara begitu, yank. Ini semua takdir. Tidak ada yang harus di salahkan."
Untuk pertama kalinya, Ozan melihat kesedihan Ameera yang begitu mendalam. Ia bahkan mampu melihat masih ada cinta Ameera untuk Rangga dalam tangisannya. Seketika rasa bersalah menguasai hati Ozan.
__ADS_1
Jika saja dirinya tidak memaksakan diri menikahi Ameera, mungkin sekarang segalanya akan berbeda. Mungkin Ameera dan Rangga punya pilihan untuk bersama. Rangga yang begitu mencintai Ameera bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi Ameera, walaupun Ameera telah menjadi istri orang lain.
Maafkan aku yank, aku lah yang telah memisahkanmu dari Rangga. Seandainya waktu itu aku tidak egois dan memilih menyerahkanmu pada Rangga, mungkin segalanya akan berbeda hari ini. Akan ada banyak kemungkinan antara kamu dan Rangga. Mungkin, Rangga tidak akan terbaring di dalam sana, dan kamu tidak akan menangis seperti ini. Aku begitu percaya diri bahwa aku mampu menjagamu. Aku lupa bahwa Rangga selama ini menjagamu lebih baik dari siapapun. Ozan membatin.
Air mata penyesalan mengalir dari pelupuk mata Ozan melihat Ameera yang menangis sesegukan.
Kenangan tentang Rangga terbayang-bayang di benak Ameera. Sejak kecil hingga menginjak usia remaja, Rangga selalu ada bersamanya. Saat Ameera sedih, hanya Rangga yang mampu menghiburnya. Rangga hadir dalam hidup Ameera dan menjadi pelindungnya.
Jangan tinggalkan aku, Rangga. Aku bahkan belum pernah mengatakan isi hatiku padamu. Kenapa semua ini harus terjadi. batin Ameera
***
Jika Dina terlihat begitu terpukul, maka lain halnya dengan ibu Rangga. Dia terlihat begitu tegar. Bahkan Dina sedang bersandar di bahunya menumpahkan air matanya.
"Jangan menangis, Dina. Kamu sudah banyak menangisi Rangga selama ini. Percayalah, apapun yang terjadi, itu yang terbaik untuk Rangga." ucap Aliyah.
"Kamu harus kuat. Rangga tidak suka melihat orang yang dia sayangi menangis."
"Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa menahannya hari ini."
"Kita do'akan saja yang terbaik untuk Rangga. Jika Tuhan mengambilnya dari kita, maka kita harus bisa merelakannya." ucap Aliyah.
"Aku tidak akan kuat..."
Ramon hanya dapat berusaha menguatkan Dina dengan mengusap punggungnya. Hatinya seperti tersengat listrik tegangan tinggi melihat gadis yang ia sukai menangis pilu. Sesekali Ramon mengalihkan pandangannya pada Ameera yang duduk bersama Ozan di sudut sana. Bahkan Ramon dapat melihat kesedihan Ameera yang begitu dalam.
Rangga, kau bahkan bisa membuat dua gadis ini begitu mencintaimu. Kau tahu, aku sangat iri padamu. Kau harus bertahan dan tebus kesalahanmu pada Dina. Jangan menyerah, Rangga. Jika kau tidak bisa memiliki Ameera, kau punya pilihan seorang Dina. Yang mencintaimu lebih dari apapun. Ramon membatin.
__ADS_1
****
Di tempat lain, Naura yang begitu terguncang karena ternyata orang yang di tabraknya adalah adiknya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi perbuatannya.
Walaupun selama ini hubungannya dengan adik tirinya tersebut kurang begitu baik, namun Rangga adalah saudara satu-satunya yang ia miliki. Setelah kematian ibunya beberapa tahun lalu, hanya ayahnya dan Rangga yang ia miliki. Namun, karena kejahatannya, Hendri kini mendekam di balik jeruji besi.
"RANGGAAA!!" Suara teriakan Naura memanggil nama adiknya memenuhi setiap sudut ruangan, tangisnya pecah, pikirannya kalut.
"Maafkan aku, Rangga... aku sudah mencelakaimu."
Naura berteriak, memaki kebodohannya. Ia frustasi dan melemparkan benda apapun di hadapannya sehingga kamarnya menjadi sangat berantakan.
"Ameera... semua ini karenamu Ameera!" ucap Naura penuh emosi, "jika terjadi sesuatu pada adikku, aku akan menghancurkanmu bagaimana pun caranya."
Gadis itu sama sekali tidak menyadari kesalahannya, bahwa dirinya lah yang menyebabkan Rangga celaka. Ia bahkan semakin membenci Ameera. Seseorang yang tidak tahu apa-apa mengenai dirinya dan dendam masa lalu di antara ayahnya dan Hendri.
****
Semua orang yang menunggu di depan ruangan seakan sudah pasrah kemana takdir akan membawa Rangga. Tidak lama dokter pun keluar dari ruangan itu dengan wajah penuh kesedihan. Aliyah yang melihat raut wajah kakak laki-lakinya tersebut sudah menebak dalam hati apa yang terjadi pada anaknya.
*****
**To be continue
Maafkan daku yaa reader... Babang Rangga ku... maafkan aku....
Aku sedih menulis part ini.. tapi mau gimana lagi...
__ADS_1
TOLONG TINGGALKAN KOMEN KALIAN, APA YANG HARUS KU LAKUKAN. AKU SEDIH.... AKU TIDAK KUAT.... BABANG RANGGA.... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜**