Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Arti mimpi


__ADS_3

Ozan baru saja mengganti pakaiannya yang basah karena berenang ala orang kaya, memakai jas dan sepatu. Ia mendekati Ameera yang sedang mengeringkan rambutnya, lalu memeluknya dari belakang seraya mengusap perut yang semakin membuncit itu.


"Lepasin, Mas... Aku belum selesai," pinta Ameera.


"Tadi kan aku bilang mau menghukummu, karena kenakalanmu membuat panik sepagi ini." ucap Ozan seraya membalikkan tubuh Ameera agar berhadapan dengannya.


"Jadi aku mau di hukum apa?"


"Apa ya...?" sejenak berpikir, "bentar malam ajalah di hukumnya, hehe..."


"Hmm... aku sudah tau hukuman apa yang akan di berikan tuan hakim dadakan ini." ucap Ameera seraya menarik dasi yang melingkar di kerah kemeja Ozan. "Apa lagi kalau bukan melayani nafsumu yang berlebihan itu..."


"Pahala tahu, buat kamu."


"Mas alasannya itu melulu," ucap Ameera yang merasa Ozan selalu memakai kalimat itu untuk meminta jatahnya.


Ameera sudah akan beranjak keluar dari kamar, namun Ozan segera menariknya, lalu memeluknya.


"Kamu ada rencana apa hari ini?" tanya Ozan dalam pelukannya seraya memberi kecupan bertubi-tubi.


"Aku mau menemani Rangga mengunjungi tante Aliyah, setelah itu aku mau menemui Dina, lalu ke makam ayah ibu."


"Sepertinya hari ini kamu sibuk." ucap Ozan seraya melepas pelukannya.


"Iya, aku super duper sibuk. Mas jangan telepon melulu kalau aku di luar. Apalagi aku ada misi penting hari ini..."


"Haha... Sepertinya kamu lagi jadi mak comblang, ya? Itu misi pentingnya?"


"Iya, Aku mau mendekatkan kembali Rangga dan Dina... Aku tahu, Rangga sekarang sedang berperan menjadi gudang cemburu."


Ozan terkekeh mendengar istilah yang di sematkan Ameera untuk Rangga, yang menyebutnya sebagai gudang cemburu.


"Lha, Si Ramon gimana, Yank?"


"Itu resikonya sendiri. Kenapa juga Kak Ramon harus jadi orang ketiga coba?" tanya Ameera seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa yang empuk, Ozan lalu ikut duduk di sampingnya. Sesaat pasangan suami istri itu bergosip ria, bahkan Ozan sampai lupa di jika pagi itu ada rapat penting di kantor, dan membuat Ramon uring-uringan sendiri.


"Tapi kan Dina yang mau..."


"Dina kan nggak tahu perasaan Rangga yang sebenarnya."


"Memang kamu tahu?" tanya Ozan.


"Haha... aku berteman dengan Rangga sejak usia 8 tahun, Mas... Dia orang paling pintar menyembunyikan perasaannya."


Termasuk perasaannya padamu dulu, adikku yang malang...


Tiba-tiba wajah Ozan kembali terlihat sedih, masih saja merasa menjadi penyebab Rangga dan Ameera terpisah. Padahal baik Rangga maupun Ameera sudah tidak mempermasalahkan itu lagi.


"Memang perasaan apalagi yang Rangga sembunyikan?" tanya Ozan.


"Rangga jatuh cinta sama Dina," bisik Ameera, membuat Ozan terlonjak. Selama ini ia mengira Dina hanya sekedar pelarian bagi Rangga.


"Kamu tahu dari mana? Rangga bilang sama kamu?"


"Nggak... Tapi setiap aku sebut nama Dina, wajahnya jadi merah. Jadi aku sebut saja nama Dina seharian di depannya. Dia malah marah-marah." tutur Ameera panjang lebar dan membuat Ozan gemas.


"Kenapa Rangga malah marah-marah? Kamu apain?"


"Rangga marah-marah karena setiap aku sebut nama Dina, ada kerinduan di sana. Kata film yang pernah aku tonton, rindu itu berat."

__ADS_1


"Hahaha... Kamu tahu, kamu itu makhluk Tuhan paling usil di dunia, Yank. Kamu benar-benar pintar ngaduk perasaan orang." ucap Ozan seraya tertawa.


"Makanya bantuin, Mas..." Ameera akan kembali merayunya seperti kemarin-kemarin saat mengorek informasi tentang hubungan Dina dan Ramon.


"Aku nggak mau ikut campur, Yank... Aku nggak mau ikut-ikutan. Rangga adikku dan Ramon sahabatku. Biar mereka sendiri yang selesaikan."


"Ya sudah..." ucap Ameera kemudian.


Akhirnya Ameera gagal mengeluarkan jurus rayuan mautnya setelah mendengar ucapan suaminya itu. Ia tahu Ozan tidak ingin memperkeruh suasana dengan terlibat ke dalam cinta segitiga antara Rangga, Dina dan Ramon.


Ameera lalu merapikan dasi yang berantakan karena di tarik olehnya,


"Jadi boleh kan, aku pergi menemui Dina?"


"Boleh, Yank... Tapi kamu nggak boleh menyetir sendiri, minta di antar sama Pak Bima atau Pak Surya saja. Dan, kamu jangan lama-lama di luar. Sore harus sudah ada di rumah."


"Nggak janji..."


" Perasaanku lagi nggak enak, Yank..." ucap Ozan.


"Nggak enak kenapa?" tanya Ameera


"Aku juga nggak tahu, semalam aku mimpi aneh." sahut yang Ozan teringat mimpinya semalam.


"Aneh gimana?"


"Aku mimpi kamu pergi ke tempat yang gelap bersama dua orang anak kecil."


"Anak kecil?"


"Iya, mungkin aku terlalu kepikiran kamu karena beberapa hari lagi kan jadwal operasimu, jadi terbawa mimpi."


"Aku berangkat dulu, ya. Aku ada rapat." Ozan pun bangkit dari duduknya dan bergegas berangkat ke kantor. Ramon pasti sudah marah-marah, begitu pikirnya.


****


Sementara Rangga yang sudah sejak tadi menunggu Ameera, berdiri di dekat tangga dengan memegang tongkat. Walaupun ia sudah dapat berdiri sendiri, namun kadang kakinya masih gemetar, sehingga menggunakan tongkat untuk berjaga-jaga.


Tidak lama kemudian, terlihat Ameera sedang menuruni tangga.


"Lama...!" ucap Rangga.


"Aku lama? Baru menunggu beberapa menit, kamu sudah kesal. Bagaimana Dina yang menunggu kamu selama bertahun-tahun?"


"Jangan mulai, Ameera!!" ucap Rangga kesal. Entah kenapa akhir-akhir ini Ameera seolah sengaja membakar emosinya.


"Ya maaf, aku kan bicara sesuai kenyataan." Ameera kemudian melengos, meninggalkan Rangga yang masih berdiri di dekat tangga. Terlihat senyum kepuasan di sudut bibirnya melihat reaksi Rangga ketika ia menyinggung soal Dina. Ameera seolah baru saja memenangkan piala Oscar dengan peran kakak ipar terjahat di dunia.


"Begini ya, rasanya punya kakak ipar teman sendiri. Menyebalkan!" gumam Rangga. "Hey, pintu keluarnya disana... bukan kesitu...!" teriak Rangga ketika melihat Ameera malah ke arah lain.


"Aku mau minta izin mama dulu..." sahut Ameera.


Zarima sedang sibuk di dapur ketika Ameera datang lalu memeluknya dari belakang.


"Mama, aku mau keluar dulu, ya... "


"Iya, tapi hati-hati, ya... Jangan sore-sore pulangnya." ucap Zarima seraya mengecup kening Ameera.


"Iya, Mah."

__ADS_1


Setelah meminta izin, Rangga dan Ameera kemudian segera berangkat dengan di antar Pak Bima menuju rumah lama Rangga.


Bagai mendapat angin segar, Aliyah begitu bahagia dengan kedatangan Rangga yang sudah meninggalkannya selama beberapa minggu. Ia menangis haru karena anaknya itu mau memaafkannya setelah semua yang terjadi.


Setelah mengobrol cukup lama dengan Aliyah, Ameera bergegas pergi untuk menemui Dina di cafe tempat mereka janjian. Meninggalkan Rangga yang masih berada di rumahnya.


***


Tibalah Ameera di sebuah cafe, sudah ada Dina di sana yang tiba lebih dulu. Dua sahabat itu kemudian berpelukan, melepas rindunya setelah sekian lama tidak bertemu. Mereka mengobrol panjang lebar tentang banyak hal. Sampai akhirnya, Ameera sampai pada pembicaraan yang merupakan tujuan utamanya mengajak Dina bertemu siang itu.


"Aku sudah memutuskan akan berusaha melupakan Rangga, Ameera...Aku nggak mau menunggunya lagi." ucap Dina pada Ameera. Walaupun wajahnya terlihat sedih saat mengucapkannya.


"Kamu yakin?" tanya Ameera.


"Aku yakin, lagi pula aku sudah berjanji pada Kak Ramon akan memberinya kesempatan."


"Kamu mau menyerah begitu saja setelah 4tahun menunggu?"


Dina terdiam, walaupun hatinya menolak untuk menyerah, namun kata-kata terakhir yang di ucapkan Rangga padanya begitu menyakiti hatinya. Setitik air matanya menetes, teringat hari dimana Rangga memintanya meninggalkannya.


"Rangga nggak membutuhkan aku, sekarang dia punya keluarga yang lengkap... Aku hanya akan jadi penghalangnya."


Ameera sebenarnya ingin mengatakan pada Dina perasaan Rangga yang sebenarnya, namun ia merasa bukan haknya untuk mengatakan itu. Ameera ingin Dina mendengarnya sendiri dari Rangga. Tapi dia harus sedikit berusaha lebih keras memanas-manasi Rangga agar mau mengungkapkan isi hatinya pada Dina.


Sepertinya aku harus menaikkan level provokasiku, supaya Rangga mau menemui Dina.


"Hubungan kamu dengan Kak Ramon bagaimana?" tanya Ameera.


"Aku sedang berusaha memberinya kesempatan. Dia sangat berbeda dari Rangga. Dia orang yang hangat, lucu, perhatian."


Aku tahu, kamu merasa Rangga itu dingin, cuek, dan tidak peduli. Tapi Rangga sudah berubah, Din... Sekarang ada kamu di hatinya. Aku harus apa sekarang untuk menyatukan kalian.


"Kalau Rangga mau ketemu sama kamu, kamu mau nggak?"


"Aku nggak seberuntung itu, Ameera..." ucap Dina yang merasa tidak mungkin jika Rangga mau bertemu dengannya.


Baiklah, aku akan menyatukan kalian kembali, bersabarlah Din... Penantianmu selama 4tahun pasti akan berakhir indah. ucap Ameera dalam hati.


Setelah mengobrol, mereka akhirnya keluar dari cafe itu. Dina akan kembali ke kampus, sedangkan Ameera berencana akan ke makam orang tuanya.


"Pak, tolong antar aku ke makam orang tuaku, ya... Setelah itu kita jemput Rangga." pinta Ameera pada sang sopir.


"Baik, Nona."


Bima kemudian melajukan mobil menuju kompleks pemakaman orang tua Ameera. Tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil yang sejak tadi mengikuti mereka dari arah belakang. Sepertinya bahaya kembali mengintai.


Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di area pemakaman. Dengan membawa dua buah buket bunga mawar putih kesukaan ibunya, ia menghampiri makam yang berdampingan itu. Kemudian duduk di sisi makam sembari membaca do'a.


"Ayah, ibu... aku merindukan kalian. Seandainya kalian ada di sini, aku pasti merasa hidupku sangat sempurna. " ucap Ameera seraya menyeka air matanya. Ia selalu sedih jika mengingat bagaimana kepergian kedua orang tuanya, yang menjadi korban kejahatan orang lain.


Bima yang sedang menunggu Ameera di depan makam, di datangi oleh beberapa orang pria, mereka langsung menyerangnya tanpa ampun, hingga pria itu tidak sadarkan diri. Suasana sore itu sangat sepi, sehingga tidak ada seorangpun yang melihat.


Sementara Ameera yang sedang menumpahkan kerinduannya pada kedua orang tuanya, tidak menyadari ada seseorang berdiri tepat belakangnya dengan tatapan penuh kebencian. Kemudian mendekatinya dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri.


Lalu sosok itu membekap mulut Ameera dengan sapu tangan putih. Ia mencium bau yang begitu menyengat dari sapu tangan itu. Hingga akhirnya, semuanya menjadi gelap....


****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2