Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Membayar masa lalu


__ADS_3

Ameera sedang sibuk dengan laptopnya, sejak beberapa hari ini dirinya di sibukkan dengan persiapan pernikahan Dina.


Rangga melihat Ameera sudah berjam-jam duduk di sebuah ruangan memelototi laptopnya. Jiwa keponya pun timbul. Ia lalu mengendap-endap bagai pencuri mendekati Ameera.


Rangga berdiri tepat di belakang Ameera dan melihat apa yang ada di layar laptop itu.


"Kamu ngapain?" tanya Rangga, membuat Ameera terlonjak kaget.


"Audzu billahi minasy syaithoni rojim..." kata Ameera seraya mengusap dadanya.


"Kamu pikir aku setan?" Rangga langsung duduk di samping Ameera dan kembali mengarahkan pandangannya di laptop itu.


"Kamu mengagetkan aku. Aku kan sedang sibuk..." ucapnya tanpa menoleh pada Rangga.


"Itu apa?" Rangga menunjuk laptop milik Ameera dengan ekor matanya.


"Ini sampul undangan untuk pernikahan Dina dan Kak Ramon...!" jawab Ameera dengan penuh semangat,"Bagaimana? Bagus, kan?" tanyanya dengan senyum sumringah.


"D dan D?" Rangga mengerutkan alisnya melihat desain yang di buat oleh Ameera.


"Iya..."


"Kenapa D dan D? Bukannya D dan R?"


Ameera menghela napas, lalu merengtangkan tangannya sehingga tangannya mengenai wajah Rangga. Rangga pun kembali kesal karena Ameera seperti benar-benar sengaja melakukannya.


"Itu inisial nama Dina dan Kak Ramon. Kamu lupa, nama panjang Kak Ramon, Dzaki Mirza Raymond..." ucap Ameera dengan nada menekan.


"Kenapa bukan D dan R saja?" tanya Rangga.


Kalau D dan R kan mungkin saja akan ada keajaiban dunia dan menjadikannya Dina dan Rangga. Bukan Dina dan Ramon. Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan. Kenapa aku jadi gila begini. batin Rangga.


"Aku mau nya D dan D. Kan terserah aku," Ameera melirik Rangga sekilas dengan ekor matanya, lalu menjulurkan lidahnya dan membuat matanya juling, sesuatu yang sering ia lakukan saat mereka masih sekolah.


"Mukanya jangan begitu, jelek tahu," bentak Rangga. Ia lalu beranjak menuju ruang keluarga dan memilih bermain bersama Erzan dan Elmira.


"Hahaha, kenapa aku jadi senang membuatnya marah," gumam Ameera seraya terkekeh.


****


"Ini bocah-bocah kenapa belum tidur? Kan sudah malam..." tanya Rangga saat menghampiri kedua keponakannya itu.


"Kan lagi main," jawab Erzan.


"Om Rangga, kapan kita ke taman safari. Om Rangga kan janji mau ajak kita ke taman safari, El mau lihat tyrex dari dekat," tanya Elmira.


"Mana ada tyrex jaman sekarang, Elmira. Tyrex itu sudah punah,"


"Tapi tadi lihat di tv ada tyrex-nya?"


"Hadehh, itu kan discovery chanel, tyrex nggak ada di taman safari. Adanya gajah sama harimau,"

__ADS_1


"Ya udah lihat harimau sama buaya ajah,"


"El nggak takut? Itu serem loh..."


"Om Rangga kan lebih serem, hehehe" kata Elmira sambil terkekeh.


Ini bocah sama ibunya sama somplaknya. Yang sabar hati, kenapa sih semua orang akhir-akhir ini suka bikin kesal.


"Bukannya El sama Er mau ke Disney Land sama ayah ibu, opa sama oma, sama kakek juga, kan?"


"Kan masih lama, Om... Ayah kan belum libur..."


"Ya udah tunggu aja... "


Tidak lama kemudian, Ozan baru saja tiba di rumah. Beberapa hari ini ia sangat sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk sehingga harus lembur setiap malam. Kedua bocah itupun berlarian menyambut sang ayah.


"Anak-anak ayah kenapa belum tidur? Kan besok El sam Er mau sekolah." tanya Ozan.


"Lagi main, Ayah... " jawab Elmira.


Ozan lalu beranjak menuju ruang keluarga dimana Rangga berada, dengan menggendong kedua anaknya.


"Itu muka kenapa, suram amat," tanya Ozan saat melihat Rangga yang wajahnya bagai awan mendung.


"Jangan mulai, Bang! Abang kan tahu kenapa..."


"Hahaha, emang enak patah hati," Tidak terima dengan ucapan Ozan, Rangga melempar kakaknya itu dengan bantalan kursi, membuat Ozan tertawa lantang.


"El mau, Ayah di gorok sama ibu kalau rahasianya bocor?" bisik Ozan di telinga Elmira.


Rangga pun menjadi bingung oleh tingkah ayah dan anak yang aneh itu.


"Udah ah... Mau tidur..." Rangga pun berlalu meninggalkan Ozan dan Elmira yang sedang terlibat drama bisik-bisik tetangga.


Setelah itu, Ozan segera mendekati Ameera yang masih sibuk mendesain undangan.


"Yank... Lagi apa?"


"Eh, Mas.. baru pulang... Habis lembur lagi, ya?"


"Iya, aku kejar tayang..." Ozan lalu duduk di samping Ameera dan menyandarkan kepalanya dengan manjanya. Ameera pun membelai wajahnya dengan lembut.


"Sudah makan belum, Mas?"


"Sudah... Tadi makan sama Ramon,"


"oh..."


"Yank... Kamu belakangan ini sibuk sampai melupakan aku. Aku merasa seperti seorang suami yang di telantarkan istrinya," Nada bicara laki-laki itu terdengar sangat memilukan membuat Ameera terkekeh.


"Sejak kapan aku mentelantarkan suamiku?"

__ADS_1


"Nah, sekarang apa? Aku jarang di belai sekarang..." Ozan pun kembali mengeluarkan jurus rayuan mautnya.


"Kamu ini, Mas... di pikirannya begituan terus..."


"Jadi bagaimana? Kamu tega sama aku, Yank... "


"Baiklah, tapi aku selesaikan ini dulu, ya... "


Ozan membetulkan posisi duduknya, lalu berbisik, "Rahasiamu hampir bocor, yank..."


"Apa?" Ameera terlonjak mendengar ucapan Ozan.


"Iya, Elmira hampir membocorkannya, untung aku cepat dengar," Ameera pun menghela napas lega, bisa gawat jika rahasia itu sampai bocor.


****


Hari yang di tunggu-tunggu pun semakin dekat, tidak terasa beberapa minggu lagi Dina akan melepas masa lajangnya.


Senyum manispun tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Hari itu, Dina sedang berada di sebuah butik untuk fitting gaun pengantin yang akan di gunakannya di hari bahagianya.


Gadis itu berdiri di depan sebuah cermin besar, memandangi gaunnya dengan kekaguman.


"Kak, bagaimana? Apa aku kelihatan cantik?" tanya Dina pada Ramon seraya menunjukkan gaun berwarna putih tulang yang melekat di tubuhnya.


"Kamu akan jadi pengantin tercantik di dunia," jawab Ramon membuat Dina tersipu malu.


"Terima kasih, ya... Kak Ramon sudah menemaniku selama empat tahun ini,"


Ramon meraih tangan Dina dan menggenggamnya, "Kamu berhak bahagia. Sekarang tidak akan ada lagi Dina yang selalu murung."


"Semua kan berkat Kak Ramon,"


"Hehe, aku jadi tidak sabar menunggu hari itu," ucap Ramon dengan mata berbinar.


"Aku juga,"


***


Jika Dina sedang bahagia dengan aktivitasnya bersama Ramon, maka lain halnya dengan Rangga.


Hari itu ia menemani Hendri mengunjungi makam Rudi dan Ratna. Dengan membawa dua buket bunga mawar putih kesukaan Ratna, Hendri menghampiri dua makam yang berdampingan.


Ia lalu berjongkok di sisi makam itu. Setitik air matanya pun jatuh, mengingat masa lalunya. Persahabatannya dengan Rudi yang terjalin sejak kecil, harus berakhir dengan menyedihkan karena ambisi balas dendam Hendri yang akhirnya membuatnya kehilangan orang-orang paling berarti dalam hidupnya.


"Rudi, Maafkan kesalahanku... Aku sudah menyebabkan kau pergi secepat ini. Walaupun begitu, kau tetap merawat Ameera dengan baik. Kau menjaga anakku dengan mengorbankan nyawamu. Aku akan selamanya berhutang padamu. Sekarang, izinkan aku menebus semua dosa-dosaku dengan dengan membahagiakan Ameera."


Sekarang aku akan melanjutkan apa yang pernah kita rencanakan bersama. Aku akan memanfaatkan sisa usiaku dengan mewujudkan impianmu, yang pernah akan kita bangun bersama.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2