Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Menemukan Ameera


__ADS_3

Ozan melajukan mobil mencari ke setiap sudut jalan berharap istrinya baik-baik saja. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Arah yang di tunjuk jam membuatnya semakin frustasi.


"Kamu dimana Ameera..." gumamnya pelan.


Sementara Ramon dan Dina ikut mencari sambil menunggu informasi dari Rizal yang sedang melacak Ameera melalui GPS yang terpasang di mobil Rangga.


"Din, udah lama pacaran sama Rangga?" tanya Ramon basa-basi sambil menyetir.


Mendengar pertanyaan Ramon membuat Dina tertunduk. Ramon dapat melihat raut mukanya yang tiba-tiba sedih.


"Maaf, sepertinya pertanyaanku salah." ucapnya kemudian.


Dina tersenyum pelik. "Sebenarnya aku bukan pacarnya Rangga, Kak!"


Ramon tergelak. Pasalnya Rangga dan Dina sangat dekat menurutnya.


"Terus, hubungan kamu sama Rangga gimana? Kalian lumayan dekat."


"Maaf kalau itu aku belum bisa cerita." ucapnya seraya tersenyum.


Aku hanya pelarian bagi Rangga. Orang yang benar-benar ada dihatinya itu Ameera.


"Kamu tahu, kadang-kadang Rangga itu bikin aku merinding. Dia sampai mendatangi Ozan ke Turki cuma buat gebukin Ozan. " ujar Ramon seraya bergidik ngeri.


"Hah, jadi wajahnya kak Ozan lebam itu perbuatan Rangga?"


"Iya. Ozan bilangnya gitu." ucapnya santai


Iya kan? Rangga mampu melakukan hal-hal mustahil untuk Ameera. Aku benar-benar tertinggal jauh dari Ameera.


Tidak lama kemudian, ponsel milik Dina berdering.


"Ini Rizal yang telepon. " ucapnya.


"Halo, Rizal..."


"Din... udah ketemu. Tapi agak jauh dari apartemen. Aku kirim titikny, ya... kamu bisa cari di sekitar sana." kata Rizal di seberang sana.


"Ya udah, Zal. Makasih ya..."


Sambungan telepon terputus.


"Kak Ramon, Ameera ketemu."


Alhamdulillah, selamat gue. Batin Ramon sambil mengusap dadanya.


"Ameera dimana sekarang?"


Dina pun memperlihatkan titik keberadaan Ameera yang baru saja di kirim Rizal.


"Ini jauh banget dari sini. Ameera ngapain kesana?" imbuh Ramon. "Aku hubungi Ozan dulu deh."


***


Ozan masih berkeliling mencari dengan kekhawatirannya yang memuncak. Ia melajukan mobil tanpa arah mencari kesana-kemari, namun tidak juga menemukan Ameera. Ponsel pun berdering, dengan cepat di jawab Ozan.


"Halo, Ram... gimana?"


"Ameera berhasil di lacak. Tapi temoatnya lumayan jauh. Lu kesana deh sekarang. Gue sama Dina juga mau kesana."


"Ya udah lu kirim alamatnya sekarang."


Setelah Ramon mengirimkan alamat tempat Ameera


berada, Ozan segera melajukan mobilnya.


Ameera... kamu ngapain disana malam-malam begini?


***

__ADS_1


Setelah lama menunggu, pesanan kebab Ameera akhirnya jadi. Dengan mata berbinar Ameera mengambil pesanannya lalu meletakkannya didalam mobil. Ia duduk di kursi penumpang lalu memakan kebab isi ayam dengan lahap.


"Hemmm enak sekali. Rasanya sama persis seperti yang ada di Turki. Bagaimana monster kecil, Kalian puas?" berkata seraya mengusap perutnya.


Ameera pun menghabiskan tiga buah kebab sehingga perutnya terasa kenyang.


"Kenapa aku jadi rakus begini? Dulu makan satu saja sudah kekenyangan. " gumam Ameera sambil terus mengunyah.


Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Ia pun turun dari mobil hendak mencari warung untuk membeli minuman. Selang beberapa saat berjalan, ia pun menemukan warung kecil dan membeli air mineral disana.


Tanpa Ameera sadari bahwa jalanan yang sudah sangat sepi karena sudah pukul dua dinihari. Tiba-tiba beberapa orang pemuda menghampirinya dan menghalangi jalannya.


"Hai... adik kecil, mau kemana malam-malam begini?" tanya salah seorang pemuda.


Ameera mundur beberapa langkah ketika para pemuda tersebut semakin mendekat. Ia mengedarkan pandangannya menatap satu persatu pemuda yang berjumlah delapan orang tersebut.


"Jangan mendekat! " bentak Ameera.


"Adik kecil cari apa? Jam segini masih di luar saja. Sini temani kakak."


Kalau aku berkelahi dengan mereka. Apa tidak berbahaya untukku? Batin Ameera.


Ia ingat betul anjuran dokter untuk tidak beraktivitas yang berlebihan karena akan membahayakan janin dalam kandungannya. Ia bisa saja melumpuhkan pemuda-pemuda brandalan itu dengan mudah, namun ia memikirkan keselamatan dua nyawa yang ada dalam perutnya.


Lari...aku harus lari dari sini.


"Ayo adik kecil, kemarilah."


Salah seorang pria menarik tangannya, namun dengan cepat di tepis oleh Ameera, ia pun menghajar pria tersebut sampai tumbang. Beberapa pemuda lain tampak terkejut. Namun mereka semakin menjadi-jadi.


Saat mereka semakin mendekat, Ameera memilih lari dari sana. Mereka pun mengejar Ameera.


Aku harus bagaimana? Tidak ada orang disini untuk aku minta tolong.


Ameera terus berlari sampai tiba di ujung jalan, namun para pemuda tersebut semakin dekat, sementara kakinya sudah lelah berlari. Tiba-tiba sosok tangan kekar menariknya dan memeluknya erat. Ameera mencoba memberontak, namun semakin erat tangan itu mengunci tubuhnya.


"Lepaskan aku... tolong!" ucapnya lirih sambil terisak.


Mendengar panggilan sayang dari orang yang memeluk tubuhnya erat, membuat Ameera mematung dan membulatkan matanya. Pasalnya ia sangat mengenali suara tersebut,ia baru menyadari aroma tubuh yang sangat di rindukannya. Tiba-tiba matanya di penuhi cairan bening, menyadari siapa yang sedang memeluknya.


"Jangan takut, ada aku." ucap Ozan menenangkan Ameera dengan terus memeluknya erat.


"Hei... lepaskan dia! Dia milik kami. Kami duluan yang melihatnya." teriak salah seorang pemuda yang sejak tadi mengejar Ameera. Ozan melirik beberapa pemuda yang mengejar istrinya dengan tatapan membunuh.


Ozan melepaskan pelukannya dan menarik Ameera ke belakang punggungnya.


"Hadapi aku dulu." ucap Ozan dengan penuh emosi.


"Hei, sayangi nyawamu sendiri. Kalau kau lepaskan dia dan memberikannya pada kami, aku akan mengampunimu."


"Benar! Dia hanya seorang gadis malam." kata salah seorang lagi.


Mendengar istrinya disebut gadis malam membuat darah Ozan mendidih.


"Berani sekali kalian mengganggu istriku." ujarnya dengan sorot mata tajam.


"Apa? Istrimu, kau pikir kami percaya. Serahkan anak kecil itu pada kami." ucap seorang pemuda seraya terkekeh.


"Masuk ke mobil... " pinta Ozan pada Ameera. Namun, Ameera tidak beranjak. Ia tetap menempelkan tubuhnya di punggung Ozan.


"Ayo kita pergi saja dari sini." lirihnya di selingi isakan.


"Sayang, ayolah. Tunggu di mobil dan kunci pintunya sampai aku datang."


Ameera pun segera masuk ke mobil Ozan dan mengunci pintunya.


Para pemuda itupun geram dengan Ozan yang merebut buruan mereka.


"Majulah!"

__ADS_1


Para pemuda itupun bersama-sama menyerang Ozan. Ameera melihat Ozan berkelahi dari dalam mobil dengan khawatir. Meskipun ia tahu, Ozan dengan mudah mampu melumpuhkan mereka tanpa tersentuh.


Kurang dari sepuluh menit berandalan itu sudah terkapar tak berdaya di jalanan. Ozan menginjak dada salah seorang yang menurutnya paling banyak bicara tadi.


"Kau... Tadi kau bicara tidak sopan tentang istriku. Kau ingin aku membunuhmu sekarang?" Ozan semakin menekan kakinya pada dada pria itu.


"Tidak... tidak... Tuan, maafkan saya...!"


"Kemana sikap sok berani dan lancangmu yang tadi?" gerutu Ozan membuat pria itu semakin ketakutan.


"Maafkan saya, Tuan... Mohon kemurahan hati anda."


"Ckck sayangnya aku bukan seorang pemaaf. Tapi karena istriku sedang hamil, jadi aku tidak akan membunuhmu." Ucapnya semakin menekan kakinya di dada pria tersebut hingga menjerit kesakitan.


Setelah di rasa amarahnya berkurang, barulah Ozan memindahkan kakinya. Ia pun meninggalkan segerombolan pemuda itu dan beranjak menuju mobil.


Ameera membuka kunci mobil ketika melihat Ozan mendekat.


"Sayang..." ucap Ozan lembut seraya menarik Ameera ke dalam pelukannya. "Maafkan aku. Aku bersalah padamu." Ujarnya sambil mengecup lembut seluruh bagian wajah istrinya yang menjadi favoritnya.


"Mereka tidak melukaimu kan? Mana yang sakit? Tadi kamu lari-lari disana." tanyanya seraya memeriksa seluruh bagian tubuh Ameera.


"Aku nggak apa-apa." ucap Ameera kemudian.


"Kita pulang, ya..." ajak Ozan.


"Tapi mobil Rangga ada di ujung jalan sana." menunjuk jalan tadi tempatnya berlari.


"Nanti aku suruh orang mengambilnya."


"Kebab ku?" Ameera teringat pada kebab yang dibelinya.


"Kebab?"


"Iya, tadi aku keluar untuk membeli kebab Turki yang ada diujung sana. Kebabnya ada di dalam mobil. Aku mau ambil kebabku." rengeknya manja.


Jadi dia keluar bukan karena mau kabur dariku, tapi karena ngidam kebab, ya?


Ozan tersenyum membelai puncak kepala Ameera. Lalu melajukan mobilnya menuju tempat yang ditunjuk Ameera. Setelah tiba disana, Ameera turun dari mobil dan mengambil kebab di dalam mobil Rangga. Ozan keheranan melihat banyaknya kebab yang dibeli Ameera.


Sepertinya anak-anakku banyak maunya. batin Ozan.


"Kamu beli kebab sebanyak itu buat siapa?"tanya Ozan keheranan.


"Buat aku makan. Tadi baru makan tiga." jawab Ameera dengan polosnya membuat Ozan gemas.


"Tiga?" Ozan membulatkan matanya tidak percaya. Pasalnya dirinya saja baru makan satu sudah kenyang. Bagaimana makan tiga.


"Kenapa? Kamu mau bilang aku rakus?" tuduh Ameera. Raut wajahnya sudah mulai kesal pada suaminya.


"Nggak, sayang. Aku cuma heran aja sama kamu. Aku saja baru makan satu sudah kekenyangan. Apalagi kamu yang makan tiga." Kelitnya berusaha menetralkan suasana yang kembali memanas.


"Itu apa bedanya?" Ameera mendengus kesal membuat Ozan terlonjak.


Aduh salah lagi kan? Gini banget ya menghadapi istri yang lagi ngidam.


"Ya udah maaf... kamu makan lagi ya kebabnya." berusaha membujuk selembut mungkin.


"Iya kan, kamu mau bilang aku rakus? Ngapain kamu suruh aku makan lagi, padahal tadi kamu kaget dengar aku makan tiga."


Ampun, salah lagi deh.


"Ya kan tadi kamu bilang, beli kebab sebanyak ini buat kamu makan semua."


"Huaaaa... kamu jahat, kamu beneran mau bilang aku rakus. Aku mana sanggup makan kebab sebanyak ini." lirih Ameera.


Tumis aku kedalam wajan panas saja sekalian. Dari tadi salah terus.


Ozan gelagapan dengan sikap aneh Ameera. Entah bagaimana membujuk Ameera dengan emosinya yang mudah berubah. Ozan melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 subuh.

__ADS_1


"Sayang, kita pulang ya... Ini sudah mau pagi." ucap Ozan seraya meraih ponsel Ameera hendak menghubungi Ramon.


💘💘💘💘💘


__ADS_2