
Ameera yang larut dalam kesedihan dan rasa bersalah menangis di dalam kamarnya. Ia memandangi sebuah liontin kecil berbentuk hati dengan sayap di sisinya. Sebuah liontin yang potongannya hilang beberapa tahun lalu dalam sebuah kejadian.
Ozan baru saja tiba di rumah, langsung menuju ruang keluarga. Biasanya Ameera akan menghabiskan waktunya di ruangan itu dengan menonton film horor. Sejak cuti kuliah, itulah kegiatannya sehari-hari. Namun, saat tiba di ruangan itu, sosok Ameera tidak terlihat.
"Dimana istriku?" tanya Ozan pada seorang pelayan.
"Sejak siang masuk ke kamar dan sampai sekarang belum keluar." jawab pelayan itu membuat Ozan merasa aneh.
"Tumben dia betah di kamar. Apa jangan-jangan dia sakit?" gumamnya.
Ozan sudah akan beranjak menuju kamarnya ketika Bu Yani datang menghampirinya.
"Bu... apa Ameera sudah makan siang? Imel bilang Ameera tidak keluar kamar seharian." tanya Ozan.
"Dia tidak mau makan. Cobalah temui dia. Sepertinya dia sedang ada masalah. Tadi dia bilang mau ke rumah Rangga, tapi tidak lama kemudian dia sudah pulang dengan wajah yang sangat murung." ungkap Bu Yani.
Ozan yang merasa khawatir langsung berlari menuju kamar. Dan benar, dia mendapati Ameera sedang menangis.
"Sayang... kamu kenapa?" tanya Ozan. Ia langsung memeluk Ameera yang wajahnya sudah sembab itu.
"Mas, aku merasa sangat jahat."
"Jahat kenapa, yank."
"Aku menyebabkan Rangga menjadi seperti sekarang. Dia putus asa dengan keadaannya sekarang, Mas. Dan tadi aku dengar dia mengusir Dina. Aku jadi serba salah." ucap Ameera seraya sesegukan.
"Ini bukan salah kamu, sayang. Bukan kamu penyebabnya. Kamu adalah korban. Jangan menangis lagi, ya.. Kamu ingat kan, dokter bilang kamu nggak boleh stres."
Ozan kemudian menghapus air mata Ameera yang sejak siang tidak berhenti mengalir. Hingga matanya menjadi memerah.
"Tapi memaang benar, kan? Rangga menjadi lumpuh karena melindungiku."
"Bukan salahmu, Yank. Lagi pula Rangga orang yang kuat, dia pasti bisa berjalan lagi."
"Tapi kapan?"
"Akan ada waktunya... Aku juga pernah mengalaminya. Bahkan aku lebih buruk. Kita do'akan saja yang terbaik."
"Kenapa semua ini harus terjadi, Mas?" Ameera menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu. Mencoba mencari ketenangan di sana.
"Semua akan baik-baik saja, Yank. Bersabarlah." ucap Ozan seraya membelai rambut Ameera.
Ameera kemudian berusaha menghentikan tangisnya. Ia menghapus sisa air matanya.
"Bu Yani bilang kamu nggak mau makan, ya?"
"Aku nggak lapar, Mas."
"Kamu harus makan, Yank. Kasihan si Kembar. Mereka makan apa kalau ibunya nggak makan. Dan kalau kamu stres, mereka ikut merasakannya. Makan yuk, aku juga belum makan. " ajak Ozan.
Dan saat meraih pergelangan tangan Ameera, Ozan melihat sebuah kalung liontin yang sangat di kenalinya. Ia pun segera mengambil liontin itu dari tangan Ameera.
"Yank... ini... apa ini milikmu?" tanya Ozan seraya mengamati liontin kecil itu.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?"
"Apa liontin ini punyamu?"
"Iya... eh, bukan... itu liontinnya Rangga. Aku menghilangkan potongannya."
"Potongan?"
"Iya, Mas. Rangga minta aku menyimpan liontin ini untuknya. Waktu itu kami ada kegiatan sekolah di alam. Lalu, sesuatu terjadi, dan aku menghilangkan potongannya."
Tanpa Ameera sadari raut wajah Ozan telah berubah, matanya bahkan sudah berkaca-kaca memandangi liontin itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa menghilangkannya?" tanya Ozan.
"Aku menolong orang yang kecelakaan. Waktu itu aku lihat mobilnya terperosok ke jurang dan tersangkut di batang pohon. Saat aku dekati, orangnya ternyata masih hidup, tapi dia kejepit di mobil. Jadi aku bantu keluar dari mobil itu." kenang Ameera.
"Karena orang itu nggak bisa jalan akibat kakinya patah, jadi kamu menyeretnya dengan susah payah menjauh dari mobil, lalu mobilnya terbakar? Apa begitu? " Ozan menyambung kalimat Ameera, membuat Ameera mengernyit.
"Iya... mobilnya terbakar." sahut Ameera dengan polosnya. Lalu tiba-tiba Ameera menyadari ucapan Ozan barusan.
"Kok bisa, Mas? Tebakan Mas pas benar.Memang itu yang terjadi." ucap Ameera.
"Lalu?"
"Setelah itu banyak orang yang datang, jadi aku tinggalin dia di sana. Aku nggak tau orang itu meninggal atau masih hidup."
"Memang kamu nggak tahu siapa orang itu?"
"Berarti waktu itu kamu masih imut. Lalu liontinnya bagaimana?"
"Di sanalah aku menghilangkan potongan liontin itu. Rangga sempat marah waktu itu. Dia bilang, aku baru boleh mengembalikannya kalau potongannya ketemu. Selama potongannya belum ketemu, aku akan berhutang sama Dia."
Ozan tersenyum, lalu mengecup kening istrinya itu. Ada perasaan bahagia dalam hatinya.
"Apa yang akan kamu berikan kalau ada orang yang bisa mengembalikan potongan liontin itu?" tanya Ozan seraya memeluk Ameera.
Ameera mengerutkan alisnya sesaat seperti sedang berpikir. "Aku beri ucapan terima kasih." ucap Ameera
"Makasih doang?"
"Jangan drama, Mas. Apa harus seperti di dongeng-dongeng? Kalau perempuan aku jadikan saudara, kalau laki-laki aku jadikan suami. Kan nggak mungkin. Aku kan sudah punya kamu."
"Hahahaha..." tawa Ozan terdengar memenuhi setiap sudut ruangan. Merasa tingkah Ameera mendadak seperti anak kecil. "Tapi aku maunya gitu."
"Jahat kamu, Mas. Kamu mau minta aku menikah lagi?"
Ozan terkekeh, lalu membuka laci tengah dan mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam. Lalu memberikannya pada Ameera.
"Ini buat kamu..."
"Apa ini?"
"Ya di buka atuh, Ameera Malika Hutomo..." ucap Ozan dengan gemasnya.
__ADS_1
Dan saat Ameera membuka kotak itu, ia seakan tak percaya. Potongan liontin Rangga ada dalam kotak itu. Ia membulatkan matanya, bahkan jarinya terlihat bergetar memegang benda mungil itu.
"Ini kan... potongan liontin ini?" kata Ameera seolah tak percaya.
"Iya, yank. Itu potongannya."
Ameera memandangi potongan liontin itu, ia menajamkan penglihatannya dan membandingkan keduanya. Dan benar, sama persis. Bahkan patahannya pun sama.
"Kamu dapat ini dari mana, Mas?" tanya Ameera. Ia seperti akan menangis lagi.
"Coba tebak..." pinta Ozan.
Ameera lalu memikirkan setiap ucapan Ozan dan tiba-tiba ia teringat Ozan pernah bilang, dia mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak bisa berjalan selama hampir 2tahun. Ameera sudah menjatuhkan air matanya menyadari semuanya.
"Jangan bilang, kamu orang yang kecelakaan itu, Mas."
"Kok bisa, Yank? Tebakan kamu pas benar." ucap Ozan. Pria itu mencoba mengikuti ucapan Ameera yang tadi.
Ameera kemudian memeluk Ozan dengan erat. "Aku nggak tahu kalau itu kamu, Mas. Aku nggak mengenalimu?"
"Dan ternyata aku nggak salah mengenali orang, Yank... Kamu ingat saat aku tertembak di basement mall. Aku merasa kamu adalah anak yang menolongku saat kecelakaan dulu. Aroma tubuhmu dengannya sama. Dan ternyata benar."
"Kenapa bisa kebetulan begini, ya?" tanya Ameera
"Mungkin karena kita berjodoh." Ozan kemudian mencium bibir Ameera singkat membuat Ameera melayangkan protesnya.
"Dikit amat."
"Jadi maunya banyak?"
"Hehe... bentar malam saja. Aku mau berterima kasih karena kamu menemukan potongan liontin ini."
"Yang hot, ya berterima kasihnya..." pinta Ozan dengan suara manjanya yang khas. Membuat Ameera tersenyum sipu.
"Oh, ya Mas. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan... Waktu itu kan, kamu pingsan. Terus bagaimana potongan liontin ini masih ada sama kamu?"
"Ramon bilang dia menemukan potongan liontin itu di genggamanku. Sepertinya aku nggak sengaja menariknya waktu itu, karena kamu menyeretku dengan kejam dan tidak berbelas kasih." ucap Ozan seraya tertawa.
"Kamu kan berat, sudah syukur di tolongin." kata Ameera seraya mengerucutkan bibirnya.
Ozan lalu memeluk Ameera, mencurahkan kasih sayangnya pada wanita yang di cintainya itu.
Ameera lalu memasukkan potongan liontin itu ke dalam kotak yang sama, lalu memberikannya pada Ozan.
"Karena Mas harus berterima kasih sudah aku tolong, jadi Mas benerin kalung liontin ini."
"Sini Yank! Besok aku bawa buat di perbaiki."
"Makasih, Mas..."
Dan akhirnya rasa penasaran Ozan selama ini terjawab sudah. Tentang siapa orang yang telah menyelamatkan nyawanya saat kecelakaan, yang selama ini membuatnya penasaran. Ia merasa semakin mencintai Ameera.
***
__ADS_1