
Ozan dan Ameera masih menikmati sisa-sisa waktu bulan madunya. Selama sebulan penuh, mereka berkeliling di berbagai negara di dunia. Paris adalah kota terakhir tempat yang mereka kunjungi sebelum pulang ke Indonesia.
Malam itu suasana kota paris sangat romantis. Ameera dan Ozan sedang menikmati pemandangan menara eiffel yang tinggi menjulang.
"Pasti seru ya, kalau Er sama El ikut sama kita," ucap Ameera yang sedang bersandar di bahu suaminya itu.
"Nanti, Yank. Kalau ada waktu lagi, kita ajak anak-anak. Sekarang kita berdua dulu. Kita menikah hampir 6 tahun dan ini pertama kalinya kita bulan madu."
"Tulis saja di novel 'Bulan Madu Yang Tertunda," ucap Ameera seraya terkekeh.
"Kamu mau jadi penulis novel?" tanya Ozan.
"Kalau aku jadi penulis novel, aku mau tulis kisah Rangga dan Dina, hahaha..." Ameera tertawa jahil mengingat Rangga yang selama 4 tahun ini jatuh bangun mengejar Dina. Persis seperti yang Dina lakukan dulu.
Melihat raut wajah Ameera yang terlihat sangat bahagia itu membuat Ozan tidak tahan untuk menghujaninya dengan ciuman.
****
Dengan membawa sebuket bunga mawar merah, Rangga melangkahkan kakinya menuju rumah gadis pujaannya. Senyum mengembang hadir di sudut bibir laki-laki itu.
Empat tahun sudah Rangga menunggu Dina. Memberinya waktu untuk membuka kembali hati yang pernah ia tutup untuk Rangga.
Dari kejauhan rumah itu terlihat sedang banyak tamu. Hari itu adalah hari ulang tahun gadis itu, yang sedang di rayakan dengan menggelar pesta kecil-kecilan.
Rangga dengan penuh keyakinan memasuki rumah itu. Matanya berkeliling mencari dimanakah pujaan hatinya berada. Hingga matanya menangkap sosok Dina yang sedang duduk berdua dengan Ramon di sudut sana.
Senyum yang menghiasi bibirnya seketika sirna. Manakala ia melihat Ramon sedang memberikan sebuah kotak perhiasan seperti sebuah cincin.
Apa Bang Ramon sedang melamar Dina? batin Rangga.
Dina terlihat menyunggingkan senyum indahnya, membuat Rangga meleleh. Rangga pun mencoba mencari tahu, apa yang sedang di bicarakan dua orang di sudut sana. Ia mendekat, dan berdiri di balik pilar. Samar-samar ia dapat mendengar suara Ramon bertanya pada Dina.
"Din, aku sengaja memesan cincin ini, menurut kamu bagus nggak buat cincin pernikahan?" tanya Ramon.
"Ini cincin yang sangat indah," jawab Dina.
Bunga mawar merah yang di genggaman Rangga terjatuh begitu saja ke lantai. Dengan wajah lesu, Rangga melangkah kembali keluar dari rumah itu.
Rangga naik ke mobil, mengambil ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo..." terdengar suara seorang pria di seberang sana.
"Bang, kapan pulang?" tanya Rangga.
"Kenapa lu? Kangen?" tanya Ozan balik.
"Cepat pulang, Bang... Kalau perlu pulang aja besok." Suara Rangga terdengar sangat lesu, Ozan sudah bisa menebak, apa yang membuat adiknya itu lesu. Sudah pasti soal Dina.
"Enak aja lu, gue masih punya waktu lama di sini, udah ya... bye!" Ozan memutuskan sambungan telepon itu, membuat Rangga mengumpat dengan keras.
Rangga dan Ramon sedang berperang untuk mendapatkan hati gadis itu. Akan tetapi, sepertinya Ranggalah yang akan kalah dalam peperangan ini.
Laki-laki itu kemudian bergegas pulang, meninggalkan rumah itu tanpa bertemu dahulu dengan sang pujaan hatinya.
***
Sementara di belahan bumi lainnya, Ameera sedang asyik membereskan barang-barang bawaannya. Senyum terus menghiasi wajah cantiknya, sesekali ia berdendang menyanyikan lagi favoritnya.
Ibu dua anak itu memasukkan buah tangan yang akan dibawa pulang ke Indonesia. Ozan sampai keheranan melihat banyaknya koper yang akan mereka bawa pulang.
Ozan lalu duduk di tepi tempat tidur, bersandar di punggung Ameera.
"Ada apa?"
"Biasalah, sepertinya lagi galau."
"Mas nggak bilang kan, kalau kita pulang hari ini..."
"Nggak, aku bilang kita masih lama. Kamu sudah siap, belum? dari tadi beres-beres nggak selesai,"
"Iya, sedikit lagi, Mas..."
Ozan pun segera membantu istrinya itu membereskan barang-barangnya.
Setelah bersiap-siap, mereka segera menuju bandara untuk pulang ke tahan air. Ameera sudah sangat merindukan kedua anaknya yang menggemaskan itu.
***
"Mas, kenapa kita nggak naik pesawat komersial saja?" tanya Ameera saat akan menaiki sebuah pesawat jet pribadi.
__ADS_1
"Biar kamu nggak bosan. Kan kamu tahu, kalau aku di pesawat pasti tidur sepanjang perjalanan,"
Ozan menyewa sebuah pesawat jet pribadi untuk membawanya pulang ke tanah air, membuat jiwa kemiskinan Ameera meronta-ronta menghitung berapa biaya yang dikeluarkan suaminya untuk menyewa jet pribadi itu.
Perjalanan dari kota Paris menuju Indonesia yang memakan waktu 16jam lebih itu berlalu dengan cepat. Senyum bahagia terus menghiasi wajah Ameera. Ia terus memandangi wajah suaminya yang tertidur itu.
Aku adalah wanita paling bahagia di dunia karena memilikimu, Ozanku... batin Ameera.
***
Sementara Rangga yang sedang terbelenggu oleh sakit hatinya hanya dapat mengurung diri di kamar. Ia bahkan mengabaikan keributan Erzan dan Elmira yang berlarian keluar masuk ke kamarnya.
Penantiannya selama 4tahun menunggu Dina sepertinya akan berakhir sia-sia. Rangga kembali teringat awal-awal pertemuannya dengan Dina.
Saat itu, ia menyadari ada seorang gadis yang selalu mengikutinya dari belakang. Ia sampai merasa terganggu oleh kehadiran gadis misterius itu.
Belakangan Rangga baru tahu, bahwa gadis yang selalu mengikutinya adalah seseorang yang pernah ia selamatkan dalam sebuah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tua gadis itu.
Saat itu mobil yang di tumpangi Dina dan orang tuanya bertabrakan dengan truk yang melaju ugal-ugalan. Orang tuanya tewas dalam kecelakaan itu, sementara Dina mengalami koma selama beberapa minggu.
Setelah sadar dari komanya, ia teringat pada sosok lelaki yang menyelamatkannya. Ia bertekad mencari tahu siapa orang itu, sampai akhirnya ia tahu bahwa Ranggalah yang menyelamaykan nyawanya.
Sejak saat itu, Dina diam-diam selalu mengikuti Rangga. Hingga akhirnya terjadilah perjanjian antara Rangga dan Dina. Saat itu Rangga meminta Dina berpura-pura menjadi gadis yang dia sukai di depan Ameera.
Ameera yang saat itu menyukai Rangga, harus menelan kekecewaan karena mengira Rangga telah memiliki gadis lain di hatinya. Padahal Rangga memiliki perasaan yang sama dengan Ameera.
Demi bisa dekat dengan Rangga, Dina rela menjadi seorang kekasih palsu, menelan sakit hatinya sendirian, karena Rangga hanya melihat satu gadis dalam hidupnya, yaitu Ameera.
Selama bertahun-tahun Dina menunggu Rangga membuka hatinya, hingga akhirnya, Dina lelah dan menyerah. Saat itulah Rangga baru menyadari betapa Dina sangat berarti dalam hidupnya.
"Sekarang aku tahu Din, bagaimana sakitnya perasaanmu selama 4tahun menungguku. Sekarang aku juga merasakannya, dan ternyata sesakit ini." gumam Rangga yang sedang memegangi foto Dina, "Maafkan aku, Din... Aku terlalu banyak menyakitimu,"
Penyesalan memang selalu ada di belakang, itulah kenyataan pahit yang harus di telan oleh Rangga.
***
BERSAMBUNG
Tolong kasih babang Rangga obat pereda sakit hatii...
__ADS_1