Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Rahasia tentang Deniz


__ADS_3

"Mas, Deniz itu siapa? Tadi aku dengar mama menyebut nama itu sebelum pingsan..." tanya Ameera pada Ozan.


Mereka sedang duduk di depan kamar sang ibu sambil menunggu dokter memeriksanya.


Ozan menghela napas kasar, "Deniz itu adikku... Dia meninggal 18 tahun lalu. Kalau dia masih hidup, sekarang sudah seumuran kamu." jawab Ozan.


"Kenapa aku nggak pernah dengar namanya?"


"Banyak hal yang terjadi, Yank... Aku bahkan nggak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskannya. "


"Tapi kenapa mama menangis melihat liontin itu? Liontin itu kan punya Rangga."


"Aku juga nggak tahu apa hubungannya liontin itu dengan Deniz."


"Apa Deniz meninggal karena sakit?" Ameera yang terus bertanya membuat Ozan pusing sendiri.


Ozan hanya menggeleng, merasa berat menceritakan apa yang tidak pernah di bicarakan di rumah itu.


"Bukan yank. Kejadiannya 18 tahun lalu, Waktu itu aku masih kecil. Suatu hari kami liburan keluar kota. Ayah kamu juga ikut waktu itu. Saat itu usiaku 8 tahun dan Deniz 1 tahunan. Mama minta aku menjaganya, jadi aku membawanya jalan-jalan. Dan entah bagaimana, Deniz hilang dari pengawasanku. Aku cari dia kemana-mana tapi nggak ketemu. "


Ameera tercenggang mendengar penjelasan Ozan, ia tidak pernah tahu bahwa Ozan memiliki seorang adik laki-laki.


"Lalu apa yang terjadi?"


"Akhirnya aku mencari papa dan memberi tahu kalau Deniz hilang. Mereka panik waktu itu. Dan sampai malam, Deniz belum juga di temukan. Selama 10 hari tim SAR mencari Deniz, dan akhirnya mereka menemukan pakaian milik Deniz mengapung di sungai. Saat itu mereka memastikan Deniz sudah meninggal dan pencarian di hentikan." ungkap Ozan seraya menitikkan air mata. Dirinyalah yang paling merasa bersalah atas hilangnya adiknya itu.


"Kenapa nggak ada satupun fotonya di rumah ini?" tanya Ameera yang heran karena di rumah sebesar itu, tidak ada satupun foto Deniz.


"Sejak Deniz hilang, mama depresi. Mama bahkan butuh bantuan seorang psikolog. Selama berbulan-bulan mama terpuruk karena merasa bersalah, nggak mau makan, nggak mau bicara dengan siapapun. Setiap melihat foto Deniz, mama menangis, berteriak, bahkan sampai pingsan. Sejak saat itu, papa memutuskan menyimpan semua foto dan apapun yang berhubungan dengan Deniz."


Ameera sudah menjatuhkan air matanya mendengar kisah pilu tersebut. Tidak menyangka jika keluarga sesempurna itu pernah mengalami hal menyedihkan seperti itu.


"Mas nggak simpan satupun fotonya?"


"Apa kamu tahu, ada satu kamar di rumah ini yang selalu terkunci?" tanya Ozan.


"Kamar di ujung itu, ya? Itu gudang kan?"


"Bukan, Yank... Di kamar itulah semua kenangan tentang Deniz tersimpan. Dulu kamar Deniz di sebelah kamar mama. Tapi sejak kejadian itu, semua barang milik Deniz di pindahkan kesana. Dan papa melarang siapa pun yang tinggal di rumah ini membicarakan Deniz sejak saat itu. Makanya kamu nggak pernah mendengar nama Deniz di sebut di rumah ini kan?"


"Aku mengerti. Mama pasti melalui hari-hari yang berat."


"Buka cuma mama. Tapi papa juga. Dan aku... Seumur hidupku, aku akan merasa bersalah pada Deniz. Aku gagal menjaganya."


Ameera menghapus air mata yang menetes di pipi suaminya itu.


Beberapa saat kemudian, dokter leluar dari kamar dan mengatakan Zarima sudah sadar. Mereka lalu bergegas masuk ke kamar itu.


Zarima yang sudah merasa lebih baik duduk bersandar di tempat tidur.


"Mama..." Suara Ameera terdengar lirih memanggilnya. Ia bahkan menangis melihat betapa pucat wajah mertuanya itu.


"Ozan... Deniz..." ucap Zarima seraya terisak.


"Mama kenapa?" Ozan memeluk sang ibu yang kembali menangis.


"Liontin itu, Zan..."


"Kenapa liontin itu, Mah?"


"Itu Liontinnya Deniz."

__ADS_1


"Liontin Deniz? Mama... mungkin liontinnya kebetulan sama. Ameera bilang liontin itu punya Rangga."


"Ozan, itu tidak mungkin. Mama tahu betul liontin itu. Apa jangan-jangan ini semua perbuatan Hendri? Apa dia yang membunuh Deniz kita?"


"Deniz kan hanyut di sungai, Mah?"


"Kalau Deniz hanyut di sungai, lalu kenapa Rangga bisa memiliki liontin Deniz?" Zarima mengeraskan suaranya. "Antar mama ke rumah Rangga, Zan. Mama harus bicara dengan Aliyah. Dia pasti tahu apa yang terjadi pada Deniz." pinta Zarima.


Ameera yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka hanya dapat terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.


"Tapi Mama kan harus istirahat.. " ucap Ozan.


"Kamu mau antar mama atau mama pergi sendiri?" suara Zarima yang terdengar seperti sebuah ancaman membuat Ozan tidak berkutik.


"Baiklah, aku antar mama. " Akhirnya Ozan menyerah dan mengikuti keinginan ibunya itu, "yank... kamu jangan ikut, ya... Aku mau antar mama dulu." pinta Ozan pada Ameera.


"Tapi, Mas..."


"Aku mohon, Ameera. Kali ini kamu dengerin aku coba...!!" Ameera menunduk dengan mata berkaca-kaca, akhir-akhir ini Ozan sangat sering memarahinya. Ozan kemudian menghela napas panjang, menyadari nada bicaranya yang keras pada Ameera. "ayo sini, ikut aku..."


Ozan menarik tangan Ameera keluar dari kamar itu menuju ruang keluarga. Ia memeluk Ameera di sana.


"Aku minta maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud membentakmu, " ucapnya seraya membelai rambut Ameera. "Maafkan aku sering memarahimu, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."


Ameera hanya mengangguk, tanpa suara. "Aku antar mama dulu, ya... kamu di rumah saja." ucapnya lembut.


"Hati-hati, Mas."


Dan malam itu Ozan mengantar ibunya menuju rumah Rangga. Selama perjalanan, Zarima terus memandangi liontin itu dengan berlinang air mata.


Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah itu. Beberapa penjaga rumah menyambut mereka dan mempersilahkan masuk.


"Zar... " gumam Aliyah. Wanita itu langsung mengambil posisi duduk di sofa berhadapan dengan Zarima.


Tanpa basa-basi, Zarima langsung menanyakan apa tujuannya datang ke rumah itu.


"Kau kenal liontin ini, Al?" tanya Zarima pada Aliyah.


Aliyah membulatkan matanya melihat liontin yang ada di tangan Zarima. Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuhnya bergetar. Seketika ia menunduk, tidak berani menatap mata sahabat lamanya itu.


"Zar... aku..."


"JAWAB AKU, AL!! " teriak Zarima, "kenapa liontin ini bisa menjadi liontin anakmu dan dia berikan pada Ameera? Dimana anakku yang hilang 18 tahun lalu? Apa yang kalian lakukan padanya?"


"Mama... Bersabarlah. Jangan seperti ini." bujuk Ozan.


Aliyah terdiam mendengar teriakan Zarima yang seolah mengiris hatinya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Rangga yang sedang merenung di sebuah ruangan di dekat ruang tamu terkejut mendengar keributan di luar sana.


"Apa suamimu yang melakukannya? Apa dia yang membunuh anakku? Jawab aku, Al... Apa yang dia lakukan pada Denizku...? Kenapa dia membunuh anakku yang sama sekali tidak berdosa itu..." tanya Zarima dengan suaranya yang terdengar begitu lirih.


Sambil menangis, Aliyah mencoba menguatkan hatinya. Ia sudah mempersiapkan dirinya jika hari ini benar-benar terjadi. Hari dimana Zarima meminta pertanggung jawaban atas anaknya. Aliyah melihat Rangga sudah mematung di ambang pintu mendengar pembicaraan mereka.


"Ma-mafkan aku, Zar..." ucap Aliyah seraya terisak.


"AKU TIDAK BUTUH PERMINTAAN MAAFMU!!" Zarima berteriak sekali lagi, "Yang aku butuhkan penjelasan tentang anakku. Apa yang di lakukan Hendri padanya? Kalau bukan Hendri yang membunuh Denizku, lalu kenapa liontin ini ada pada anakmu? Kalian kemanakan Denizku?!"


Seluruh tubuh Aliyah telah bergetar, merasa terdesak dengan setiap ucapan yang di lontarkan oleh Zarima. Hanya air mata yang mewakili seluruh perasaannya. Wanita itu hanya menatap Rangga yang sedang berada di ambang pintu.


"Anakmu tidak meninggal, Zar. Anakmu masih hidup. Maafkan aku, telah menyembunyikannya darimu selama ini." ucap Aliyah terputus-putus. Aliyah kemudian menggerakkan tangannya menunjuk ke arah dimana ada Rangga di sana. "Dia adalah Deniz..." ucapnya dengan tangan gemetar.


Zarima dan Ozan mengarahkan pandangannya mengikuti kemana arah yang di tunjuk Aliyah. Mereka begitu terkejut melihat siapa yang ada di sana. Begitu pun dengan Rangga yang mematung di sana.

__ADS_1


"Ra-Rangga?" gumam Zarima terbata-bata.


Aliyah menangis sejadi-jadinya, apa yang ia takutkan selama ini akhirnya terjadi. Identitas Rangga yang sebenarnya telah ia sembunyikan selama bertahun-tahun hari ini terungkap.


"Maafkan aku, Zar... Aku sudah memisahkanmu dari anakmu selama ini."


Ozan yang belum sepenuhnya percaya dengan pendengarannya tidak mampu bicara sepatah kata pun. Hanya deraian air mata yang mengalir dari matanya.


"De-niz... De-niz-ku..." gumam Zarima.


Dengan langkah berat ia mendekati Rangga dan berlutut di hadapan orang yang duduk di kursi roda tersebut. Dengan tangannya yang bergetar, ia mengusap wajah dan tubuh Rangga. Ragu-ragu, Zarima menyibakkan baju kaos yang di pakai Rangga di bagian bahunya. Dan, tampaklah tanda lahir yang sama dengan tanda lahir milik Deniz. Tangis Zarima semakin menjadi-jadi melihat tanda itu. Kini ia benar-benar yakin jika Rangga adalah Deniz.


"Deniz... anakku..." Tangis Zarima pecah memeluk Rangga dengan erat. "anakku.... hiks... hiks... Ozan, dia benar-benar Deniz, Denizku masih hidup, Ozan." lirih Zarima seraya memeluk tubuh Rangga.


Rangga yang tidak percaya begitu saja dengan semua itu hanya diam membeku, menatap bingung Aliyah yang duduk di sofa.


"Mama... Apa maksud semua ini, kenapa tante Zarima memanggilku Deniz? Siapa Deniz?" tanya Rangga pada Aliyah.


"Ini mama, Nak... Mama yang melahirkanmu ke dunia ini. Bukan dia... Dia yang sudah memisahkan kita." ucap Zarima.


"Mama... tolong jelaskan apa arti semua ini?" Rangga kembali bertanya pada Aliyah yang hanya mampu menangis di sana. Rangga lalu menggerakkan tuas kursi roda elektriknya agar mendekat pada wanita yang selama ini ia pikir adalah ibu kandungnya itu, meninggalkan Zarima yang masih berlutut. "MAMA, JAWAB AKU, JANGAN DIAM SAJA!" teriakan Rangga memenuhi setiap sudut ruangan itu.


Aliyah mengusap kepala Rangga dengan lembut, "Rangga... Maafkan mama... Kami memisahkanmu dari keluargamu yang sebenarnya." ucap Aliyah dengan suara bergetar. "Kamu sebenarnya adalah Deniz, anak bungsu Hasan dan Zarima, ma-maafkan mama, Rangga." ucap Aliyah terbata-bata.


Dan lagi, ucapan Aliyah membuat Rangga merasa seperti tersengat aliran listrik. Ia menolak percaya dengan semua yang di dengarnya.


"Mama bohong kan?" tanya Rangga kemudian. "Ayo, Mah... bilang sama aku kalau semua ini bohong!!" Suara teriakan Rangga kembali memenuhi setiap sudut ruangan itu, untuk pertama kalinya, ia berteriak pada wanita yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.


"Rangga..." Aliyah menyentuh bahunya, namun segera di tepis oleh Rangga.


"Jangan sentuh aku, Mah... Kalian bohong kan? Apa mama sudah lelah merawatku karena aku cacat? Sehingga mama dengan mudahnya bilang aku bukan anak mama?" Rangga pun mulai menangis.


"Bukan begitu, Nak... Kamu tahu, kamu harta mama yang paling berharga lebih dari apapun."


"LALU KENAPA MAMA LAKUKAN SEMUA INI PADAKU?" teriak Rangga.


Zarima mendekat dan memeluk anaknya itu. Perasaannya campur aduk. Ozan lalu ikut mendekat dan berjongkok di hadapan Rangga. Dengan berlinang air mata, ia mengusap kepala adiknya itu, turun ke wajah. Ozan memandangi wajah Rangga, dan baru tersadar betapa miripnya Rangga dengan Hasan.


"Mereka bohong kan, Bang?" tanya Rangga pada Ozan.


Ozan menggeleng pelan, "Dia benar-benar Deniz... Mama, dia memang Deniz kita." Ozan lalu memeluk Rangga dengan erat, melepaskan semua kerinduan pada adiknya itu, dan walaupun Rangga berusaha melepas pelukan itu, Ozan semakin mengeratkan pelukannya. Hingga akhirnya tangis Rangga pecah dalam pelukan kakaknya itu. Zarima lalu memeluk kedua anak lelakinya bersamaan. Mereka larut dalam tangisan.


Tinggallah Aliyah, dengan sejuta perasaan bersalahnya. Karena cintanya pada Rangga, ia menutupi kenyataan yang ada selama ini. Ketakutannya akan kehilangan anak yang begitu ia sayangi membutakan hatinya. Sehingga memilih menutupi kebenaran yang ada.


***


**TO BE CONTINUE


**AWW TERNYATA BENAR, YAAA... BABANG RANGGA ITU, DENIZ...


JADI PEMENANG TEKA TEKI KEMARIN ATAS NAMA****


**INTAN MEGA BERLIAN TINA


TOLONG SELIPIN NOMOR TELEPON DI KOLOM KOMENTAR ATAU BISA CHAT PRIBADI...


TERIMA KASIH...


NANTI DI AKHIR EPISODE AKAN ADA QUIZ LAGI KOK... HEHE


MAAFKAN KEKURANGAN AUTHOR YANG AMATIRAN INI**.

__ADS_1


__ADS_2