Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Bogem mentah


__ADS_3

Ozan dan Ameera masih duduk di ruang keluarga sambil menonton film horor yang menjadi kesukaan Ameera. Ameera menatap TV tanpa berkedip.


"Yank, tadi kamu sama papa bisik-bisik apa?" tanya Ozan.


"Oh itu.., aku bilang sama papa kalau aku ngerjain Rangga ," jawab Ameera.


"Di kerjain gimana?"


"Aku bilang Dina mau kuliah di luar negeri. Tapi sebenarnya Dina mau ke Bandung untuk acara peringatan meninggalnya orang tuanya,"


"Haha.. Dia panik tahu, bisa aja kamu,"


"Biarin... Tahu rasa dia," Ameera tertawa jahat, menebak Rangga main kejar-kejaran dengan petugas keamanan di bandara.


Tidak lama kemudian...


"AMEERAAAAA!!!" Rangga berteriak dengan suara menggelegar.


Ozan dan Ameera langsung berdiri saking terkejutnya. Ameera yang sudah bisa menebak Rangga akan marah-marah itu langsung menyembunyikan dirinya di balik punggung suaminya seraya terus terkekeh.


"Ngapain sembunyi, sini kamu, berani ngerjain aku...!" Rangga berusaha meraih tangan Ameera, namun Ozan menghalanginya.


"Eeh, mau ngapain lu? Bini gue mau di apain?" tanya Ozan yang berdiri membelakangi Ameera. Sementara Ameera mengintip dari balik punggung Ozan menjulurkan lidahnya.


"Dia ngerjain aku, Bang! Aku lari-lari di bandara tahu... Malah harus kejar-kejaran sama security. Gara-gara bini Abang itu," Rangga menunjuk kesal pada Ameera yang yang jahil.


"Habis kamu gengsinya ketinggian. Ngaku cinta aja susahnya minta ampun," tutur Ameera.


"Makanya lu kalau cinta ngomong... Jangan gengsi aja tinggi," ucap Ozan yang terus menghalangi Rangga menjangkau Ameera.


"Kayak dulu Abang nggak gengsi aja bilang cinta sama Ameera," Rangga memberikan pukulan telak bagi Ozan. Memang dulu Ozan sangat sulit mengakui cintanya pada Ameera. Ia langsung terdiam mendengar ucapan adiknya itu.


"Jadi mau lu apa sekarang?" tanya Ozan.


"Mau nge-jewer dia,"


"Enak aja lu, mau gue kasih bogem mentah?"


Tidak lama kemudian datanglah Ramon dengan membawa beberapa amplop cokelat di tangannya, menghentikan pertikaian kakak beradik itu.


"Lagi seru nih, ada drama apaan?" tanya Ramon.


"Ngapain lu malam-malam kesini?"


"Ada yang mau gue omongin sama lu. Soal sidang akhir papanya Naura."


Tiba-tiba raut wajah Rangga berubah mendengar ucapan Ramon. Ameera dapat melihat gurat kesedihan di wajah sahabatnya itu. Rangga lalu meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya.


"Yank, kamu ke kamar duluan, Ya... Aku ada perlu sama Ramon."


"Iya, Mas..." Ameera pun segera menuju kamarnya. Masih memikirkan Rangga.


"Bukti-bukti ini kan belum diserahkan semuanya ke polisi waktu itu. Karena lu larang gue setor semuanya, Sekarang gimana?" tanya Ramon.

__ADS_1


Saat melaporkan perbuatan Hendri, Ozan meminta Ramon untuk menyimpan sebagian bukti kejahatan Hendri karena merasa kasihan pada Rangga jika Hendri di penjara seumur hidup.


"Waktu itu gue nggak tega sama Rangga. Bagaimana pun dia pasti sedih kalau papanya sampai di penjara seumur hidup."


"Jadi gie harus apain bukti-bukti ini?"


"Lu simpan aja dulu. Nanti gue omongin sama papa." Ozan kembali memikirkan Aliyah, Rangga dan Naura. Walaupun dirinya masih geram dengan perbuatan Hendri, namun, tidak bisa di pungkiri, Hendri menyelamatkannya dari kegilaan Naura saat menculik Ameera.


****


Keesokan harinya...


Dengan langkah gontai, Rangga memasuki halaman rumah tahanan, tempat Hendri ditahan. Untuk pertama kalinya sejak penculikan Ameera, Rangga mengunjungi laki-laki yang pernah dipikirnya adalah ayah kandungnya itu.


"Rangga..." gumam Hendri yang baru saja keluar dari selnya.


"Papa..." panggil Rangga seraya tersenyum. Ia langsung menghampiri laki-laki itu dan memeluknya. Di luar dugaan laki-laki paruh baya itu, karena ia pikir Rangga tidak akan pernah mau menemuinya lagi, terlebih Rangga masih memanggilnya papa. Cairan bening mulai memenuhi kelopak matanya, "Maafkan aku, Papa... "


"Kenapa minta maaf, Nak... Papalah yang seharusnya bersujud di bawah kakimu. Papa yang terlalu banyak berbuat jahat dan menyakiti banyak orang. Terutama padamu. Papa memisahkanmu dari orang tuamu..."


Hendri sangat menyesali perbuatannya dimasa lalu. Dendam yang membuatakan hatinya membuat orang-orang di sekitarnya menjadi korban.


Mereka lalu duduk bersama, "Aku bawakan makanan kesukaan Papa. Ini Mama Aliyah yang masak,"


"Terima kasih, Nak... Bagaimana kabar Mama dan Naura?"


"Baik, sejak tinggal bersama mama, Kak Naura banyak berubah. Papa tahu kan, bulan depan Kak Naura akan menikah?"


"Baik, Pah. Aku memutuskan kuliah di Indonesia saja."


"Itu bagus,"


Raut wajah Rangga kemudian berubah saat mengingat bahwa besok adalah sidang akhir sang ayah.


"Besok sidang terakhir papa kan?"


"Iya... Tapi jangan pikirkan itu. Papa senang tinggal disini. Tempat ini banyak merubah cara berpikir papa. Walaupun pengadilan menjatuhkan Papa hukuman seumur hidup, tidak masalah bagi papa. Itu bahkan tidak akan cukup untuk menebus semua kejahatan papa selama ini."


"Mama dan kakak pasti sedih."


"Jangan khawatir. Bukankah kalian bisa sering-sering mengunjungi papa?"


"Tentu saja,"


Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun lamanya, mereka kembali bicara layaknya ayah dan anak. Hendri begitu menyayangi Rangga sama seperti anak kandungnya sendiri.


****


Hasan sedang sibuk di ruang kerjanya ketika Ameera masuk membawakannya secangkir teh.


"Papa, ini tehnya," Ameera meletakkan secangkir teh di meja, lalu duduk di kursi berhadapan dengan mertuanya itu.


"Terima kasih, Nak..."

__ADS_1


"Papa, bolehkah aku minta sesuatu?"


"Tentu saja boleh... Papa akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Katakan saja apa itu?" ucap Hasan.


"Tapi aku mau tanya dulu,"


"Tanyalah, nak..."


Dengan ragu-ragu, Ameera menanyakan sesuatu yang ada di benaknya sejak semalam.


"Apa papanya Kak Naura akan di penjara seumur hidup?"


Hasan tiba-tiba terdiam mendengar pertanyaan Ameera.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Hasan. Ia mulai khawatir jika ada yang mengganggu menantu kesayangannya itu.


"Tidak ada, Pah... Hanya saja, aku merasa tidak tega pada Rangga dan Kak Naura. Mereka pasti sedih kalau sampai Om Hendri di penjara seumur hidup. Bagaimanapun, Om Hendri kan papanya mereka. Aku yakin, walaupun Rangga kecewa padanya, tapi dia masih menganggap Om Hendri itu papanya," ujar Ameera panjang lebar.


"Papa juga tidak tahu, Nak. Seberapa lama pengadilan menjatuhkan hukuman. Keputusan itu ada di tangan hakim."


"Tidak bisakah Papa melakukan sesuatu seperti ketika Papa membebaskan Kak Naura?"


"Anakku, kejahatan Hendri itu sudah termasuk kejahatan berat. Kita tidak bisa ikut campur lagi di dalamnya."


Wajah Ameera mendadak sedih setelah mendengar ucapan mertuanya itu. Tidak lama, Ozan dan Ramon memasuki ruangan itu, hendak memberikan laporan perusahaan.


"Sayang, kamu di sini?" Ozan yang langsung duduk di sebelah Ameera.


"Mas dan Kak Ramon mau teh, aku buatkan, ya..."


"Iya. Tapi gulanya jangan banyak-banyak ya... " pinta Ozan. Ameera lalu keluar dari ruang kerja itu, menuju dapur.


Setelah Ameera keluar, Ozan Hasan dan Ramon membicarakan tentang sidang terakhir Hendri. Mereka terlihat serius dalam pembicaraan itu.


"Ozan, tadi Ameera meminta papa untuk membantu membebaskan Hendri. " ucao Hasan pada Ozan.


Iya, Pah... Semalam juga Ameera memintaku melakukan itu,"


"Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Hendri mengurangi hukuman?"


"Sebenarnya aku belum menyerahkan semua bukti kejahatannya pada polisi, Pah... Sebagian masih ada di tangan Ramon. Jadi kita bisa membantunya untuk mengurangi masa tahanannya."


"Benarkah?"


Wajah Hasan pun seketika berbinar. Walau bagaimana pun Hendri adalah sahabat masa kecilnya bersama Rudi. Dulu mereka bertiga seperti saudara yang tidak pernah berpisah. Hingga sesuatu terjadi dan persahabatan mereka berubah menjadi permusuhan.


Tidak lama kemudian, Ameera masuk ke dalam ruangan itu membawa nampan berisi dua cangkir teh untuk Ozan dan Ramon. Ozan memandangi Ameera tanpa berkedip. Merasa istrinya itu adalah malaikat yang menyamar menjadi manusia dan turun ke bumi.


Hatimu terbuat dari apa, Yank? Dengan mudahnya kamu memaafkan orang yang telah menghancurkan hidupmu. Aku benar-benar beruntung memilikimu...


****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2