Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Perubahan Ameera


__ADS_3

Jika setiap hari Ozan menambahkan kadar cinta nya kepada Ameera, maka lain hal nya dengan Ameera yang terus berusaha mengurangi kadar cintanya untuk Ozan. Sejak terjadinya drama club malam, Ameera selalu menghindari Ozan. Bahkan menatap wajah Ozan, Ameera enggan.


Seperti hal nya malam ini, Ameera sedang duduk selonjoran di ruang keluarga sambil nonton TV dengan cup besar es krim di tangannya . Gadis itu tidak mempedulikan ponselnya yang sejak tadi berdering. Membuat orang yang melakukan panggilan kesal setengah mati.


"Kenapa lu, muka di tekuk gitu?" Tanya Ramon yang melihat Ozan nampak kesal menatap layar ponselnya.


"Bini. " Jawab Ozan singkat.


"Lu bikin masalah lagi?" Curiga


"Bukan gue, dia yang bikin." Mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Meraih secangkir kopi di atas meja. Malam ini Ozan dan Ramon sedang lembur di kantor. Ozan menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya sambil memijat pangkal hidungnya. Sesekali matanya tertuju pada berkas di depannya, namun pikirannya tertuju pada istrinya yang beberapa hari ini bertingkah aneh bagi Ozan.


Sekali lagi Ozan mencoba menghubungi nomor Ameera, untuk memberitahukan bahwa ia akan pulang malam karena lembur. Namun, Ameera mengabaikan ponselnya begitu melihat nama pemanggil di layar ponsel. Ameera akan berpura-pura buta dan tuli jika di layar ponsel muncul nama itu. Gadis itu bahkan tidak ingin merusak suasana hatinya dengan mendengar suara yang sebenarnya sangat di rindukannya.


Karena Ameera tidak juga menjawab panggilannya, akhirnya Ozan menelepon ke nomor rumah.


"Nona, ada telepon dari tuan muda." Seorang pelayan wanita datang memberikan pesawat telepon.


"Halo..."


"Sayang... kamu ke mana sih? Aku telepon dari tadi gak di jawab" terdengar suara Ozan di seberang sana.


"Aku tau, tapi aku diam." Salam batin Ameera


"Ah, hp nya di kamar. Aku di bawah".


"Malam ini aku lembur. Mungkin pulang nya agak malam." Suara Ozan terdengar lesu.


Bagus, jangan pulang sekalian.


"Baiklah. Selamat bekerja. Lembur yang lama kalau perlu sampai pagi." Kalimat yang terdengar seperti merajuk namun sebenarnya tujuannya benar-benar ke sana. Ameera menekan tombol merah di pesawat telepon.


Aku juga gak tau kan, kamu lemburin pekerjaan atau lemburin selingkuhanmu.


"Halo... halooo Ameera.... malah di matikan."


Ozan menatap layar ponselnya bingung. Ia mengira Ameera ngambek karena dirinya akan pulang larut malam. Ia menatap setumpukan berkas di atas meja.

__ADS_1


"Ram, besok aja lah di lanjut. Gue mau pulang. Si bini kayaknya ngambek"


"Ya elah lu kebangetan, Zan. Ini kerjaan gimana urusannya." Protes Ramon.


"Kan masih ada hari esok , bro!" Ozan mencoba membujuk Ramon, tapi Ramon malah marah-marah.


"Eh, jangan macam-macam lu, Zan. Ini proyek besar. Jangan sampai lu gagalin kerja sama kita karena ketidakprofesionalan lu." Ramon bersungut-sungut kesal memarahi Ozan. Padahal di sini siapa yang bos.


"Ampun deh. Nasib gue gini amat. Di rumah si bini ngambek di sini elu ngomel-ngomel." Kembali duduk di sofa berhadapan dengan Ramon. Akhirnya Ozan mengalah dan melanjutkan pekerjaannya.


Ozan mengambil ponselnya di atas meja. Mengambil gambar berkas dengan kamera ponselnya, lalu mengetikkan pesan.


"Sayang, maaf aku harus lembur. Kamu tidur duluan, ya. Jangan lupa susunya di minum. " isi pesan Ozan yang di kirimkan kepada Ameera.


**


Jam menunjukkan pukul 11 malam. Setumpukan pekerjaan telah selesai di kerjakan oleh Ozan dan Ramon. Kini saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing.


"Langsung pulang lu?" Tanya Ramon. Saat ini mereka sudah berada di lift.


"Ya kali mau ajakin gue nongkrong dimana gitu"


"Ogah. Mending pulang ngelonin bini. " langsung keluar ketika pintu lift terbuka.


Ozan sudah duduk di belakang kemudi mobilnya ketika ponselnya berdering dengan pemanggil tidak di kenal tertera di layar ponsel.


"Siapa lagi ini telepon malam-malam begini? " gumam Ozan. Karena tidak mengenal nomor pemanggil, Ozan mengabaikannya. Ia melajukan mobilnya keluar dari gedung kantornya.


"Brengsek! Gak di jawab" Naura mengumpat keras menatap layar ponselnya. Ia sedang berada di club malam tidak jauh dari kantor Ozan.


"Kenapa lu?" Tanya seorang pria yang sedang minum bersamanya.


"Ozan gak jawab panggilan gue" sambil meneguk minuman di depannya.


"Ozan mantan lu? Yang nikah sama abg ya?"


"Hmmm"

__ADS_1


"Yang waktu itu lu suruh gue ngerjain kan?"


"Iya..."


"Lu harus ganti kerugian gue karena anak abg itu" protes pria tersebut.


"Kerugian apa maksud lu, Ben?" Naura bingung


"Istrinya si Ozan itu barbar banget. Lu tau tempat gue di hancurin sama dia" Ucap laki-laki itu yang tiba-tiba teringat kejadian beberapa hari lalu, saat dia dan teman-temannya berniat mengerjai Ameera tapi malah mereka yang di kerjai habis olehnya.


"Di hancurin gimana? Dia itu cuma anak kecil. Bisa apa dia selain nangis liat gue sama Ozan di dalam." Nada bicara Naura seolah meremehkan Ameera.


"Teman-teman gue di pukulin sama dia sampai harus di larikan ke rumah sakit. Lu mabok sih waktu itu jadi gak liat kekacauan di sini"


"Masa lu sama temen lu kalah sama anak abg." Naura terkekeh.


"Lu gak liat sih. Gue aja ngeri. Hati-hati lu sama dia. Bisa di kubur hidup-hidup lu ngerayu suaminya" memperingatkan Naura mengingat betapa menyeramkannya Ameera saat sedang marah.


"Ozan milik gue. Dia yang merebut Ozan dari gue. " sentak Naura. Ia pun lagi-lagi mabuk sampai tidak sadarkan diri. Inilah yang membuat Hasan begitu tidak menyukai Naura. Hasan tau betul Naura adalah seorang peminum berat yang suka mabuk-mabukan.


***


Ozan telah sampai di rumah. Begitu sampai di kamar, Ia mendapati Ameera sudah tidur. Ia menyalakan lampu kamar. Lalu duduk di sisi ranjang. Ozan menyibak selimut yang menutupi wajah Ameera dan tersenyum tipis saat melihat wajah menggemaskan istrinya.


Ozan mengalihkan pandangannya pada meja di sudut kamar. Di sana ada segelas susu yang masih utuh. Ozan pun turun ke dapur dan membuatkan susu lagi untuk Ameera karena susu yang ada di meja sudah dingin.


"Ameera... sayang... minum susunya dulu." Mencoba membangunkan Ameera dengan mengguncang bahunya. Namun yang di bangunkan tidak bergeming. Dan seperti biasa, jika sudah seperti ini cara satu-satunya untuk membangunkan Ameera hanya dengan mengecup seluruh bagian wajahnya sampai Ameera terbangun dengan kesal dan meminum susunya dengan sekali tegukan.


Setelah Ameera tertidur kembali, Ozan beranjak ke kamar mandi dan mengganti bajunya. Entah mengapa perasaan terdalam Ozan mengatakan Ameera sedikit berubah. Akhir-akhir ini Ameera sering mendiamkannya. Walaupun kadang tanpa sadar Ameera terbangun tengah malam dan meminta Ozan memeluknya. Tapi sikap manjanya saat sedang setengah sadar, berbanding terbalik dengan saat sepenuhnya sadar. Bahkan kadang Ameera marah tanpa sebab.


"Huuufftttttt. " Ozan menghela napas dalam. Ia menatap Ameera yang tidur membelakanginya.


Ozan membelai rambut Ameera dengan sayang, mengecup keningnya lembut dan berbisik.


"Aku merindukanmu sayang"


Ozan pun tidur dengan memeluk tubuh Ameera yang membelakanginya.

__ADS_1


__ADS_2