
Hari sudah gelap, Ameera, Riri, dan Indah sedang berbaring di dalam tenda dengan posisi tengkurap. Melihat gambar-gambar yang mereka ambil di puncak bukit tadi sore.
"Wah bagus-bagus banget pemandangannya." Kata Riri yang sangat puas dengan hasil jepretannya.
"Coba aku lihat" Ameera mengambil ponsel milik Riri untuk melihat foto-foto.
"Meera, aku lihat punyamu ya!" Pinta Indah
Indah kemudian mengambil kamera milik Ameera dan membuka foto-fotonya. Ia terus menggeser ke kanan foto-foto melihatnya satu-satu. Dan ia pun terkejut dengan foto selanjutnya. Tampak Ameera tersenyum manis bersama seorang pria yang di akui Ameera sebagai sepupunya saat sedang menaiki paralayang.
"Meera, ini sepupu kamu yang ganteng nya out of the box itu kan? Yang mukanya kayak bule Turki" Sambil menunjukkan foto Ozan dan Ameera
Ameera sedikit gelagapan saat Indah menemukan fotonya bersama Ozan.
"Oh... iya. Itu kami lagi liburan ke puncak." Jawab Ameera
"Berdua?"
"Gak. Sama keluarga" elak Ameera
"Kalian deket banget ya. Gimana rasanya punya sepupu ganteng kayak dia? Kalau aku pasti sudah jatuh cinta" kata Indah dengan kecentilannya.
"Biasa aja"
Indah terus membuka beberapa foto Ameera. Ia melihat ada beberapa foto berdua Ozan dan Ameera tanpa curiga sedikitpun walaupun dalam foto tersebut mereka terlihat sangat dekat. Indah terus memandangi wajah tampan Ozan yang kebulean. Bola matanya berwarna biru. Sungguh sosok yang sempurna untuk di kagumi menurut versi Indah. Ameera memperhatikan Indah yang sedang senyum-senyum sendiri memandangi foto Ozan.
Hatinya terasa terbakar melihat Indah yang begitu terpaku memandangi foto suaminya. Ameera merebut kamera dari tangan Indah.
"Sudah jangan di lihat terus. Suami orang! Dosa loh naksir suami orang" Kata Ameera sambil menyembunyikan kamera ke dalam tas ranselnya yang di jadikan bantal.
"Jahat banget sih Ameera. Liatin doang masa' gak boleh" ucap Indah sambil mengerucutkan bibirnya tapi Ameera tetap tidak peduli.
"Eh, Ameera tadi Indra ngomong apa sama kamu di puncak? Dia nembak kamu ya? Perkataan Riri mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Ehm... gak kok." Elak Ameera
"Masa sih? Dia ngasih kode ke kita semua loh buat ngasih waktu bicara sama kamu" kata Indah
"Beneran gak bilang apa-apa. Cuma jelasin sejarah gunung pancar tadi" Ameera memberikan alasan paling klise
"Lha ngapain ngobrol berdua kalau cuma ngomongin itu" Riri heran
Ameera hanya mengedikkan bahunya sambil terus memandangi hasil jempetan di ponsel Riri. Posisi mereka bertiga masih tengkurap. Di bawah selimut kecil yang di bawa masing-masing.
Aku selamat. Untung tadi aku sudah bilang Indra untuk merahasiakan statusku. Maaf ya teman-teman, aku gak bermaksud membohongi kalian. Aku hanya belum siap kalau kalian tahu aku sudah menikah, apalagi dengan Ozan Chandra Jaya. Kalau kalian tahu, mungkin kalian akan menjaga jarak denganku. Dalam batin Ameera
Udara pegunungan yang sangat dingin seperti menembus ke tulang membuat mata Ameera mengantuk. Ia dan teman-temannya tidur pulas di dalam tenda.
Sementara di sisi lain, Ozan yang berada di kamar hotel merasa gelisah memikirkan Ameera. Ia pun menendang kaki Ramon yang berada di sampingnya dan sudah terlelap di dalam tidurnya. Membuat Ramon terbangun dengan kesal.
"Apa-apan sih lu, pake tendang-tendang segala. Kenapa lagi lu? Mau minta gue kelonin?" Bentak Ramon sudah di puncak emosi
"Amit-amit" Ozan mendengus kesal.
Dengan menahan kantuk , Ramon bersungut-sungut bangun dari tidurnya bergegas mengambil ponselnya. Lalu menelepon salah seorang yang ia tugaskan untuk mengawasi Ameera. Setelah mendapat laporan dari orang suruhannya, ia segera menyampaikan kepada Ozan yang sejak tadi gelisah memikirkan istrinya.
"Ameera sudah masuk tenda. Kayaknya sudah tidur" lapor Ramon dengan suara lemah karena mengantuk.
"Di dalam tenda sama siapa?" Tanya Ozan
"Ya mana gue tau beg*!" Ramon menjawab seenaknya membuat Ozan semakin kesal. Ia kembali melayangkan tendangan ke arah Ramon. Membuat emosi Ramon memuncak.
"Tanyain sama siapa Ameera di tenda? " bentak Ozan
Dengan terpaksa Ramon kembali mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja nakas lalu kembali menghubungi orang suruhannya. Ramon menanyakan beberapa hal yang mungkin akan kembali di tanyakan Ozan.
"Lu tenang aja, bini lu di tenda sama teman ceweknya kok" kata Ramon sambil kembali menarik selimut.
__ADS_1
Laporan Ramon membuat hati Ozan sedikit lebih tenang. Namun ia tetap tidak bisa tidur memikirkan istrinya. Ia yang sudah terbiasa tidur dengan Ameera membuatnya merasa aneh saat Ameera tidak berada di sampingnya. Biasanya di jam begini, ia sudah tidur sambil memeluk Ameera. Entah kenapa malam ini ia merasa begitu merindukan Ameera.
***
Pagi hari ameera sudah terbangun tapi masih betah bergelung di bawah selimut. Udara yang dingin membuatnya merasa malas bergerak. Beberapa orang sudah bangun sambil berolahraga kecil. Hari ini mereka akan mencoba beberapa fasilitas yang ada di kawasan wisata ini. Seperti flying fox, paintball, dan sebagainya. Kawasan wisata ini juga memiliki permandian air panas.
Rombongan mahasiswa ini sedang berada di arena outbond, dengan menikmati beberapa permainan di dalamnya. Ameera sedang mencoba wahana flying fox di sana. Dari kejauhan beberapa orang terus memantaunya tanpa ia sadari. Hari beranjak sore saat mereka puas bermain dengan segala fasilitas yang tersedia. Saat ini mereka sedang berada di sebuah hutan pinus yang ujungnya terdapat tebing yang cukup curam.
Ameera sedang menikmati keindahan hutan pinus bersama teman-temannya. Ia terus berjalan dengan kekagumannya pada pemandangan yang indah sambil mengambil gambar. Tanpa ia sadari ia terus berjalan menjauh dari teman-temannya. Saat tersadar, ia tidak tahu sedang berada dimana.
"Aku dimana ya? Kenapa aku bisa di sini?" Tanya Ameera kepada dirinya sendiri. Ameerapun terus berjalan menelusuri hutan sampai hari hampir gelap. Sialnya, ia lupa membawa kompas sehingga ia tidak tahu arah kembali.
Sedangkan rombongan mahasiswa yang berada di basecamp belum ada yang menyadari bahwa Ameera tidak berada di atara mereka. Mereka mengira Ameera sedang bersama teman lainnya.
Hari hampir gelap, mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke ibu kota. Barulah salah seorang menyadari bahwa Ameera tidak ada bersama mereka.
Indah dan Riri pergi mencari Ameera yang mungkin sedang bersama Indra atau yang lainnya tetapi tidak menemukannya. Mereka pun melapor pada pemandu tentang hilangnya Ameera. Terjadilah kepanikan di sana.
Para pengawal yang melihat gelagat aneh di basecamp segera mendekat. Alangkah terkejutnya mereka ketika mendengar bahwa istri bos mereka ternyata tidak berada di dalam rombongan. Mereka semua pun berkeliling mencari Ameera.
Sementara Ameera masih di dalam hutan tanpa pencahayaan sedikitpun. Ia terus berjalan dalam kegelapan. Ia sudah mulai merasa lelah. Seketika ia merasa tubuhnya berdiri tidak seimbang, ia terjatuh terperosok, dan berguling hingga jauh ke bawah. Dan akhirnya Ameera pun pingsan dalam kegelapan.
Sementara rombongan mahasiswa dan pemandu semakin panik mencari Ameera sambil terus meneriakkan nama nya.
"Tadi kalian bersama nona Ameera kan? Dimana kalian terpisah dengannya?" Tanya seorang pria bertubuh besar kepada Indah dan Riri.
"Di.... hutan..... pinus. " jawab Indah takut-takut karena pria di depannya bertanya dengan menunjukkan wajah garang.
"Ka... lian sia... pa?" Tanya Riri dengan terbata-bata.
Pria bertubuh besar itu tidak menjawab pertanyaan dari Riri. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
*🎀🎀🎀🎀🎀
__ADS_1
Bersambung*