Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Lumpuh?


__ADS_3

Karena telah melewati masa kritisnya, Rangga telah di pindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan lain. Pagi ini Rangga sedang menjalani pemeriksaan lanjutan di temani Dina dan ibunya. Kondisinya mulai membaik, sudah tidak selemah kemarin.


"Apa kau bisa menggerakkan kakimu sedikit saja?" tanya dokter pada Rangga.


Rangga berusaha menggerakkan kakinya, namun dia tidak dapat melakukannya. "Aku tidak bisa menggerakkan kakiku." ucap Rangga.


Dia bahkan tidak dapat merasakan saat dokter itu mengetuk lututnya. Tiba-tiba raut wajah dokter itu berubah saat melihat reaksi Rangga.


Dokter itu kemudian menekan telapak kakinya dengan agak keras, "apa kau bisa merasakannya?" tanya dokter.


"Tidak..." jawab Rangga singkat.


Dokter itupun menghela nafas dan mengajak Aliyah bicara berdua di ruangannya. Sementara Dina tetap di sana menemani Rangga.


"Din, coba kelitikin telapak kakiku?" pinta Rangga pada Dina.


Dina pun segera menggelitik telapak kaki Rangga. Namun saat di kelitik, tidak ada reaksi dari Rangga. Ia tidak dapat merasakan jemari Dina menyentuh kakinya.


"Kenapa tidak terasa, ya?" gumam Rangga.


"Mungkin efek koma kemarin. Bisa saja otot-ototmu belum berfungsi dengan baik. Bersabarlah sedikit," ucap Dina.


Dina kembali megelitik telapak kaki Rangga dengan lebih keras, "Apa tidak terasa?" tanya Dina. Rangga menjawab dengan menggeleng.


Rangga mengerutkan alisnya, bertanya dalam hati ada apa dengan kakinya. Padahal Rangga paling tidak tahan jika kakinya di kelitik.


Ada apa dengan kakiku? Kenapa aku tidak bisa merasakan apapun... batin Rangga.


Rangga tidak menyadari raut wajah Dina yang telah berubah. Tentu saja Dina sudah bisa menebak dalam hatinya apa yang terjadi pada Rangga. Dina sedikit mengerti karena dia seorang mahasiswa kedokteran.


***


Aliyah sudah berada di dalam ruangan dokter Eric. Seorang dokter ahli syaraf yang di rekomendasikan oleh paman Rangga, yang juga sempat menangani Rangga. Karena pemeriksaan sebelumnya, saat Rangga di temani oleh Ameera, dia juga menunjukkan gejala yang sama. Maka pamannya merekomendasikan seorang dokter ahli syaraf.


"Bagaimana anak saya, Dok?" tanya Aliyah.


"Ada kemungkinan pasien mengalami paralisis akibat kecelakaan yang di alaminya." ucap Dokter Eric.

__ADS_1


"Paralisis?"


"Iya, paralisis adalah kondisi lumpuh karena gangguan syaraf yang berperan dalam mengatur gerakan otot tubuh. Paralisis membuat anggota tubuh tidak dapat di gerakkan. Kondisi ini dapat terjadi pada orang yang mengalami cedera atau kecelakaan." ungkap dokter itu.


Aliyah tidak dapat berkata-kata lagi. Ia hanya dapat menangis.


"Apa yang harus kita lakukan, Dokter? Apa Rangga masih dapat berjalan lagi?" tanya Aliyah. Wajahnya sudah mulai khawatir.


"Tergantung tingkat keparahannya. Ada yang permanen dan ada yang hanya sementara. Pasien bisa menjalani fisioterapi. Itu dapat membantu meningkatkan kekuatan dan massa otot. " ungkap dokter itu.


Setelah selesai bicara dengan dokter, Aliyah keluar dari ruangan itu dengan perasaan tidak karuan.


Bagaimana kalau Rangga benar-benar lumpuh?Aliyah membatin.


Aliyah pun segera menuju kamar perawatan Rangga. Begitu ia masuk, Rangga langsung memberinya berondongan pertanyaan.


"Mama... dokter bilang apa? Kenapa kakiku tidak bisa merasakan apa-apa." tanya Rangga.


"Tidak apa-apa Rangga. Ini hanya sementara. Tenanglah..." ucap Aliya di selingi senyum teduhnya.


"Aku tidak akan lumpuh, kan? Bagaimana kalau aku lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi."


Rangga menyandarkan kepalanya, pikirannya mulai menjalar kemana-mana.


****


Di sisi lain, Rizal sedang di pusingkan dengan masalah Naura. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan oleh pihak kepolisian dan seorang ahli kejiwaan, Naura di nyatakan mengalami gangguan kejiwaan. Ia adalah seorang penderita skizofrenia.


Karena gangguan kejiwaannya, Naura tidak dapat di pidanakan. Apalagi ia terguncang karena telah mencelakai adiknya sendiri. Selama di periksa Naura sering berteriak dan kadang menyerang anggota kepolisian. Naura tidak segan-segan melukai orang lain. Seorang dokter sempat terluka dan harus menjalani perawatan karena ulahnya. Karenanya mereka sepakat merujuk Naura ke sebuah rumah sakit jiwa.


Di sinilah Rizal sekarang. Di sebuah kamar dimana Naura berada. Naura sedang mendapat penanganan dari dokter. Ia terlihat sangat kacau. Ada rasa iba di hati Rizal melihat keadaan Naura. Dan ketika ia melihat Rizal di sana, ia berteriak memaki Rizal.


"Kau... kau yang sudah membuatku membunuh adikku sendiri. Harusnya bukan Rangga yang mati tapi Ameera. Kaulah yang telah membunuh adikku." teriak Naura pada Rizal.


Naura bahkan akan menyerang Rizal, namun beberapa petugas menahannya. Seorang dokter segera memberinya suntikan obat penenang. Sehingga tidak lama kemudian, gadis itu telah tertidur. Naura yang mengira Rangga tewas akibat perbuatannya, mengalami depresi berat.


Karena kesalahan ayahmu, kau dan Rangga harus menelan akibatnya." Rizal membatin.

__ADS_1


Rizal merasa kasihan pada Rangga dan Naura. Merekalah yang telah menjadi korban perbuatan Hendri. Dendam masa lalu nya justru membuat anak-anaknya sendiri menjadi korban.


"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuknya." pinta Rizal pada dokter.


****


Rangga sedang melamun ketika Rizal datang menemuinya. Ia juga baru mengetahui jika Rangga di duga mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan itu.


"Gimana keadaan lu?" tanya Rizal pada Rangga.


"Mendingan." jawab Rangga singkat.


"Gue habis urus Naura." Mendengar Rizal menyebut nama Naura, wajah Rangga berubah serius.


"Dia nggak bikin ulah lagi kan? Pastikan dia tetap di penjara. Gue nggak mau dia sentuh Ameera lagi." pinta Rangga.


"Naura nggak di penjara..." ucap Rizal kemudian.


"Maksud lu apa? Jangan bilang dia kabur!" suara Rangga sudah meninggi. Mengira Naura melarikan diri dari penjara.


"Nggak... Dia di rumah sakit jiwa. Naura depresi, dia kira lu tewas dalam kecelakaan itu. Setelah di periksa, dia ternyata mengalami gangguan kejiwaan." ungkap Rizal.


Rangga terdiam, ada rasa sakit di hatinya. Bagaimana pun juga Naura adalah kakaknya satu-satunya. Ia tetap tidak akan tega mendengar berita tidak enak tentang kakaknya itu.


"Tolong lu urus, Zal. Sementara gue nggak bisa berbuat apa-apa. Gue kayaknya lumpuh ini..."


"Lu pasti bisa jalan lagi kok. Tenang aja. Ozan juga pernah lumpuh hampir dua tahun, sekarang bisa jalan lagi kan."


Dan kali ini sepertinya Rizal salah bicara, ia seperti menjatuhkan granat di jantung Rangga. Ya, tiga tahun lalu, karena perbuatan Hendri, Ozan mengalami kecelakaan yang mengakibatkannya mengalami kelumpuhan.


"Gue rasa ini karma buat papa. Dulu dia bikin Bang Ozan lumpuh, sekarang gue juga mengalami."


Rizal yang menyadari ucapannya yang tidak pada tempatnya menjadi tidak enak sendiri.


"Sorry, gue nggak bermaksud kesana."


"Nggak apa-apa, Zal. Biar ajalah... biar papa merasakan akibatnya. Bagaimana rasanya menelan akibat perbuatannya selama ini. Gue dan Kak Naura harus jadi korban." ucap Rangga kemudian.

__ADS_1


****


__ADS_2