
Mobil yang di kendarai Ameera berhenti, Ozan datang membukakan pintu mobil untuk Ameera. Begitu Ameera keluar, Ozan langsung memeluknya erat serta menghujani wajah Ameera dengan kecupan-kecupan. Ada perasaan lega yang sangat besar di dalam hatinya istrinya kembali dengan selamat. Ameera gelagapan dengan perlakuan Ozan yang tiba-tiba.
"Sayang, kamu darimana? Kenapa keluar sendiri? Kamu kan bisa minta di antar sopir." Berkata tanpa melepas pelukannya.
"Apaan? Lepas!" Ameera berontak meminta Ozan melepaskan pelukannya.
Aku merasa jijik di sentuh olehmu. Di tubuhmu ada bekas sentuhan wanita itu. Bau parfumnya bahkan ada di bajumu.
Batin Ameera
"Huueekkkkk" Ameera rasanya mau muntah. Ia memegangi lehernya. Mual karena mencium bau parfum wanita lain di tubuh suaminya yang ia yakin itu bau parfum Naura. Hal itu kembali membuat api di hatinya semakin berkobar.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Ozan merangkul bahu Ameera.
"Lepaskan...!" Ameera menepis tangan Ozan yang melingkar di bahunya. Gadis itu membuka pintu belakang mobil dan mengambil dua kantongan besar berisi es krim. Ozan berinisiatif ingin membantunya membawa kantong besar itu. Namun Ameera menolaknya.
"Jangan, ini es krim ku!" Sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya, sayang aku tau itu es krim mu. Aku hanya mau bantu kamu membawanya masuk. Itu berat kan? " ucap Ozan
"Gak usah, aku bisa sendiri. " beranjak masuk ke rumah.
"Jadi kamu keluar rumah sendirian hanya untuk beli es krim sebanyak ini?" Tanya Ozan heran sambil mengikuti langkah Ameera dari belakang.
"Iya. " Ameera menjawab singkat karena sudah mulai kesal.
Ramon yang berdiri di depan pintu mengulum senyumnya melihat tingkah Ozan yang sudah seperti kebakaran jenggot mendapati istrinya tidak berada di rumah. Ozan sampai mengamuk dan memarahi semua orang yang membiarkan istrinya keluar rumah sendirian di malam hari. Bahkan ia membuat Ramon ikut panik. Ternyata orang yang di cari hanya keluar membeli es krim. Jika tidak sedang banyak bawahan Ozan yang lain di sana, Ramon pasti sudah tertawa dengan lantang menertawakan kebodohan Ozan.
"Dasar bucin akut. " batin Ramon
"Tolong bantu aku menyimpan ini di kulkas. " Ucap Ameera pada seorang pelayan yang berdiri di depan pintu.
"Baik, nona" kata pelayan, ia mengambil kantongan besar itu di bantu oleh Pak Diman dan membawanya ke dapur untuk di masukkan ke kulkas. Ameera bergegas masuk ke rumah. Ozan dan dan Ramon saling melirik di depan pintu terheran melihat tingkah Ameera yang keluar rumah malam-malam sendirian hanya untuk membeli es krim sebanyak itu.
Ameera bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Dia ingin segera berendam di air hangat untuk menghilangkan lelahnya.
"Lu boleh pulang, Ram." Kata Ozan kepada Ramon.
"Gak butuh apa-apa lagi kan lu?" Tanya Ramon. Ozan menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Ya udah gue balik, ya " ucap Ramon sambil melangkah menuju mobilnya.
__ADS_1
Ozan masuk ke dalam rumah dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Ameera sedang berendam di air hangat, tiba-tiba Ozan ikut masuk ke kamar mandi. Ameera terlonjak kaget melihat Ozan masuk ke kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggang. Ozan melepaskan handuknya sehingga tampaklah tubuh polosnya. Ia mandi di bawah guyuran shower. Sedangkan Ameera duduk berendam di bath up. Ameera mengalihkan pandangannya. Tidak ingin melihat Ozan di sana tanpa sehelai benang pun.
Kenapa aku bisa lupa mengunci pintu kamar mandi? Batin Ameera.
"Sayang... mau aku bantu menggosok punggungmu?" Tanya Ozan begitu selesai mandi. Yang di tanya malah melamun.
"Sayaaaang..."
"Ah.. iya...?" Ameera terperanjak.
"Mau?" Tanya Ozan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Ma... ma... mau apa?" Ameera terbata-bata.
"Mau aku bantu memandikanmu?" Wajah Ozan sudah mulai nakal. Ameera terlonjak kanget mendengar pertanyaan Ozan. Ameera melemparkan spon mandi penuh busa ke wajah Ozan. Membuat Ozan mendengus kesal dengan kelakuan absurd Ameera, yang selalu reflek melayangkan benda apapun yang ada di tangannya ke wajah Ozan.
"Sana pergi...!" Mengusir dengan galak.
"Dasar istri barbar" gumam Ozan sambil membasuh wajahnya dengan air yang terkena busa, lalu keluar dari kamar mandi.
Entah kenapa setiap mengingat Naura dan Ozan, Ameera menjadi mual. Kepalanya tiba-tiba berdenyut.
Lupakan lupakan lupakan lupakan lupakan lupakan lupakan lupakan lupakan. Batin Ameera terus mengatakannya tetapi hatinya malah semakin dongkol. Ia menghentakkan tangannya ke dalam bath up yang penuh busa sehingga busa terpercik kemana-mana.
Berendam di air hangat tidak berguna. Aku makin kesal rasanya.
Ameera bangun dari duduk manja nya di bath up menuju shower untuk membilas tubuhnya.
Beberapa saat kemudian Ameera selesai mandi. Ia sedang berganti pakaian. Sementara Ozan duduk selonjoran di ranjang sambil memainkan ponselnya. Ameera sejak tadi tidak mengindahkan keberadaan Ozan. Begitu selesai memakai baju tidurnya, ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Setelah selesai, Ameera menuju ranjang dan berbaring membelakangi Ozan. Ia memakai selimut menutupi seluruh tubuhnya. Perasaan Ameera campur aduk rasanya. Ingin memaki Ozan tapi dia juga tau dari awal memang Ozan tidak menginginkan dirinya sehingga wajar jika sekarang Ozan kembali pada kekasihnya. Yang sekarang harus di lakukan Ameera adalah mencegah jangan sampai dirinya hamil. Maka dari itu ia mampir ke apotek membeli pil KB untuk mencegah kehamilan.
Derai air mata mengalir deras dari pelupuk mata Ameera. Entah kenapa dia menjadi sangat cengeng akhir-akhir ini. Ia merasa ini bukanlah dirinya. Biasanya dia tidak akan peduli dengan hal-hal semacam itu. Bahkan saat ini ia sangat merindukan pelukan dari suaminya. Tapi hatinya sangat sakit saat mengingat Ozan dan Naura bersama.
Ozan yang tidak menyadari istrinya sedang menangis di bawah selimut malah asyik bermain game online di ponselnya bersama Ramon yang jauh di sana. Sesekali ia terdengar mengumpati kebodohan Ramon jika mereka kalah dari musuh. Di balik profil seorang Ozan Chandra Jaya yang terkenal sebagai pemimpin perusahaan yang galak dan kadang arogan, terkadang ada saja tingkah absurd nya yang jika orang lain melihatnya, ia tidak akan percaya bahwa itu adalah seorang Ozan.
"B* go lu Ram..." terdengar Ozan mengumpati Ramon.
"Eh elu yang bl*on jangan kesitu. Mati lu entar" terdengar suara Ramon dari seberang sana yang balas mengumpat pada Ozan.
__ADS_1
Dia bahkan mengabaikanku dan malah asyik bermain game. Setelah puas bersama kekasihnya, sekarang dia merasa tidak butuh aku. Iya kan? Aku memang tidak lebih dari pemuas nafsunya saja. Batin Ameera
Ozan yang tadinya memilih bermain game online untuk mengusir kebosanannya menunggu Ameera yang sangat lama di kamar mandi. Akhirnya ia malah semakin asyik dengan ponselnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk...!"
"Maaf tuan muda, saya bawakan susu yang anda pesan untuk nona" kata seorang pelayan yang membawa nampan berisi segelas susu.
"Letakkan di situ saja" menunjuk meja tanpa menoleh karena masih asyik dengan game online nya.
"Apa anda butuh sesuatu yang lain?"
"Tidak, terima kasih. "
"Baik, saya permisi" Pelayan wanita itu sudah keluar sembari menutup pintu kembali.
"Sayang... kamu sudah tidur belum? Minum susunya dulu!" Berkata tanpa menoleh pada Ameera yang tertutup selimut.
Karena Ameera tidak bergeming, Ozan mematikan ponselnya dan menyimpannya di meja nakas.
Ia menyibakkan selimut yang menutupi kepala Ameera. Tampak Ameera sudah memejamkan matanya.
Ozan tersenyum tipis. Ia menghujani setiap bagian wajah Ameera dengan kecupan sampai istrinya itu terbangun dengan kesal.
"Apaan?" Sentak Ameera yang kesal.
"Minum susu nya dulu." Ozan mengambilkan segelas susu yang di bawa pelayan tadi. Satu hal yang Ameera heran, setiap malam sebelum tidur Ozan akan memaksanya meminum susu. Walaupun Ameera sudah tidur, ia akan membangunkannya hanya untuk minum susu.
"Sayang, itu mata kamu sembab. Kenapa?" Menyentuh wajah Ameera dan memperhatikan mata Ameera yang sembab karena menangis.
"Ini bukan sembab. Mataku mengantuk makanya begini." Memberi alasan dengan nada ketusnya, tidak ingin Ozan mengetahui bahwa ia habis menangis. Ameera yang kesal menghabiskan susunya dengan sekali teguk. Ozan menelan ludahnya memperhatikan Ameera minum susu. Baginya, hal kecil itu saja sudah membuat Ameera terlihat sangat seksi dan membangkitkan gairah kelelakiannya. Segera Ozan tersadar dari pikiran liarnya.
"Baiklah, maaf sudah membangunkanmu. Tidur lagi, ya!" Sambil membaringkan tubuh Ameera lalu mencium keningnya sekali lagi.
🎀🎀🎀🎀🎀
Hai readers tersayang, mohon dukungannya yaa... author tetap menunggu saran dan kritik kalian supaya karya ini lebih baik lagi. Salam hangat.
__ADS_1