Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Memasak


__ADS_3

Dini hari Ameera terbangun dari tidurnya. Ia membuka perlahan matanya dan mengedarkan pandangannya. Ternyata ia sudah berada di kamarnya. Sedikit kaget karena tadi seingatnya ia masih di jalan pulang. Ia mendapati Ozan yang memeluknya dari belakang. Di lepaskannya tangan Ozan yang melingkar di atas perutnya. Merasakan pergerakan Ameera, Ozan ikut terbangun dan mendapati Ameera sudah duduk selonjoran di atas kasur.


"Sayang... kamu bangun. " Ucap Ozan sambil ikut duduk lalu membelai puncak kepala Ameera.


"Aku lapar mas. " kata Ameera sambil memegangi perutnya. Mereka memang belum makan malam. Sepanjang perjalanan Ozan tidur di pesawat, sedangkan Ameera tidak makan karena mual di pesawat.


"Kamu lapar, ya? Kita ke dapur, yuk. Aku masakin buat kamu. " ajak Ozan.


"Kamu bisa masak?" tanya Ameera


"Apa susahnya masak, yank." Ujar Ozan meremehkan urusan memasak. "Ayo...!" ajak Ozan kemudian.


Ameera pun mengikuti langkah Ozan ke dapur.


Sesampainya di dapur, Ozan sangat percaya diri membuka kulkas besar yang ada di dapur. Ia memilih beberapa bahan makanan seperti telur, wortel, tomat dan bawang. Kemudian memakai apron. Sebelumnya ia mencuci dahulu semua bahan makanan yang di pilihnya. Ia pun memulai kegiatan memasaknya.


Ameera duduk di kursi memperhatikan Ozan yang sedang sibuk memasak. Ia sedikit ragu apakah seorang Ozan Chandra Jaya yang selama ini hidupnya di layani bagai seorang raja bisa memasak. Ozan memandangi satu persatu bahan makanan yang di pilihnya. Sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ini yang namanya wortel kan? Gimana cara potong nya, ya? Batin Ozan


Ia pun mengambil pisau dan tatakan. Lalu mulai memotong-motong wortel sampai tidak berbentuk tanpa mengupas kulitnya terlebih dahulu lalu memasukkannya ke dalam wadah. Ameera menaikkan sebelah alisnya menyaksikan Ozan.


Jorok loh, wortelnya gak di kupas. Apa ini kebiasaan orang dari negara asalnya? Batin Ameera


Setelah itu ia memotong tomat menjadi empat bagian. Ameera yang duduk di sana membelalakkan matanya, menganga tidak percaya dengan teknik memasak Ozan.


Apa normal membuat telur dadar dengan potongan tomat sebesar itu? Batin Ameera


Ameera mulai gusar. Ozan melirik ke Ameera dan tersenyum getir. " Bentar ya...!" ucap Ozan.


Ameera mengangguk pelan.


Ozan menelan ludah kasar memegang bawang di tangannya. Ozan lalu mengiris bawang dengan sangat hati-hati dan tanpa ia sadari, ia mulai tersedu-sedu karena matanya perih terkena percikan irisan bawang. Sesekali menyeka matanya yang berair. Ameera ingin tertawa disana tapi di urungkannya. Ia masih duduk manis menunggu masakan Ozan.


Bawang brengsek! Berani sekali kau membuatku menangis. Batin Ozan mengumpati bawang yang di irisnya.


Tibalah saatnya di mana hal paling memalukan dalam sejarah hidup Ozan yang dramatis dimana ia akan memecahkan telur. Sebelum memecahkan telur, ia kembali melirik Ameera yang masih sibuk memperhatikannya.


Kenapa di acara memasak terasa gampang memecahkan telur, ya. aku bahkan lupa bagaimana mereka melakukannya. Ozan membatin lagi


Ia memutar bola matanya kesana-kemari seperti mencari sesuatu. Ketika matanya menangkap ulekan disudut dapur, Ia mengambil benda tersebut. Ameera terlonjak kaget melihat Ozan mengambil ulekan.


Mau apa dia dengan ulekan? Batin Ameera


Ozan kemudian meletakkan sebutir telur di telapak tangannya lalu memukul telur itu hingga pecah. Bisa di bayangkan bagaimana jadinya jika sebutir telur di letakkan di telapak tangan dan di hantam dengan sedikit keras menggunakan ulekan.

__ADS_1


"Kenapa telurnya jadi hancur?" Gumamnya pelan


Ameera menyentuh pelipisnya dengan jari karena kepalanya terasa berdenyut menyaksikan kelakuan Ozan.


Ini memalukan. Apa yang dia lakukan? Batin Ameera.


Ozan melirik Ameera tanpa rasa malu. Ia tersenyum pelik ke arah Ameera yang duduk mematung di sana. Ozan lalu mencuci tangannya di wastafel yang terkena pecahan telur. Lalu kemudian ia membuka kulkas dan mengambil dua butir telur yang lain. Iapun memecahkannya dengan sangat hati-hati. Sampai kulit telur sebagian ikut masuk ke dalam wadah.


Aku belum pernah makan telur bersama kulitnya. Batin Ameera yang sudah mulai gelisah.


Ozan lalu menambahkan dua sendok makan garam ke dalam wadah. Ameera yang tadinya duduk tenang di sana menjadi semakin gelisah. Wajahnya pun menjadi pucat. Ameera mengatur napasnya yang terasa memburu.


Dia bilang tadi mau memasak untukku kan? Ya Tuhan, lindungi aku dari memakan telur rasa air laut itu. Batin Ameera


Dengan santainya Ozan mengocok telur lalu meletakkan teflon di atas kompor. Setelah itu ia terlihat mengamati kompor seperti hendak mencari sesuatu.


Ini gimana cara menyalakannya?


"Ameera... bisa bantu aku menyalakan kompornya?" pinta Ozan


Jangan bilang kamu belum pernah menyalakan kompor. batin Ameera.


Demi apapun Ameera rasanya ingin pura-pura pingsan. Ia meraba tengkuknya, lalu berjalan mendekati kompor dan menyalakannya. Lalu kembali duduk di kursinya. Ozan tersenyum manis pada Ameera.


Katanya harus tunggu wajannya panas baru masukin minyak ya.. ini gimana sih


Kalau tidak lihat sendiri, aku tidak akan percaya jika itu benar-benar kamu. Ameera membatin.


Ozan segera memasukkan minyak, lalu tanpa ia sadari minyak telah memanas dan sedikit berasap tapi ia belum memasukkan adonan telur ke dalam teflon. Akhirnya ia panik sendiri melihat kepulan asap. Lalu dengan sangat hati-hati ia memasukkan adonan telur ke dalam teflon.


Ozan terus memandangi adonan telur itu tanpa berkedip.


Kalau sudah matang, tandanya bagaimana, ya?


Iapun membolak-balikkan adonan telur hingga warna telurnya menjadi agak gelap.


Karena menduga telurnya telah gosong, ia pun kembali panik.


"Ameera... Ameera tolong matikan kompornya." pinta Ozan dengan panik.


"Hah?" Ameera membuka mulutnya tidak percaya. Lalu segera mematikan kompor.


"Ini sudah matang ya?" tanya Ozan seraya menatap telur dadar buatannya sesekali mengendus baunya.


Kan kamu kokinya. Kenapa tanya aku.

__ADS_1


Dengan tidak tahu malunya ia memindahkan telur ke dalam piring, lalu memberikannya pada Ameera.


"Ameera... Ini namanya telur dadar gerhana matahari" ucap Ozan menyebut menu makanan yang di buatnya.


Ameera terperanjak mendengar nama makanan yang di sebutkan Ozan.


Ameera menelan ludah kasar melihat benda yang tidak layak di sebut makanan itu didepannya. Tiba-tiba ia merasa mual. Rasanya Ia ingin menyembunyikan dirinya di kutub selatan sekarang juga untuk menghindari makan masakan buatan Ozan.


Ozan melihat raut wajah Ameera segera menghampirinya dan memberinya minum.


"Minum dulu? Kamu kenapa? Masih pusing, ya?"


Ozan duduk di depan Ameera, melihat telur hasil masakannya. Lalu melirik Ameera yang sedang berusaha keras menahan tawanya.


"Gosong ya? Maaf ya sebenarnya ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini. " Ozan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Beberapa detik kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohan Ozan yang tadi dengan percaya dirinya meremehkan urusan memasak sebagai sesuatu yang mudah.


Pak Diman yang sedang berada di kamarnya mendengar keributan dari arah dapur. Karena penasaran, ia pun pergi ke dapur untuk melihat apa yang terjadi disana.


"Tuan Muda, anda butuh sesuatu?" Tanya Pak Diman. Yang membuat tawa Ozan dan Ameera terhenti.


"Maaf, pak. Kami sedang shooting acara Master Chef." Sahut Ozan yang sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Ameera masih tertawa dengan lantang memecah keheningan malam.


"Pak, tolong pesankan makanan dari restoran hotel Sekarang?" pinta Ozan pada Pak Diman.


"Anda mau makan apa. Biar saya panggil pelayan untuk menyiapkannya. " tanya Pak Diman.


"Tidak usah, pak! Ini sudah larut malam. Mereka pasti sedang tidur. Pesankan saja dari restoran hotel tapi yang cepat, ya."


"Baiklah, Anda mau makan apa?"


"Sayang... kamu mau makan apa?" tanya Ozan


"Apa saja terserah, asal jangan telur dadar gerhana matahari. " jawab Ameera meledek. Ozan mengepalkan tangannya dan menepuk lembut kening Ameera.


"Pesankan saja yang enak-enak, pak." sahut Ozan sambil melirik telur gosong yang di buatnya. Pak Diman mengalihkan pandangannya pada telur dadar gosong diatas meja, lalu melirik Ozan yang masih memakai apron. Ia merasa ada yang menggelitiki perutnya.


Ia pun menghindari masalah karena tidak ingin tertawa di hadapan tuan mudanya. Ia pun segera memesankan makanan dari restoran hotel milik keluarga Chandra Jaya.


Ada apa dengan anda tuan muda. Memangnya anda pikir memasak sesuatu yang mudah? Anda bahkan tidak pernah menyentuh barang apapun yang berhubungan dengan dapur. Lalu lagaimana anda berpikir untuk memasak? Batin Pak Diman yang sedang tertawa terbahak-bahak tanpa suara.


Selang 20 menit kemudian, makanan dari hotel tiba di rumah. Ozan dan Ameera pun makan dengan lahap.


****

__ADS_1


SEBENARNYA AKU NGGAK TAHU DI BAB INI BABANG OJAN LAGI NGAPAIN. AKU SENDIRI MALU DENGAN KELAKUAN BABANG OJAN YANG NGGAK JELAS ITU.


__ADS_2