
Dengan berat hati Ozan merelakan Ameera berangkat kuliah, masih dengan hidung merahnya yang menjadi korban persatuan lima jari milik Ameera. Saat ini mereka masih berdebat di dalam mobil di parkiran kampus. Ameera tersenyum sumringah setelah mendapat izin kuliah hari ini, sementara Ozan dengan wajah merengutnya.
"Aku masuk ya mas?" Kata Ameera sambil mengulurkan tangannya, mencium punggung tangan Ozan.
"Hmmm hati-hati. Kalau sudah mau pulang, telepon ya..." pinta Ozan.
"Iya." Ameera tersenyum menatap Ozan. Lalu sedetik kemudian senyumnya memudar melihat wajah cemberut Ozan.
"Jangan begitu mukanya, nanti hidungnya makin merah." ujar Ameera.
"Hidungku merah karena perbuatanmu. Kamu harus membayarnya dengan mahal." ucap Ozan seraya mengusap hidungnya.
"Kamu kan sultan, punya banyak uang, apalah aku yang hanya rakyat jelata ini," ucap Ameera seraya mengedipkan matanya.
Ozan menarik tangan Ameera sehingga ia jatuh ke pelukannya. " Bayar dengan tubuhmu, aku pastikan akan membuatmu menjerit-jerit malam ini," ucapnya dengan nada kesal.
Ameera membuka mulutnya tidak percaya dengan pemilihan kata yang sangat vulgar meluncur bebas dari mulut Ozan tanpa di saring, membuatnya reflek mendaratkan map binder di tangannya ke wajah Ozan.
"AMEEERRRAAAAA.....!" teriak Ozan dengan kesalnya.
"Sakit? Aku lebih sakit kamu ngebarbarin aku tiap malam seenaknya." teriak ameera sambil membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Ozan.
Awas saja, aku akan membalas perbuatanmu. batin Ozan.
Ozan segera melajukan mobilnya meninggalkan kampus itu dengan ribuan sumpah serapahnya
***
Ameera berjalan menuju kelas ketika Dina memanggilnya.
"Ameera....!" panggil Dina. Ameera menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, Din... hai..." sapa Ameera.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik... Sudah enakan." jawab Ameera sambil tersenyum.
Mereka pun mengobrol panjang lebar. Sejak kuliah di kampus yang sama, Dina dan Ameera menjadi semakin dekat. Ameera yang dulu dingin dan pendiam berubah total sejak masuk dunia perkuliahan.
Ia menjadi lebih ramah dan mudah bergaul. Kecuali sikap barbarnya kepada Ozan yang sering melayangkan benda apapun di tangannya jika Ozan salah bicara.
***
Siang hari di gedung perkantoran Chandra Jaya Grup dimana Ozan kembali di sibukkan dengan setumpukan berkas di mejanya. Ramon datang menghampirinya. Ramon memperhatikan wajah Ozan yang tampak lain dari sebelumnya.
"Kenapa lagi tuh hidung?Sampai merah kayak gitu?"tanya Ramon seraya menyelidiki wajah Ozan.
"Bini..." jawab singkat sambil membaca berkas dengan serius.
__ADS_1
"Apa? Ameera? KDRT?" tanya Ramon seraya tertawa meledek, membuat Ozan kesal setengah mati.
"Gue nggak nyangka bos garang kayak elu bisa jadi susis..." Ramon kembali dengan ledekannya membuat Ozan melempar berkas ke wajah Ramon. Membuat Ramon semakin tertawa lantang.
"Diam lu...!" Bentak Ozan.
Ramon mengulum senyum sambil memunguti kertas yang berserakan di bawah sana sambil terus menahan tawanya.
"Ram, gue mau ngomong penting," kata Ozan
"Apaan?"
" Tiga minggu dari sekarang kosongin jadwal gue selama seminggu," pinta Ozan
"Mau ngapain lu? Liburan?" tanya Ramon yang kemudian duduk di kursi depan meja kerja Ozan.
"Gue mau ke Turki sama Ameera." jawabnya singkat.
"Honeymoon?"
"Gue mau resepsian di sana. Kan gue nikah nya buru-buru di rumah sakit waktu itu. Sekarang Mama sama Papa minta resepsiannya di Istanbul."
"Buru-buru amat?"
"Gue nikahnya udah mau lima bulan, apanya yang buru-buru?"
"Maksud gue, elu buru-buru banget itu, emang tiga minggu cukup buat persiapan lu resepsian. Yang waktu itu gagal aja sebulan gak kelar." ucap Ramon
"Tapi jadwal lu lagi padat-padatnya, Zan..." Imbuh Ramon yang sedang membaca jadwal Ozan yang tertera di ponselnya.
"Ya lu atur lah..."
"Kenapa nggak tunggu bulan depan aja? Biar legaan. "
"Mama mau nya secepatnya. Katanya sebelum Ameera hamil harus resepsian dulu. Biar gak di gosipin hamidun dia nya. Kan orang-orang di luar sana nggak tau kalau gue udah nikah."
"Ya udah deh nanti gue coba. Tapi resikonya lu siap-siap lembur setiap malam, ya...!"
"Gak lu suruh juga gue lembur tiap malam." Sahut Ozan yang malah pikirannya jatuh ke tempat lain, membuat Ramon kesal.
"Bukan ngelemburin Ameera b*gooo...!" bentak Ramon, " lu lembur bareng kertas-kertas di meja lu!"
"Hah... ngomong donk dari tadi..." Ozan merengut kesal memukul Ramon dengan map di tangannya.
"Tadi gue udah ngomong, Bos! Bisa gila gue kalau lama-lama bareng elu..." sahut Ramon berapi-api.
"Gue gak mau tau. Pokoknya Lu atur jadwal gue. Sekalian urus keberangkatan gue. Pasport buat Ameera dan lain-lain." Titah Ozan seenaknya membuat Ramon serasa ingin menimpuknya dengan tumpukan berkas di depannya.
"Terus bini lu gimana, kuliahnya cuti gitu. Dia kan mahasiswa baru? " tanya Ramon.
__ADS_1
"Gampang di atur, gue juga belum kasih tau Ameera soal rencana resepsian ini."
***
Ameera sedang duduk di balkon rumah sambil membaca buku sembari menikmati jus alpukat dan beberapa potong cake di depannya. Tidak lama terdengar suara seseorang memanggil namanya. Ameera tidak bergeming mendengarkan panggilan yang di tujukan untuknya. Sampai Ozan muncul dari balik pintu.
"Di cari kemana-mana ternyata di sini." kata Ozan yang langsung duduk di kursi sebelah Ameera.
Ameera mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Ozan.
"Sayang... ada yang mau aku bicarakan denganmu. Bisa?" tanya Ozan memulai percakapan.
"Apa?"
"Tadi mama telepon. Mama mau buat resepsi pernikahan kita." Sahut Ozan.
"Mama mau pulang?" tanya Ameera dengan wajah sumringah.
"Enggak... kita yang kesana"
"Hah, resepsian di Turki? Kenapa nggak di sini?" tanya Ameera penasaran.
"Mama nggak mau. Mama trauma kejadian yang waktu itu. Lagian keluarga besarku kan di Turki." jawab Ozan seraya mengambil potongan cake di depannya.
"Kapan rencananya?"
"Tiga minggu lagi. Jadi tiga hari sebelum acara kita sudah harus ada di Turki."
Ameera menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kok mendadak buat acara resepsiannya?"
"Mama maunya gitu. Kan orang-orang di luar sana belum tau kita sudah menikah. Mama bilang sebelum kamu hamil kita resepsian dulu, biar gak ada fitnah." lanjut Ozan menjelaskan.
"Kuliahku bagaimana? Aku kebanyakan cuti, "
"Gak apa-apa. Nanti aku urus. Tapi kamu mau kan ikut ke Turki? "
"Ya sudah kalau mama maunya begitu." ucap Ameera.
Ozan tersenyum jahil menatap Ameera. Kemudian terbesit ide di otaknya.
"Kamu ingat kan, tadi pagi di mobil aku bilang apa? " tanya Ozan sambil menyentuh hidung nya.
"Yang mana? Kamu kan sekali ngomong banyak..."
"Hidungku..... minta di bayar." bisik Ozan mendekatkan wajahnya ke wajah Ameeea. Barulah Ia mengerti maksudnya.
"Dasar suami mesum... Kalau hidung yang terluka, kenapa aku harus bayar ke tempat lain?"
__ADS_1
Ozan pun tersenyum penuh arti sedangkan Ameera pasrah, tidak punya pilihan selain menuruti keinginan sang suami.
****