
💕mohon dukungannya gaes. Krisan membangun masih author tunggu. Supaya author dapat membuat karya ini semakin baik💕
Pagi hari Ameera terbangun dari tidurnya langsung meraba tempat di sampingnya. Namun tangannya tidak menemukan apa yang dicari. Ia menoleh dan tidak menemukan sosok Ozan yang biasanya tidur disampingnya.
Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku merasa sangat merindukan pelukan manusia jadi-jadianku itu. Jelas-jelas dia berkhianat.
Ameera bangkit dari pembaringan. Ia membuka tirai jendela dan mengarahkan pandangannya ke taman, biasanya Ozan lari pagi disana. Ameera mengedarkan pandangannya, namun sosok Ozan tidak juga terlihat. Masih dengan pakaian tidurnya, Ameera keluar dari kamar. Ia menuruni tangga menuju ke dapur. Biasanya pagi ini para pelayan sudah di sibukkan dengan menyiapkan sarapan pagi.
"Selamat pagi, Nona...!" sapa Pak Diman ketika melihat Ameera datang.
"Selamat pagi, Pak...! Apa Mas Ozan tidak pulang semalam?" tanya Ameera
"Tuan muda tidur di kamar tamu, Nona. Semalam tuan muda pulang larut dan kelelahan. Jadi memilih tidur di kamar tamu bawah. " Pak Diman berusaha mencari alasan masuk akal. Semalam Ramon meminta agar Ameera jangan sampai tahu kalau Ozan mabuk. Ameera tergelak mendengar kalimat yang di ucapkan Pak Diman. Ia berusaha menguraikan kata kelelahan yang di ucapkan Pak Diman.
Kelelahan? Dia habis melakukan apa dengan wanita itu?
Ameera memejamkan matanya frustasi mengira Ozan kelelahan karena berbuat hal yang tidak-tidak dengan Naura.
"Aku mau melihatnya dulu, Pak" kata Ameera
"Nona, jangan...! " Pak Diman segera mencegah Ameera. Bisa gawat kalau pengaruh minuman belum hilang dari tubuh Ozan. "Maksud saya, Nona sarapanlah dulu. Saya akan membangunkan tuan muda." Ameera menatap heran pada Pak Diman. Ia mampu menangkap bahwa Pak Diman sedang menyembunyikan sesuatu. Tetapi Ameera tidak ingin memperpanjang rasa curiganya, membiarkan drama salah paham semakin dalam. Ia menurut saja pergi ke meja makan untuk sarapan.
Bahkan Pak Diman menyembunyikannya dariku. Apa mereka tahu dan mendukung suamiku kembali pada wanita itu.
Ameera duduk di meja makan. Dengan malas ia memulai sarapan paginya. Tapi saat mencium aroma nasi goreng, tiba-tiba Ameera jadi mual. Ia berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya.
"Hueeeeeekkkkkk..." Imel, seorang pelayan mendengar Ameera muntah lalu menghampirinya.
"Nona, anda muntah?" Pelayan itu memijat tengkuk Ameera.
Apa nona sedang hamil? Wajahnya pucat dan dia muntah di pagi hari. Gejala ini kan umumnya di alami wanita yang hamil muda.
"Aku mau ke kamar, ya...!" kata Ameera setelah memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia sudah kehilangan seleranya untuk sarapan lagi.
"Tapi kan nona belum sarapan." Imel menyela.
"Tolong bawakan roti dan susu saja ke kamar." pintanya dan langsung di angguki oleh Imel. Ameera segera kembali ke kamarnya. Ia harus segera bersiap-siap berangkat kuliah.
Saat Ameera melewati kamar tamu, bersamaan dengan Ozan dan Pak Diman yang baru keluar dari kamar itu. Tatapan mereka saling bertemu. Ameera diam sesaat sebelum memilih menaiki tangga. Sementara Ozan mendiamkannya karena masih kesal melihat Ameera dan Rangga kemarin di kampus. Drama salah paham terus berlanjut.
****
Ameera sedang menikmati sarapan paginya setelah sebelumnya mandi dan berganti pakaian. Beberapa saat kemudian, Ozan datang dan langsung masuk ke kamar mandi membanting pintu dengan keras. Membuat Ameera terlonjak kaget sehingga menumpahkan susu yang belum sempat di minumnya.
"Astagfirullah...!" Ameera menatap susunya yang tumpah dengan perasaan sedih. Matanya sudah di penuhi cairan bening, namun ia menahannya agar tidak jatuh.
__ADS_1
Dia bahkan sengaja menunjukkan rasa tidak sukanya padaku dengan membanting pintu sangat keras.
Ameera beranjak membersihkan susu yang tumpah. Ia mengambil tas ransel kecilnya dan membawa nampan sarapannya ke dapur. Ia ingin segera berangkat ke kampus sebelum Ozan selesai mandi.
"Pak, tolong antar aku ke kampus. " pintanya pada seorang sopir.
"Baik"
Ozan keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang sambil tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Matanya berkeliling mencari Ameera, namun Ameera sudah berangkat. Ia menghela napas kasar. Dihatinya tersimpan begitu besar kerinduan dan cinta untuk Ameera, namun terbalut kekecewaan dan kecemburuannya sehingga membangun tembok bernama ego dan menjadi pemisah di antara mereka.
Dia mengabaikanku dan pergi tanpa pamit.
Sama sekali Ozan tidak menyadari perbuatannya yang membanting pintu kamar mandi dengan keras, membuat Ameera sedih. Jika dalam keadaan biasa, mungkin Ameera hanya akan mengumpati kelakuan Ozan dan melayangkan benda apapun yang ada ditangannya ke arah suaminya itu. Namun, belakangan ini, pengaruh kehamilan merubahnya 180 derajat. Ameera menjadi sangat sensitif dan cengeng. Seolah kelakuan barbarnya selama ini tenggelam jika sudah berhadapan dengan Ozan.
Dan sialnya, Ozan tidak menyadari bahwa perubahan aneh dalam diri Ameera, yang sebenarnya adalah hal yang akan menjadikan Ozan manusia paling bahagia di dunia. Kehadiran janin kembar dalam rahim istrinya, harus ditutupi Ameera karena drama salah paham di antara keduanya.
****
"Pak, bisakah kita mampir ke toko bunga? Aku mau ke makam ayah dan ibu." pinta Ameera.
"Baik, Nona" Tanpa banyak tanya, sopir itu melajukan mobilnya ke sebuah toko bunga yang lokasinya tidak begitu jauh dari kompleks pemakaman dimana kedua orang tua Ameera di makamkan. Seperti biasa, Ameera akan membeli dua buket mawar putih yang merupakan bunga kesukaan ibunya.
Disinilah Ameera sekarang berada. Duduk berjongkok di hadapan dua makam yang berdampingan. Tak lupa ia membaca doa untuk kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu... aku kangen kalian. Sekarang aku sendirian. Nggak punya siapa-siapa lagi. Mas Ozan nggak pernah benar-benar menginginkan aku. Dia sekarang tidak menganggap keberadaanku lagi. "
****
Ozan baru saja tiba di kantor. Beberapa orang menyapanya namun tidak satupun yang di jawab. Suasana hatinya sangat buruk. Ramon yang juga baru datang melihat raut wajah Ozan yang tidak bersahabat.
"Gimana?" tanya Ramon. Pertanyaannya terdengar menggantung.
"Apanya?" Ozan bertanya balik sambil berjalan menuju ruangannya.
"Ya elu. Semalam kan lu mabok."
"Oh..."
"Lu gak ketahuan Ameera, kan?" Merasa penasaran jika Ameera tahu Ozan mabuk akan seperti apa jadinya.
Ozan sudah duduk di kursi kebesarannya. Menatap Ramon dengan segudang pertanyaan di benaknya.
"Nggak. Memang kenapa kalau dia tau?"
"Gue takut lu di cincang sama bini lu kalau dia tau lu mabuk-mabukan."
__ADS_1
"Dia nggak peduli sama gue." ucap Ozan dengan nada kecewa.
"Lagian lu ngapain sih pake sok-sokan minum segala? Kayak udah biasa minum aja. Baru minum dikit juga udah teler lu."
"Gue gak ingat apa-apa, Ram. Gue gak ngapa-ngapain selain mabuk semalam, kan?" tanya Ozan sambil menatap Ramon penuh harap. Ozan berharap tidak melakukan sesuatu yang diluar batas saat mabuk.
"Lu sama Naura..." Ramon menggantung ucapannya karena sudah di potong duluan oleh Ozan.
"APAA...?" Menggebrak meja. Pikirannya sudah terbang kemana-mana.
Jangan sampai terjadi sesuatu antara aku dan Naura.
"Eh, kaget gue. Gak usah main gebrak meja donk."
"Gue ngapain sama Naura, Ram? Gue ke club sendirian kok. Gak sama Naura." Wajah Ozan sudah frustasi membayangkannya.
"Lu tenang aja. Lu belum sempet ngapa-ngapain kok." ucap Ramon dengan santainya sambil duduk bersedakep di depan sang boss.
"Belum sempat? Artinya... ?" Ozan semakin bingung.
"Iya, jadi si Naura mau bawa lu pergi. Lu udah duduk manis di mobilnya waktu gue datang. Untung gue cepet. Kalau enggak, udah di makan lu sama dia. "
"Huuufffttttt...." Ozan menghela napas lega. "Alhamdulillah gue selamat." Sambil mengusap dadanya.
"Mending lu jauhin tuh perempuan. Rusak lu lama-lama deketan sama dia." saran Ramon yang melihat gelagat mencurigakan dari Naura.
"Gue gak deketin dia. Dianya yang terus deketin gue. " elak Ozan
"Hubungan lu sama Ameera gimana? Bukannya kemarin lu
jemput dia di kampus? Terus kenapa malamnya lu bisa ada di club?" Ramon mencoba mengalihkan pembicaraan dengan membahas Ameera.
Ozan kembali teringat saat dirinya hendak memjemput Ameera di kampus. Saat ia melihat Ameera dan Rangga duduk berdua di kursi taman. Mengingat itu saja sudah membuat emosinya memuncak.
"Gue udah tau kenapa dia berubah sama gue, Ram." Ramon tergelak kaget mendengarnya.
"Kenapa?"
"Rangga... Kemarin gue lihat mereka duduk di kursi taman berdua."
"Yakin, lu?" tanyanya.
"Iya, Ram. Gue gak mungkin salah liat. Itu memang Rangga."
"Bukan itu maksud gue. Lu yakin Ameera berubah karena Rangga?" Ramon kurang yakin jika Rangga penyebab Ameera berubah. Karena setahunya Rangga berpacaran dengan Dina. Sedangkan Ameera dan Dina bersahabat baik.
__ADS_1
"Gue juga gak ngerti. Udahan ah bahasnya, udah malas gue" ucap Ozan mengakhiri sesi perbincangan pagi mereka. Sementara Ramon masih sangat penasaran. Tentang ada apa antara Ameera, Rangga dan Dina.
Bersambung.....