
Ozan dan Ameera sudah berada di jalur keberangkatan di Grand Istanbul Airport. Mereka akan pulang ke tanah air. Ameera sudah tidak sabar untuk segera kembali ke negaranya. Ia ingin segera melanjutkan kuliahnya yang sudah beberapa kali cuti. Ramon dan Dina ikut dalam penerbangan itu. Sementara Rangga sudah kembali ke Inggris.
Ameera dan Dina sedang mengobrol santai di ruang tunggu, sementara Ramon dan Ozan sedang mengurus sesuatu.
"Ameera, kamu kelihatan pucat. Apa kamu sakit?" Tanya Dina.
"Ah, gak kok. Mungkin efek lelah. Beberapa hari aku kurang istirahat. Manusia jadi-jadian itu ngajakin jalan terus" jawab Ameera.
"Manusian jadi-jadian?" Ucap dina penasaran dengan siapa yang di maksud manusia jadi-jadian.
"Eh, Gak. Maksudku Mas Ozan. Dia gak kasih aku waktu istirahat." Kata Ameera sambil tersenyum simpul.
Dina terkekeh dengan sebutan manusia jadi-jadian yang di sematkan Ameera untuk Ozan.
"Aku lihat suami kamu kayaknya sayang banget sama kamu." Ucap Dina.
"Kamu salah lihat, Din...!" Elak Ameera.
"Apa?"
"Apa menurut kamu dia sesayang itu sama aku? Aku rasa tidak." Duga Ameera
"Kamu ngomong apa sih. Dia kan suami kamu. Gak mungkin dia gak sayang sama kamu"
Kamu gak tau Din, dia itu baik sama aku bukan karena sayang. Dia merasa bersalah sama ayah. Makanya dia terpaksa menikahi aku sebagai penebus rasa bersalahnya. Batin Ameera
Suara pengumuman yang terdengar memenuhi ruangan membuat Ameera terbangun dari lamunannya. Ameera dan Dina menoleh kesana kemari mencari sosok Ozan dan Ramon yang belum kembali.
"Maaf ya, lama menunggu." Suara Ozan terdengar dari arah belakang. "Kamu darimana, kok lama?" Tanya Ameera
"Urus sesuatu di bawah. Yuk, sebentar lagi kita take off." Ajak Ozan.
Mereka pun masuk ke sebuah lorong yang akan langsung menghubungkan mereka ke dalam pesawat. Ameera duduk berdampingan dengan Ozan, sementara Dina bersama Ramon.
Sambil menunggu pesawat lepas landas, Ameera membaca majalah sedangkan Ozan bersandar sambil memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian Ozan membuka matanya dan melirik Ameera yang sedang asyik membaca majalah.
"Sayang..." panggil Ozan
"Hmmm..." Ameera berdehem
"Kamu pucat, deh. Apa kamu sakit?" Tanya Ozan sambil meletakkan punggung tangannya di kening Ameera.
__ADS_1
"Suhunya normal, kok. Tapi kenapa kamu pucat sekali?"
"Aku kelelahan kayaknya. Kan beberapa hari gak pernah istirahat. Kamu gak kasih waktu buat istirahat" protes Ameera.
"Maaf, ya...! Aku keterlaluan, ya?"
"Itu sadar."
"Habis kamu seksi dan menggoda." Goda Ozan yang membuat Ameera melipat majalah hendak melayangkannya ke wajah Ozan, namun di urungkannya mengingat dimana mereka berada sekarang. Ia merasa heran suaminya makin hari tingkat kemesumannya semakin menjadi-jadi.
"Maksud aku bukan itu. Kamu ajakin aku pergi terus. Makanya aku gak punya waktu istirahat."
"Iya, maaf..."
Ramon yang melirik ke arah mereka tersenyum geli melihat pasangan yang menurutnya aneh tersebut.
"Din, kamu lihat kan? Mereka itu pasangan aneh. Nanti kamu jangan kayak mereka, ya!" Ujar Ramon
"Apaan sih, kak"
"Aku lihat Rangga itu sebelas dua belas sama Ozan, loh. Kamu harus hati-hati" Saran Ramon yang bermaksud menggoda Dina.
Kak Ramon benar. Rangga sama Kak Ozan memang sebelas dua belas, dalam hal mencintai Ameera. Batin Dina
Pesawat pun akhirnya terbang di udara. Ameera yang duduk di sisi jendela melihat takjub ke bawah. Wilayah Turki terlihat sangat Indah dari atas. Ozan sudah memejamkan matanya. Sudah merupakan kebiasaannya sejak dulu, jika di pesawat ia akan memilih untuk tidur.
Sementara Ramon dan Dina terus mengobrol seru. Entah apa yang menjadi bahan obrolan mereka.
Tak terasa sudah 12jam pesawat mengudara. Beberapa saat lagi mereka akan mendarat di bandara ibu kota. Ozan sudah terbangun dari tidurnya sejak tadi.
****
Di lobby sudah ada dua mobil yang menunggu mereka. Mobil yang satu akan mengantar Ozan dan Ameera dan yang satunya mengantar Ramon dan Dina.
Karena sangat lelah, Ameera tidur di mobil dengan menjadikan paha Ozan sebagai bantal. Ozan membelai rambut Ameera dengan lembut selama perjalanan ke rumahnya. Jarak antara bandara dan rumah di tempuh dalam waktu satu jam.
Mobil pun memasuki gerbang. Ameera masih tertidur lelap di pangkuan Ozan. Karena tidak tega membangunkan Ameera akhirnya Ozan menggendongnya.
"Selamat Datang tuan muda" sambut pak Diman sambil menundukkan kepala. Ozan hanya mengangguk sekali.
Dan langsung membawa Ameera yang tertidur dalam gendongannya menuju kamar meeeka di lantai dua.
__ADS_1
Pak Diman berjalan lebih dulu di depan Ozan untuk membukakan pintu kamar.
Ozan membaringkan Ameera di ranjang, membuka sepatunya, lalu menyelimutinya.
"Apa anda butuh sesuatu tuan muda?" Tanya pak Diman.
Ozan melirik jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB
"Tolong buatkan teh" Pinta Ozan.
"Ada lagi tuan muda?" Tanya pak Diman.
"Tidak. Sementara itu saja. Bawa ke ruang kerja saja, ya. " titah Ozan
"Baik" Pak Diman menundukkan kepala lalu berjalan keluar kamar.
Ozan duduk di sisi ranjang memandangi wajah Ameera yang tertidur lelap dengan wajah pucatnya. Ozan membelai puncak kepalanya dengan sayang lalu mengecup kening, mata dan bibir Ameera secara bergantian.
"Tidurlah sayang. Kamu pasti kelelahan" Bisik Ozan
Satu hal yang Ozan sadari, wajah Ameera yang baby face menjadi candunya untuk di pandangi. Meskipun hatinya selalu menolak mengakui bahwa ia telah jatuh cinta kepada istrinya kecilnya, tetapi ia menyayangi Ameera dan akan melakukan yang terbaik untuk membahagiakan Ameera.
***
Sebelum mengantar Dina pulang ke rumahnya, Ramon mengajak Dina mampir ke sebuah restoran untuk makan malam dahulu. Karena sepanjang jalan mereka belum makan. Hanya minum softdrink dan beberapa camilan di pesawat. Setelah makan malam Ramon langsung mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalanan ia mengobrol banyak dengan Dina. Tanpa Ramon sadari ia merasa sangat nyaman dengan Dina. Walaupun baginya Dina adalah anak kecil sama seperti Ameera, tetapi Ramon sangat menikmati perjalanan panjangnya hari ini.
Mereka telah sampai di depan rumah Dina. Ramon membukakan pintu mobil untuk Dina.
"Terima kasih ya, kak. Perjalanan yang sangat menyenangkan." Ucap Dina sambil tersenyum manis.
"Sama-sama. Kalau ada waktu aku akan mengajakmu jalan-jalan." Sahut Ramon. Beberapa saat kemudian ia teringat bahwa Dina adalah pacar Rangga. "Eh, maaf. Maksudku aku akan mengajakmu jalan-jalan bersama Ameera dan Ozan. Rangga kan di luar negeri. " Ramon meralat kata-katanya yang tadi.
"Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu ya kak"
"Iya. Selamat istirahat." Ucap Ramon sambil melambaikan tangannya. Ia pun di atarkan sopir menuju ke rumahnya, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah Dina.
****
Ozan sedang berada di ruang kerjanya memeriksa beberapa laporan. Tanpa merasa lelah menempuh perjalanan jauh dari Turki ke Indonesia. Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk membawakan teh yang di pesannya.
__ADS_1
Ozan asyik memeriksa laporan perusahaannya sampai tidak sadar sudah larut malam. Ia pun menutup laptopnya lalu beranjak menuju kamar.
****