
Sejuknya udara di pagi buta yang seakan menusuk tulang, membuat Ameera bermalas-malasan. Ia masih betah bergelung di bawah selimut. Ozan yang sudah menggunakan baju koko dan sarung sudah beberapa kali membangunkan istrinya yang masih belum mau terbangun dari tidurnya itu.
"Yank... bangun dulu yuk... Shalat dulu!" Ozan berbisik di telinga Ameera.
"Hmmm..."
"Bangun, yank... keburu lewat waktu subuhnya loh... habis shalat, tidur lagi nggak apa-apa."
"Masih ngantuk..."
"Bangun Ameera, aku sudah siapkan air hangat buat kamu mandi."
Akhirnya Ameera berusaha bangkit melawan rasa kantuknya. Ia menyeret kakinya memasuki kamar mandi dengan mata yang masih setengah terpejam. Ozan tersenyum seraya menggeleng melihat Ameera yang berjalan dengan langkah gontai bahkan menabrak pintu kamar mandi.
"Kayak lagi sleepwalking kamu yank." gumam Ozan di selingi kekehan.
Setelah mandi, Ameera merasa lebih segar dan tidak mengantuk lagi. Mereka pun melaksanakan shalat berjamaah dengan Ozan sebagai imam.
***
"Yank, kapan kamu ambil cuti kuliah?" tanya Ozan di sela-sela sarapan.
"Bulan depan aja, Mas. Aku masih mau kuliah." jawabnya.
"Kok bulan depan sih. Itu perut kamu sudah mulai membesar. Aku nggak mau kamu terlalu capek. Pokoknya Kamu ajukan cuti mulai hari ini. Titik!" ucapan Ozan yang penuh penekanan membuat Ameera mengernyit.
"Galak amat..." Ameera ingin protes, namun sekarang ia merasa tidak bisa lagi melawan apapun yang di katakan suaminya itu. Seperti telah terprogram sendiri di otaknya, apapun yang di katakan Ozan akan di turutinya tanpa banyak protes. Ameera yang barbar tidak ada lagi. Dulu, sebelum Ozan berhasil menaklukkan hatinya, ia akan adu mulut dengan Ozan bahkan tak segan melayangkan tinjunya jika pria itu salah bicara.
kenapa aku jadi bucin begini...
"Kamu dengar nggak Ameera Malika Hutomo?" tanya Ozan dengan suara lembut seraya menyebutkan nama lengkap Ameera.
"Iya dengar, Mas. Lagian kan pengajuan dulu. Itu juga nggak langsung di acc kan?"
"Apa perlu aku bicara dengan Pak Haris?" Ameera langsung terlonjak mendengar Ozan menyebutkan nama rektornya. Bisa gawat kalau sampai Ozan menemui pak rektor. Ameera selama ini berusaha menyembunyikan identitas dirinya bahwa ia adalah istri seorang Ozan Chandra Jaya. Hanya beberapa sahabatnya saja yang tahu. Saat heboh-hebohnya seluruh isi kampus membicarakan resepsi pernikahan Ozan Chandra Jaya, yang di gelar di Turki, Ameera memilih tidak berkomentar. Bahkan saat tersebar berita bahwa istri Ozan kuliah di sana, Ameera tetap menyembunyikan identitasnya.
__ADS_1
"Jangan!" Mendengar Ameera reflek mengucapkan kata jangan membuat Ozan heran. Ia memicingkan matanya.
"Kenapa jangan? Kamu malu mengakui aku sebagai suami kamu? Karena kamu masih muda dan aku sudah tua?" Ozan teringat dulu Ameera sering mengatakan Ozan sudah tua. Padahal Ozan masih sangatlah muda, sebentar lagi usianya baru menginjak 27tahun.
Idih... Siapa juga yang malu jadi istrimu? Aku bukan malu jadi istri kamu. Aku takut sama pelakor. Indah bilang, dia saja rela jadi pelakor kalau laki-lakinya kayak kamu, apalagi yang lain? Walaupun aku tahu kamu bukan tukang selingkuh sih. Naura saja yang sesempurna itu kamu abaikan. Hehe, nah kan, aku jadi narsis begini. Tapi kamu juga kan belum pernah bilang cinta sama aku...
"Aku takut ketahuan, Mas. Kalau teman-temanku tahu aku istri kamu, mereka akan jarak denganku."
"Masa' sih?" tanya Ozan.
Ameera menjawab dengan mengangguk, mencoba meyakinkan Ozan.
"Dulu ayah sama Rangga merantai kaki dan tanganku, aku nggak di bolehin berteman dengan sembarang orang. sekarang kamu juga mau merantaiku dengan status sebagai istri? Aku kan mau juga punya teman, Mas." Wajah Ameera kembali terlihat sedih.
Ozan pun merasa kasihan pada Ameera yang dulu hidupnya sangat di batasi. Ozan juga sempat merasakan betapa tidak enaknya hidup dalam batasan. Karena itulah ia tidak pernah membatasi pergaulan Ameera selama itu hal yang baik.
"Ya sudah. Nanti Ramon yang urus soal cutimu." ucap Ozan kemudian.
Hah, itu apa bedanya coba, kalau kamu atau Kak Ramon yang urus izin cutiku.
"Iya, Mas." Sahut Ameera.
Ameera pun berangkat ke kampus di antar Oleh Ozan. Saat meninggalkan gerbang kompleks perumahan, sebuah mobil mengikuti mereka dari belakang. Namun, baik Ozan maupun Ameera tidak menyadarinya. Bahaya sedang mengintai mereka.
***
Dina dan Rangga sedang duduk berdua di sebuah taman di dekat kampus. Dina begitu terkejut dengan kedatangan Rangga yang tiba-tiba. Namun, gadis itu sudah mampu menebak dalam hatinya bahwa kedatangan Rangga pasti ada hubungannya Dengan Ameera. Ia tahu betul, Rangga tidak akan meninggalkan pekerjaan atau kuliahnya begitu saja jika bukan untuk sesuatu yang penting. Dan satu-satunya hal terpenting dalam hidup Rangga adalah Ameera.
"Jadi kamu pulang karena Kak Naura punya rencana jahat untuk Ameera dan Kak Ozan?" tanya Dina.
Rangga menghela napas kasar. Bayangan Ameera menari-nari di benaknya. Jika bukan karena Hendri yang selalu mengincar nyawa Ameera, ia tidak akan pernah membiarkan Ameera di miliki orang lain. Dan sialnya, sekarang Naura pun terhasut oleh kejahatan Hendri.
"Iya, Din... Aku nggak bisa membiarkannya begitu saja. Ameera sudah banyak kehilangan hal-hal penting dalam hidupnya karena Papa. Dia kehilangan ibunya di usia delapan tahun, dia kehilangan kebebasannya, aku bahkan membatasi pergaulannya sehingga dia nggak punya teman selain aku."
"Aku mengerti perasaanmu, Rangga." ucap Dina pelan.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Din. Aku tahu, aku nggak adil sama kamu." Rangga bahkan belum mampu membuka hatinya untuk Dina, bahkan setelah hampir 4tahun kebersamaan mereka sebagai pasangan kekasih palsu di depan Ameera.
"Aku nggak apa-apa, aku akan menunggumu sampai kapanpun. Kamu sudah janji sama aku kan? Kalau kamu nggak bisa bersama Ameera, maka aku akan menjadi satu-satunya pilihan terakhir buat kamu." imbuh Dina.
"Tapi kamu berhak bahagia, Din. Walaupun bukan sama aku. Aku nggak mau menyakiti kamu lebih dari sekarang." Rangga menggenggam jemari Dina yang duduk di sebelahnya. Ada perasaan bersalah yang begitu besar dalam hatinya. Terlebih Dina sedang menjatuhkan air matanya.
Rangga tahu Dina selalu bertemu dengan Ramon dari laporan Rizal. Semalam pun Ramon dan Dina bertemu lalu menghabiskan waktu bersama. Rangga pun tahu, seorang Ramon tidak akan membuang-buang waktunya untuk orang lain, jika itu tidak penting baginya. Dan jika Ramon benar-benar serius dengan Dina, maka ia akan melepas Dina untuk Ramon.
"Aku akan menjadi manusia paling sabar menunggu untukmu, Rangga. Aku akan memberimu batasan waktu seumur hidup, untuk kamu belajar menerima aku."
"Maafkan aku, Din. Aku bersalah sama kamu."
Tiba-tiba ponsel milik Rangga berdering. Tampak pemanggil dengam nama Rizal. Ia pun buru-buru menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Halo, Zal."
"Halo, Rangga. Lu di mana?" tanya Rizal di seberang sana.
"Gue lagi di taman dekat kampus sama Dina, kenapa?
"Gue dapat laporan, Naura lagi mengarah ke kampusnya Ameera. Dia ngikutin mobil Ameera dari belakang. Lu cepet jangan sampai Naura benar-benar nekat."
Mendengar laporan Rizal, wajah Rangga langsung berubah pucat.
"Din, ayo cepat, Kak Naura lagi mengarah ke kampus, dia ngikutin mobil Ameera."
Tanpa pikir panjang Rangga berlari menuju gerbang kampus. Dinapun ikut berlari mengikuti Rangga.
**To Be Continue...
Siap-siapnya gaes, aku sedang menyiapkan tissue untuk menulis part babang Rangga yang rela berkorban untuk Ameera. Babang Rangga, aku padamu.
Tolong tinggalkan like dan komen untukku wahay pembacaku tersayang. Itu akan jadi penyemangat di pagi hari untuk Author yang kepedean ini. Jika boleh serakah, tinggalkan vote untukku. Poin bisa di dapat dengan gratis. Nggak usah banyak-banyak. Asal tiap hari. Hahahhah
Salam hangat... love u all**
__ADS_1