Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Kelahiran bayi Kembar


__ADS_3

"Ameera, kau tahu kenapa ayah mengajarkanmu semua keahlian ini? Karena suatu hari kau akan membutuhkannya.


Ingatlah satu hal, kau hanya boleh menggunakan keahlianmu untuk melindungi diri dan orang lain. Bukan untuk menindas orang yang lemah, dan bukan untuk membalas dendam pada orang yang melakukan kejahatan padamu. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Itu akan membuatmu terlihat sama dengan mereka. Bahkan dunia tidak akan bisa membedakan antara dirimu dengan mereka. Jadilah seorang pemaaf, walaupun kau merasa kemarahanmu di ubun-ubun."


Kalimat panjang penuh arti itu terus terngiang di telinga Ameera. Pesan yang pernah di ucapkan mendiang ayahnya beberapa hari sebelum kematiannya. Pistol yang berada di genggamannya terjatuh ke lantai begitu saja, seiring dengan derai air matanya yang berguguran.


Ameera boleh saja marah, bahkan sangat wajar jika ia merasa semua yang terjadi pada tidak adil. Tapi membalas dendam bukanlah sesuatu yang baik. Ameera baru saja melepaskan seluruh kemarahan dan kebencian yang bersarang di jiwanya. Tiga kali tembakan yang ia lepaskan ke sembarang arah seolah mewakili seluruh perasaannya.


Ozan segera mendekat dan memeluk istrinya itu. Menghilangkan segala kekhawatirannya selama beberapa hari ini.


"Dia baru saja melepaskan seluruh kemarahan di dalam hatinya. Sekalipun kemarahannya memuncak, dia tidak akan sanggup melukai orang lain. Itulah Ameera," Rangga kenal betul bagaimana sahabatnya itu, karena itulah ia diam saja dan membiarkan Ameera ketika hendak membidik tembakan pada Hendri.


Beberapa polisi yang berjaga di depan segera mengamankan Hendri dan membawanya pergi. Begitupun dengan Naura yang kemungkinan akan di jatuhi hukuman penjara setelah semua kejahatan yang di lakukannya. Gadis itu sekarang hanya bisa pasrah jika ia di jatuhi hukuman oleh polisi. Kehadiran Dion kembali ke sisinya seperti membawa angin segar dalam hidupnya. Naura pun berjanji akan memperbaiki hidupnya mulai saat itu.


Sementara Hasan segera memerintahkan pengawalnya membawa Ramon, Rizal dan Jack ke rumah sakit karena mengalami luka serius.


Ameera meringis kesakitan memegangi perutnya. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, tiba-tiba darah segar mengalir melewati betisnya. Ozan, Rangga dan Hasan yang melihatnya langsung panik.


"Sa-sayang, kamu berdarah...," ucap Ozan terbata-bata saking takutnya.


"Sakit, Mas...!" Ameera yang sudah tidak kuat menahan sakit di perutnya akhirnya pingsan membuat Ozan semakin panik.


"Ozan, ayo cepat kita bawa Ameera ke rumah sakit!"


Ozan lalu menggendong Ameera keluar dari villa itu menuju ke halaman depan. Mereka kemudian bergegas menuju ke rumah sakit.


Ozan memangku Ameera di dalam mobil, sementara Rangga menyetir bagai kesetanan. Saking paniknya, ia melajukan mobil tanpa peduli dengan umpatan pengendara lain. Bahkan ia nekat menerobos lampu merah.


"LEBIH CEPAT RANGGA!!" teriak Ozan.


"Ini udah ngebut, Bang!" sahut Rangga.

__ADS_1


Ozan menangis memeluk Ameera yang sudah tidak sadarkan diri, dengan darahnya yang terus mengalir. Ada rasa sakit yang teramat dalam hati laki-laki itu melihat banyaknya darah di pakaian istrinya.


"Bangun, Yank... Kamu harus bertahan, sebentar lagi kita sampai..," ucap Ozan seraya menepuk pelan wajah Ameera.


Tibalah mereka di sebuah rumah sakit. Petugas kesehatan yang bertugas dengan sigap membawa Ameera ke ruang operasi. Selama proses operasi itu, Ozan terus berada di sisi Ameera. Ia terus melafalkan do'a dan membisikkannya di telinga Ameera.


Hasan dan Rangga duduk bersebelahan di kursi panjang di depan ruang operasi. Tidak lama kemudian, Zarima datang di temani Aliyah dan Dina.


"Bagaimana Ameera, Mas...?" tanya Zarima seraya terisak.


Wanita paruh baya itu begitu panik setelah mendapat kabar bahwa menantu kesayangannya mengalami pendarahan.


"Tenanglah, Ameera akan baik-baik saja," ucap Hasan berusaha menenangkan Zarima yang terus menangis.


Aliyah lalu mendekat pada Rangga dan memeluk anaknya itu, "Kamu tidak apa-apa kan, Nak?"


"Iya, Mah..." jawabnya.


Sesaat kemudian Rangga melirik Dina, gadis yang begitu di rindukannya. Segala hal yang terjadi selama ini menciptakan kecanggungan di antara mereka. Dina berusaha menyunggingkan senyum saat mata mereka bertemu.


"Terima kasih, Din," sahut Rangga, "Oh iya, Bang Ramon ada di lantai dua. Kalau kamu mau jengukin kesana aja,"


"Nanti saja, aku mau menunggu Ameera."


Di dalam sana dokter sedang berjuang menyelamatkan Ameera dan kedua anaknya. Dan tidak lama kemudian, terdengarlah suara tangisan melengking seorang bayi yang baru saja di keluarkan dari perut ibunya itu. Ozan menjatuhkan air matanya menyaksikan kelahiran anaknya yang berjenis kelamin laki-laki itu.


Salah satu dokter segera membersihkan bayi mungil itu. Sedangkan beberapa dokter lain sedang berusaha mengeluarkan bayi yang satunya.


Selang beberapa menit dari kelahiran bayi pertama, akhirnya dokter berhasil mengeluarkan bayi berjenis kelamin perempuan itu. Lagi-lagi Ozan mematung, menatap bayi dalam gendongan dokter itu.


Tidak seperti kembarannya yang segera menangis sesaat setelah kelahirannya, bayi perempuan itu tak kunjung menangis. Dokter pun segera memberikan penanganan pada bayi itu.

__ADS_1


"Dok, bayi ini harus segera di tangani. Beberapa bagian tubuhnya membiru," ucap salah seorang dokter.


"Segera lakukan perawatan," perintah seorang dokter ahli.


Setelah segenap usaha dokter itu, akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi perempuan itu walaupun terdengar lemah. Kedua bayi itu kemudian di baringkan di dalam inkubator.


Ozan lalu membelai puncak kepala Ameera yang masih belum sadar itu, lalu mengecup keningnya berkali-kali.


"Sayang, anak-anak kita sudah lahir. Kamu harus kuat seperti mereka. Berjuanglah Yank, anak-anak butuh kamu."


Ozan lalu mendekati kotak kaca tempat anak kembarnya berada. Bahagia bercampur haru jelas tergambar di wajahnya melihat dua bayi mungil itu.


"Kalian yang kuat ya, Nak... Ayah minta maaf, karena lama jemput kalian," ucapnya seraya mengusap kotak kaca itu.


Di luar sana Rangga yang tidak tenang mondar-mandir tidak jelas di depan ruang operasi. Tidak lama kemudian, Ozan muncul dari balik pintu."


Mereka yang sudah sejak tadi menunggu, langsung mendekat saat melihat Ozan.


"Ozan, bagaimana Ameera?" tanya Zarima.


"Operasinya berjalan lancar, Mah. Sekarang Ameera masih belum sadar. Si kembar juga sedang di tangani dokter,"


Zarima menangis haru memeluk putra sulungnya itu, "Selamat, Nak... Kamu sudah jadi seorang ayah..."


"Selamat ya, Bang!" ucap Rangga.


Ia lalu memeluk kakaknya itu. Mereka yang berada di sana bergantian mengucapkan selamat kepada Ozan yang sudah menjadi seorang ayah.


Sementara Ameera yang belum sadar. Kondisinya sangat lemah.


Tidak lama kemudian...

__ADS_1


Tiiiittt....


Alat pendeteksi detak jantung berbunyi lama. Dokter yang berada di ruanhan itupun menjadi panik.


__ADS_2