
Ozan, Ameera, Ramon, dan lainnya duduk bersama dalam satu meja, dengan bahan obrolan yang seru. Lain halnya dengan Rangga dan Dina yang terlihat canggung, sesekali saling mencuri pandang.
"Zan, tangan lu kenapa? Kok diperban," tanya Ramon saat melihat tangan Ozan yang diperban.
"Gara-gara lu nih," sahut Ozan dengan kesalnya seraya mengangkat tangannya..
"Apa salah bunda mengandung? Woi... jangan sembarangan lu, apa urusannya tangan lu sama gue?"
Rizal yang sudah mengerti situasi itu hanya dapat terkekeh pelan. Menahan tawa yang sudah ingin mendobrak kerongkongannya. Rangga menyikut perut Rizal hingga laki-laki itu terdiam.
"Kelakuannya dia," Ozan menunjuk Rangga dengan ekor matanya membuat Rangga yang duduk di sampingnya terlonjak, "Kalau aja elu nggak... mmmhh... mmmmhhh... @$@#?!$@$..." ucapan Ozan sudah terdengar tidak jelas karena Rangga segera membekap mulutnya dengan telapak tangannya.
Ameera, Naura dan Rizal mengulum bibirnya lagi. Mereka paham betul apa yang ingin di katakan oleh Ozan, yang pasti akan membuat Rangga malu.
"Itu kan salah abang sendiri. Siapa suruh tangannya taruh di meja," bisik Rangga pelan.
"Singkirin tangan lu, dasar mafia kelas kakap." ucap Ozan yang mulutnya masih di bekap oleh Rangga, sehingga hanya Rangga yang dapat mendengar ucapannya.
Rangga pun melepaskan tangannya yang membekap mulut Ozan. Tersenyum tanpa rasa berdosa.
"Ramon, Dina, kalian kapan menikah? Jangan lama-lama lho," tanya Dion yang mengira Ramon dan Dina sepasang kekasih.
Rangga langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Dion yang dilayangkannya pada Ramon dan Dina.
"Kenapa bukan Bang Dion duluan yang nikah sama Kak Naura. Kalian kan udah tua," Rangga mulai tersulut emosi.
"Kamu nggak lihat, cincin di tangan aku," kata Naura seraya memamerkan cincin di jari manisnya yang berarti Dion telah melamarnya.
"Makanya gue bilang juga apa, kalau cinta ngomong, jangan beraninya ngomong cinta lewat lagu doang, sakit kan lu..." bisik Ozan ke telinga Rangga seraya menepuk punggung Rangga dengan sedikit kencang saking kesalnya.
"Dina kan masih 19tahun. Masa nikah secepat itu," kata Rangga.
"Tapi Ameera juga menikah dengan Ozan saat usianya 18tahun, mereka sekarang bahagia dan punya anak," Entah kenapa suara Naura terdengar begitu menusuk di telinga Rangga.
Rangga kemudian melakukan gerakan tangan seperti memeras cucian yang berarti ancaman bagi Naura. Mereka semua seolah sengaja bekerja sama membakar emosi Rangga.
"Gue lagi nunggu waktu yang tepat. Dina kan masih sibuk sama tugas kuliahnya, iya kan, Din?" tanya Ramon. Ia bahkan melingkarkan tangannya di sandaran kursi yang diduduki Dina sehingga terlihat seperti sedang merangkulnya.
Rangga dan Ozan pun saling melirik, lalu saling berbisik. Ameera yang kepo itu mendekatkan telinganya agar dapat mendengar bisikan kakak beradik itu.
"Panas nggak lu?" bisik Ozan.
"Udah terbakar, Bang. Berasa nongkrong di permukaan matahari..." Rangga membalas berbisik.
Syukurin syukirn syukurin syukurin syukurin. batin Ameera
__ADS_1
Ameera kemudian tersenyum puas, lalu mengedipkan matanya sebelah pada Ramon.
Ramon yang telah mengerti aba-aba dari Ameera kemudian melancarkan aksinya.
"Din, malam minggu nanti kita main ke puncak, yuk!" ajak Ramon.
Rangga terperanjak mendengar ajakan Ramon. Puncak adalah tempat yang romantis untuk sepasang kekasih.
Ngapain coba dia ngajakin Dina ke puncak. Nggak bisa di biarin nih... batin Rangga.
Ia kembali melirik Ozan dengan ekor matanya namun Ozan hanya mengangkat bahunya sekali.
"Iya, Din... Romantis loh di puncak. Mas Ozan juga pernah ajak aku ke puncak..." kata Ameera seraya tersenyum jahil.
Rangga kemudian melirik Ameera dengan tatapan mengiba. Namun Ameera seolah tidak peduli dengan raut wajah memelas adik iparnya itu.
Bodo amat. Makin panas, makin bagus. batin Ameera.
"Kamu ingat aja, Yank... Kan habis dari puncak kita malam pertama," bisik Ozan, membuat Ameera tersipu malu.
Mata Rangga langsung terbelalak mendengar
bisikan Ozan pada Ameera. Ia reflek menepuk dengan keras tangan Ozan yang baru saja di perban membuatnya berteriak kesakitan.
"Sorry,"
Rangga kemudian melirik Dina sekali, sebelum meninggalkan meja itu. Ramon dan Ameera pun saling memberi kode dengan menaikkan jempolnya.
Mamp*s lu! Makan tuh cemburu. batin Ramon.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara tangis Elmira. Ameera langsung mendekati ayunan bayi itu dan menggendong putri kecilnya. Dina yang merasa belum puas menggendong bayi itu segera menghampiri Ameera.
"Lucu banget sih El, bule banget lagi... Wajahnya mirip Kak Ozan banget, ya... Nggak ada yang di buang..." ucap Dina seraya mengusap pipi bayi cantik itu.
"Din... Gimana tadi, Rangga keren, ya..." kata Ameera.
"Apaan sih kamu, Ameera..."
"Lagunya tadi buat kamu, loh..."
"Tapi Rangga kan belum pernah bilang langsung. Malah tadi dia cuek sama aku," ucap Dina dengan wajah sedihnya.
"Dia kan satu pabrik sama kakaknya. Gengsi bilang cinta. Dulu Mas Ozan juga gitu. Dia bilang cinta sama aku setelah Rangga kecelakaan,"
Dina terkejut mendengar ucapan Ameera, "Masa sih?" tanya Dina tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Makanya aku terus panas-panasin Rangga supaya mau mengakui perasaannya ke kamu."
"Nggak usah, Ameera. Kalau dia mau, dia harusnya bisa bilang tanpa harus di panas-panasi. Lagipula aku sudah menyerah dan nggak mengharapkannya lagi,"
"Laki-laki memang menyebalkan,"
Mereka pun melanjutkan obrolan panjangnya pagi itu.
****
Aliyah yang melihat gurat kesedihan di wajah Rangga segera mendekati anaknya itu. Ia paham betul bagaimana anak lelaki yang telah di besarkannya dengan penuh kasing sayang itu. Ia lalu duduk di sebelah Rangga serayaembelai rambutnya.
"Kamu kenapa, Nak...? tanya Aliyah.
Rangga lalu bersandar di bahu ibunya itu, "Mah, kenapa ya, aku harus patah hati dua kali?"
"Kamu sudah bilang sama Dina tentang perasaan kamu?"
"Belum, Mah... Aku takut merusak hubungannya dengan Bang Ramon. Lagipula selama 4 tahun, aku terlalu jahat sama dia. Aku rasa ini balasan untuk aku," Rangga teringat perjuangan Dina selama 4tahun menunggunya, namun Rangga membuatnya menjauh darinya.
"Jangan berkata begitu, Nak... Mama yakin Dina masih memiliki perasaan yang sama untuk kamu. Kamu hanya perlu menunggu sampai kekecewaannya sama kamu luntur,"
"Nunggu sampai dia diambil orang, Mah..."
"Ya kamu ungkapkan kalau kamu tidak rela Dina diambil orang! Dulu, kamu patah hati setelah Ameera menikah dengan Ozan. Apa sekarang kamu mau patah hati lagi, kalau suatu hari Dina menyerah dan menikah dengan orang lain."
"Nggak, Mah... Aku nggak sanggup lagi."
"Kejar, Rangga. Ungkapkan kalau kamu sayang sama dia."
Mama benar, kalau aku nggak bilang sama Dina, bagaimana dia tahu kalau aku sayang sama dia.
Tiba-tiba muncul keberanian dalam hati Rangga untuk mengungkapkan isi hatinya pada pujaan hatinya itu. Tidak peduli jika Ramon nanti akan marah padanya. Ia akan mengungkapkannya apapun jawaban Dina pada akhirnya.
***
Acara aqiqahan itupun berlangsung khidmat. Hasan dan Zarima menyalami para tamu yang berdatangan. Berbagai kuliner nasional dan makanan khas Timur Tengah tersaji memanjakan lidah para tamu undangan.
Menjelang sore, acara pun selesai. Para tamu mulai meninggalkan tempat berlangsungnya acara itu.
BERSAMBUNG
KAYAKNYA CUMA BABANG RANGGA SEORANG YANG MERASAKAN PANASNYA NONGKRONG DI PERMUKAAN MATAHARI.
EIKE PERNAH SIH NONGKRONG DI MATAHARI DEPARTEMENT STORE,TAPI DINGIN KOK....
__ADS_1