Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Luluh


__ADS_3

Dalam kehidupan seseorang pasti pernah menapaki titik terendah dalam hidupnya. Begitu pula dengan seorang gadis yang sedang berusaha bangkit dari titik terendahnya. Menjadi anak yatim piatu di usia yang masih kecil membuatnya lebih mandiri dan dewasa.


Dina yang mewarisi kekayaan melimpah dari mendiang orang tuanya nyatanya tidak menjamin kebahagiaannya.


Dan malam itu, Dina yang sedang berusaha melupakan Rangga harus kembali teringat pada seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya tersebut.


Ia tercengang, mematung mendengar setiap kata yang di ucapkan Ramon tentang Rangga yang sebenarnya adalah Deniz, adik kandung Ozan.


"Kak Ramon nggak bercanda kan?" tanya Dina.


"Ozan yang cerita, Din... Ozan mana pernah bohong." sahut Ramon.


"Rangga pasti sedih sekarang."


"Tapi wajahmu juga terlihat sedih,"


"Aku hanya merasa kasihan padanya. Aku belum pernah melihatnya seterpuruk sekarang."


"Kamu nggak mau jengukin dia? Rangga pasti senang kalau kamu kesana."


"Nggak... Aku sudah berjanji nggak akan menemuinya lagi." Walaupun di hatinya ia sangat ingin menemui pujaan hatinya itu. Namun apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur.


"Ozan bilang, Rangga nggak mau bertemu siapapun. Bahkan dengan Ameera sekalipun." ucap Ramon, membuat Dina terkejut. Padahal setahunya, Ameera adalah penawar luka paling mujarab bagi Rangga.


"Masa sih,?" tanya Dina tak percaya.


"Menurut Ozan gitu."


Dina lalu terdiam sedang menimbang-nimbang apakah dirinya akan menemui Rangga atau tidak.


Tapi kalau aku menemuinya dan dia mengusirku, kan aku akan kembali sakit hati. Lebih baik janganlah.


***


Hasan baru saja tiba di bandara Indonesia. Ia mempercepat langkahnya menuju lobby tempat Ozan sedang menunggunya. Dari kejauhan ia melihat anak sulungnya itu berdiri menunggunya seraya melipat tangan di dada. Ia segera menghampirinya.


Setelah perbincangan singkat dengan pelukan rindu, mereka segera meninggalkan bandara. Bukannya langsung pulang, Hasan malah meminta Ozan mengantarnya menemui Rangga.


"Jangan dulu, Pah... Dia masih butuh waktu. Beberapa hari ini mama terus ke sana, tapi nggak bisa ketemu." ucap Ozan di tengah perjalanan.


"Antar Papa ke sana, tidak ada bantahan!!" sahut Hasan,


"Baiklah," ucap Ozan pasrah.


Dan tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah tempat Rangga berada. Namun, seperti dugaan Ozan sebelumnya, Rangga tidak ingin bertemu dengan siapa pun.


"Iya kan, Pah? Kan aku sudah bilang." bisik Ozan ke telinga Hasan. Namun laki-laki paruh baya itu sangat keras kepala. Ia tetap memaksa menemui Rangga.


"Aku ingin bertemu anakku, tolonglah...!!" ucap nya pada Aliyah yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku, tapi bahkan aku pun tidak di izinkan masuk ke kamarnya." sahut Aliyah.


Hasan berjalan menuju kamar di dekat ruang tamu, yang sekarang di tempati oleh Rangga. Ia mengetuknya beberapa kali, namun tidak ada jawaban.


"Berikan kunci cadangan kamar itu...!" pintanya pada Aliyah dengan wajah datar.


"Papa, ayolah! Kita pulang saja, jangan memaksa." ujar Ozan. Dia tidak ingin Rangga semakin tertekan jika Hasan memaksa bertemu dengannya.


Aliyah menuju sebuah lemari yang terletak di sudut ruangan, mengambil kunci cadangan, lalu memberikannya pada Hasan.

__ADS_1


Begitu ia membuka pintu kamar itu, matanya tiba-tiba berair melihat Rangga yang kini terlihat lebih kurus, tidak punya semangat, bagaikan mayat hidup, ia duduk tidak berdaya di atas kursi roda. Hasan menutup pintu, agar dapat leluasa bicara dengan anak yang selama ini di pikirnya telah meninggal itu.


"Anakku..." ucapnya pelan.


Rangga menoleh saat mendengar suara seseorang. Ia membeku ketika melihat Hasan berdiri di sana. Ia kemudian berbalik membelakangi pria tersebut, menyembunyikan air matanya yang berjatuhan.


"Tolong, tinggalkan aku sendiri!" pinta Rangga.


Hasan tersenyum seraya menyeka air matanya, ia berjalan mendekati Rangga, lalu berjongkok di depannya.


Ia membelai kepala anaknya itu dengan sayang, turun ke wajah. Rangga berusaha menepis tangan itu ketika telah menyentuh bahunya.


"Tolong, Om... Aku ingin sendiri." suara Rangga terdengar lirih memohon agar Hasan meninggalkannya.


Hasan kemudian menepuk pipi anaknya dengan lembut beberapa kali, seperti sedang memarahinya.


"Begini caramu menyambut Papa? Siapa yang mengajarimu?" tanyanya seraya menangis, lalu memeluk tubuh anaknya itu dengan erat. "Maafkan Papa, Nak... semua ini salah papa yang tidak menjagamu dengan baik, sehingga mereka memisahkanmu dari kami. Selama 18 tahun ini tidak sehari pun Papa lewati tanpa memikirkanmu."


Pertahanan yang di bangun oleh Rangga seketika runtuh. Ia membalas pelukan itu, membuang jauh-jauh egonya.


"Kenapa mereka lakukan ini padaku? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini. Papa... Hukumlah orang jahat itu untukku." ucap Rangga dengan tangis sesegukan.


"Tentu saja, Nak... Papa pasti akan menghukum siapapun yang melakukan ini padamu." Ia melepaskan pelukannya sesaat, memandangi wajah Rangga dengan deraian air matanya.


"Papa... aku mau ikut Papa pulang... Papa kemari untuk menjemputku kan?"


"Tentu saja. Papa kemari untuk membawamu pulang ke rumah kita."


Selama beberapa saat mereka berpelukan, melepas kerinduannya selama belasan tahun.


Ozan melirik jam di pergelangan tangannya, sudah cukup lama sang ayah di dalam sana, namun belum juga keluar. Ia mulai gelisah. Sedangkan Aliyah sejak tadi duduk di sofa hanya menundukkan kepalanya.


Tidak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka, Hasan keluardari kamar itu dengan mendorong kursi roda milik Rangga.


"Rangga..." Aliyah langsung berdiri, tubuhnya bergetar, namun ia pasrah jika Rangga memilih meninggalkan rumah itu.


"Ozan... bawa Rangga keluar! " pinta Hasan. Ozan tercengang, ia masih tidak percaya jika Rangga benar-benar setuju ikut pulang bersamanya. Tanpa banyak tanya, ia segera mendorong kursi roda itu keluar dari rumah.


"Bang...Maaf... beberapa hari ini gue keterlaluan ngusir kalian terus." ucap Rangga.


"Gue ngerti kok. Lu pasti berat menerima semua ini."


Rangga lalu teringat kelakuannya beberapa hari belakangan ini, ia terus mengusir sang ibu yang selalu ingin bertemu dengannya.


"Mama gimana?"


"Mama terus menangis di kamar beberapa hari ini. Lu tahu, waktu lu hilang, mama sempat depresi selama berbulan-bulan. Sekarang terjadi lagi."


Ada rasa bersalah yang besar di hati Rangga yang sudah berlaku tidak adil pada ibunya itu. Padahal segala yang terjadi bukan salahnya.


Di dalam rumah, Hasan sedang bicara dengan Aliyah.


"Aliyah, terima kasih sudah merawat anakku dengan baik selama ini. Maaf, aku membawanya tanpa meminta izinmu terlebih dahulu." ucapnya seraya melangkahan kakinya meninggalkan rumah itu.


Aliyah hanya dapat menangis, tidak ada satu kata pun yang dapat terucap dari bibirnya. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, sesaat setelah mereka semua meninggalkan rumah itu dan membawa pergi Rangga.


"Rangga... " lirihnya menyebut nama anaknya itu.


***

__ADS_1


Mereka telah sampai di rumah keluarga Chandra Jaya. Ozan dan Hasan membantu Rangga turun dari mobil. Ameera yang sejak tadi menunggu kedatangan mertuanya segera membuka pintu setelah mendengar suara mobil berhenti.


Ia segera menghampiri ayah mertuanya itu dan menyalaminya. Menghambur memeluknya bagaikan anak manja yang lama tidak bertemu sosok ayahnya.


"Bagaimana kabarmu, Nak? " tanya Hasan seraya mengusap kepala Ameera.


"Baik, Pah... " sahut Ameera seraya tersenyum.


Sesaat kemudian, ia begitu terkejut saat melihat Rangga muncul dari balik mobil.


"Rangga..." gumam Ameera. Ia membelalakkan matanya seolah tak percaya dengan penglihatannya.


"Kenapa? Aku nggak boleh pulang ke rumahku sendiri?" tanya Rangga. Nada bicaranya sudah normal seperti Rangga yang biasanya.


Ameera mengerucutkan bibirnya, "Dasar keras kepala!! Papa pasti habis memarahimu kan? Karena kepalamu lebih keras dari batu?" Ameera berseloroh, seolah kesal dengan Rangga yang beberapa hari ini terus menolak menemuinya. "Pah, ayo marahi dia lebih keras, aku di usirnya beberapa kali..."


"Haha, dia benar-benar berani mengusir kakak iparnya sendiri, tapi Papa sudah memarahinya. Sekarang, ayo kita masuk ke rumah."


Ozan dan Hasan hanya terkekeh mendengar perdebatan dua orang itu. Mereka pun segera masuk ke dalam rumah.


"Mama mana, Yank...?" tanya Ozan pada Ameera.


"Mama ada di kamar itu." jawab Ameera seraya menunjuk ke arah kamar paling ujung.


"Papa... boleh aku bertemu dengan Mama?" tanya Rangga. Ia merasa bersalah karena beberapa hari lalu, setiap Zarima datang ingin bertemu dengannya, ia selalu menolak dan mengusirnya.


"Tentu saja." jawab Hasan.


"Aku saja yang antar, ya." ucap Ameera. Ia segera mendorong Rangga menuju kamar itu.


"Kalau kamu macam-macam dan bicara yang tidak-tidak pada mama, aku pasti akan memukulimu." bisik Ameera seraya mendorong kursi roda.


"Baik, kakak ipar..." ucap Rangga dengan suara yang di buat selucu mungkin membuat Ameera mencubit punggungnya.


"Aauuw sakit tahu," Rangga meringis memegangi bahunya.


"Syukurin."


Saat memasuki kamar, Rangga melihat Zarima sedang menangis memandangi foto-foto seorang anak kecil. Ameera segera keluar dari kamar setelah mengantar Rangga.


Tinggallah Rangga berdua dengan sang ibu di ruangan itu. Saking sedihnya, wanita itu belum menyadari kehadiran Rangga di sana.


"Mama..." panggil Rangga pelan.


Zarima terdiam mendengar suara itu, saat menoleh, Rangga sudah berada di sampingnya dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Deniz..." Ia masih belum percaya jika sosok yang ada di samping nya adalah anaknya itu. Terlebih karena ia memanggilnya dengan sebutan mama.


"Mama... aku minta maaf, beberapa hari ini aku jahat sama Mama." ucap Rangga seraya menghapus air mata di pipi Zarima.


Zarima menyentuh wajah Rangga, tangannya bergetar, "Ini benar-benar kamu, Nak...? Deniz..."


"Iya, Mah..."


Tangis Zarima pun pecah. Ia lalu memeluk anaknya itu. Melepaskan kerinduannya. 18tahun lamanya terpisah dari anaknya bukan sesuatu yang mudah baginya. Setiap hari, ia pura-pura bahagia, padahal hatinya sangat tersiksa oleh perasaan bersalahnya.


""""


**To be continue.

__ADS_1


sabar, beberapa episode lagi.... hehe**


tinggalkan like yaaaa


__ADS_2