
Ameera dan beberapa temannya sedang membicarakan mengenai rencana mereka untuk mendaki gunung beberapa hari lagi. Seorang teman Ameera, Riri sedang mencatat barang apa saja yang akan di butuhkannya. Beberapa teman lainnya sedang sibuk dengan laptop dan ponsel masing-masing.
"Meera, kenapa sih? Dari tadi kamu melamun terus," tanya Riri
"Gak kok... lagi mikirin sesuatu aja."
Sebenarnya Ameera sedang memikirkan Ozan yang tidak benar-benar mengizinkannya pergi mendaki. Ozan terpaksa mengizinkannya karena Ameera terus merengek. Membuat Ozan tidak tega.
Tiba-tiba suara panggilan dari seseorang membuyarkan lamunannya.
"Hai semua..." Sapa Indra yang tiba-tiba muncul dan langsung duduk di sebelah Ameera. Ameera merasa risih langsung menggeser kursinya agak menjauh dari Indra.
"Eh, nanti sore pada nonton yuk, ada film bagus" ajak Indra
"Boleh" kata seorang teman di belakang sana.
"Boleh juga. Kebetulan aku gak ada kegiatan sore ini. Meera, kamu juga ikut, ya..." pinta Riri
"Nonton? Kayaknya aku gak bisa. Aku harus di rumah sore ini."
Suamiku gak suka kalau dia pulang dari kantor dan gak ada aku di rumah. Batin Ameera
" kenapa sih? Kamu kan gak pernah ikut kalau kita lagi hangout?" Protes Indra
"Sorry, bukannya gitu, aku memang lagi gak ada waktu." Berusaha meyakinkan teman-temannya.
Indra langsung lesu setelah Ameera menolak ikut. Indra sebenarnya menyukai Ameera sejak masa ospek, tetapi Ameera terlalu sulit di dekati. Membuat Indra tidak berani menyatakan perasaannya kepada Ameera. Setiap mengajak keluar bersama temannya yang lain, Ameera pun sering menolak. Sehingga indra kehilangan cara bagaimana mendekati Ameera lagi.
Sehingga muncullah ide untuk mendaki di gunung pancar. Rencananya Indra akan mengungkapkn perasaannya kepada Ameera di puncak gunung. Kebetulannya Ameera memang suka mendaki sehingga ia antusias untuk ajakan yang satu ini. Ameera pernah mendaki satu kali dalam kegiatan sekolahnya. Ia pergi dengan Rangga dan teman sekelas lainnya beserta beberapa guru sekolah. Saat itu Ameera mengalami hal yang tidak mengenakkan ketika dirinya menolong orang yang sedang kecelakaan dan hampir merenggut nyawa orang itu.
" ameera, laki-laki yang sering jemput kamu siapa sih?" Tanya indah
"Sepupu" jawab singkat
Maaf ya, aku bohong. Aku belum mau mengungkapkan identitasku kalau aku sudah menikah. Batin Ameera
"Sepupu kamu? Ganteng banget ya. Kayak ada bule- bule nya gitu. Kapan-kapan kenalin dong. Siapa tau jodoh sama aku."
Ameera tersenyum kecut mendengar ucapan temannya tentang kekagumannya kepada suaminya. Entah kenapa itu membuat hatinya terasa seperti di cubit. Ingin rasanya Ameera berteriak mengatakan bahwa itu suaminya.
"Kapan-kapan" jawab Ameera sambil tersenyum paksa
"Kamu tinggal sama dia ya?" Tanya Indah lagi.
Ameera mengangguk. Membuat senyum indah terbit di sudut bibirnya.
"Berarti hari ini kamu di jemput lagi dong sama do'i?"
"Kayaknya enggak dia lagi sibuk di kantornya" bantah Ameera
"Ya sayang banget. Padahal aku lagi kangen pengen liat wajah gantengnya"
Kecentilan banget, dia itu punya istri. Batin Ameera
"Dia sudah punya istri kok. Istrinya barbar, kamu gak takut? Ancam Ameera
__ADS_1
"Hah, yang bener kamu? Tapi kalau buat orang kayak dia, aku rela kok jadi pelakor" sahut Indah sambil tersenyum.
"Huuuuuuuuuuuuuu" Indah mendapat sorakan dari salah satu temannya.
Sembarangan kalau ngomong. Dia itu milikku, Ozanku. Dia hanya akan menjadi milik Ameera seorang. Eh... apa yang aku pikirkan? Apa aku cemburu. Oh, tidak! Ameera membatin
"Bentar ya, aku mau ke toilet dulu." Ameera bergegas ke toilet dengan langkah memburu. Wajahnya terasa panas sehingga ia ingin membasuhnya dengan air.
Begitu sampai di kamar mandi, ia langsung membasuh wajahnya dengan air beberapa kali. Lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Segera Ameera mengetik sebuah pesan.
"Mas, hari ini gak usah jemput. Nanti aku minta tolong sopir jemput"
Ozan sedang serius mengerjakan laporan perusahaan yang sudah mulai menumpuk di mejanya. Ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Ia meraih ponselnya.
Tampak lah id pengirim tertulis di layar ponsel
'mybarbar wife'. Ozan membukanya.
Bukannya membalas, Ozan malah langsung menelepon Ameera.
"Halo"
"Sayang, kok gak mau dijemput?" Tanya Ozan
"Aku masih ada yang mau di urus di kampus. Gak apa-apa kok nanti minta di jemput sopir saja."
"Aku saja yang jemput. Kabari aku kalau sudah selesai ya"
"Tapi...." belum selesai Ameera bicara, Ozan sudah menutup teleponnya. Membuat Ameera kesal. Bagaimana caranya agar Ozan tidak menjemputnya. Ia takut Indah akan mendekati Ozan.
***
Ozan masih sibuk dengan setumpukan laporan di depannya. Ramon masuk ke membawa beberapa map. Ia duduk di kursi depan meja Ozan.
"Zan... dibawah ada Naura. Gue udah suruh dia pulang. Tapi dia gak mau. Gimana?" Tanya Ramon.
"Lu aja yang beresin, memang dia mau apa ke sini?"
"Dia mau elu. Makanya dia ke sini." Jawab Ramon.
"Suruh pulang aja" imbuh Ozan
"Ya kalau di suruh pulang dia nya mau mah, udah pulang dari tadi. Cuma dia pengen banget ketemu sama lu" ucap Ramon
" Gue gak ada waktu, Ram. Lu liat tumpukan kerjaan gue" tolak Ozan "atau lu mau, gue nemuin dia"? Tanya lagi
"Ya gak usah juga. Nanti kalau capek juga pulang sendiri."
Imbuh Ramon
"Lu kenapa sih, tumben banget ini laporan numpuk gini"? Tanya Ramon penasaran
"Gue lagi gak konsen"
"Kenapa Lu?"semakin Bingung
__ADS_1
"Lagi kepikiran bini. " jawab Ozan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Ameera kenapa?"
"Dia mau pergi hiking sama teman-teman kampusnya. Gue udah larang, tapi dianya merengek terus. Jadi gue gak tega" dengan wajah lesu
"Hiking? Kemana?"
" katanya sih gunung pancar" jawab Ozan
"Itu mah deket. Gak apa-apa kali. Lagian kan kita juga mau pergi ke bandung tiga hari. Biarin lah bini lu senang-senang dulu sama temennya" ucap Ramon membuat Ozan semakin gusar
"Tapi dia perginya bukan sama cewek doang, ada cowoknya juga" kesal Ozan
"Lu cemburu?" Pertanyaan yang justru seperti bunyi ledekan.
"Ya gak gitu juga, gue gak suka kalau dia jalan sama cowok lain. Dia kan bini gue" ujar Ozan yang semakin merasa terbakar
"Itu namanya cemburu gob**k!" Maki Ramon
"Masa sih?" Sahut Ozan ragu.
"Lu mulai cinta sama bini lu?"
Tanya Ramon lagi
"Ya enggak. Perasaan gue ke Ameera belum sampai kesana." Ozan menyangkal.
"Apa maksud lu? Jadi selama ini lu tidurin bini lu, perasaan apa yang muncul kalau bukan cinta? Nafsu doang? "
" Kadang-kadang gue masih mikirin si Naura sih." Sangkal Ozan
"Malah mikirin mantan. Pikirin tuh bini lu, jangan sampai ada berondong kampus yang naksir sama bini lu." Ucapan Ramon semakin membakar jiwa Ozan.
Rasanya ia ingin segera menjemput Ameera, membawanya pulang dan mengurungnya di kamar agar tidak di taksir laki-laki lain di kampusnya.
***
Ponsel Ameera bergetar, ia meraih ponsel yang tergeletak di meja. Tampak id pemanggil suaminya. Ia pun menyingkir ke arah yang di rasa tidak akan ada yang mendengar.
"Halo mas..."
"Sayang, Kamu sudah selesai urusannya kan?"
"Iya." Sambil mengangguk
"Aku sudah di depan gerbang kampusmu. Ayo cepat keluar." Perintah Ozan
"Hah, gawat ini. Aku harus cepat pergi sebelum Indah nemuin mas Ozan."
Ameera segera berlari menuju parkiran tanpa permisi kepada teman-temannya. Sesampainya di depan gerbang, ia langsung masuk ke dalam mobil.
"Sudah lama, mas?" Tanya Ameera sambil melayangkan ciumannya ke pipi Ozan.
"Baru. " mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya membuat Ozan tersenyum. Pasalnya selama ini, ialah yang mendominasi. Ameera tidak pernah berinisiatif mencium duluan.
__ADS_1
Begitulah dua orang yang sedang di landa cemburu tapi enggan mengakui perasaan masing-masing.