Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Berusaha Move On


__ADS_3

Dina menangis sesegukan mengingat setiap kata-kata yang di ucapkan Rangga. Tidak tahu kemana dirinya harus pergi untuk dapat menghilangkan luka hatinya. Matanya hanya tertuju pada keramaian jalanan di siang itu.


Baiklah Rangga aku akan ikuti keinginanmu. Selama ini aku menyakiti hatiku dengan menunggumu. Sekarang aku menyerah. Aku akan berusaha melupakanmu.


Dan, tiba-tiba ia teringat pada satu orang yang mungkin dapat membantunya melupakan sakit hatinya. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Dengan sekali dering, panggilan sudah terhubung ke nomor itu.


"Halo..." terdengar suara seorang pria di seberang sana.


"Halo, Kak Ramon. Sibuk nggak?" tanya Dina.


"Lumayan sih. Kenapa?"


"Aku.... aku...." Dina berpikir sejenak, tidak tahu harus berkata apa. Dan karena apa ia tiba-tiba teringat Ramon dan menghubunginya. "Oh.. begitu ya... maaf Kak, aku mengganggu..."


"Nggak kok..." Dengan cepat Ramon menjawab, pria itu begitu bahagia, padahal hanya di telepon tapi dia merasa seperti berada di sebuah taman bunga. "Kamu tumben telepon... ada apa?" tanya Ramon.


"Bisakah kita bertemu?"


Ramon terlonjak mendengar ajakan Dina untuk bertemu. Bagai terbang ke angkasa, ia menyambut dengan bahagia.


"Bisa, Din? Kapan?" tanya Ramon penuh semangat.


"Sekarang saja bagaimana?"


"Sekarang?" ucap Ramon seraya melirik setumpukan map di meja kerjanya.


Tapi kerjaan gue gimana, juleha? Ah, persetan dengan kerjaan. Yang penting gue ketemu Dina.


"Kamu dimana, Din?"


"Aku ada di dekat kantor Kakak. Kalau repot, tunggu aku saja di depan kantor Kak Ramon. Nanti aku kesana, aku bawa mobil kok."


"Baiklah, aku tunggu."


Dan asisten tidak tahu diri ini pun pergi dengan bahagia tanpa permisi pada sang bos. Ia melenggang menuju lift dengan wajah berbinar, karena pujaan hatinya menyambanginya.


Ia sudah berada di depan gedung tinggi menjulang itu, sesekali melirik jam tangannya. Tidak lama kemudian, datanglah Dina.


Gadis itu lalu turun dari mobil, kemudian menyapa Ramon. "Maaf, Kak. Sepertinya aku mengganggu." ucap Dina.


"Nggak, Din... Nggak ganggu kok. Kebetulan aku nggak sibuk." ucap pria pembohong itu. Padahal pekerjaannya bertumpukan di meja.


"Baiklah, Kak Ramon yang nyetir, ya..."


"Oke.." Mereka pun pergi meninggalkan gedung kantor itu.


"Kamu ada masalah, ya?" tanya Ramon, ia melihat mata Dina yang sembab.


"Ia, Kak. Aku sedang sedih."


"Rangga?" Tanpa di jelaskan pun Ramon sudah bisa menebak bahwa yang membuat gadis cantik itu bersedih, pasti Rangga.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah danau. Mereka kemudian memilih duduk di sebuah kursi yang terdapat di danau tersebut.


"Aku salah ya? Terlalu berharap Rangga akan membuka hatinya untukku... apa aku egois?" tanya Dina seraya menatap indahnya pemandangan di danau itu.


"Itu nggak salah, Din... kamu hanya memperjuangkan cintamu. Semua orang bebas memperjuangkan cintanya..."


"Tapi hari ini aku menyadari keegoisanku. Aku menyakiti diriku dengan menunggu sesuatu yang tidak akan pernah ku miliki. Aku mau melupakannya." ucap Dina.


"Kamu yakin?"


"Aku hanya punya dua pilihan. Bertahan walaupun tersakiti, atau melepaskannya. Kemarin aku masih bisa bertahan, tapi hari ini tidak. Aku menyerah."


Entah harus bahagia atau sedih, begitulah pikiran Ramon. Jika Dina melepaskan Rangga, maka ia akan punya kesempatan, tapi pria itu tidak tega melihat wajah sedih Dina.


Dan benar adanya, beberapa saat kemudian Dina kembali menangis sampai sesegukan. Berharap air matanya mampu menghanyutkan segala perasaan sakitnya. Ramon mencoba menguatkannya denga mengusap punggungnya.


"Menangislah, Din. Setelah hari ini lupakan semuanya." Dina pun terus menangis sampai puas. Sampai matanya terasa mengering.


"Ayo kita memancing." ajak Ramon ketika Dina mulai berhenti menangis.


"Mancing?"


"Iya, lihat disana... kita bisa membakar ikan hasil pancingan kita di rumah makan itu..."


Sekilas Dina tersenyum, "Sepertinya seru..."


Ramon pun menggenggam tangan Dina dan mengajaknya menuju pinggiran danau untuk memancing. Sesekali mereka terdengar tertawa. Mereka hanyut dalam keseruan mereka, terutama Ramon yang melupakan setumpukan pekerjaannya di kantor.


Sementara itu, Ozan baru keluar dari ruangannya dan masuk ke ruang kerja Ramon yang tepat di sebelah ruangannya.


"Ramon kemana?" tanya Ozan pada sekretarisnya.


"Saya tidak tahu, Pak. Tadi katanya mau ke depan sebentar."


"Sejak kapan?"


Wanita itu melirik jam tangannya, hendak menghitung sudah berapa lama Ramon pergi. "Kira-kira 3jam lalu, Pak..." jawabnya kemudian.


Ozan mengernyit, tidak biasanya Ramon pergi begitu saj tanpa memberitahunya. "Baiklah." ucap Ozan, ia lalu kembali masuk ke ruangan Ramon dan mengambil alih, mengerjakan berkas-berkas yang di tinggalkan oleh asistennya itu.


Brengs*k tuh orang. Gue harus ambil alih kerjaannya.


Ozan bersungut-sungut mengumpati Ramon yang pergi entah kemana. Bahkan Ozan sudah berkali-kali meneleponnya. Namun, Ramon tidak menjawabnya.


****


Hingga sore menjelang, Ramon dan Dina masih asyik memancing sampai lupa waktu.


"Bakar aja, yuk... udah banyak ikannya." ajak Ramon.


Mereka pun menuju sebuah restoran sederhana yang terletak di pinggiran danau, yang memang menyediakan tempat untuk pengunjung membakar ikan hasil pancingannya.

__ADS_1


Dina terlihat begitu antusias dengan kegiatan sederhana itu. Dari jauh mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sangat romantis. Ia merasa sangat berbeda saat bersama Ramon. Pria itu tahu betul cara menghibur Dina yang sedang patah hati.


"Makasih ya, Kak. Aku bisa sedikit melupakan masalahku." ucap Dina.


Mereka sedang menyantap hasil tangkapannya di danau.


"Makasih kenapa? Memang aku melakukan apa?"


"Banyak... aku nggak pernah membayangkan ternyata kegiatan seperti ini menyenangkan. Aku jadi benci diriku yang selama ini terlalu terfokus hanya pada satu hal. Aku benar-benar egois."


"Kamu tahu, Din. Bahagia itu pilihan. Kalau kamu nggak bahagia di satu titik, kenapa kamu nggak mencari kebahagiaan dari arah lain?"


Dina berpikir sejenak, ucapan Ramon memang ada benarnya. Dina memilih mencari kebahagiaan dari Rangga. Namun, selama ini hanya kepedihan yang di dapatkannya. Ia benar-benar merasa sangat egois.


"Kak Ramon benar."


Mereka pun makan dengan lahap. Ramon tidak menyadari kebersamaannya dengan Dina mulai dari siang hingga menjelang sore.


Hingga akhirnya ia melirik jam di pergelangan tangannya membuatnya terlonjak kaget.


Mam*us gue. Hampir jam 6. Kok nggak berasa ya...


"Kenapa, Kak?"


"Nggak apa, Din... balik yuk." ajak Ramon.


"Kak Ramon mau ke kantor lagi, ya...?"


"Iya, Din. Nanti kapan-kapan kalau kamu lagi sedih, atau perlu sesuatu, kamu hubungi aku saja. Aku akan selalu ada buat kamu kok."


Buset dah, sejak kapan gue jadi gombal begini.


"Makasih ya, Kak. Aku jadi nggak enak."


***


Dan akhirnya tibalah Ramon di kantor, ia segera mempercepat langkahnya menuju lift yang akan membawanya ke lantai teratas gedung itu.


Karena sudah lewat jam pulang, suasana kantor menjadi sunyi senyap. Ia pun segera memasuki ruangannya berniat untuk mengerjakan pekerjaan yang tadi di tinggal dengan tidak tahu dirinya.


"Dari mana lu?" tanya Ozan yang masih berada di dalam ruangan Ramon.


"Eh, kaget gue... ngapain lu di ruangan gue?"


"Gue bantuin lu, ngerjain kerjaan lu yang banyak ini." sahut Ozan dengan nada menyindir.


Ramon melirik meja yang masih tersisa beberapa map lagi, sebagian sudah di kerjakan oleh Ozan.


"Baik banget sih, lu... Gie jadi makin sayang sama elu, Zan..."


"Nggak usah ngerayu lu... geli gue." ucapnya seraya melemparkan beberapa map yang tersisa pada Ramon.

__ADS_1


"Kerjain sisanya. Gue mau pulang." ucapnya seraya berlalu meninggalkan ruangan Ramon.


****


__ADS_2