
Ozan sedang bersantai ria di balkon rumahnya ketika Ameera menghampirinya lalu ikut duduk di kursi bersamanya.
"Mas, lenganku kenapa sakit, ya. Kayak habis di gigit apa gitu." kata Ameera seraya mengusap lengan kirinya yang mendapat suntikan dari dokter.
"Masa sih..." Ozan pura-pura mengusap lengan kiri Ameera yang di keluhkannya terasa sakit. Ketika ujung jarinya merasakan dengan jelas bekas suntikan itu, ia menekannya.
"Aauuuwwhh sakit." Ameera memekik mengusap lengannya.
"Maaf, yank. Sakit banget ya, bekas suntiknya?" tanyanya kemudian.
"Bekas suntik?"
"Hehe..." Ozan malah cengengesan, membuat wajah tak berdosa di depan Ameera. "Nggak berasa, ya tadi di suntik?" tanya Ozan.
Ameera dengan wajah polosnya mencoba mencerna ucapan Ozan. Lalu wajahnya pun seketika berubah.
"Ah, kamu ngerjain aku ya? Tadi waktu kamu ajakin aku nge-gossip, aku di suntik kan?" Ozan tertawa, merasa istri kecilnya itu sangat lucu. Ia sama sekali tidak menyadari dokter memberinya suntikan.
"Maaf, istriku sayang..."
"Pakai acting segala lagi sama dokter." Ameera mendengus kesal.
"Ya udah, maaf. Kamu lagi mau makan sesuatu nggak, aku belikan?" berusaha menyogok sang istri agar tidak merajuk.
"Kan barusan makan." sahut Ameera.
"Ya, kali mau makan lagi..."
"Lihat badanku sekarang, udah gendut, pendek, jelek, bau, hidup lagi." Ameera berseloroh. Kesal dengan penampilannya sekarang yang ia rasa lumayan gendut. Apalagi ia tidak suka dengan aroma tubuhnya sendiri sehingga kadang menggunakan parfum milik suaminya.
"Kamu cantik yank..."
"Cantik apanya? Semua ini salah kamu, Mas... aku jadi gendut begini karena kamu selalu maksa aku makan banyak."
"Haha... tapi aku suka kalau kamu gendut. Empuk tahu... enak... duh, jadi pengen bawa kamu ke kamar." bisik Ozan, yang langsung memeluk tubuh Ameera
Ameera terlonjak, ia yang heran karena suaminya itu seperti tidak pernah kenyang dalam urusan ranjang. Ia hampir setiap hari meminta jatahnya.
__ADS_1
"Kamu ini manusia apa bukan sih... kamu nggak ada puasnya kalau urusan begituan."
"Itu pahala buat kamu yank, melayani suami dengan sebaik-baiknya. Mau masuk surga, nggak?"
"Mau..." sahut Ameera, "Jadi kangen ayah ibu..." kembali teringat kedua orang tuanya membuat wajahnya berubah sedih. Ozan lalu memeluk Ameera yang sejak hamil emosinya tidak menentu dan mudah berubah.
"Jangan sedih, yank. Kamu masih punya aku, mama, papa, dan sekarang kita punya bayi kembar dalam perut kamu. Harus banyak-banyak bersyukur. Banyak loh, orang di luar sana yang nggak seberuntung kita." ucap Ozan berusaha menghibur kesedihan istrinya.
"Makasih, Mas. Kamu mau menerima aku yang banyak kekurangan ini."
"Kamu sempurna buat aku, sayang..."
Ameera lalu mengecup bibir suaminya itu, membuat pria itu kegirangan. Padahal hanya ciuman singkat, namun itu dapat membuatnya seperti melayang di udara. Kesabaran Ozan berhasil merubah Ameera yang barbar menjadi seorang istri yang lembut dan perhatian.
Walaupun awalnya ia menolak menikahi Ameera, namun sekarang semuanya berubah. Ozan bersyukur orang tuanya tetap memaksa dirinya menikahi Ameera walaupun ia mati-matian menolak dengan berbagai cara.
Mereka pun masuk ke kamar. Ozan setiap malam mengajari Ameera mengaji, ia juga melantunkan beberapa ayat untuk bayinya menjelang tidur.
****
Bandara Soekarno- Hatta...
Setelah mendapat laporan dari Rizal tentang rencana Naura mencelakakan Ameera, Rangga menjadi tidak tenang dan memutuskan kembali ke Indonesia. Ia ingin memastikan sendiri tidak terjadi apapun pada Ameera.
Rizal yang berada di lobby bandara telah menunggunya sejak sejam yang lalu. Ia menyunggingkan senyum tipis saat melihat sosok Rangga keluar dari jalur kedatangan.
"Hai bro. Gimana kabar?" Sapa Rizal.
"Seperti yang lu lihat, gue baik." jawab Rangga.
Mereka pun segera meninggalkan bandara menuju rumah Rangga. Namun, sebelumnya mereka mampir di sebuah cafe dan mengobrol panjang lebar.
"Lu awasin terus kakak gue kan?" tanya Rangga pada Rizal.
"Iya. Gue tugasin banyak orang awasin dia kemana-mana. Gue juga diam-diam pasang GPS di mobilnya. Jadi gue bisa pantau kemana pun dia pergi." jawab Rizal.
"Bagus. Gue nggak mau Ameera kenapa-kenapa."
__ADS_1
Rizal yang merasa heran, mengapa Rangga masih begitu mencintai Ameera, padahal Ameera telah menikah dengan Ozan.
"Lu kenapa sih, bro. Ameera itu kan sudah menikah dengan Ozan. Dia udah bahagia sekarang. Sementara lu belum bisa move on dari dia." ujar Rizal.
"Gue bukan nggak bisa move on dari Ameera, Zal. Kalau gue nggak bisa, gue nggak akan biarin dia nikah sama orang lain." sahut Rangga.
"Terus, yang lu lakuin sekarang ini apa namanya kalau bukan karena gagal move on?"
"Zal, kalau gue gagal move on, udah gue rebut tuh Ameera dari Ozan kemarin-kemarin." ujar Rangga kemudian.
"Yaelah.... Terus, Dina gimana? Lu nggak bisa gantungin dia terus." Mendengar Rizal menyebut nama Dina, Rangga terdiam. Ia menyadari selama ini sudah sangat tidak adil pada Dina.
****
Rangga sedang berada di sebuah ruangan kecil yang menyatu dengan kamarnya. Sedang memandangi foto seorang gadis yang menempel di dinding yang jumlahnya ribuan. Rangga tersenyum memandangi foto itu.
"Ozan, maafkan aku. Aku tahu tidak seharusnya aku memandangi foto-foto istrimu seperti sekarang. Tapi, kau pun tahu betapa dia sangat berarti bagiku. Ameera milikmu seutuhnya. Setidaknya izinkan aku memandangi fotonya saja." gumam Rangga.
Rangga teringat kembali, sehari sebelum Rudi. Menghembuskan napas terakhirnya, ia mendatangi ruang ICU dimana Rudi di rawat. Ia membisikkan sesuatu ke telinga pria yang sedang koma tersebut.
"Om tenang saja. Istirahatlah dengan tenang. Aku akan menggantikan Om mengawasi Ameera. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk melindungi Ameera seperti yang selama ini kita lakukan. Walaupun itu dari jauh, aku akan memastikan Ameera baik-baik saja."
Saat itu Rudi sempat merespon dengan menggerakkan jarinya dan menggenggam tangan Rangga walapun gerakannya sangat lemah.
Di raihnya sebuah amplop dari dalam laci. Teringat kembali, seminggu setelah kematian Rudi, Bu Yani memberikan sepucuk surat yang di tinggalkan oleh Rudi untuk Rangga. Rudi menulis surat itu beberapa hari sebelum kematiannya, dan meminta Bu Yani memberikannya pada Rangga jika terjadi sesuatu pada dirinya. Rangga kembali membaca surat itu dengan berderai air mata.
Anakku Rangga... jika kau bisa maafkanlah aku. Aku sudah tidak adil padamu. Aku tahu bagaimana perasaan antara dirimu dan Ameera. Tapi, aku telah berjanji pada sahabatku untuk menikahkan Ameera dengan anaknya lebih dulu. Aku tidak mau merusak persahabatanku dengan mengingkari janji yang telah aku buat, seperti kesalahanku mengingkari janjiku pada ayahmu di masa lalu. Aku tidak membenci ayahmu walaupun apa yang di lakukannya pada keluargaku. Kau tahu, kami dulu bersahabat baik, ayahmu adalah sahabat terbaik yang pernah ku miliki. Tapi kesalahan kami di masa lalu mengubah segalanya. Maafkanlah kami yang membuat kalian terluka dengan adanya dendam di antara kami. Bagiku kau sudah seperti anakku sendiri dan aku percaya padamu. Kau menjaga Ameera lebih baik dari aku. Jika suatu hari surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku sudah tidak ada. Tolong, tetaplah menjadi teman yang baik untuk Ameera. Jangan mengulangi kesalahan kami. Kalian punya pilihan menjalani hidup lebih baik dari kami.
Demikianlah isi surat yang di tulis Rudi untuk Rangga.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan seperti papa. Papa membenci Om Rudi karena menikah dengan tante Ratna sampai tega berbuat sejahat ini. Maka aku tidak akan mengulangi kesalahannya. Walaupun aku tidak bisa memiliki Ameera, tapi aku akan selalu menjaganya dari jauh. Akan ku pastikan Ameera selalu bahagia walaupun dengan orang lain." gumam Rangga.
****
********To be Continue.
JANGAN LUPA GAES, TINGGALKAN KOMEN DAN LIKE. KALAU BOLEH SERAKAH TINGGALKAN VOTE UNTUKKU. POIN BISA DI DAPAT DENGAN GRATIS KOK. NGGAK USAH BANYAK-BANYAK. DIKIT-DIKIT ASAL TIAP HARI. hahahah
__ADS_1
Salam hangat.