
Malam itu Rangga masuk ke kamar bayi untuk mencari Ameera. Ibu dua anak itu sedang disibukkan dengan merapikan lemari pakaian El dan Er dan harus terganggu karena keberadaan Rangga yang terus memohon kepadanya.
"Tolong aku Ameera... Kenapa kamu jadi pelit sekarang?" ujar Rangga ketika sudah lelah memohon pada Ameera untuk membantunya.
"Kamu bilang apa? Aku pelit?" Ameera mulai tersulut emosi.
"Memang kamu pelit."
"Baiklah, aku akan mewujudkan kata pelit yang tadi kamu ucapkan. Aku nggak akan beritahu dimana Dina sekarang," Ameera mencebikkan bibirnya kesal, lalu kembali merapikan lemari pakaian anaknya itu.
"Kamu tega sama aku," ucap Rangga lemas.
"Biarin!!" Ameera meneruskan pekerjaan pentingnya sementara Rangga terus mengekor di belakangnya, memohon dengan sangat memelas.
Beberapa hari ini Rangga terus berusaha menemui Dina, namun Dina sangat sulit di temui dan sekarang, gadis itu hilang bagai ditelan bumi.
Zarima dan Hasan yang sedang berada di ruang keluarga sambil menjaga Er dan El, hanya dapat geleng-geleng kepala mendengar perdebatan Rangga dan Ameera yang terdengar sampai lantai bawah.
"Aku bisa bayangkan jika seandainya mereka benar-benar berjodoh. Aku yakin setiap hari kita akan mendengar mereka bertengkar, setelah tinggal serumah mereka malah seperti kucing dan tikus," ucap Zarima seraya tertawa pelan.
"Deniz beberapa hari ini uring-uringan sendiri. Aku sampai harus meminta orang mengawasinya kemana-mana," imbuh Hasan yang sedang memangku Erzan. Ia sangat senang bermain dengan cucu lelakinya itu.
"Benarkah?" tanya Zarima.
"Anakmu yang paling cerdas itu tiba-tiba jadi bodoh jika dalam urusan cinta. Sepertinya aku harus mencarikannya dengan seorang gadis untuk di jodohkan dengannya," Hasan mulai memikirkan anak gadis dari beberapa relasinya.
"Mas kan tahu dia menyukai Dina,"
"Tapi bagaimana dengan Ramon? Aku melihat mereka sangat dekat. Ramon juga sudah seperti anak kita sendiri. Aku tidak mau ikut campur dalam urusan cinta segitiga mereka,"
Tidak lama kemudian, Ozan yang baru saja tiba di rumah langsung menghampiri kedua anaknya, dan mencium mereka bergantian.
"Ozan, cuci tangan dulu!!" ucap Zarima gemas karena Ozan selalu lupa mencuci tangan sebelum menggendong anak-anaknya.
Dengan langkah terpaksa, Ozan segera masuk kamar mandi dan mencuci tangannya.
"Ozan, ada yang mau Mama tanyakan," ucap Zarima ketika Ozan baru saja keluar dari kamar mandi. Ozan lalu menggendong Elmira, kemudian duduk di sofa.
"Tanya apa, Mah?"
"Hubungan Dina dan Ramon itu bagaimana? Apa mereka berpacaran?" tanya Zarima. Hasan ikut penasaran dengan hubungan antara Ramon dan Dina.
"Aku juga tidak mengerti ada hubungan apa antara mereka. Tapi setahuku mereka belum sampai di tahap itu," jawab Ozan apa adanya.
"Lalu bagaimana dengan adikmu. Dia kan menyukai Dina juga..." lanjut Hasan.
"Pah, itu sebuah hukuman untuknya. Dia menggantung Dina selama 4tahun. Wajar kalau sekarang dia kena karma."
"Kamu harusnya membantu adikmu, mungkin saja Dina dan Ramon hanya sebatas teman kan..." lanjut Zarima.
"Aku tidak mau ikut campur, Mah. Deniz adikku dan Ramon sahabatku, bahkan Ramon sudah aku anggap kakakku sendiri. Jadi aku tidak ikut campur urusan mereka,"
Tidak lama kemudian, dari lantai atas kembali terdengar keributan dua orang. Hasan, Zarima dan Ozan menghela nafas panjang.
"Tom dan Jerry sudah mulai tayang," ucap Ozan.
Rangga berlutut di depan Ameera, membuat Ameera gelagapan. Rangga meraih tangan Ameera dengan wajah memelasnya.
"Ameeraku, lollipopku, sahabat terbaikku, kakak iparku, kamu benar-benar tega sama aku?" Rangga sudah akan mulai mengeluarkan jurus rayuan mautnya agar Ameera mau membocorkan dimana Dina sekarang.
Melihat wajah Rangga yang sangat memelas itu, Ameera menjadi tidak tega.
"Baiklah, akan ku beritahu,"
Wajah Rangga langsung berbinar mendengar ucapan Ameera.
"Dimana?" tanya Rangga dengan penuh semangat. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Ameera, membuat Ameera meringis.
"Lepasin tanganku, kamu mau membuat tanganku patah,"
"Eh, maaf, maaf..." Rangga melepaskan tangannya yang membelenggu tangan Ameera.
Ameera kemudian duduk di sofa, "Duduklah di sini, aku nggak mau kamu pingsan setelah mendengarnya," Ameera meminta Rangga untuk duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Rangga langsung berdiri dari posisi berlututnya, segera duduk di samping Ameera.
"Kamu tahu, Dina sedang sibuk mempersiapkan sesuatu,"
Menyiapkan sesuatu? apa? Oh tidak, apa Bang Ramon benar-benar akan melamarnya?" batin Rangga.
"Mempersiapkan apa?" tanya Rangga penasaran.
"Mempersiapkan sesuatu yang akan membuatmu ingin pingsan setelah mendengarnya," jawab Ameera.
Apa? Apa yang akan membuatku pingsan setelah mendengarnya? Satu-satunya hal yang akan membuatku pingsan mendengarnya adalah ijab qabul yang di kumandangkan Bang Ramon dengan menyebut nama Dina Aulia Anjani. batin Rangga.
Rangga sudah mulai lemas mendengar ucapan kakak iparnya itu. Hatinya tidak akan pernah bisa sanggup jika harus kehilangan cinta untuk yang kedua kalinya.
Rangga bukanlah tipe orang yang mudah jatuh cinta. Karenanya, ia tidak mudah melupakan seseorang yang sudah terlanjur masuk ke hatinya.
"Jangan menggantungku, Ameera... Cepat katakan!!"
"Dina akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Jadi, selama bertahun-tahun kamu nggak akan bisa menemuinya di negara ini. Kalau kamu nggak cepat, kamu benar-benar akan kehilangan dia,"
DUAAARRR
Bagai mendengar suara petir menggelegar, Rangga yang terkejut hanya dapat diam mematung.
"Be-benarkah?"
"Sekarang Dina sudah ada di bandara, dia akan segera berangkat ke Jerman,"
"KENAPA KAMU NGGAK BILANG DARITADI?" teriak Rangga.
"Dina memintaku merahasiakannya. Tapi karena aku kakak ipar yang baik, jadi aku memberitahumu." ucap Ameera dengan gaya santainya.
Tanpa permisi Rangga berlari meninggalkan kamar bayi itu, menuju kamarnya mengambil kunci mobil, lalu menuruni tangga dan dengan cepat menaiki salah satu mobil di parkiran.
Hasan, Zarima dan Ozan heran melihat Rangga berlari dengan terburu-buru keluar rumah. Tidak lama kemudian Ameera berjalan dengan santainya menuruni tangga.
"Rangga kenapa, Yank?" tanya Ozan.
"Dia mau ke bandara menyusul Dina," jawab Ameera.
"Iya, Mas... Sekarang Dina sedang berada di bandara,"
"Dina mau kemana memangnya?" tanya Hasan yang ikut penasaran.
Ameera hanya senyum-senyum penuh arti. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga mertuanya itu. Hasan langsung tertawa mendengar bisikan Ameera.
"Tos," ucap Hasan penuh semangat seraya mengangkat telapak tangannya.
***
Rangga melajukan mobilnya bagai kesetanan. Jarak dari rumahnya menuju bandara memakan waktu satu jam. Jika dia terlambat, maka Dina akan pergi sebelum mendengar ungkapan perasaannya.
Saat akan memasuki gerbang menuju bandara, ia dibuat kesal karena jalanan di depan bandara sangat macet. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya ia tidak sabar lagi.
Rangga segera turun dari mobil dan berlari memasuki gerbang bandara, meninggalkan mobilnya di luar sana. Laki-laki itu tidak peduli apapun lagi. Di benaknya hanya ada Dina dan tak mau kehilangannya.
Tibalah Rangga di depan pintu masuk bandara itu, dengan cepat ia menerobos masuk antrian panjang itu, tidak peduli dengan petugas bandara yang mencoba menghalaunya.
Rangga masuk ke dalam gedung itu, matanya mencari kesana-kemari. mengabaikan petugas keamanan yang mengejarnya. Rangga yang begitu cepat berlari membuat petugas bandara kehilangan jejaknya.
Rangga terus berkeliling di bandara yang luas itu mencari Dina tanpa rasa lelah, Hingga akhirnya matanya menangkap sosok Dina sedang menyeret sebuah koper.
"DINA!!" teriak Rangga memanggil namanya.
Dina terdiam sejenak manakala mendengar suara yang sangat di kenalnya memanggil namanya. Dan, ketika ia berbalik, matanya seketika dipenuhi cairan bening. Lelaki yang selama ini ia tunggu ada disana.
"Rangga..." gumam Dina pelan.
"Jangan pergi, Din... Aku nggak bisa kehilangan kamu," ucap Rangga dengan suara lirihnya. Ia lalu berjalan mendekati Dina, "Aku mohon, Din... jangan pergi!" ucapan Rangga terdengar begitu lirih.
"Maaf, Rangga... Aku harus pergi."
Dina kemudian menyeret kopernya menuju ruang tunggu, tidak mempedulikan Rangga di belakang sana. Tidak ingin kehilangan kesempatan, Rangga pun segera mengeluarkan isi hatinya.
__ADS_1
"DINA, AKU CINTA SAMA KAMU!!" akhirnya keluarlah isi hati Rangga yang selama ini tertahan oleh gengsinya..
deg
Dina mematung, seolah tidak percaya dengan perdengarannya sendiri. 4tahun lamanya ia menantikan kalimat itu keluar dari mulut Rangga. Matanya sudah mulai menganak sungai.
Mereka bedua kemudian terlibat drama tatap-tatapan yang lama dari jarak jauh. Rangga kemudian mendekat, menatap wajah Dina yang sudah banjir air mata. Rangga menghapus air mata yang terus berjatuhan itu.
"Aku mohon, Din. Kamu jangan pergi! Aku akan melakukan apapun untukmu. Tapi jangan tinggalkan aku,"
Dina berusaha menguasai perasaannya. Tidak ingin terlihat lemah di mata laki-laki yang dicintainya itu.
"Maafkan aku, Rangga. Aku benar-benar harus pergi,"
"Apa kamu pergi untuk menjauh dari aku?" tanya Rangga.
"Bukan begitu, aku..."
"Aku tahu, aku salah... Aku mengabaikan kamu selama ini. Tapi sekarang, aku benar-benar menyadari perasaanku. Aku minta maaf, Din..."
Dina tersenyum, menambah aura kecantikannya, "Aku sudah memaafkanmu, Rangga. Tapi aku harus tetap pergi. Sudah, ya... Aku takut ketinggalan pesawat,"
"Kalau mau kuliah, kenapa harus di luar negeri, Din. Disini juga juga bisa kan? Apa kamu benar-benar mau menghindar dari aku, karena aku memutuskan pindah dan kuliah di tempat yang sama dengan kamu?" Rangga kembali berusaha membujuk Dina.
Dina mengerutkan alisnya, menatap Rangga dengan heran.
"Siapa yang mau kuliah di luar negeri?" tanya Dina heran,
"Ameera bilang sama aku, kamu mau melanjutkan kuliahmu di Jerman. Makanya aku buru-buru menyusul kemari."
"Jerman?" Dina semakin bingung dengan ucapan Rangga, "Aku mau ke Bandung, Rangga. Bukan ke Jerman,"
"Ap- apa?"
"Sepertinya kamu di kerjain sama Ameera. Aku akan ke Bandung untuk beberapa hari karena ada acara peringatan kematian orang tuaku. Bukan pindah kuliah keluar negeri," ungkap Dina.
Apa? Ke Bandung? apa Ameera membohongiku? AMEERAAAA.... aku tidak akan melepaskanmu. batin Rangga gemas.
"Jadi, kamu cuma ke Bandung, bukan ke Jerman?"
"Iya..." jawab Dina singkat.
AMEERAAAAAA... teriak Rangga dalam hati.
***
Rangga dan Dina duduk berdua di ruang tunggu. Rangga meraih tangan Dina dan menggenggamnya.
"Din, kamu mau kan memberiku kesempatan? Aku akan berusaha memperbaiki kesalahanku selama ini," ucap Rangga.
"Aku nggak tahu, Rangga. Aku butuh waktu untuk memikirkannya. Mungkin aku akan butuh waktu yang lama,"
"Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Aku akan menunggu sampai kamu bisa menerima aku kembali," Rangga kembali berusaha meyakinkan Dina bahwa sekarang di hatinya benar-benar terukir nama Dina dengan indah.
"Aku tidak bisa berjanji... Tapi aku akan berusaha untuk membuka hatiku kembali, dan kamu berusaha meyakinkan hatimu."
"Baiklah,"
"Maafkan aku kalau aku terkesan menggantungmu, aku hanya tidak mau mengulangi apa yang pernah aku lakukan selama 4 tahun. Menunggu sesuatu yang tidak pasti,"
"Aku nggak apa-apa, Din. Aku mengerti,"
Tidak lama kemudian, terdengar pengumuman untuk para penumpang pesawat dengan tujuan kota Bandung.
"Aku harus pergi, Rangga,"
"Baiklah, hati-hati. Aku akan selalu menunggumu,"
Dina menyeret kopernya menuju sebuah pintu yang terhubung langsung dengan pesawat. Rangga menatap punggung Dina hingga gadis itu tidak lagi terlihat, barulah Rangga mengalihkan pandangannya.
*Aku akan menunggumu, sampai kapanpun itu," gumam Rangga.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG*