
Pagi hari...
Dengan penuh semangat Ameera buru-buru menuruni tangga. Begitu tidak sabar untuk menyapa sang mertua yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Ozan yang datang dari dapur melihat Ameera berlari menuruni tangga membuat jantungnya seperti mau copot.
"Yank, pelan-pelan turun tangganya, jangan lari-lari!!" teriak Ozan yang sudah sangat takut melihat tingkah Ameera.
"Nggak usah teriak, aku dengar kok." ucap Ameera seraya memegangi telinganya.
"Kelakuan kamu itu, Ameera. Bikin orang jantungan aja. Bagaimana kalau kamu jatuh dari tangga. Ceroboh banget kamu...!!"
Suara Ozan yang lantang memarahi Ameera bahkan terdengar sampai ke ruang makan dimana Zarima sedang menyiapkan sarapan. Ia lalu bergegas menghampiri mereka.
"Ozan... apa sih kamu pagi-pagi sudah marah-marah?" ucap Zarima yang tidak terima mendengar Ozan memarahi Ameera.
"Ini, Mah... Anak bandel ini lari-lari turun tangga."
"Mama..." panggil Ameera dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca. Ia langsung mendekat dan memeluk ibu mertuanya itu.
Zarima membulatkan matanya menatap Ozan. Bibirnya bahkan bergerak mengucapkan kata "awas kamu!" tanpa mengeluarkan suara. Dan bagai mendapat ancaman serius, Ozan memilih cari aman dengan segera menuju ruang makan untuk sarapan.
"Aku kangen, Mah..." ucap Ameera dengan manjanya.
"Mama juga, Nak... kamu baik-baik saja kan selama ini. Apa mereka merawat kamu dengan baik?" tanyanya sambil mengusap berut buncit Ameera.
Zarima dengan kelembutannya menghapus air mata menantunya itu. "Jangan menangis, Nak. Nanti mama marahi suami kamu itu..."
"Bukan itu, Mah... Aku menangis karena terlalu senang Mama pulang."
Zarima tersenyum lalu mengecup kening Ameera, rasa sayangnya pada Ameera sama seperti ia menyayangi anak kandungnya sendiri.
"Kita sarapan dulu, yuk. Mama habis masak sup asparagus kesukaan kamu." ucapnya seraya membelai rambut Ameera.
Ameera begitu bahagia mendapat perhatian dari seorang ibu yang sudah lama tidak di dapatkannya. "Makasih, Mama..."
Zarima yang pagi itu memasak banyak makanan memaksa Ameera makan banyak. Ia benar-benar sangat mirip dengan Ozan dalam hal memaksa makan.
"Kenyang, Mah..." ucap Ameera saat merasa perutnya telah penuh makanan.
"Ya sudah... kalau selesai makannya, kita ke kamar Mama, ya. Mama bawa ole-ole dari Turki yang banyak buat kamu." ucap Zarima dengan penuh semangat.
"Buat aku nggak ada, Mah?" tanya Ozan.
"Apa kamu...? Mama nggak bawa apa-apa buat kamu," jawab Zarima dengan santainya.
"Yee pilih kasih."
Zarima lalu mengajak Ameera menuju kamarnya. Begitu melewati Ozan, Ameera tersenyum mengejek seraya melambaikan tangannya.
"Awas, ya kamu. Sudah punya sekutu sekarang." gumam Ozan, ia lalu melanjutkan sarapannya sendirian.
Di kamar, Ameera tercenggang melihat banyaknya barang yang di bawa Zarima untuknya. Ada baju hamil, baju bayi dan banyak barang lain yang di belinya untuk Ameera.
"Imel, satu koper itu tolong di bagikan untuk setiap pekerja di rumah ini." pinta Zarima pada asisten rumah tangganya tersebut.
"Baik, Nyonya..."
"Mama, kenapa beli barang begini banyak? Mama pasti repot." tanya Ameera seraya melihat semua barang-barang itu.
__ADS_1
"Kan mama beli buat kamu dan cucu kembar mama." sahut Zarima yang bahkan lupa membelikan sesuatu untuk Ozan.
****
Dan, hari demi hari berlalu dengan cepat. Kini 8 bulan usia kehamilan Ameera. Semakin mendekati tanggal kelahiran, membuat Ozan dan Zarima begitu ketat menjaganya.
Disisi lain, Rangga dengan keterpurukannya yang semakin menjadi-jadi. Di tambah Dina yang seakan menghilang dari hidupnya membuatnya semakin terpuruk. Ia baru menyadari betapa berartinya seorang Dina baginya.
Benar kata Bang Rhoma, kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga. Itulah yang di rasakan Rangga sekarang.
Padahal, Ameera hampir setiap hari datang mengunjunginya. Kadang juga Ameera menemaninya menjalani terapi. Namun, kesedihannya tak kunjung mereda. Ia berpura-pura bahagia di depan Ameera untuk menjaga perasaan sahabatnya itu agar tidak merasa semakin bersalah.
Jika ada yang bersedih, maka di sisi lain ada yang berbahagia. Ramon semakin berbunga-bunga setelah Dina memberinya kesempatan untuk membuka hati.
Katakanlah Ramon menjadi pelarian bagi Dina, itu memang benar adanya. Kehadiran Ramon perlahan mengikis rasa sakit di hatinya yang telah menjadi gunung. Dina berusaha sekeras mungkin melupakan Rangga dengan menyibukkan diri di kampus atau menghabiskan waktunya bersama Ramon.
Rangga pun harus rela menjadi seorang penguntit. Ia di temani Rizal kadang mengawasi Dina dari kejauhan tanpa Dina sadari. Sakit memang, melihat orang yang di cintai bersama orang lain.
Seperti sore itu, Dina dan Ramon sedang makan di sebuah food court. Sedangkan Rangga dari kejauhan hanya dapat memandangi Dina yang belakangan ini begitu imut baginya. Ia melihat tawa dan keceriaan Dina yang selama ini tidak pernah di lihatnya saat bersamanya. Ada rasa sesal yang begitu mendalam.
Tak terasa tangannya mengepal sendiri sampai bergetar. Rizal yang melihat itu segera berbisik padanya.
"Lu masih sanggup ngeliat itu apa mau pulang aja..." bisik Rizal.
"Diam lu!! Gue cuma mau memastikan Bang Ramon nggak macam-macam sama Dina."
Kelakuan lu tuh... hati udah berdarah-darah gitu masih nggak mau ngaku cinta. Batin Rizal
"Eh, mereka pergi... Gimana?" tanya Rizal begitu melihat Ramon dan Dina beranjak dari food court tersebut.
"Ya ikutin, Zal... Pakai tanya lagi lu!!"
Rasain, lu... emang enak? Batin Ramon
"Din, kita jalan-jalan kepasar malam, yuk..." ajak Ramon kemudian.
"Boleh, Kak. Kebetulan aku lagi butuh hiburan." sahut Dina dengan senyum indahnya.
Mereka pun menuju sebuah pasar malam yang cukup ramai malam itu. Ramon membeli beberapa karcis untuk bermain beberapa wahana yang ada di sana.
Jangan tanya kondisi hati Rangga. Ia merasa sedang berada beberapa jengkal saja dari pusat tata surya saking panasnya hatinya. Bahkan ia sudah merasa hangus terbakar dan menjadi arang.
"Itu lebih mirip kencan romatis, loh..." ucap Rizal pada Rangga. Pria yang selalu tidak tahu tempat saat berucap itu membuat Rangga begitu kesal.
"Gue mau pulang aja, Zal." pinta Rangga yang sudah tidak tahan melihat Ramon dan Dina yang di nilainya sangat romantis itu.
"Yakin, lu..."
"Lu mau kena demam berdarah? Banyak nyamuk di sini, Zal."
Bilang aja lu panas lihat mereka. Nggak usah drama jadiin nyamuk jadi kambing hitam. Batin Rizal.
Akhirnya Rizal mengantar Rangga pulang karena sudah tidak tahan lagi. Sementara Ramon dan Dina tetap melanjutkan jalan-jalan mereka malam itu.
Sesampainya di rumah, ia mengurung diri di kamar, merenungi nasibnya.
***
__ADS_1
Malam itu Zarima, Ozan dan Ameera sedang makan malam di rumah. Seperti biasa ibu dan anak itu selalu memaksa Ameera makan yang banyak hingga Ameera menjadi lebih gendut dari sebelumnya.
"Yank... ini liontinmu sudah selesai di perbaiki." ucap Ozan setelah selesai makan, seraya menyerahkan sebuah kotak kecil ke hadapan Ameera.
Ameera yang sangat senang itu meraih kotak itu dan membukanya.
"Makasih, Mas." ucap Ameera, ia mengamati liontin itu. Dan benar, liontin itu kembali utuh seperti semula.
Tanpa mereka sadari, Zarima yang mencoba menajamkan pandangannya menatap liontin itu dengan seksama. Tubuhnya bergetar, matanya bahkan berkaca-kaca melihat sebuah liontin di tangan Ameera. Bahkan sendok yang di pegangnya terjatuh ke lantai begitu saja.
"A-meera... bagaimana liontin itu bisa ada sama kamu?" tanya Zarima dengan suaranya yang bergetar, air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya.
Ameera dan Ozan yang bingung melihat Zarima hanya saling tatap.
"Mama kenapa?" tanya Ozan.
"Liontin itu... Ameera, jawab Mama, kenapa liontin itu bisa ada sama kamu?"
"Liontin ini? Ini sebenarnya miliknya Rangga, Mah. Aku pernah menghilangkan potongannya. Dan Mas Ozan menemukannya."
"Iya, Mah... Mama tahu, ternyata orang yang menyelamatkan aku dalam kecelakaan waktu itu ternyata Ameera. Kami juga baru tahu beberapa minggu lalu." ungkap Ozan.
Akan tetapi bukan itu yang sedang di pertanyakan oleh wanita itu. Ia hanya terfokus pada liontin yang di pegang Ameera.
Zarima mengambil liontin itu dari tangan Ameera. Seketika tangisnya pecah.
"Deniz... Denizku... " lirihnya seraya terisak.
Tiba-tiba bayangan Deniz menari-nari di benaknya. Lalu tiba-tiba semuanya gelap. Zarima pingsan dan hampir terjatuh kelantai jika Ozan tidak sigap menangkap tubuhnya.
"Mama...!!" teriak Ameera, "Mama kenapa, Mas?" tanya Ameera. Ia bahkan menangis melihat ibu mertuanya itu tidak sadarkan diri.
"Mama... bangun, Ma..." ucap Ozan seraya menepuk lembut pipi Zarima.
"Bawa ke kamar aja, Mas!"
Ozan lalu menggendong tubuh Zarima menuju kamarnya. Beberapa pelayan dan Bu Yani tampak ikut panik.
"Bu... Mama kenapa?" tanya Ameera pada Bu Yani di selingi isakan.
"Kamu tenang dulu Ameera, mungkin hanya kelelahan." jawab Bu Yani.
Ozan lalu menelepon dokter keluarganya agar segera datang ke rumah. Satu pertanyaan dalam hatinya, mengapa sang ibu pingsan setelah menyebutkan nama Deniz.
Ozan lalu mendekati Ameera yang sedang menangis ketakutan itu lalu memeluknya. "Jangan khawatir, yank... Mama akan baik-baik aja. Jangan menangis!"
"Tapi mama kenapa, Mas."
"Aku nggak tahu, Yank. Sudah kamu jangan menangis lagi, ya..."
Ameera lalu mendekati Zarima yang terbaring di tempat tidur. "Bangun, Ma... jangan bikin Ameera takut,"
Ameera menggenggam tangan ibu mertuanya itu lalu menciumnya.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang dokter wanita yang langsung masuk ke kamar dan memeriksa keadaan Zarima.
****
__ADS_1
**Bersambung