Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
TERBONGKAR


__ADS_3

"Kau boleh membunuhku, tapi tolong lepaskan istriku. Dia tidak ada hubungannya dengan dendammu," ucap Ozan seraya memeluk Ameera, berusaha menenangkannya.


"Tidak ada hubungannya katamu? Justru dia dan keluarganyalah yang membuatku hidup dalam dendam seperti ini. Kau tahu, ibunya Ameera adalah wanita rendahan yang merayu papaku. Dia menjadi orang ketiga di antara orang tuaku. Sampai mamaku bunuh diri karena sakit hati."


"Kau pasti salah Naura."


"Benarkah?" tawa sinis terdengar dari bibir Naura, "Jika saja aku tahu dari awal kalau gadis yang kau nikahi adalah anak dari wanita itu, aku pasti sudah menghabisinya dari jauh-jauh hari. Aku tidak perlu repot-repot mengadu domba kalian saat itu,"


Ameera kemudian teringat saat dirinya dan Ozan saling salah paham. Mereka saling menjauh selama hampir tiga bulan lamanya, bahkan Ozan meninggalkannya dan pergi ke Turki selama berminggu-minggu. Semua perbuatan Naura padanya sudah benar-benar di luar batas.


"Mas, dia bohong kan? Ibuku tidak seperti itu kan?"


"Haha, kau benar-benar menyedihkan, Ameera. Mereka menutupi semua kenyataan itu darimu. Kau tahu satu hal, kalau saja adikku tidak melindungimu selama ini, kau sudah mati sejak lama. Dan kau membuatku hampir membunuhnya. Kau lihat kan, Ozan... Bagaimana istri kesayanganmu ini menghancurkan hidupku. LALU BAGAIMANA KAU BILANG DIA TIDAK BERSALAH?"


"Kaulah yang menghancurkan hidupmu sendiri. Papamu yang membuat Ameera kehilangan kedua orang tuanya. Kalau ada yang harus marah, seharusnya itu adalah Ameera. Bukan kau..." ucap Ozan.


"JANGAN BANYAK BICARA!!" Naura melepaskan satu tembakan ke sembarang arah untuk memperingatkan agar Ozan tidak melanjutkan omongannya, "Aku tidak minta pendapatmu, bersiaplah untuk menyusul orang tuamu Ameera! Sekarang aku akan beri kalian kesempatan untuk memilih, siapa yang akan menangisi siapa? Katakan padaku, siapa yang harus aku bunuh lebih dulu."


Kegilaan Naura semakin menjadi-jadi, ia benar-benar akan membunuh Ameera dan Ozan jika tidak di hentikan.


"Aku pernah beberapa kali gagal membunuhmu, Ozan... Kau ingat kan? Kecelakaan yang terjadi padamu tiga tahun lalu, dan setahun lalu setelah kita bertemu di cafe. Semua itu adalah rencanaku. Tapi kau telalu bodoh. Apa kau pikir aku benar-benar mencintaimu?"


Ozan hanya memejamkan matanya mendengar setiap perkataan Naura. Dulu, ia memang di butakan oleh cintanya pada Naura, sampai Ameera datang dalam hidupnya, menyelamatkannya dari cinta yang salah itu.


Sementara itu, beberapa mobil berlogo CJG tiba di depan bangunan besar itu. Di bawah perintah Ramon, puluhan pria bersenjata keluar dari mobil dan menyerang pengawal yang berjaga di depan. Terjadilah saling baku hantam, tembak-menembak antara para pengawal dari kedua perusahaan besar di malam itu. Ramon dan Rizal ikut dalam perkelahian, lalu menerobos masuk ke dalam bangunan itu mencari Ozan dan Ameera.


Mereka memeriksa setiap ruangan yang ada, sambil sesekali berkelahi dengan penjaga yang di sana. Hingga Rizal menemukan sebuah pintu yang terkunci.


"Ram, pintu ini terkunci. Ayo kita dobrak!" ucap Rizal.


Mereka lalu mendobrak pintu kokoh itu dengan sekuat tenaga sampai akhirnya terbuka. Rizal begitu terkejut dengan apa yang di temukannya di dalam ruangan itu. Jack duduk di sebuah kursi kayu dalam keadaan terikat.


"Jack?" panggil Rizal, ia lalu mendekat pada pria itu, "Apa yang terjadi?" tanya Rizal kemudian.


"Ameera.., Rizal tolong Ameera!! Kalau kalian terlambat, Naura akan membunuhnya..."


"DIMANA AMEERA?" teriak Ramon penuh emosi.


"Di gudang ruang bawah tanah, aku mencoba membawanya keluar dari sini, Tapi Naura menemukan kami dan dia mengikatku di sini."


Ada sekelumit pertanyaan di benak Rizal, tentang apa yang membuat Jack berusaha menolong Ameera, padahal pria itu adalah orang yang selalu di tempatkan Hendri sebagai orang terdepan dalam rencana membunuh Ameera.


Ramon dan Rizal lalu melepaskan ikatan itu, kemudian mereka berlari menuju ruang bawah tanah.


Namun, di bawah sana ada puluhan pengawal yang berjaga. Mereka pun harus berkelahi melawan banyaknya pengawal itu. Hingga akhirnya Ramon, Rizal dan Jack berhasil di bekuk, karena hanya bertiga melawan puluhan orang.


Tidak lama kemudian, datanglah beberapa mobil polisi di ikuti mobil yang di tumpangi Rangga, Hasan dan Dion. Buru-buru mereka keluar dari mobil itu. Rangga kemudian meraih senjatanya yang terletak di bawah jok mobil.


"Papa, Bang Dion... Kalian hati-hati," ucap Rangga.


Benar dugaan Hendri, bahwa Naura membawa Ameera ke villa mereka di bogor. Hendri turun dari mobil bersama beberapa polisi. Mereka langsung mendekat pada puluhan orang yang sedang baku hantam itu. Polisi pun menembakkan senjata ke udara untuk memperingatkan agar mereka berhenti berkelahi. Dan, benar saja... ketika pengawal itu melihat Hendri, sang bos besar, mereka menghentikan perkelahian.


"Dimana Naura menyekap Ameera?!" tanya Hendri pada pengawalnya.


"Mereka di gudang di ruang bawah tanah, Bos!!" jawab salah seorang pria.

__ADS_1


Tanpa banyak tanya lagi, mereka pun berlari memasuki bangunan besar itu.


****


Seorang pengawal yang langsung masuk ke dalam villa begitu melihat ada banyak mobil yang berhenti di halaman, segera berlari dan melaporkan kejadian itu pada Naura.


"Bos, di depan ada pasukan pengawal Chandra Jaya Grup, dan juga ada banyak polisi yang datang,"


Mendengar laporan itu, emosi Naura kembali memuncak. Dia memerintahkan beberapa pengawalnya keluar berjaga di depan pintu.


"Ozan... Aku sudah bilang kan, kalau kau berani membawa polisi atau pengawalmu kemari, akan aku pastikan kau akan menangisi istri dan anakmu. Jadi bersiaplah untuk mati Ameera!!"


Ozan yang merasakan tubuh Ameera gemetar, mengeratkan pelukannya.


"Sayang, maafkan aku... Aku bukan suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kita. Tapi selama aku masih hidup, aku tidak akan biarkan dia melukaimu," bisik Ozan di telinga Ameera. "Kau sudah melakukan kesalahan Naura... dan kau akan menyesal." ucap Ozan kemudian.


Naura berjalan mendekat, seraya menodongkan pistol di hadapan Ozan. Pria itu hanya bisa melindungi Ameera dengan menjadi tamengnya, jika ia melawan sedikit saja, maka Naura akan langsung menembak Ameera.


"Kesalahan? Lebih baik bersiaplah menyambut kematiamu, aku akan membuatmu menangisi mayat istrimu. Ah, pembalasan dendamku akan sempurna malam ini... Karena kaulah, laki-laki yang aku cintai meninggalkanku. Ya... Dion meninggalkanku karenamu! Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau masih berani bilang aku melakukan kesalahan?"


"Kau memang memang sudah melakukan kesalahan besar, Naura!" ucap Dion.


Naura mematung mendengar suara seorang pria yang sangat di kenalnya. Seketika matanya berair, Ia berbalik mencari sumber suara itu.


"Papa....?" Naura terkejut melihat pria yang begitu berarti di dalam hidupnya sedang berdiri di ambang pintu. Lalu kemudian melihat Rangga dan Hasan juga ada di sana.


"JANGAN MENDEKAT ATAU AKU TEMBAK MEREKA," Naura berteriak mengancam orang-orang yang berada di ambang pintu.


Hasan dan Rangga menjadi panik mendengar ancaman Naura. Mereka kemudian menghentikan langkahnya, lalu bergerak mundur. Hasan kemudian menginstruksikan kepada para polisi yang berada di sana untuk mundur perlahan, jika tidak Naura akan nekat membunuh Ozan dan Ameera.


"Papa, sekangkah lagi dendam kita akan terbalaskan. Aku akan membunuh Ameera dan Ozan dengan tanganku sendiri,"


"Kenapa, Papa? Bukankah sejak dulu Papa ingin membunuh dua orang ini?"


"Maafkan Papa, Naura. Ini semua salah Papa. Rudi, Ratna, Ameera dan Ozan... Mereka tidak bersalah. Papalah yang sudah meracuni pikiranmu dengan kebohongan dan dendam. Papa memanfaatkan kematian mama mu untuk memuluskan rencana balas dendam papa dengan menggunakanmu sebagai umpan. Ratna tidak pernah menjadi orang ketiga di antara kami. Papalah yang terlalu terobsesi ingin memilikinya, sampai berbuat sejauh ini"


Seluruh tubuh Naura bergetar mendengar ucapan ayahnya itu.


"Dia nekat mengakhiri hidupnya karena tidak bisa menanggung rasa bersalahnya, bukan karena sakit hati."


Bagai tersambar petir, seluruh tubuh Naura bergetar mendengar penjelasan Hendri. Sedangkan Ameera telah di kuasai perasaan marah dan kecewa pada Hendri. untuk pertama kalinya, ia melihat rupa orang yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Teringat kembali kecelakaan yang menewaskan ibunya, detik-detik ketika sang ayah tertembak tepat di depan matanya. Ameera tak kuasa membendung air matanya.


Dia orang yang sudah membunuh ayah dan ibuku? Ayah-ibu... Kenapa dia begitu tega melakukan semua ini pada kita. Ameera membatin


"Papa bohong kan? Papa hanya ingin mencegahku membunuh mereka." Naura masih menodongkan senjatanya pada Ozan, "Kenapa, Papa? Kenapa Papa tega melakukan semua ini padaku? Papa tahu, aku melakukan kejahatan ini untuk membalas kematian mama,"


"Maafkan Papa Naura,"


"Baiklah, aku tidak akan membunuh Ameera, tapi Ozan akan tetap mati di tanganku. Dia sudah membuat Dion meninggalkanku."


Naura baru saja akan menarik pelatuk senjatanya ketika terdengar suara seseorang.


"Kau salah Naura, aku meninggalkanmu bukan karena Ozan. Aku meninggalkanmu karena aku ingin kau menyadari kesalahanmu. Tapi aku salah, kau malah semakin menjadi-jadi," ucap Dion yang muncul dari balik pintu.


"Dion..," gumam Naura pelan dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Selama satu tahun ini aku terus mengawasimu, aku ingin tahu sejauh apa kau berubah. Maafkan aku, Naura... Seharusnya aku membimbingmu ke jalan yang benar, bukan malah meninggalkanmu. Hentikan semua ini! Mari kita mulai semuanya dari awal,"


Naura melepaskan senjata yang berada dalam genggamannya, hingga benda itu terjatuh ke lantai. Gadis itu kemudian menjatuhkan tubuhnya, terduduk di lantai, kemudian menangis sejadi-jadinya.


Dion segera mendekat padanya dan langsung memeluknya, "Kau mau kan memulai semuanya dari awal bersamaku?"


Naura tidak dapat berkata-kata lagi, ia hanya menangis dalam pelukan pria yang dicintainya itu. Sesaat kemudian, Dion membawa Naura keluar dari tempat itu. Di luar sana, Naura sudah di sambut oleh polisi.


Ameera melirik pistol yang tergeletak di lantai, ia lalu melepas pelukan Ozan, dan secepat kilat meraih senjata itu.


Dengan menahan rasa sakit di perutnya, ia mengarahkan senjata itu pada Hendri yang berdiri di sana.


"Ameera." panggil Ozan yang langsung panik.


Ameera berjalan mendekat pada Hendri, hingga tersisa jarak beberapa meter saja.


Semua orang yang berada di ruangan itu mematung menatap Ameera yang telah di kuasai kemarahan itu.


"Jangan, Nak... letakkan senjata itu, jangan kotori tanganmu," ucap Hasan lembut, berusaha membujuk Ameera.


Sementara Rangga diam mematung menatap Ameera. Ozan yang berada tidak jauh dari posisi Ameera mencoba mendekat.


"Jangan halangi aku, Mas. Atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih dari ini," ucap Ameera mengancam dengan tatapan membunuhnya.


Ozan lalu memberi kode pada Rangga untuk membujuk Ameera. Ozan yakin hanya Rangga yang mampu membujuk Ameera saat ini, namun Rangga terlihat begitu tenang, seolah ingin membiarkan Ameera menuntaskan kemarahannya.


"Dia membunuh ibu dan ayahku, haruskah aku memaafkannya?" ucap Ameera, ia menatap Hendri tanpa berkedip, butiran air mata terus berjatuhan membasahi pipinya.


Sementara Hendri diam membisu, pasrah jika Ameera ingin membalas kematian kedua orang tuanya.


"Jangan, Yank... Ayo kita pulang," Ozan kembali berusaha membujuknya, namun Ameera tidak bergeming.


"Jangan mendekat, Mas! Berhenti di situ!" Ameera berteriak membuat Ozan menghentikan langkahnya.


"Aku mohon, Yank..."


"Tiga peluru.., ayahku tewas setelah mereka menembakkan tiga peluru di tubuhnya. Orang jahat ini tidak tahu kan, bagaimana sakitnya. Aku akan membuatnya merasakan sakit yang sama seperti ayahku."


Ameera lalu melirik Rangga dengan ekor matanya, senyum tipis hadir di sudut bibir Rangga, ia kemudian mengagguk pelan, seolah mengizinkan Ameera melakukannya. Ozan begitu heran melihat Rangga yang bahkan tidak bereaksi.


"Rangga, aku pernah memaafkannya untukmu. Hari ini, apa kamu mau memohon agar aku mau mengampuni orang itu?"


Rangga kemudian melirik Hendri dengan tatapan dinginnya. Teringat semua perbuatan Hendri yang telah memisahkannya dari orang tuanya selama 18tahun. Hendri pula yang telah memisahkannya dari Ameera.


"Tidak!" jawab Rangga singkat.


"Lihat kan? Rangga saja tidak bisa memaafkannya. APALAGI AKU!!!"


Dengan penuh kemarahan, Ameera menarik pelatuk pistol itu dan...


Dor Dor Dor


Terdengarlah tiga kali suara tembakan...


****

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Apa yang akan terjadi selanjutnya???


__ADS_2