Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Hamil


__ADS_3

Ameera terbaring lemah dengan wajah pucat di ranjang pasien dengan jarum infus terpasang di pergelangan tangannya. Rangga duduk di kursi di samping Ameera. Ia terus memandangi wajah Ameera dengan tatapan sedih.


Beberapa saat kemudian Ameera tersadar dari pingsannya. Ia membuka matanya perlahan. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Di lihatnya Rangga yang berada di sampingnya. Wajah Rangga tampak sedih memandangi Ameera.


"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan. Jadi aku membawamu ke rumah sakit karena wajah kamu pucat." Rangga memberitahu sebelum Ameera bertanya.


Ameera memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Kepalaku berat sekali rasanya." Ucap Ameera.


"Kalau kondisi kamu selemah ini kenapa kamu memaksa ke kampus? Bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa?"


"Memangnya aku sakit berat ya? Belakangan aku hanya sering pusing. Mungkin aku anemia. Dokter bilang aku sakit apa? "


Jadi Ameera belum tau. Haruskah aku yang memberitahu nya?


"Ameera... kata dokter, kamu..." Rangga agak ragu mengatakannya. "Kamu hamil. " Akhirnya terucap juga kata yang paling tidak ingin di ucapkannya.


Ameera terkejut bukan main mendengar perkataan Rangga. Ia mencoba untuk tidak begitu saja percaya dengan pendengarannya.


Aku pasti salah dengar kan? Yaa, aku pasti salah dengar.


"Kamu bercanda kan Rangga? Kamu gak lucu." Suara Ameera sudah bergetar dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Jadi kamu beneran belum tau?" Balik bertanya.


Ameera sudah menangis di sana. Pikirannya sangat kalut. Baru dua minggu lalu ia membeli pil KB untuk mencegah kehamilannya. Tapi bahkan Ameera belum pernah meminumnya. Karena selama drama di club, ia terus menolak jika Ozan ingin menyentuhnya. Sehingga Ameera belum meminum pil itu sama sekali.


"Apa aku telepon suami kamu aja ya? Biar dia ke sini temenin kamu"


Dengan cepat Ameera menggeleng.


"Jangan, Rangga. Aku mohon jangan beritahu dia." Sambil terisak


"Kenapa? Dia kan suami kamu. Dia harus tau kondisi kamu sekarang. " Rangga bingung dengan sikap Ameera yang tidak ingin Rangga memberitahu Ozan.


"Jangan! Tolong Rangga. Aku gak mau dia tau aku hamil."

__ADS_1


Rangga menggenggam tangan Ameera erat. Rangga mengerti apa yang di rasakan Ameera sekarang.


Dia pasti tidak menginginkan kehamilanku. Dia akan merasa ini beban untuknya. Kenapa juga aku harus hamil.


"Baiklah Ameera."


Rangga terus mencoba menenangkan Ameera yang terus menangis mengetahui dirinya hamil. Sampai seorang dokter masuk ke ruangan Ameera, barulah Ameera berhenti menangis. Dokter yang memeriksa Ameera pun sempat di buat salah paham. Ameera menangis sejadi-jadinya mengetahui dirinya hamil, sehingga Rangga kewalahan membujuknya agar berhenti menangis. Sampai dokter itu mengira Ranggalah yang menghamili pasiennya tanpa ikatan pernikahan.


"Mari kita ke ruang USG dulu. Untuk mengetahui kondisi janin dan usia kehamilan. " Ucap dokter itu dengan ramah.


Rangga mendorong kursi roda yang di duduki Ameera menuju ruang USG.


Sesampainya disana, Ameera berbaring di ranjang di bantu seorang perawat. Lalu perawat memakaikan kain penutup sebatas pinggang Ameera dan menyibak bajunya sampai batas dada dan menyapukan gel dingin ke perut Ameera. Dokterpun menggerakkan alat di atas perut Ameera. Dokter itu tersenyum lembut menatap layar yang memperlihatkan janin dalam kandungan Ameera. Beberapa saat kemudian dokter itu mengabadikan gambar hasil USG.


"Usia kehamilan sudah memasuki minggu ke empat, jadi jaga baik-baik ya. Trimester pertama kehamilan itu rawan, apalagi untuk ibu muda. Jadi harus benar-benar hati-hati. Jangan terlalu lelah. Apalagi janinnya kembar jadi harus banyak makan makanan bergizi." Terang dokter wanita tersebut.


"Hah... kembar?" Ameera terkejut mendengar penjelasan dokter itu.


"Iya... janin nya kembar. " Dokter tersenyum.


Setelah pemeriksaan Rangga mengantar Ameera kembali ke ruang perawatan.


***


"Rangga...!" Terdengar suara panggilan dari lorong rumah sakit. Rangga menoleh, tampak Dina ada di sana sedang berjalan ke arahnya. Rangga sedang duduk di kursi depan ruangan sambil menunggu dokter melakukan pemeriksaan pada Ameera sebelum mengizinkan Ameera pulang.


"Ameera dimana?" Tanya Dina.


Raut wajah Rangga tampak sedih bercampur frustasi dan Dina dapat melihat itu di wajah Rangga.


"Di dalam." Jawabnya datar.


"Ameera sakit apa? Tadi memang aku lihat wajahnya pucat sih. Tapi dia bilang baik-baik saja. "


"Ameera hamil, Din." Kata Rangga yang ketika mengucapkannya wajahnya sangat murung. Dina mengerti, kehamilan Ameera mungkin bukan berita baik bagi Rangga. Bagaimana pun juga, di hati Rangga masih ada Ameera. Dina menggenggam erat tangan Rangga, mencoba memberinya kekuatan. Raut wajah Dina pun tampak sedih.


"Kak Ozan dimana?" Tiba-tiba menanyakan keberadaan Ozan.

__ADS_1


"Itu dia, Din. Ameera gak mau suaminya di kasih tau."


"Tapi kan kak Ozan berhak tau. Dia suaminya Ameera" imbuh Dina.


"Tapi itu kan hak nya Ameera. Lagian laki-laki brengsek kayak dia gak pantaslah buat Ameera. Rasanya aku benar-benar ingin menghajarnya sampai babak belur." Rangga jadi sangat kesal mengingat cerita Ameera yang mengatakan dirinya memergoki Ozan dan Naura yang sangat mesra di club malam.


"Apa menurut kamu kak Ozan benar-benar akan meninggalkan Ameera demi kak Naura?"


"Akan ku habisi dia kalau seberani itu. "Rangga kembali tersulut emosi."Lagian kak Naura juga gak tau malu banget. Orang sudah punya istri masih juga di kejar. Ahh mereka berdua sama lah." ujar Rangga semakin kesal.


"Coba kamu bicara deh sama kak Naura. Kamu bilangin Ameera hamil. Mungkin dia bakalan berhenti gangguin kak Ozan kalau tau Ameera hamil" Saran Dina.


"Din, kak Naura gak boleh tau Ameera hamil. Kamu tau kan bagaimana nekatnya dia. Aku takut dia malah berbuat yang lebih jauh pada Ameera."ucapnya kemudian.


Ameera keluar dari ruang perawatannya. Walaupun kelihatannya masih lemah, tetapi wajahnya tidak pucat lagi. Ia sudah di izinkan pulang oleh dokter. Rangga dan Dina menghampirinya.


"Ameera... Aku selesaikan administrasinya dulu ya... kamu tunggu disini. Din... tolong temani Ameera!"


Dina mengangguk. Lalu mengajak Ameera duduk di kursi tunggu.


"Ameera... gimana? Kamu masih pusing?" Tanya Dina


"Mendingan kok" tersenyum paksa.


"Kenapa kamu gak kasih tau kak Ozan?"


Ameera tiba-tiba terlihat sedih dengan pertanyaan Dina.


"Aku gak mau dia tau kalau aku hamil, Din. Kamu tau kan alasannya?" Dina mengangguk. Ia menggenggam tangan Ameera. "Kamu jangan kuatir. Kamu punya aku dan Rangga. Kita gak akan meninggalkan kamu. " tersenyum pada Ameera,


Satu hal yang Ameera sukai dari Dina. Ia merasa memiliki kakak perempuan, seperti halnya Rangga yang membuatnya merasa memiliki kakak laki-laki.


Setelah urusan selesai, Rangga dan Dina mengantar Ameera pulang ke rumah. Sepanjang jalan Ameera terdiam sambil memegangi perutnya yang sekarang sedang tumbuh janin kembar di dalamnya. Setitik air matanya jatuh membayangkan reaksi Ozan yang mungkin tidak menginginkan kehamilannya. Karena itulah, Ameera memutuskan akan menyembunyikan kehamilannya dari Ozan. Setidaknya jika Ozan benar- benar meninggalkannya demi Naura, ia akan membawa kedua anaknya bersamanya.


💎💎💎💎


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2