
"Halo Pak Ramon, saya mau melaporkan, nona Ameera... hilang" terdengar suara seorang pria di ujung sana dengan nada bergetar.
"Apa maksud kamu?" Ramon membentak dan berteriak dengan suara menggelegar
"Kami... tidak menemukan nona Ameera dalam rombongan, kami sedang mencarinya sekarang" masih dengan suara bergetar
"Bodoh kalian semua...! Menjaga satu orang saja tidak becus" Ramon memaki orang suruhannya dengan emosi. Ia lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Ramon mondar-mandir dengan gelisah di depan ruangan.
"Bagaimana cara gue kasih tau Ozan, biar dia gak panik?" Gumam Ramon. Padahal dirinya sendiri sedang panik dan gemetaran membayangkan reaksi Ozan jika tahu istrinya hilang.
Ozan masih berada di dalam sana sedang meeting dengan client. Tiba-tiba Ramon masuk dan membisikkam sesuatu.
Ozan keluar dari ruangan. Ramon ingin memberitahukan perihal hilang nya Ameera dengan hati-hati.
"Zan, gue dapat laporan dari basecamp Ameera, mereka bilang Ameera terpisah dari rombongan" berusaha menyampaikan dengan bahasa sehalus mungkin.
Seketika raut wajah Ozan berubah.
"Apa maksud lu? Ameera hilang?" Sentak Ozan sambil menarik kerah baju Ramon.
"Lu tenang dulu, lebih baik kita ke sana sekarang" usul Ramon memcoba menenangkan Ozan. Tanpa pikir panjang Ozan berlari keluar menuju mobil sedangkan Ramon masuk terlebih dahulu untuk memberitahu client bahwa rapat di tunda. Setelah itu, Ramon pun berlari keluar.
Ramon melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju lokasi wisata gunung pancar di kota bogor.
"Lebih cepat, Ram!" Bentak Ozan
"Ini gue udah ngebut banget, Zan. Lu tenang! Ameera pasti baik-baik aja kok"
Sementara di lokasi kejadian, orang- orang masih panik mencari Ameera. Mereka meneriakkan nama Ameera tetapi belum ada tanda keberadaan Ameera. Para pengawal yang di tugaskan mengawasinya sudah was-was. Mereka sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan Ramon kepada mereka jika terjadi apa-apa pada Ameera.
Selang 2 jam Ozan dan Ramon tiba di lokasi wisata. Jarak dari kota Bandung ke Bogor yang biasanya di tempuh tiga jam menjadi lebih cepat karena Ramon mengemudikan mobil bagai kesetanan karena terus di desak Ozan agar lebih cepat.
Saat Ozan dan Ramon memasuki hutan pinus dimana orang-orang sedang mencari Ameera, beberapa orang pengawal menghampiri mereka. Raut wajah Ozan yang di penuhi kecemasan bercampur kemarahan benar-benar menakutkan. Ia terdengar memaki beberapa pria.
__ADS_1
BAGAIMANA CARA KALIAN MENJAGA ISTRIKU SAMPAI DIA BISA HILANG DARI PENGAWASAN KALIAN?" Ozan berteriak berapi-api penuh emosi.
Beberapa mahasiswa termasuk Indah dan Riri terlihat terkejut mendengar Ozan menyebut kata istri.
"Apa... aku gak salah dengar.. Ri... dia bilang istrinya? Apa Ameera itu istrinya?" Tanya Indah dengan suara bisikannya yang terbata-bata.
"Aku juga dengarnya begitu. Tapi kenapa Ameera bilang itu sepupunya" sahut Riri
"Hubungi tim SAR dan Siapkan Ambulan dengan seorang dokter wanita! Temukan nona dalam keadaan baik-baik saja atau kalian tahu akibatnya!" Yang ini suara Ramon yang terdengar memarahi orang suruhannya.
Di tengah kepanikannya Ozan terpikirkan sesuatu.
"Apa di sini ada tebing? Tanya Ozan kepada pemandu mahasiswa
"A... da tuan muda. Di.... ujung hutan pinus terdapat tebing. Tapi itu sangat jauh dari sini" pemandu menjawab dengan ketakutan karena ia tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya.
"APA YANG KALIAN TUNGGU? CEPAT SISIR TEBING ITU. CARI ISTRIKU SAMPAI KETEMU!" Teriakan Ozan menggelegar di udara membuat nyali semua orang menciut.
Riri dan Indah mendatangi pemandu untuk menanyakan rasa penasarannya. Kenapa orang-orang terlihat begitu takut pada pria yang di akui Ameera adalah sepupunya.
"Itu Ozan Chandra Jaya, dia itu suaminya Ameera" jawab pria itu.
"Ap... apa? Ozan Chandra Jaya? " mereka menjadi lebih terkejut lagi mendengar pemandu menyebutkan nama bule Turki yang sering di eluh-eluhkan oleh Indah tersebut.
"Habislah kita, Ri...!" Kata Indah yang menjadi semakin takut
Ozan ikut berlari menuju tebing mengikuti beberapa orang yang sudah dulu berlari menuju tebing yang cukup jauh di ujung sana. Lalu mereka semua menelusuri tebing yang curam tersebut di tengah kegelapan malam. Dan hanya mengandalkan cahaya dari lampu senter.
"Ameeeraaaaa!" Teriakan Ozan memanggil nama Ameera sambil menuruni tebing. Ia mencari kesana kemari dengan paniknya sambil membawa senter.
Ozan rasanya ingin menangis, menyesali keputusannya mengizinkan Ameera pergi.
Melihat kondisi tebing yang curam di penuhi semak belukar dan bebatuan membuat Ozan semakin khawatir dengan keadaan Ameera. Entah mendapat bisikan darimana, ia merasa yakin Ameera berada di sekitar sana.
Sudah hampir tiga jam Ozan menyisir tebing bersama beberapa orang namun, Ameera tidak juga di temukan.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang pria berteriak. ozan dan Ramon berlari menuju sumber suara. Ia melihat Ameera tergeletak tak berdaya di antara semak belukar. Kaki Ozan terasa lemas melihat Ameera di bawah sana.
"AMEERAAAAA...!" Ozan berteriak memanggil nama Ameera. Lalu secepat kilat berlari menuruni tebing.
Ozan meraih tubuh Ameera dan memeluknya erat. Ia merasakan tubuh Ameera yang sangat dingin, lu melepaskan jasnya dan memakaikan pada Ameera.
Ozan menggendong tubuh Ameera menaiki tebing. Ketakutannya akan kehilangan Ameera mengalahkan segalanya. Ia tanpa rasa lelah terus menggendong tubuh Ameera sampai akhirnya ia berhasil membawa tubuh Ameera ke atas.
Ambulan yang di minta Ramon dengan cepat menerobos memasuki hutan pinus. Ramon membentangkan jas yang di pakainya untuk menjadi alas agar Ozan dapat membaringkan tubuh Ameera. Ozan memposisikan Ameera duduk di atas jas Ramon yang menjadi alas dan menyandarkan kepala Ameera di dadanya. Sambil menunggu Ambulan sampai di lokasi mereka, Ozan berusaha menghangatkan tubuh Ameera dengan terus memeluknya.
Semua orang terlihat sangat panik, melihat tubuh dan wajah Ameera yang terdapat banyak luka. Tak lama kemudian ambulan sampai di lokasi mereka. Dua orang petugas dengan sigap menurunkan tandu. Ozan mengangkat tubuh Ameera ke tandu. Dan mereka pun menaikkan tandu berisi Ameera ke atas ambulan setelah sebelumnya di pakaikan selimut.
"Ram, gue ikut di ambulan. Lu bawa mobil." Perintah Ozan.
Ramon mengangguk.
Ambulan pun melaju menerobos hutan pinus. Meninggalkan rombongan mahasiswa. Seorang dokter memberikan pertolongan pertama pada Ameera di bantu seorang perawat.
Lalu memasang selang oksigen. Untuk membantu Ameera bernapas. Selama perjalanan ke rumah sakit Ozan tidak henti-hentinya memanggil nama Ameera sambil minta maaf karena sudah mengizinkannya pergi. Ia terus menggenggam erat tangan Ameera.
Ambulan tiba di halaman rumah sakit. Sudah ada beberapa dokter dan petugas yang memang menunggu kedatangan Ameera di depan ruang IGD.
Ozan mondar mandir di depan ruangan IGD karena dokter tidak mengizinkannya untuk masuk. Sudah dua jam Ameera mendapat penanganan di dalam sana, membuat Ozan semakin panik. Beberapa saat kemudian Ramon tiba di rumah sakit. Ia menghampiri Ozan di depan ruang IGD.
Ramon menepuk bahu Ozan, berusaha menangkannya dengan memberinya minum.
"Ini salah gue, Ram. Kenapa juga gue harus izinin dia pergi." Sesal Ozan kepada dirinya sendiri.
"Lu sabar! Ameera gadis yang kuat. Dia pasti baik-baik saja"
"Gue gak akan bisa memaafkan diri gue sendiri kalau sampain Ameera kenapa-kenapa." Ucap Ozan
Melihat kecemasan Ozan yang begitu besar membuat Ramon semakin merasa bersalah karena orang suruhannya yang ia tugaskan menjaga Ameera lalai menjalankan tugasnya.
🎀🎀🎀🎀🎀
__ADS_1
Bersambung