Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Minta Izin


__ADS_3

Pagi itu, Ameera sedang sarapan bersama mertuanya.


"Ameera, Ozan belum bangun? Tumben jam segini belum turun. Biasanya olahraga dulu sebelum sarapan." tanya Zarima.


"Mungkin kelelahan..." ucap Hasan serayal tersenyum penuh arti.


Zarima yang mendadak berperan sebagai detektif amatiran itu menatap Ameera seperti menyelidiki. Soal urusan kepo, serahkan kepada ibu-ibu yang satu ini.


Wajahnya lesu, tapi lehernya bersih, tidak ada tanda apapun. batin Zarima.


Ameera menyadari Zarima sedang melirik ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Karena merasa malu, Ameera mengusap wajahnya dan merapikan rambutnya.


"Kenapa mah? Aku kelihatan aneh, ya?" tanya Ameera.


"Eh, tidak...! " Zarima gelagapan menjawab.


"Kamu makan yang banyak ya, Nak!" kata Hasan sambil menyendokkan beberapa menu ke piring makan Ameera. Sampai piringnya hampir penuh, membuat Ameera membulatkan matanya.


Aku mana bisa menghabiskan makanan sebanyak ini.


Ameera menatap mertuanya secara bergantian dengan heran.


"Nanti mama juga beli vitamin buat kamu. Biar tidak gampang capek."


Memang aku melakukan apa di rumah ini. Kalian kan membuatku di layani seperti seorang putri. Lalu apa yang membuatku capek coba.


Ameerq hanya menyunggingkan senyumnya pada kedua mertuanya.


Tidak lama kemudian, Ozan bergabung untuk sarapan. Ia duduk di sebelah Ameera.


"Capek, Zan...? Tumben baru turun." tanya Hasan dengan nada meledek. Yang di tanya juga tidak menjawab karena tidak mengerti maksud pertanyaan yang di ajukan sang ayahnya.


"Wajahmumu kenapa?" tanya Hasan ketika melihat wajah Ozan kebiruan. Zarima terkejut dan langsung menoleh pada anaknya itu.


"Hah? Kecoanya barbar lagi, Zan?" tanya Zarima.


Ozan kemudian melirik Ameera dengan ekor matanya.


"Kecoa? Barbar... Apa maksudnya?" tanya Hasan bingung.


Karena menyadari kelakuannya tadi, wajah Ameera menjadi merona merah.


"Itu Pah, tadi ada kecoa di kamar, kecoanya mau aku makan, malah aku yang di makan duluan. Makanya wajahku jadi begini?" Penjelasan Ozan mulai ngawur.


Hasan semakin tidak mengerti dengan penjelasan anaknya. Sementara Zarima sudah tertawa lantang. Hasan yang kesal karena ia mengartikan kata makan sebagai makna sebenarnya.


"Jorok kamu, Zan. Kecoa saja mau di makan. Memang makanan di rumah ini kurang?" Suara Hasan sudah naik satu oktaf.


"Kayaknya kecoanya enak pah." sahut Ozan seraya menyuapkan roti ke mulutnya.


Wajah Hasan sudah menunjukkan reaksi mual mendengar kejorokan Ozan. Sementara Zarima tertawa terbahak-bahak, karena hanya dirinya yang mengerti maksud Ozan.


Karena merasa kesal, Ameera menginjak kaki Ozan di bawah meja dengan keras


"Aaauuhhh sakiiittt." Ozan meringis sambil menatap kesal pada Ameera.


"Kenapa? Kecoanya memakanmu kamu lagi?" bisik Ameera


Hasan semakin bingung, menampakkan wajah dengan seribu tanda tanya. Sementara Zarima tidak kuasa menahan tawanya hingga sakit perut.


"Ozan... Ozan... kan mama sudah bilang jangan memaksa! Ini pasti kamu memaksa Ameera kan?"


Ozan dan Ameera tersendak makanan saking malunya mendengar ucapan sang ibu.


Saat itulah tawa Hasan pecah karena baru mengerti maksud Zarima.


Ini memalukan... batin Ameera.


Sadar keadaan memalukan, Ozan lalu mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan hal lain.


"Pah, besok aku mau bisa mulai masuk kantor," ucap Ozan.


"Yakin?"


"Iya, aku mulai bosan di rumah. Lagipula tidak ada yang mengancam hidupku lagi kan? Aku akan bekerja seperti dulu, sebelum aku mengalami kecelakaan."


"Baiklah, kau bisa mulai besok."


****

__ADS_1


Ameera menghampiri Ozan yang sedang memberi makan pada ikan-ikan peliharaannya


"Aku mau bicara penting."


" soal apa?"


"Aku mau kuliah." Ameera menyerahkan brosur dan formulir pendaftaran pada Ozan.


Pria itu meraih kertas yang di berikan Ameera dan membacanya.


"Yakin?"


"Aku bosan di rumah, jadi mau juliah saja."


"Ngapain kuliah? Kamu hanya perlu jadi istriku yang baik, hidupmu akan terjamin sampai tua."


Cih. Siapa yang mau menghabiskan masa tua denganmu. Aku kuliah untuk bekal kalau nanti kamu kembali dengan kekasihmu. Dalam batin Ameera


"Tapi aku nggak mau terjebak dengan manusia jadi-jadian sepertimu sampai tua." gumam kecil.


"Kamu bilang apa?"


"Memang aku bilang apa"?


"Barusan kamu bilang apa?"


"Aku bilang aku mau kuliah."


"Bukan itu, yang sebelumnya, kamu bilang tadi,"


"nggak..."


Ozan memicingkan matanya. Lalu kembali membaca brosur.


"Baiklah. Ramon akan mengurus pendaftaranmu. Besok juga aku sudah mulai bekerja lagi. Aku akan sibuk di kantor."


"Aku bisa urus sendiri."


Ozan kemudian mengeluarkan dompet di sakunya dan memberikan Ameera sebuah kartu.


"Pakai ini untuk keperluanmu."


"Jangan gunakan itu, simpan saja! Kamu pakai ini saja,"


Ameera tersenyum paksa meraih kartu tersebut. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ameera lalu meraih ponselnya, ada nama Rangga di layar ponselnya.


"Rangga?" Ameera bergumam kecil menyebut nama Rangga, tapi mampu di dengar Ozan.


Ameera kemudian menjauh dari sana untuk menjawab teleponnya.


Ngapain dia jawab telepon di sana? Memang di sini gak bisa?


"Halo, Rangga"


"Hai meera, apa kabar"


"Baik"


"Kamu lagi apa? Sibuk nggak?


"Nggak kok, kenapa?"


"Apa kita bisa bertemu? Senin aku berangkat keluar negeri. Tapi sebelum itu, aku mau ketemu kamu dulu. Boleh kan?"


"Bagaimana ya... Aku akan coba minta izin dulu,"


"Oke"


"Ketemu dimana?"


"Taman bermain aja gimana, seperti biasa!"


"Kapan?"


"Hari minggu gimana?"


"Tapi aku gak janji ya?"


"Sip lah"

__ADS_1


Obrolan di telepon pun berakhir. Ozan memperhatikan Ameera dari jauh. Lalu berpura-pura memberi makan ikannya lagi.


"Rangga, telepon. Katanya hari senin berangkat keluar negeri. Dia ajak aku ketemu hari minggu. Boleh nggak?"


Santai sekali dia minta izin pada suaminya untuk bertemu laki-laki lain tanpa merasa berdosa. Ozan membatin


"Berdua saja? "


"Iya. Kan kamu tau Rangga satu-satunya teman yang aku miliki."


"Kalian mau bertemu dimana?"


"Taman hiburan." jawab Ameera polos, membuat Ozan membulatkan matanya.


Itu lebih mirip kencan Ameera. Jangan sampai aku marah. batin Ozan


"Kamu tidak mengajakku?"


"Kenapa aku harus mengajakmu?" tanya Ameera tanpa rasa bersalah.


Pertanyaan apa itu? Ozan membatin


"Kamu mau jalan-jalan berdua dengan laki-laki lain selain suami mu. Itu sudah seperti berkencan Ameera." ucap Ozan.


"Terserah. Aku nggak menilainya sebagai kencan." sahut Ameera tak kalah sengit.


"Ya sudah kamu boleh pergi. Anggap sebagai hadiah perpisahanmu dengannya. Lagipula kalian sudah berteman dari kecil kan?" Ozan mengalah.


Ameera mengangguk.


"Tapi perginya di kawal." kata Ozan


"Hah?"


"Kenapa?"


"Kenapa harus di kawal?"


"Karena aku yang mau kamu di kawal. Sudah bagus aku mengijinkanmu. Jadi jangan banyak membantah."


"Baiklah." dengan pasrah


Ameera masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan Ozan yang masih bersantai di gazebo.


***


Drrrtttt drrttttt


Ponsel Ozan bergetar. Ia ponselnya. Tertera nomor yang tidak di kenal.


"Halo" terdengar suara di sebwrang sana.


Ozan sudah tau siapa yang meneleponnya karena ia mengenali suaranya.


"Lu dapat nomor telepon gue darimana?" Tanya Ozan


"Itu gak sulit buat gue."


"Jadi mau apa lu telepon gue?"


"Gue mau pinjam Ameera hari minggu,"


"Lu pikir istri gue barang, bisa di pinjam-pinjam?" ucap Ozan mulai kesal.


"Sensi banget lu! Gue berangkat hari senin. Gue mau ketemu Ameera dulu sebelum gue berangkat. Boleh kan bro, jahat banget lu sama gue."


"Nggak. Lu gak sopan sama gue..."


"Apa sih lu?"


"Lu dengar ya anak kecil, gue tujuh tahun lebih tua dari lu dan lu ngomong sama gue gak sopan."


"Ya udah deh Bang, gue minta maaf. Kalau gitu ijinin Ameera ya, Bang!" Rangga mendadak sopan dengan panggilan Bang.


"Ya sudah tapi jangan lama. Dan ingat, Ameera istri gue, jangan macam-macam lu," Ozan menekan suaranya seolah ingin menegaskan bahwa Ameera adalah miliknya.


"Iya, Bang."


Panggilanpun terputus.

__ADS_1


Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah menjaga Ameera selama ini. Lagi pula dia sudah berkorban sangat banyak untukku dan Ameera. Hmmm Kalau di bandingkan dengannya, aku tidak ada apa-apanya. Padahal dia hanya seorang anak remaja. Batin Ozan


__ADS_2