
"Gimana? Sukses semalam bro?" tanya Ramon ketika Ozan kembali dari kamar membawa sarapan untuk Ameera.
"Mau tau aja urusan orang. " jawab Ozan cuek.
"Ya kan jangan sampai kerjaan gue kemarin sia-sia."
Ozan terdiam. Kembali teringat aktivitasnya semalam. Betapa polosnya Ameera yang beberapa kali memintanya untuk berhenti, tapi Ozan malah semakin bersemangat dan terus melakukannya sampai hampir pagi. Membuat Ameera tidak kuat lagi.
"Woy kenapa lagi lu? " teriak Ramon. "jangan bilang lu masih perjaka!"
"Ya nggak lah. Udah gue..."
"Masa' sih... gimana rasanya sama abg?" tanya Ramon sambil senyum-senyum penasaran.
"Mau tau aja lu urusan ranjang orang. " bentak Ozan membuat Ramon mencebikkan bibirnya.
"Tapi aset berharga lu masih aman kan? Gue khawatir lu di tendang," kata Ramon seraya tertawa lantang.
Tiba-tiba Ozan teringat ketika Ameera menyelamatkannya dari beberapa orang yang ingin membunuhnya. Saat itu karena kehabisan akal, Ameera menendang dengan keras benda berharga milik seorang pria sampai pria tersebut jatuh tersungkur ke lantai. Membayangkan tendangan itu membuat Ozan bergidik ngeri.
"Aman lah, dia nggak segila itu, dia sendiri yang rugi nanti." ucap Ozan sambil tersenyum puas."Jadi lu kesini buat antar berkas apa mau tanyain urusan ranjang gue?"
"Dua-duanya. " jawab Ramon singkat yang langsung mendapat pelototan dari Ozan.
Ozan segera memeriksa berkas yang di bawa Ramon. Dan langsung menandatangani nya. Setelah urusannya selesai, Ramon segera berangkat ke kantor.
***
Ameera masih sarapan di kamar ketika Ozan masuk. Ia mendekati Ameera yang sedang duduk selonjoran di sofa sambil menikmati sarapannya. Wajah Ameera menjadi merah merona ketika melihat Ozan di hadapannya.
"Masih sakit?" tanya Ozan.
"Masih," jawab Ameera seraya menundukkan kepalanya.
"Mau ke dokter?"
"Tidak usah." Ozan tersenyum,lalu membelai puncak kepala Ameera dan mencium keningnya.
"Ya sudah sarapannya di habiskan. Hari ini kamu tidak ke kampus kan? "
"Tidak!" jawab Ameera singkat.
Bagaimana mau ke kampus, jalan saja masih sakit. Manusia jadi-jadian ini benar-benar seperti orang kesetanan. Batin Ameera
***
Sementara itu di tempat lain, Naura sedang kesal setengah mati setelah mendapat laporan dari orang suruhannya yang ia suruh membuntuti Ozan. Dion yang memutuskan hubungannya dengan Naura beberapa waktu lalu, membuat Naura semakin frustasi dengan hidupnya.
"Aku akan membalas apa yang sudah kalian lakukan padaku. Akan ku hancurkan kalian dengan cara yang paling menyakitkan. " kata Naura dengan penuh emosi.
Ia sedang menyiapkan balas dendam paling menyakitkan untuk Ozan dan Ameera.
__ADS_1
***
Satu bulan kemudian....
Ameera sedang berada di kantin kampusnya ketika Dina menghampirinya. Ameera dan Dina kuliah di kampus yang sama, hanya beda fakultas. Dina memilih kuliah kedokteran untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter anak.
"Hai Ameera... boleh gabung?" tanya Dina.
"Eh, Din... boleh, duduklah."
"Aku senang satu kampus denganmu, jadi kita bisa sering ketemu," kata Dina.
"Rangga gimana kabarnya, Din? Aku lama tidak ada kabar dari Rangga."
"Rangga memang sedang susah di hubungi. Soalnya lagi sibuk kuliah. Terus sekarang Rangga sedang menggantikan papanya di perusahaannya di luar negeri,"
"Memang papanya Rangga kemana?" tanya Ameera penasaran
"Papanya lagi sakit. Jadi Rangga yang menggantikan," sahut dina.
Maaf Ameera, aku bohong. Rangga tidak mau kamu tau kalau papanya adalah orang yang sudah menyebabkan kamu kehilangan kedua orang tuamu. Batin Dina
"Ooo... pantas saja tidak ada kabar." ucap Ameera sambil tersenyum menikmati minuman di depannya.
"Kapan-kapan kita jalan bareng, ya... kita kan baru beberapa kali jalan bareng, itupun dulu bertiga sama Rangga."
"Baiklah, kabari aku saja, ya... Jadi aku bisa minta izin suamiku dulu."
"Ameera, maaf ya... hubungan kamu dengan suamimu bagaimana? Aku tahu alasan kenapa kamu menikah muda. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Dina takut-takut.
"Tadinya aku memang terpaksa karena ayah. Tapi sekarang, kami sedang belajar untuk saling menerima. Kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja. Suamiku sangat baik. " tutur Ameera membuat Dina bernapas lega.
Dina kuliah di univesitas yang sama dengan Ameera karena permintaan Rangga, agar Dina dan Ameera bisa dekat. Jadi Rangga masih bisa mengawasi dua gadis yang sangat berarti dalam hidupnya secara bersamaan.
Walaupun Hendri sudah di penjara, tapi Rangga masih saja takut terjadi apa-apa pada Ameera ataupun Dina. Dina tau alasan Rangga memintanya kuliah di kampus yang sama dengan Ameera, tapi Ameera tidak pernah tau apapun karena mereka menutupi darinya.
Ddrtttt drrtttt
Ponsel Ameera bergetar. Tampak pemanggil di layar dengan tulisan "manusia jadi-jadian" di layar ponsel. Ameera belum sempat mengganti nama kontak suaminya di ponselnya.
"Din, maaf aku jawab telepon sebentar, ya... "
"Iya..."
"Halo, Mas..."
Ya ampun kenapa aku masih geli memanggil si bule itu dengan panggilan Mas. Sangat tidak cocok. batin Ameera.
"Sayang, kamu dimana?" Terdengar suara Ozan di seberang sana.
"Aku di kantin kampus, kenapa?"
__ADS_1
"Aku sudah di depan. Apa kamu masih lama di kantin?" tanya Ozan
"Tidak. Aku memang sedang menunggumu. Karena kamu lama jadi aku tunggu sambil minum jus di kantin."
"Ya sudah cepat keluar,ya..."
"Iya..."
Telepon terputus.
"Din, kamu pulangnya naik apa? Mau bareng?"
"Kamu duluan saja, aku bawa mobil kok. "
"Ya sudah, aku duluan ya, suamiku sudah ada di depan. " Ameera merapikan bukunya dan memasukkan ke dalam tas, lalu beranjak meninggalkan Dina.
Setelah kepergian Ameera, Dina pun segera meraih ponsel dan mengetik pesan.
"Rangga, Amera baik-baik aja. Sepertinya hubungannya dengan suaminya sudah membaik. Suaminya juga tiap hari jemput di kampus. Kamu jangan khawatir."
Dina lalu mengirimkan pesan ke nomor kontak Rangga.
***
"Sudah lama ya, Mas?" tanya Ameera ketika menghampiri Ozan yang sedang berdiri menyandar pada mobilnya sambil memainkan ponsel.
"Baru saja. " jawab Ozan seraya membukakan pintu mobil untuk Ameera.
"Kita mau makan siang dimana?" tanya Ozan sambil memasangkan safety belt untuk Ameera.
"Terserah Mas saja. Aku bisa makan apa saja,"
"Jangan terserah, Yank. Kamu maunya makan apa?" tanya Ozan sekali lagi.
"Apa saja. "
"Ya sudah terserah aku, ya... Kamu jangan protes," Ameera mengerucutkan bibirnya membuat Ozan gemas. Lalu secepat kilat mengecup bibir manis milik istrinya.
Ameera yang mendapatkan serangan mendadak, reflek memukul dada Ozan.
"Ini tempat umum. Enak saja main sambar seenaknya." ucap Ameera dengan wajah kesal.
"Memang kenapa, tidak kelihatan juga, kaca mobilnya kan gelap."
"Bodo. "
Ozan yang tidak tahan dengan tingkah menggemaskan Ameera lalu mengacak rambut istrinya itu.
Ia pun melajukan mobilnya menuju sebuah restoran sederhana yang terletak di pinggiran kota.
💎💎💎💎
__ADS_1
Bersambung