
Ozan berencana mengajak Ameera melihat gedung yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan mereka. Ozan ingin memastikan agar gedung tersebut di dekorasi sesuai permintaan nya. Walaupun pernikahannya tidak di inginkan olehnya, ia tetap menginginkan yang terbaik karena tidak mau malu di depan para tamu undangan yang pasti adalah orang-orang penting.
Di perjalanan ia melirik ke arah Ameera, ingin menanyakan sesuatu tapi ragu. Akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Hubungan kamu sama teman kamu, si Rangga sepertinya sangat dekat ya?" tanya Ozan yang mulai membuka percakapan.
"Kamu tau darimana aku punya teman bernama Rangga? Apa kamu mengawasiku?"
"Karena kamu calon istriku dan aku tidak mau menikahi gadis sembarangan, jadi aku harus tau segalanya tentang dirimu kan?" sahut Ozan.
"Urus saja urusanmu sendiri." ucap Ameera ketus
"Segala sesuatu yang menyangkut dirimu adalah urusanku. Apa kamu ada perasaan lebih sama dia? tanya Ozan lagi.
"Aku gak punya kewajiban apapun menjawab pertanyaanmu kan?"
"Aku calon suamimu? Berapa kali harus aku ingatkan. Apa dari bayi kamu punya kepikunan yang akut? Jawab pertanyaanku!"
"Apa dari bayi kamu sudah punya sifat menyembalkan ini?" tanya Ameera kemudian.
"Kamu berani sama aku? "
"Aku bahkan berani mendorongmu dari air terjun niagara kalau itu di perlukan, menenggelamkanmu di dasar palung Mariana, menghanyutkanmu di sungai Amazon dan..." Ameera menggantung ucapannya melihat wajah Ozan yang tidak bersahabat. Seketika ia terdiam.
"Jawab saja pertanyaanku, anak kecil." pinta Ozan seraya menatap Ameera dengan sorot matanya yang tajam.
"Tuan Muda Ozan yang terhormat, aku dan Rangga berteman sejak kecil. Hanya itu. Anda puas?"
"Belum. Aku masih ada pertanyaan."
"Aku sedang dalam mode Ingin diam." ucap Ameera seraya menekan kata ingin diam. Mendengar jawaban tersebut, Ozan hanya mampu menahan kekesalannya.
Mobil memasuki halaman gedung yang sangat luas. Ketika secara tiba- tiba beberapa mobil menghalangi mereka. Ozan dan Ameera yang masih di dalam mobil, merasa kaget tiba-tiba ada banyak orang menghadang. Ramon menyadari apa yang terjadi lalu segera meraih senjatanya.
"Kalian jangan keluar dari mobil." teriak Ramon.
Melihat banyaknya orang yang menghadang mereka membuat Ameera ketakutan, ia teringat pada penyerangan yang terjadi padanya beberapa bulan lalu. Ozan yang melihat ketakutan di wajah Ameera, menggenggam tangannya erat.
Tampak beberapa petugas gedung juga keluar untuk melihat apa yang terjadi.
***
Ponsel berdering menandakan pesan masuk, Rudi langsung meraih ponselnya. Membuka pesan yang baru masuk.
"Kami di serang di halaman gedung tempat resepsi pernikahan tuan muda, jumlah mereka sangat banyak." isi pesan yang masuk.
Raut wajah Rudi langsung berubah membaca pesan tersebut. Ia lalu menelepon seseorang.
"Tuan muda di serang di halaman gedung resepsi pernikahan. Bawa pengawal ke sana sebanyak mungkin. SEKARANG!" perintah Rudi kepada seseorang yang di teleponnya.
Ia segera menuju parkiran gedung, dan melajukan mobilnya dengan kencang menuju lokasi penyerangan.
__ADS_1
***
Terjadi perkelahian antara para pengawal Ozan dengan beberapa pria berseragam hitam. Ozan tidak bisa diam saja melihat keadaan tersebut. Pengawalnya sudah ada beberapa yang terkapar.
"Ameera geser sedikit. " ucap Ozan.
Ketika Ameera menggeser posisi duduknya, Ozan berusaha meraih sesuatu yang ada di bawah jok yang diduduki Ameera. Ozan mengeluarkan dua buah senjata api.
"Ameera pegang ini." ucapnya Sambil menyerahkan satu senjata kepada Ameera. "Aku akan melindungimu, usahakan apapun yang terjadi jangan keluar dari mobil. Jangan takut, kaca mobil ini anti peluru. Dan kalau ada yang mendekat selain pengawal kita, tembak saja! Kamu ngerti kan?" ucapnya sambil membelai puncak kepala Ameera.
Ameera yang bingung itu hanya menjawab dengan mengangguk.
Ozan segera keluar dari mobil dan mulai menembaki satu persatu para penyerang itu.
Perkelahian pun terus terjadi. Entah datang darimana, jumlah orang berseragam hitam semakin banyak.
Bagaimana ini? Apa aku turun saja membantunya? batin Ameera.
Ketika Ozan kehabisan peluru, ia memilih berkelahi dengan beberapa orang. Ameera membuka setengah kaca jendela mobil. Mulai membidik ke arah para penyerang yang berkelahi dengan Ozan.
Dor Dor
Dua orang berhasil tumbang. Bidikan Ameera tepat mengenai lutut masing-masing pria. Ozan melirik ke arah Ameera, kemudian mengangkat telapak tangan nya mengisyaratkan agar Ameera berhenti membidik.
Di pikiran Ozan Ameera akan membutuhkan nya nanti untuk melindungi dirinya.
Suasana semakin panik, Ramon kemudian menyuruh Ozan membawa Ameera ke dalam gedung untuk bersembunyi. Sementara dirinya menghalau beberapa orang yang akan menyerang Ozan.
"Cepat lu bawa Ameera masuk ke dalam gedung." teriak Ramon.
Setelah berada di tempat yang di rasa aman untuk Ameera, Ozan mengembalikan senjata ke tangan Ameera.
"Apapun yang terjadi, apapun yang kamu dengar, atau kamu lihat, jangan keluar! Gunakan senjata ini seperlunya dan hanya untuk melindungi dirimu sendiri. Mengerti?"
Ameera pun hanya mampu menjawab dengan mengangguk.
"Tapi kamu mau kemana?" tanya seraya menarik lengan Ozan.
"Aku harus bantu mereka. Kamu diam dulu di sini!"
"Tapi di luar berbahaya,"
"Ameera, aku tidak bisa diam saja. Tunggulah di sini,"
Ozan lalu keluar membantu Ramon yang sepertinya sudah kelelahan. Tidak jauh dari mereka, seseorang sedang membidik ke arah Ozan. Saat akan menarik pelatuknya, terdengar suara tembakan.
Ameera terlonjak kaget mendengar suara tembakan. Ia mengkawatirkan Ozan di luar sana. Yang mungkin adalah target penyerangan ini.
Seseorang yang tadinya membidik senjata ke arah Ozan tersungkur seketika. Ternyata disana ada Rangga, yang menembaki orang tersebut. Rangga pun membantu Ozan yang sedang di keroyok.
"Sial... Mereka tidak habis-habis." Ozan mengumpat dengan keras.
__ADS_1
"Biar gue yang hadapi mereka. Lu jaga Ameera?" ucap Rangga.
"Ameera sementara aman. " kata Ozan.
"Apa maksud lu sementara?" Sempat-sempatnya mereka berdebat di tengah perkelahian.
"Bawel banget sih lu. Ameera Aman pokoknya."
Beberapa pelaku penyerangan yang menyadari kedatangan Rangga pun berangsur mundur, dan menyisakan beberapa orang yang masih berkelahi dengan Ozan dan Rangga.
Para pengawal Ozan yang hanya berjumlah beberapa belas orang sudah terkapar semua. Tidak lama kemudian mobil yang di kendarai Rudi tiba, lalu dengan sigap memukuli beberapa orang yang sedang mengeroyok Ozan dan Rangga.
Beberapa saat kemudian, mata Rangga menangkap sesorang dari kejauhan yang sedang membidik ke arah Ozan. Rangga yang berada dalam jarak yang cukup jauh dari Ozan pun hanya dapat berteriak.
OZAN... AWAS!" Rangga berteriak kencang. Rudi yang sadar langsung berdiri tepat di depan Ozan dan menjadi tamengnya.
Dor Dor Dor
Terdengar tiga kali suara tembakan.
Rudi menatap Ozan seraya tersenyum menahan kesakitannya. Sementara Rangga mematung, tak terasa menjatuhkan air matanya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rudi pada Ozan, padahal dirinyalah yang terkena tembakan. Rudi pun terkapar berlumuran darah.
Ozan begitu syok melihat Rudi yang bersimbah darah. Ia meraih tubuh laki-laki yang sudah di anggapnya seperti ayah sendiri dengan air mata berderai.
Tidak di sangka, Ameera berdiri mematung di sana sejak tadi menyaksikan ayahnya tertembak. Senjata api yang di genggamannya terjatuh ke lantai begitu saja.
Sementara orang yang berada di dalam mobil,melihat dari kejauhan ada banyak mobil melaju dengan kencang ke arah gedung. Menyadari itu adalah pengawal CJG, ia pun memberi instruksi orang-orangnya agar segera meninggalkan lokasi. Lalu dengan sigap mereka menggotong beberapa anggota mereka yang telah terkapar menuju mobil, dan segera melaju meninggalkan lokasi tanpa menyisakan satu orang pun.
"Ayah... " ucap Ozan dengan suara lirih, memeluk tubuh Rudi yang berlumuran darah. Rangga mendekat dan mengusap darah Rudi yang keluar dari mulutnya dengan tangan bergetar, Rangga pun tak sanggup membendung air matanya.
"Aa-Mee-Raaa...!!" Rudi menyebut nama Ameera dengan suara lemah dan terputus-putus.
"Ayaahh!!! " Ameera histeris dan langsung berlari menghampiri ayahnya. Gadis itu terduduk di sisi ayahnya dengan deraian air mata.
Rudi menatap wajah Ameera lalu sekuat tenaga meraih wajah Ameera dan menghapus air mata yang menetes membasahi wajah anaknya itu.
"Ja-ngan me-na-ngis, anakku. Ma-afkan ayah... Kau ada-lah se-galanya ba-gi ayah, hid-uplah de-ngan ba-hagia..." ucap Rudi terputus-putus.
Rangga pun tersadar lalu segera berlari mengambil mobil.
"Ozan, ti-tip A-mee-Raa..!!" Dengan susah payah rudi menyelesaikan kalimatnya.
Ozan tidak kuasa membendung air matanya. Pikirannya di kuasai rasa bersalah dan khawatir.
"Ayah, bertahanlah! Aku berjanji akan menjaga Ameera dengan nyawaku. Tapi ayah harus bertahan." kata Ozan Sambil terus menangis.
Sementara Ameera yang syok hanya dapat mematung, menatap ayahnya dengan tubuh bergetar dan air mata yang mengalir deras, tanpa suara.
"Ozan, Ameera! Cepat!" Rangga berteriak memanggil keduanya.
__ADS_1
Rangga dan Ozan segera memapah Rudi masuk ke dalam mobil. Ameera duduk di belakang memangku kepala ayahnya. Rangga segera melajukan mobilnya ke rumah sakit. Saat itu beberapa mobil pengawal yang tadi di perintahkan Rudi untuk segera ke lokasi penyerangan baru saja tiba. Ozan hanya melihat sekilas. Sudah dapat di pastikan mereka semua akan menerima kemarahan Ozan dan Hasan karena terlambat.
****