Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Mulai terbuka


__ADS_3

Rangga berada didepan sebuah gedung tinggi menjulang. Masih duduk didalam mobil, ia menatap gedung tersebut dengan raut wajah penuh emosi. "Rasanya aku benar-benar ingin meledakkan gedung ini." gumamnya dengan kesal.


Teringat kembali apa yang dilihatnya semalam yang membuat darahnya mendidih.


Flashback


Malam itu Rangga mendapat telepon dari Dina untuk membelikan makanan apa saja untuk Ameera karena ia tidak mau makan. Akhirnya Rangga menuju ke sebuah tempat untuk membelikan Ameera martabak kesukaannya. Namun, saat melewati sebuah club malam, tanpa sengaja ia melihat Ozan bersama Naura memasuki club malam. Rangga mengepalkan tangannya dengan kesal. Terlebih saat ia melihat Naura melingkarkan tangannya di lengan Ozan dan sukses membakar kemarahan Rangga. Demi apapun, rasanya Rangga ingin turun dari mobil dan menghajar Ozan hingga babak belur.


Namun, dipikirannya Ameera lebih penting sekarang. Mungkin saja Dina sedang kerepotan menghadapi Ameera yang emosinya mudah berubah. Akhirnya Rangga melanjutkan perjalanannya menuju tempat tujuan awalnya membelikan martabak untuk Ameera.


Flashback off


Cih, aku bahkan jijik melihat mereka bersama. Baiklah aku akan memberinya pelajaran hari ini. Aku tidak akan melepaskannya.


Rangga melajukan mobilnya memasuki area parkir CJG.


Setelah kepergian Ozan, Ramon ditugaskan menggantikan posisinya sementara. Seperti inilah sekarang, ia duduk di kursi kebesaran Ozan dan sedang dipusingkan dengan setumpukan berkas dimeja. Sesekali menyeruput kopi untuk menghilangkan kepenatannya. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Maaf, Pak. Saya sudah bilang kalau Pak Ozan sedang tidak ada di tempat. "ucap sekretaris itu.


Rangga memaksa masuk ke ruang kerja Ozan. Ramon yang melihatnya langsung berdiri.


"Rangga?" Ramon menganggukkan kepalanya pada sekretaris itu. "Tidak apa-apa. Kamu boleh keluar." ucap Ramon. Sekretaris itupun keluar dari ruangan.


"Mana dia?" tanya Rangga dengan tatapannya yang dingin.


"Duduk dulu napa?" ucap Ramon santai.


"Gue tanya dimana si brengsek itu?" setengah berteriak. Ramon tergelak mendengar teriakan Rangga yang penuh emosi.


"Ozan? Dia nggak ada. Lu duduk deh. Emosi aja dari tadi." Menunjuk kursi didepannya. Namun, sepertinya Rangga lebih senang berdiri. "Rangga, duduk gue bilang." titah Ramon yang mulai menekan suaranya.


Rangga menghela napas kasar lalu duduk di kursi berhadapan dengan Ramon.


"Ini ada apa sih antara kalian? Ozan bilang lu bawa kabur Ameera. "


Cih, bisa-bisanya di berpikir begitu setelah apa yang dia lakukan pada Ameera.


"Gue bawa kabur Ameera dari manusia brengsek kayak dia. Kenapa? Salah?" pertanyaan Rangga seperti menantang Ramon.


"Gue tau Ozan salah. Tapi lu ngapain bawa kabur bini orang?"


"Bang... jadi menurut lu, gue harus gimana? Gue diam aja gitu? Gue kan udah pernah bilang sama dia. Kalau dia berani menyakiti Ameera, gue bawa Ameera pergi dari hidupnya."


"Lu udah bawa Ameera pergi. Terus lu ngapain kesini?"

__ADS_1


"Gue pengen gebukin dia." ucapnya santai. Membuat Ramon terkekeh.


"Ozan berangkat ke Turki tadi pagi." Rangga tergelak mendengar Ozan memilih pergi ke Turki daripada mencari istrinya. Ia mengepalkan tangannya.


Brengsek! Dia lebih pilih pergi daripada cari istrinya.


"Lu tau Ozan jadi semakin salah paham sama kalian karena lu bawa pergi Ameera." ucapan Ramon seolah semakin membakar emosi Rangga.


"Bodo amat." jawabnya santai


"Oke fine. Sekarang gue tanya, lu bawa kemana Ameera?"


"Gue belum bisa kasih tau. Ameera nggak mau gue kasih tau siapapun. Dia takut sama suami brengseknya itu. " jawabnya kemudian. Ramon mengurut keningnya yang terasa berdenyut.


"Ya udah. Gue percaya sama lu."


"Bang, suaminya Ameera balikan lagi sama mantannya kan?"tanya Rangga dengan sedikit Ragu.


"Naura maksud lu?" Rangga mengangguk pelan. "Ya nggak lah. Gila kali si Ozan balikan sama dia. Eh, tapi dari mana lu tau mantannya si Ozan itu Naura?"


"Itu nggak susah buat gue cari tau. Semalam juga gue lihat mereka berdua masuk ke club malàm sama-sama, pake gandengan tangan segala." ucap Rangga.


"Rangga, Naura itu yang..." Ramon menggantung ucapannya. Ia ingat kembali awal mula Ozan dan Ameera saling mendiamkan satu sama lain. Itu adalah saat dimana Naura datang kembali kedalam hidup Ozan. "Kayaknya gue ngerti sekarang ada apa sama mereka." imbuh Ramon.


"Jangan bilang Ameera mikirnya Ozan balikan sama Naura." Ramon menduga.


"Ya, kan memang gitu kenyataannya, bang! Gue lihat sendiri mereka semalam. Kurang bukti apalagi coba? Gue juga tadinya nggak percaya sih. Tapi setelah lihat mereka semalam, gue baru yakin. " Berkata dengan sorot mata yang kembali kesal.


"Bener-bener tuh perempuan ya. Jadi ini penyebab hubungan Ozan dan Ameera jadi kayak gini sekarang." ucap Ramon dengan emosi tersulut.


"Maksudnya?"


"Nanti gue jelasin lah. Gue akan coba ngomong sama Ozan dulu. Sementara dia nggak mau diganggu siapapun, termasuk gue. Ponselnya juga rusak, kemarin habis di banting sampai hancur." jelas Ramon panjang lebar.


"Jelasin aja sekarang. Gue nggak suka nunggu."


Benar saja, Rangga memaksa Ramon mengatakan segala kecurigaannya tentang Naura. Ramon lalu menceritakan segalanya tentang Naura yang mungkin memanipulasi keadaan sehingga terjadilah salah paham antara Ameera dan Ozan.


"Jadi kalau lu pikir Ozan mau balikan sama Naura, itu nggak mungkin. Gue tau sekarang di hati Ozan cuma ada Ameera. Cuman gue nggak tau apa yang di lakukan Naura sampai Ameera bisa salah paham."


"Waktu itu gue dapat info dari Dina, Naura nemuin Ameera di kampusnya, dia bilang mau rebut Ozan kembali. Itulah sebabnya gue kembali. Gue takut Ameera di apa-apain sama dia."


"Makanya Ozan salah paham karena liat lu sama Ameera. Dan itu di manfaatin sama Naura untuk bisa rebut Ozan dari Ameera kembali. " ucap Ramon.


Rangga terdiam dengan sejuta pertanyaan di benaknya tentang rencana Naura.

__ADS_1


Bukan, tujuan kak Naura bukan buat rebut Ozan. Dia punya tujuan lain. Aku harus benar-benar menjaga Ameera mulai sekarang.


****


Ozan sedang sarapan pagi bersama ibunya. Karena semalam ia sampai di mansion sudah larut, maka ia langsung beristirahat dan tidak sempat mengobrol dengan ibunya. Akhirnya pagi barulah Ozan sempat menyapa ibunya. Sementara ayahnya masih berada di luar negeri karena urusan bisnis.


"Kenapa Ameera nggak ikut, Zan?" tanya Zarima di sela-sela sarapannya.


"Lagi banyak tugas kuliah, Mah."jawabnya berbohong.


"Oh... kirain mama Ameera lagi ngidam. Makanya kamu nggak ajak." ucap Zarima santai. Mendengar ucapan ibunya Ozan tersendak makanan. "Eh, pelan-pelan makannya. Kamu kebiasaan kesendak makanan. "


"Iya mah... " jawabnya sambil minum air putih.


"Memang Ameera belum isi gitu?" tanyanya kemudian. Ozan kurang paham dengan maksud pertanyaan ibunya yang hanya menyebut kata isi.


"Isi apaan, mah?" Sambil mengunyah roti.


"Ameera belum hamil?" Zarima akhirnya bertanya kepada intinya.


"Nggak tau, mah. Nggak pernah tanya, kayaknya belum sih." duga Ozan.


"Masa sih? Kamu suruh minum susu yang mama titip sama imel kan?" Ozan mengangguk.


"Iya mah, aku suruh minum tiap malam sebelum tidur. Memang itu susu apa sih?"


"Itu susu untuk program kehamilan, biar Ameeranya cepet hamil. " jawabnya.


Ozan kembali tersendak makanan yang dikunyahnya.


"Mama kok gak bilang kalau ngasih susu gituan?"protes Ozan.


Habislah aku kalau Ameera tau dia dikasih susu begituan, dia kan baru-baru ini bilang tidak mau hamil, sampai-sampai sudah tidak mau kusentuh sama sekali.


"Memang belum ada tanda-tanda aneh Ameera hamil gitu? Kayak mual, atau tiba-tiba mau makan sesuatu?" tanya Zarima kemudian.


Ozan menggeleng. Baginya satu-satunya keanehan Ameera hanyalah kebarbarannya, yang seenaknya melemparkan benda apapun ditangannya ke wajahnya jika Ozan salah bicara sedikit saja. Ozan pun melanjutkan sarapannya dengan memikirkan beberapa tingkah aneh Ameera sebelum drama salah paham mereka terjadi. Tapi dibenak Ozan itu bukanlah pengaruh kehamilan, melainkan memang sudah sifat alami Ameera.


Kalau tingkah aneh sih banyak, Mah. Tapi kan si barbar itu memang aneh. Lagian kalau dia hamil, aku pasti sudah gorok sama dia.


Tiba-tiba Ozan teringat kembali pada Rangga dan Ameera yang membuat selera makannya tiba-tiba hilang.


"Mah, aku ke kamar dulu, ya..." ucapnya sambil pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapannya.


****

__ADS_1


__ADS_2