Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Pesan dari Naura


__ADS_3

Ameera sedang berada di sebuah cafe yang terletak di dalam kampus bersama Dina. Sejak tadi Ameera hanya mengaduk jus pesanan nya tanpa meminumnya. Dina memperhatikan Ameera yang tampak lain dari biasanya.


"Ameera... kamu ada masalah, ya? Dari tadi melamun saja!" Suara Dina membuyarkan lamunan Ameera.


"Oh, tidak ada." jawabnya seraya mengaduk minumannya.


" Kemarin aku lihat kamu sedang bicara dengan seseorang di taman, itu siapamu? Dia bukan mahasiswa di kampus ini kan? " Di cecar pertanyaan sebanyak itu membuat Ameera bingung menjawab.


Sebenarnya Ameera sedang tidak ingin membahas apapun yang berhubungan dengan Naura dan Ozan. Tetapi Dina malah membahasnya membuat mood nya semakin rusak.


"Itu bukan siapa-siapa. Tidak penting juga."


Kak Naura sudah keterlaluan kali ini. Batin Dina.


Dina tahu betul Ameera murung karena kata-kata yang di lontarkan Naura kemarin. Tapi ia tidak memaksa Ameera bercerita.


****


Ozan berada di Royal cafe tempat favoritnya dulu bersama Naura. Di depannya Naura sedang menangis tersedu-sedu. Naura baru saja memohon agar Ozan memaafkannya.


"Jadi kamu mengajakku bertemu di sini hanya untuk minta maaf?" Suara Ozan terdengar tidak bersahabat.


"Aku tau aku salah. Kamu menghukumku terlalu kejam. Kamu menikahi gadis remaja itu karena terpaksa kan? Aku tau semua Ozan." bujuk Naura yang sesegukan sambil menyeka air matanya.


"Sudah terlambat Naura. Lupakan aku! " ucap Ozan singkat.


Ozan sudah berdiri hendak pergi meninggalkan naura, Namun tangannya di genggam erat oleh Naura. Ozan tidak bisa memungkiri, walaupun sekarang ia memiliki Ameera di hatinya, namun ia belum sepenuhnya bisa melupakan Naura. Bagaimanapun juga, ia sempat akan melamar Naura sebelum mengetahui orang tuanya menjodohkannya dengan Ameera.


"Aku lebih baik mati dari pada harus kehilanganmu."


"Hentikan, Naura! Jangan bodoh. Carilah seseorang yang lebih baik dariku," bentak Ozan.


"Aku tau kamu tidak mencintai gadis remaja itu. Ozan, aku mohon kembalilah padaku. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku. Kamu juga tahu aku bersama Dion karena aku mengira kamu sudah meninggal. Apa itu salahku? " bujuk Naura yang masih menangis.

__ADS_1


Ozan tidak mempedulikan lagi kata-kata bujukan yang keluar dari mulut Naura. Ia segera pergi meninggalkan cafe tersebut.


Sepanjang jalan pikiran Ozan tertuju pada Naura. Memikirkan bagaimana caranya menjauh dari Naura tanpa harus menyakitinya. Walaupun Naura membujuknya untuk kembali padanya, ia tetap tidak bisa meninggalkan Ameera karena sudah berjanji pada mendiang Rudi akan menjaga Ameera dengan nyawanya sendiri.


Ozan melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir sore. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, saat layar menyala, tampak ada pesan masuk dari nama kontak MyBarbar wife. Ozan pun membuka pesan itu.


"Tidak usah jemput. Aku ke rumah Dina. Nanti aku pulang sendiri." isi pesan Ameera.


Ozan pun menghubungi nomor Ameera tetapi panggilannya tidak di jawab. Ozan lalu melajukan mobilnya pulang ke rumah.


****


Drrttt drrtttt


Ponsel bergetar tanda pesan masuk.


Ameera melirik ponselnya yang berada di atas meja. Tampak pemberitahuan pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Ameera mengabaikan ponselnya, tidak berniat membuka pesan.


Ameera sedang merenungi nasibnya. Karena malas pulang ke rumah, ia menerima ajakan Dina untuk pergi ke rumahnya sembari menikmati beberapa camilan yang di sediakan Dina.


Rangga sudah melupakanku. Bahkan dia tidak pernah lagi menghubungiku. Batin Ameera dengan raut wajah sedih.


Akhirnya Ameera mengambil ponselnya di meja dan membuka pesan yang tadi masuk dari nomor yang tidak di kenal.


Ameera membelalakkan matanya menatap ke layar ponselnya. Hatinya seperti tercubit, mendapatkan pesan gambar yang ia yakin pengirimnya adalah Naura. Naura mengirimkan fotonya yang sedang berdua di cafe bersama Ozan.


"Darimana dia dapat nomor ku? Apa mas Ozan yang memberinya?" gumam Ameera.


Seketika mata Ameera di penuhi cairan bening, tetapi ia menahannya agar tidak jatuh membasahi pipinya. Ameera pun tidak mengerti ada apa dengan dirinya, yang akhir-akhir ini sangat sensitif jika menyangkut Ozan. Biasanya dia akan cuek apapun itu.


"Jangan menangis Ameera! kamu tau dari awal kalau manusia jadi-jadian itu memang tidak menerima perjodohan kalian." Gumam lagi berusaha menguatkan hatinya. "Wajar kalau mereka balikan, ayah sudah tidak ada. Mama sama Papa tinggal di luar negeri. Tidak ada lagi yang menghalangi mereka. Apalah artinya diriku." gumam panjang.


"Kamu melamun ya?" Sura Dina r

__ADS_1


tiba-tiba mengagetkan Ameera. Ia duduk di kursi berhadapan dengan Ameera sambil menuangkan minuman.


"Minum dulu...! " Dina memberikan minuman dingin pada Ameera.


"Rangga jahat sama aku, sepertinya dia sudah lupa padaku," ucap Ameera pada Dina.


"Mana mungkin dia melupakanmu, Ameera. Dia hanya sedang sibuk. Aku juga jarang di telepon," ucap Dina berusaha menghibur Ameera yang sedang galau.


Ameera menenggak minuman dingin yang di buatkan Dina dengan sekali teguk saking frustasinya. Dina tersenyum pelik melihat sikap Ameera yang di rasa berbeda dari biasanya.


"Din, aku pulang dulu ya. Sudah sore." ucap Ameera lalu menyambar tasnya yang terletak di atas meja.


"Aku antar saja, ya. Jangan pulang sendiri." Dina bergegas mengambil kunci mobilnya, namun Ameera mencegahnya.


"Tidak usah, Din...! Jangan repot-repot. Aku sudah pesan taxy online." Ameera berjalan keluar dari ruang tamu Dina tanpa menoleh, Dina pun menyadari sikap Ameera yang lain dari biasanya.


"Apa benar tidak apa-apa? Nanti suami kamu marah loh, kamu pulang dengan taxy online. Nanti aku yang kena"


"Jangan khawatir, Din."


Terdengar suara klakson mobil yang berhenti tepat di depan rumah Dina.


"Itu taxy online nya sudah datang. Aku pulang dulu ya." Ameera memeluk Dina sekilas lalu keluar menuju halaman.


Ameera pun segera naik ke mobil itu menuju suatu tempat untuk melupakan sekelumit masalahnya.


Sampailah Ameera ke suatu tempat yang sudah lama tidak di kunjunginya. Tepi pantai tempatnya dulu menghibur diri bersama Rangga. Ia berjalan sendiri di atas pasir membiarkan sapuan ombak membasahi kakinya, sambil tangan kanannya menjinjing sepatunya.


Ia duduk di atas pasir di tepi pantai menunggu matahari terbenam. Sekelumit ingatannya tentang Rangga bermunculan. Jika dulu Ameera sedih, Rangga akan selalu ada untuknya. Sekarang Ameera merasa benar-benar sendiri.


Aku akan jadi janda di usia 18 tahun. Batin Ameera


Matanya menatap matahari yang akan terbenam tanpa berkedip. Berharap terbenamnya matahari ikut membenamkan kegundahan hatinya.

__ADS_1


Rangga, kenapa kamu membiarkanku menikah dengan orang itu. Kenapa kamu tidak mencegahku.


****


__ADS_2