
Terkadang seseorang butuh waktu untuk dapat menerima hal baru dalam hidupnya. Entah hal baru tersebut akan membawa kebahagiaan atau tidak. Beberapa hari lalu pengumuman kelulusan Ameera dan Rangga. Mereka lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Rangga sedang mempersiapkan dirinya untuk kuliahnya di luar negeri. Hal yang berbeda dengan Ameera, ia sedang mempersiapkan dirinya untuk melepas masa lajangnya meskipun dalam keadaan terpaksa.
Hal serupapun terjadi pada Ozan. Setelah segenap usaha yang di lakukan olehnya untuk membatalkan perjodohannya dengan Ameera, akhirnya ia menyerah pada pengkhianatan yang di lakukan Naura. Setelah melihat Naura dan Dion, Ozan memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Naura. Ia memblokir nomor Naura. Sehingga Naura tidak dapat lagi menghubunginya.
Sementara Ameera sudah pasrah kepada keputusan ayahnya. Hal yang membuatnya keheranan adalah, sikap Rangga, yang seolah mendukung keputusan ayahnya. Padahal saat pertama kali mengetahui Ameera di jodohkan dengan Ozan, Rangga sangat marah.
Hari ini Ozan dan Ameera akan melakukan fitting pakaian yang akan di kenakan di hari pernikahan mereka. Pernikahan mereka akan di adakan beberapa hari lagi. Meskipun keduanya tampak tidak bersemangat, mereka tetap melakukannya. Berusaha mengikuti kemana takdir akan membawa mereka. Ozan tiba lebih dulu di butik, sedangkan Ameera masih dalam perjalanan. Yang membuat Ameera risih banyaknya pria berseragam hitam yang mengawalnya. Di depan ada dua mobil, dan di belakang ada 3 mobil. Mobil yang di tumpangi Ameera berada ditengah. Membuatnya merasa di kawal seperti presiden.
Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa harus berlebihan seperti ini dalam menjaganya. Selama ini seseorang yang ia rasa sangat berlebihan menjaganya hanyalah Rangga. Ameera tidak tau saja, bagaimana sebenarnya Rangga dan ayahnya menjaganya dengan ketat selama ini. Bagi Rangga, sehelai Rambut Ameera saja lebih berharga daripada berlian. Malangnya, Ameera tidak pernah menyadari seberapa berharganya dirinya bagi seorang Rangga.
Mobil telah sampai didepan sebuah butik. Beberapa orang pegawai butik menyambutnya dengan istimewa. Para pegawai butik menuntunnya ke sebuah ruangan VIP. Saat memasuki ruangan tersebut matanya terbelalak. Bagaimana tidak, di dalam ruangan tersebut sudah ada beberapa gaun indah dan juga beberapa kebaya putih yang di siapkan untuk Ameera.
"Nona, silahkan masuk ke ruang fitting wanita di sebelah sana. Saya akan membantu anda memilih gaun yang cocok untuk anda." kata seorang wanita sambil menundukkan kepala.
"Oh iya, baik, " Ameera pun masuk ke ruang fitting ditemani dua orang pegawai butik.
Ameera memakai kebaya putih terlebih dahulu yang akan di gunakannya untuk prosesi akad nikah. Didalam butik ada cermin yang sangat besar, Ameera yang melihat pantulan dirinya menggunakan kebaya pengantin nya terlihat sangat terpukau. Bukan karena kecantikan dirinya, tapi karena keindahan kebaya tersebut.
" Anda suka yang ini, atau mau mencoba yang lain, Nona?" tanya salah seorang pegawai.
"Yang ini saja. Jangan repot-repot." jawab Ameera.
"Jangan sungkan, Nona ini sudah tugas kami."
Para pegawai butik itu menunjukkan beberapa kebaya lainnya, Namun Ameera sudah memilih kebaya pertama yang dipakainya. Sementara seseorang lagi segera menghampiri Ameera untuk merias wajahnya. Setelah di rias, kecantikan Ameera semakin memancar.
"Mari ikut saya Nona, tuan muda sudah menunggu di depan."
"Ap.. apa?" tanyanya terbata-bata.
"Tuan Ozan Chandra Jaya sudah menunggu di depan. " ucap karyawan butik itu.
Kenapa aku harus bertemu dengannya? Batin Ameera.
Ameera pun mengikuti karyawan butik tersebut. Diluar ruangan tampak seorang pria tampan yang sudah menggunakan jas putih. Ozan mengalihkan pandangannya menatap Ameera. Sesuatu dalam dirinya bergejolak. Ameera terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan kebaya. Ozan yang melihatnya terpaku, ia bahkan tak berkedip menatap Ameera. Sedangkan Ameera masih setia dengan sikap dinginnya.
Pegawai butik mengarahkan mereka menuju ke sebuah ruangan yang telah didekorasi khusus untuk sesi pemotretan.
__ADS_1
Setelah sesi pemotretan dengan kebaya selesai, kini Ameera telah berganti memakai gaun. Ameera terlihat cantik bagaikan cinderella mengenakan gaun tersebut. Dan Ozan lagi-lagi terpukau melihatnya.
Sial, kenapa dia kelihatan sangat cantik. Mata bodohku ini bahkan menolak berkedip menatapnya.
Hari beranjak sore, acara fitting selesai. Ameera sudah sudah berganti pakaian. Riasan diwajahnya yang di poles oleh pegawai butik pun sudah di hapusnya. Dan berganti menjadi riasan biasa, tapi tetap manis. Tidak lama kemudian Ozan keluar dari dalam ruangan fitting pria. Ia terkejut melihat tampilan Ameera tanpa make up tebal. Ozan terus menatap Ameera dengan raut wajah yang sulit di terka. Ameera pun jadi canggung karena sejak tadi Ozan tidak berkedip menatap dirinya.
"Kamu"? kata Ozan ketika mendekati ameera yang sedang duduk disofa.
"Aku kenapa?" tanyanya ketus.
"Jadi ternyata kamu yang di jodohkan denganku?" tanya Ozan.
Ameera menjadi bingung dengan kalimat yang di ucapkan Ozan barusan.
Ini orang maksudnya apa sih.
Ameera diam membisu mendengar ucapan Ozan. Lalu Ozan mendekat ke arah Ameera dan menatap wajahnya lekat.
"Kamu yang menolongku saat diserang di basement mall, kan?"
Ameera terlonjak kaget karena Ozan baru mengenalinya. Saat pertemuan pertama di acara makan malam, Ameera terlihat lebih dewasa dengan riasannya. Sementara tadi fitting pakaian, Ozan juga tidak mengenalinya karena wajah polosnya tertutupi make up. Ia baru mengenalinya saat ini, dengan tampilan Ameera yang terlihat seperti gadis remaja biasa. Ameera bahkan hampir lupa dengan penyerangan yang terjadi pada Ozan tiga bulan lalu tersebut.
"Kenapa kamu gak pernah bilang?" tanya Ozan masih dengan keterkejutannya.
"Penting ya?"
"Aku kan harus berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku." kata Ozan.
"Gak perlu. "
Pantas saja ilmu bela diri dan kemampuan menembaknya sangat baik, dia kan anak seorang Rudianto Hutomo. Ya, aku mengerti sekarang. Batin Ozan
"Kalau sudah selesai aku mau pulang. " ucap Ameera.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. "
"Tidak perlu tuan muda, aku sudah ada banyak pengawalmu yang menjagaku seperti tahanan. "
__ADS_1
Ozan tidak menghiraukan penolakan Ameera. Ia tetap mengantar Ameera pulang walaupun Ameera bersikap dingin dan galak padanya. Mereka menaiki mobil yang sama, duduk di kursi belakang. Masih dengan pengawalan yang sangat ketat.
"Apa tuan muda selalu di kawal seperti ini saat keluar rumah?" Ameera bertanya memecah keheningan
"Pertama, aku calon suamimu, jadi jangan panggil aku tuan muda. Kedua, kamu calon istriku jadi aku bukan tuan mudamu. " sahut Ozan.
"Lalu aku harus memanggilmu apa"?
"Terserah kamu, bisa Mas, Aa', atau sayang gitu. " jawab Ozan santai.Sementara Ameera hanya mencebikkan bibirnya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku. " ucap Ameera kemudian.
"Aku tidak mau menjawabnya."
"Kenapa?" tanya Ameera penasaran.
"Kalau kamu tahu, kamu akan takut menikah denganku. Jadi lebih baik jangan tanyakan kenapa aku selalu di kawal."
"Apa kamu seorang mafia?"
Pertanyaan Ameera membuat Ozan tergelak. Kemudian menutup bibirnya dengan jari agar seringai tipis dibibirnya tidak terlihat.
Polos sekali. Bagaimana dia bisa bertanya sefrontal itu. Batin Ozan
"Kalau iya kenapa? Kamu tidak takut menikah dengan mafia? Apa kamu takut di apa-apain sama mafia ini? " tanya Ozan kemudian.
"Akan ku hanyutkan dirimu di sungai Amazon dan ku jadikan makanan untuk ikan piranha, jadi jangan berani macam-macam denganku."
"Haha coba lihat dirimu, nona kecil. Kamu bahkan lebih terlihat seperti mafia." ledek Ozan.
"Kenapa? Kamu takut di apa-apain?" balas Ameera.
"Ampun, nona mafia. Jangan lakukan itu padaku. Kamu akan jadi janda muda sebelum kita menikah kalau aku sampai mati di makan ikan piranha."
"Siapa yang sudi menjadi jandamu..." ucap Ameera.
Dan, perdebatan mereka terus terjadi sepanjang jalan.
__ADS_1
💓💓💓💓
Mohon dukungannya Readers, author tetap menunggu saran dan kritik dari readers supaya karya Author bisa lebih baik lagi.