
Karena Ameera menolak pulang kerumah Ozan, akhirnya Ozan dengan terpaksa ikut menginap di apartemen Rangga. Walaupun Ameera sudah beberapa kali mengusirnya, ia tetap menempel seperti ulat bulu. Dengan berbagai cara, akhirnya Ozan berhasil menyeret Ameera masuk ke kamar bersamanya. Seperti saat ini mereka sedang berbaring di ranjang empuk di apartemen Rangga.
"Lepasin!" pinta Ameera pada Ozan yang sejak tadi terus mepet pada tubuhnya. Bahkan ia semakin mengeratkan tangannya yang melingkar sempurna di tubuh Ameera. Ozan bahkan dapat merasakan tubuh Ameera yang sedikit gemetaran seperti menahan rasa takut, menambah rasa bersalah dihati Ozan.
Dia pasti gemetar karena ingat saat aku memaksanya.
"Sayang... Aku minta maaf. Aku tahu kesalahanku terlalu besar. Aku jahat sama kamu, sampai kamu dan anak-anakku yang ada diperutmu hampir jadi korban. Aku sangat menyesal." bisiknya di telinga Ameera.
Ameera membulatkan matanya mendengar kalimat yang di ucapkan Ozan.
"Kamu tahu?" tanya Ameera heran.
Ozan mengangguk pelan. "Iya, aku tahu kamu hamil dan anak kita kembar."
Siapa yang ngasih tahu dia sih. Aku kan mau merahasiakannya.
"Jadi selama ini kamu sendirian menghadapi keinginan mereka yang aneh-aneh. Maafkan aku! " bisik Ozan lembut.
Ameera diam saja, ia hanyut dalam pelukan hangat suaminya. Namun, ia benar-benar pandai menyembunyikan kerinduannya. Jika Ozan terang-terangan menunjukkannya rasa rindunya, maka Ameera sekuat tenaga menyembunyikan perasaannya.
"Ya udah ini lepasin!" berusaha berontak lagi.
"Bentar aja yank, please! Aku belum tidur sama sekali selama dua hari ini karena mikirin kamu." rengek Ozan manja.
"Salah kamu sendiri... lepasiiin! Aku mau tidur di kamar Dina." sambil terus berusaha melepas tangan suaminya yang melingkar di tubuhnya. Namun, Ozan tidak bergeming sama sekali. Tangannya malah menyelinap masuk ke dalam baju Ameera dan mengusap lembut perut ratanya.
Benar saja, ia sudah lelap dalam tidurnya, namun tangannya tetap erat memeluk Ameera seakan takut istrinya kabur meninggalkannya.
Akhirnya mereka pun terlelap dalam balutan selimut yang sama.
Pagi hari Ameera terbangun dengan posisi yang sama seperti saat menjelang tidur. Ia sengaja menggeliat keras agar laki-laki yang tengah memeluknya melepaskan tangannya.
"Lepaaaas..." pintanya dengan nada kesal.
"Hmmmm... apa sih. Masih ngantuk ini..." ucap Ozan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Badanku sakit dari tadi nggak bisa gerak. Lepasin. Aku teriak nih! Ancamnya kemudian.
"Sok atuh teriak. Kayak ada yang dengar aja. Kamu pikir ruangan ini nggak kedap suara?" berkata dengan mata masih terpejam.
Akhirnya Ameera menyerah juga. Dengan sangat terpaksa ia merengek manja minta di lepaskan.
"Tolonglah lepaskan aku. Aku nggak akan kabur. Aku cuma mau kedapur. Aku lapar! " rengeknya manja. Ozan pun mengendorkan pelukannya hingga Ameera dapat melepaskan dirinya.
Ameera pun segera berlari kecil menuju dapur.
***
"Pagi, Din!" sapa Ameera pada Dina yang sedang membuat sarapan.
" Pagi. Sarapan yuk." ajaknya sambil menuang jus jeruk untuk Ameera. Dina begitu sempurna sebagai seorang gadis muda. Sikapnya jauh lebih dewasa di banding remaja seusianya.
__ADS_1
"Kak Ozan masih tidur, ya?" tanya Dina
"Hemm... katanya belum tidur dua hari. Makanya mau puas-puasin tidur. " jawab Ameera sembari mengambil sandwich buatan Dina.
"Oo.. ya udah! "
"Din, maaf ya... aku repotin kamu lagi semalam." ucapnya mengingat kelakuannya yang keluar tanpa pamit membuat semua orang panik.
"Santai aja. Harusnya kamu bilang kalau mau makan sesuatu. Biar aku bisa temenin carinya." sahut Dina dengan senyuman manisnya. "Untung kak Ozan cepat nemuin kamu." imbuh Dina.
"Hmmm..." Ameera bergidik ngeri mengingat kejadian semalam. Dimana dirinya di kejar beberapa pria. Jika Ozan tidak datang diwaktu yang tepat, entah apa yang akan terjadi padanya.
Setelah sarapan, Ameera kembali ke kamar dan mendapati Ozan masih tidur. Iapun segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke kampus.
"Sayang... kamu mau kemana?" tanya Ozan yang baru membuka matanya. Sementara Ameera sudah berpakaian rapi.
"Kuliah." jawabnya singkat.
"Nggak libur aja dulu."
"Ogah."
"Tapi aku yang antar, ya?" tawar Ozan seraya bangun dari tidurnya. Ia duduk selonjoran diatas kasur.
"Aku sama Dina."
"Iya, biar aku yang antar sekalian sama Dina." Ozan Sudah bangun menghampiri Ameera.
"Kenapa nggak pulang aja sana!" pekik Ameera seraya menunjuk pintu.
"Auuwww..." pekik Ozan
"Sykurin!"
****
Akhirnya setelah drama perdebatan panjang dipagi hari Ameera pasrah di antar Ozan ke kampus. Sementara Dina lebih dulu berangkat. Sepanjang perjalanan Ameera mendiamkan Ozan yang terus mengajaknya mengobrol. Akhirnya sampailah mereka didepan gerbang kampus. Tanpa permisi, Ameera langsung membuka pintu mobil dan hendak keluar, namun Ozan menahannya.
"Ponselnya di bawa. Kamu sengaja lupa biar aku nggak bisa hubungin kamu?" Sambil menyerahkan ponsel milik Ameera.
Ketahuan ya. Memang kita sudah baikan? Kan belum.
Dengan terpaksa Ameera mengambil ponselnya dari tangan Ozan.
"Hubungi aku kalau kamu lagi mau makan sesuatu, ya... jangan keluar sendiri!" pintanya kemudian.
Memangnya aku nggak bisa cari sendiri.
"Jangan di
tekuk begitu mukanya. Gemesin tau..."
__ADS_1
"Bodo." sahut Ameera sambil membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Ozan.
"Dia kok jadi kelihatan imut begitu, ya? Apa karena bawaan hamil?" gumam Ozan.
Setelah mengantar Ameera, Ozan bergegas pulang ke rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian, karena ada rapat penting di kantor siang nanti.
****
"Gimana? Udah baikan sama bini lu?" tanya Ramon sesaat setelah rapat usai. Sekarang mereka berada di ruangaan Ozan sedang memeriksa beberapa berkas.
"Masih jutek sih." jawabnya sambil membaca berkas di tangannya.
"Tapi udah aman kan?"
"Gue baru mau bujuk lagi biar mau pulang ke rumah. Masa gue harus terus nginap di apartemen Rangga. Lu tau gue nggak suka tidur di tempat asing. " ujarnya panjang lebar.
"Iya sih."
"Oh ya, Ram. Tolong suruh orang kirim ponsel kesini. Gue nggak ada waktu buat beli." perintahnya pada Ramon.
"Oke." Ramon pun segera menelepon seseorang untuk membawakan Ozan ponsel keluaran terbaru.
"Lu udah lakuin apa yang gue suruh kan?" tanyanya kemudian setelah beberapa menit terdiam karena sibuk dengan pekerjaannya.
"Udah. Bentar lagi juga datang ponsel baru lu." jawab Ramon enteng
"Bukan itu, be*o! Maksud gue Naura. Lu udah beresin, kan?" bertanya dengan nada kesal.
"Oh, sebutin merk makanya. Biar nggak salah tangkap gue." malah sekarang Ramon yang kelihatan kesal.
"Lu tenang ajalah. Gue udah beresin. Dia nggak akan bisa gangguin Ameera lagi. Gue juga udah blacklist dia dari kampus. Jadi dia nggak bisa lagi nginjekin kakinya sembarangan ke kampus." terang Ramon panjang lebar.
Bukan hal yang sulit bagi Ramon untuk memerintahkan mem-blacklist seseorang dari kampus tersebut, pasalnya CJG adalah pemilik yayasan tempat Ameera kuliah, sehingga mereka memiliki kekuasaan mutlak.
"Baguslah. Pokoknya pastikan dia nggak bisa lagi mengusik gue, apalagi si bini." ucapnya.
Tidak ingin kesalahpahaman terjadi lagi yang membuatnya terpisah dari istrinya. Cukuplah baginya selama hampir dua bulan ia dan Ameera saling mendiamkan. Membuatnya frustasi.
"Apa perlu gue suruh orang-orang kita buat mengawal bini lu kemana-mana? Biar lu yakin. " usul Ramon.
Ozan berfikir sejenak. Pasalnya ia tahu betul istrinya paling tidak suka di kawal kemana-mana.
"Gimana, ya? Lu tau kan? Ameera nggak suka di kawal?Mungkin lu bisa suruh orang-orang ayah yang dulu di tugaskan ngawasin Ameera. Mereka pasti tau harus gimana kan?" Kata Ozan.
Ramon kembali teringat bagaimana dulu Rudianto menjaga Ameera dengan pengawalan super ketat tanpa Ameera sadari. Bahkan, ia merahasiakan keberadaan Ameera sampai Ramon tidak tahu bahwa Rudianto memiliki seorang anak gadis.
"Iya juga, ya! Kemarin-kemarin orang yang gue suruh awasi bini lu pada ngaco. Malah di ajakin main kucing-kucingan sama bini lu, sampai puyeng gue. " imbuh Ramon.
"Nah, itu lu tahu."
"Ya udah... Nanti gue urus semua."
__ADS_1
****
BERSAMBUNG