
Tibalah hari dimana Ameera akan bertemu dengan Rangga sebelum Rangga berangkat keluar negeri.
Ameera sedang dalam perjalanan di antar oleh seoramg sopir dan beberapa pengawal yang mengikuti dari mobil lain.
Sejak mulai bekerja kembali, Ozan menjadi sangat sibuk. Beberapa hari ini saat Ozan pulang, Ameera sudah tidur, dan hanya bertemu saat sarapan. Hari inipun,walaupun hari libur, Ozan tetap bekerja di ruang kerjanya.
Rangga sudah menunggu di depan pintu masuk, ketika beberapa mobil berhenti dan terlihat Ameera turun dari salah satu mobil.
Rangga tersenyum melihat Ameera yang terlihat berpenampilan berbeda. Ameera terlihat lebih dewasa dan cantik.
Ameera melihat Rangga di depan pintu masuk langsung menghampirinya. "Hai Rangga. Maaf ya menunggu lama. Aku harus melayani kegilaan manusia jadi-jadian itu."
Ameera menyebut Ozan sebagai manusia jadi-jadian. Karena sebelum Ameera pergi, Ozan banyak sekali melemparkan peraturan yang harus di jalankan Ameera saat bertemu dengan Rangga.
Tetapi pikiran Rangga tentang kata kegilaan yang di lontarkan Ameera malah di salah artikan oleh Rangga. Seketika terlihat gurat kesedihan di matanya.
Tenang Rangga, itu wajar. Mereka sepasang suami istri. Sangat wajar mereka melakukannya. Rangga
Mereka masuk ke taman hiburan dan berkeliling-keliling sembari mengobrol. Sambil memikirkan akan naik wahana apa terlebih dahulu.
Rangga memilih wahana roller coaster terlebih dahulu. Mereka berteriak histeris, tertawa seiring laju kereta yang sangat kencang dan mendebarkan. Sangat cocok di jadikan pelampiasan untuk orang yang butuh hiburan karena patah hati. Itulah yang Rangga lakukan.
Mencoba meredakan patah hatinya dengan berteriak sekencang mungkin. Sedangkan Ameera berteriak dan memaki kepada kesedihannya. Tentang kehilangan dan nasibnya yang sekarang terikat pernikahan tanpa cinta dengan Ozan.
Rangga dan Ameera benar-benar memanfaatkan waktu singkat ini untuk bahagia tanpa memikirkan sekelumit masalah dalam kehidupan mereka.
Mereka mencoba berbagai wahana yang ekstrim dan mendebarkan. Mereka bermain sampai puas seolah ini hari terakhir kebersaman mereka.
Sekarang mereka berada di sebuah cafe yang terletak di tengah-tengah taman hiburan. Dengan berbagai makanan dan minuman di atas meja.
"Sepertinya kamu bahagia bersama suamimu ,ya?" kata Rangga.
Ameera mengangguk pelan. Tidak ingin Rangga terbebani olehnya. Padahal ia merasa seperti burung dalam sangkar setelah pernikahannya dengan Ozan yang sama sekali tidak membuatnya bahagia.
Apalagi kenyataan bahwa Ozan memiliki seorang kekasih. Membuat Ameera menutup rapat hatinya dan mendirikan benteng kuat agar tidak jatuh cinta kepada Ozan dan sepertinya ia berhasil membentengi hatinya.
"Aku senang kalau kamu bahagia. Dan setidaknya sekarang aku tidak usah repot-repot lagi menjagamu karena sudah ada suamimu."
__ADS_1
"Kan kamu pernah bilang, aku harus punya sesorang yang bisa menjagaku supaya kamu bisa terbebas dari aku." ameera menyindir. Yang tanpa mereka sadari kata-kata tersebut menorehkan luka di hati masing-masing. Tetapi mereka memilih membungkus luka hati itu dengan tertawa bersama sembari memakan makanan yang mereka pesan.
"Mungkin kita tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama." Ucapan Rangga terdengar sedih.
"Tapi kita bisa tetap berkomunikasi kan? Aku akan sangat merindukanmu." kata Ameera sambil mengaduk minumannya.
"Pasti Ameera, tapi kamu harus berjanji akan bahagia bersama suamimu." Pinta Rangga
Bagaimana aku bisa bahagia tanpamu? batin Ameera.
"Aku akan berusaha."
"Terima kasih untuk hari ini. Setidaknya aku tidak akan terlalu merasa kehilangamu."
"Ngomong-ngomong Dina bagaimana?"tanya Ameera begitu mengingat Dina, yang Ameera kira adalah orang yang Rangga sukai.
"Oh, itu. Semuanya baik-baik saja. Dia bilang akan menungguku."
"Ah, romantis sekali. Aku jadi iri"
Tidak mudah menjalani pernikahan dengan sesorang yang kita tidak sukai kan. Ameera membatin
Setelah hampir seharian berada di taman hiburan, seperti asa akan di tutup dengan duduk di tepi pantai menunggu matahari terbenam.
Jarak antara taman hiburan dengan pantai sangat dekat dan bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Biasanya mereka ke pantai dengan mengendarai motor walaupun dekat, tapi mengingat peringatan Ozan agar tidak berboncengan motor dengan Rangga, jadi mereka memilih berjalan kaki.
Tanpa mereka sadari seseorang sedang memperhatikan mereka dari jauh dengan tatapan mata tajam sambil mengepalkan tangannya.
Hari mulai gelap, Rangga mengantar Ameera menuju sebuah mobil yang sudah hampir seharian menunggunya.
"Beberapa hari lagi aku akan berangkat," kata Rangga.
"Aku mau ikut mengantarmu ke bandara,"
"Tidak usah, Dina akan mengantarku. Dia ngotot. Dia lebih keras kepala dari kamu."
Rangga tiba-tiba teringat pada sosok Dina. Sepertinya setelah ini. Rangga akan menemui Dina di rumahnya.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu pulang ya. Hati-hati. Dan terima kasih untuk hari ini." kata Rangga ketika mereka sudah sampai di mobil yang menunggu Ameera.
"Sampai jumpa Rangga." ucap Ameera dengan wajah yang terlihat sedih.
Mobil pun berjalan menjauh meninggalkan Rangga yang masih diam mematung melihat kepergian Ameera.
***
Sesampainya di rumah...
Sudah ada seorang pelayan yang menunggunya di depan pintu.
"Selamat datang, nona. Tuan muda sedang menunggu anda di ruang kerja."
"Tumben..." Ameera merasa heran mendengar Ozan menunggunya
Ameera bejalan menuju ruang kerja. Pelayan itu mengetuk pintu. Seketika terdengar suara Ozan dari dalam menyuruh masuk.
Setelah pintu terbuka, Ameera masuk. Lalu pelayan itu keluar dari ruang kerja seraya menutup pintu kembali.
"Bagaimana jalan-jalannya. Seru?"
Ameera tidak menjawab. Ia mematung, menatap raut wajah Ozan yang sepertinya terlihat sedang menahan emosi. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal. Dan sorot matanya tidak bersahabat dan Ameera menyadari itu.
Kenapa dia kelihatan marah? Kan dia yang mengijinkan aku pergi. Batin Ameera.
Ozan mendekati Ameera dan mencengkram lengan Ameera sampai ia meringis kesakitan, tapi sepertinya Ozan tidak peduli. Ia terus mencengkram kedua lengan kecil Ameera.
Ameera berusaha melepaskan diri dari cengkraman Ozan. Tapi sia-sia. Tenaganya kalah banyak dari Ozan.
Aku akan memberimu pelajaran, karena sudah berani seromantis itu dengan laki-laki lain. Padahal ada aku yang berstatus sebagai suamimu. Batin Ozan geram
Ameera mendorong tubuh Ozan sekuat tenaga sampai Ozan mundur selangkah. Lalu Ameera membuka pintu ruang kerja dan berlari keluar, menaiki tangga menuju lantai atas. Ozan mengejarnya. Saat sampai di lantai atas, Ameera membuka pintu kamar dan masuk. Berniat menutup pintu dan menguncinya. Tapi Ozan mendorong pintu dengan kuat membuat Ameera mundur ke belakang. Ameera ketakutan melihat raut wajah Ozan yang terlihat penuh emosi. Walaupun Ameera jago bela diri, tapi jika di adu dengan Ozan, ia jelas kalah jauh.
*****
Bersambung
__ADS_1