
Kehadiran seorang anak dalam setiap rumah adalah suatu anugrah bagi setiap keluarga. Tak terkecuali keluarga Chandra Jaya.
Setelah segala ujian berat yang mereka alami, akhirnya keluarga itu menjadi keluarga yang sangat sempurna. Kehadiran Erzan dan Elmira semakin mewarnai hari-hari mereka.
Setelah makan malam, mereka akan berkumpul di ruang keluarga sambil bersenda gurau. Menjadikan Erzan dan Elmira penghibur hati. Saat kedua bayi itu menangis, mereka berebut ingin menggendongnya. Zarima dan Hasan memutuskan pindah kembali ke Indonesia. Sementara perusahaan mereka di Turki di kelola orang kepercayaannya.
Rangga pun memilih melanjutkan kuliahnya di Indonesia karena merasa tidak sanggup berpisah lagi dengan keluarganya, terutama karena sekarang ia memiliki keponakan kembar yang sangat lucu.
Lengkaplah sudah kebahagian mereka. Namun, pagi itu kebahagiaan itu harus berkurang sedikit karena pesan yang baru saja masuk ke ponsel milik Rangga.
"Ramon dan Dina lagi jalan berdua di taman kota, dekat kampus..." Isi pesan dari Rizal.
Rangga yang sedang sarapan pagi bersama keluarganya mengepalkan tangannya hingga sendok yang ada di genggamannya menjadi bengkok.
Ozan dan Hasan yang melihat raut wajah Rangga hanya saling memberi kode.
"Papa, Mama, Abang, aku sudah selesai sarapannya. Aku ada urusan penting." Rangga menyalami kedua orang tuanya lalu mengambil langkah seribu menuju parkiran.
Ameera mengulum bibirnya menahan tawa, melihat Rangga yang sedang di kuasai rasa cemburu.
"Ozan, ikuti adikmu! Jangan sampai dia berbuat bodoh karena cinta," kata Hasan.
"Tapi Pah, aku ada rapat pagi ini,"
"TUNDA!!" perintah lelaki paruh baya itu.
Ozan pun segera menyusul Rangga keluar rumah. Rangga yang baru saja menyalakan mesin mobil itu, terkejut saat tiba-tiba Ozan naik ke mobil dan duduk di sebelah Rangga.
"Abang mau ngapain di sini?" tanya Rangga.
"Ikut elu..." jawabnya singkat.
"Aku ada urusan penting, Bang... Lagi buru-buru,"
"Gue juga ada urusan penting hari ini. Gue ada rapat penting di kantor,"
"Aduhh... " Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bang, mobil di rumah ini kan banyak, kenapa abang harus numpang di sini coba?"
"Lagi males nyetir gue, ayo cepat jalan,"
Ngapain coba abang pakai ikut di sini. Mobil sama sopir di rumah ini ready sepanjang hari.
"Abang yang minta, ya..."
"Iya, bawel banget sih lu, kayak Ameera tahu..."
Rangga kemudian menyalakan musik di mobil itu, memperdengarkan sebuah lagu berjudul "Gloomy Sunday." Seketika Ozan merinding mendengar lagu itu.
"Horor banget musiknya,"
"Itu mah perasaan abang aja,"
Tanpa aba-aba, Rangga menginjak gas dalam membuat mobil itu melaju kencang. Ozan terlonjak kaget. Tiba-tiba laki-laki itu teringat ketika Ameera mengerjainya dengan cara yang sama.
__ADS_1
"Pelan-pelan woii..." teriak Ozan.
"Lagi buru-buru, Bang!"
Alunan musik terus terdengar sepanjang perjalanan. Sungguh, Ozan benar-benar merasa Rangga dan Ameera adalah dua orang berbeda dengan jiwa yang sama.
"Eh, pelanin nggak, gue nggak mau mati sekarang! anak-anak gue masih kecil,"
"Dih gitu aja udah teriak, kemarin waktu Ameera dibawa ke rumah sakit, abang juga minta ngebut!"
"Itu beda kasus, begoooo'!"
"Kan abang yang minta ikut,"
"Gue tahu sekarang, bini gue Belle williams, elu Andy Washburn-nya,"
Rangga hanya mengerutkan alisnya mendengar ucapan kakaknya itu.
Tibalah mereka di taman kota. Masih duduk di atas mobil, Rangga melirik sana hendak mencari objek yang membuat paginya berantakan.
Dikejauhan sana ia melihat Dina dan Ramon sedang duduk berdua di taman. Rangga mengwpalkan tangannya melihat adegan itu.
"Jadi lu buru-buru kesini mau ngintipin Dina, ya?" tanya Ozan ketika melihat Dina duduk bersama Ramon.
"Nggak, cuma mau ngasih tau abang doang, noh... karyawan abang, pagi-pagi bukannya ngantor malah asyik mojok di sini," Tatapan Rangga sudah tidak dapat di kondisikan. Terlihat sangat geram.
"Kalau cinta mah, ngomong sama orangnya. Bukan malah ngintipin diam-diam,"
"Siapa yang cinta? Nggak!" Rangga mengelak, masih enggan mengakui perasaan cintanya pada Dina.
Tiba-tiba Rangga kembali di penuhi rasa cemburu manakala melihat Ramon menggenggam tangan Dina. Napas Rangga menjadi lebih cepat dari biasanya, Ozan sudah merinding melihat ekpresi wajah adiknya itu.
"Tuh lihat, Bang...! Karyawan abang benar-benar nggak disiplin. Ini jam kantor kan?" Rangga mencengkram lengan kanan Ozan, membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
"Lepasin tangan lu, sakit tahu!" ucap Ozan seraya berusaha melepas cengkraman Rangga di lengannya, namun Rangga semakin mengeratkan cengkramannya.
"Telepon Bang Ramon, coba! Suruh cepat ke kantor, katanya ada rapat penting..." kata Rangga yang matanya terus tertuju pada dua manusia di depan sana.
"Kenapa gue harus telepon Si Ramon?"
"Kan Bang Ramon asisten Abang... Abang pasti butuh buat nyiapin rapat, kan?"
Ozan pun merasa apa yang di katakan Hasan benar adanya, jangan sampai Rangga berbuat bodoh hanya karena cinta.
Dengan santainya Ozan berbisik di telinga Rangga, "Ramon cuti beberapa hari, jadi dia mau kemana bukan urusan gue..."
Rangga telonjak mendengar bisikan kakaknya itu seraya menaikkan kedua alisnya. Ia kemudian mendorong tubuh Ozan agar menjauh darinya.
"Ngomong dong daritadi!! Kalau tau kan nggak perlu ngikutin sampai ke sini," ucap Rangga dengan nada kesal.
"Lah, elu nggak tanya. Lagian ngapain lu modus segala ngikutin Ramon. Bilang aja lu cemburu sama Dina." Ozan langsung to the point menyebutkan alasan Rangga pagi-pagi keluar rumah dengan wajah kusut.
"Siapa juga yang cemburu?" Rangga kemudian mengarahkan pandangannya kembali ke taman, namun Dina dan Ramon sudah tidak berada di tempat mereka duduk tadi.
__ADS_1
"Lho... kemana mereka?" tanya Rangga seraya menoleh kesana-kemari.
"Pulang, kali..."
Rangga melajukan mobilnya pelan-pelan dengan matanya yang terus tertuju pada taman itu, mencari kemana Ramon membawa pujaan hatinya. Hingga ia melihat Ramon dan Dina berjalan berdua sambil gandengan tangan.
Entah ujian macam apalagi yang takdir berikan kepada Rangga yang malang itu. Dia harus menelan kecemburuannya sendirian. Kemesraan Dina dan Ramon pagi itu benar-benar memilukan baginya.
"Bang,,, telepon Bang Ramon, suruh masuk kantor sekarang! Terserah abang apa alasannya, suruh aja masuk kantor," bisik Rangga pelan dengan mata tidak berkedip menatap Dina, namun bisikan itu sangat menakutkan bagi Ozan.
Betapa tidak, telapak tangan Rangga sudah berada di ceruk leher kakaknya itu, sudah seperti memberi ancaman serius jika tidak meneleponnya, maka Ozan akan merasakan akibatnya.
"Gue harus alasan apa coba, minta dia ke kantor?" tanya Ozan seraya berusaha melepas telapak tangan Rangga yang melingkar di lehernya.
"Bilang aja kangen," jawab Rangga dengan polosnya.
"Brengs*k lu ahh..."
"Baaaang..." bisik Rangga lagi, membuat Ozan bergidik ngeri.
Sabar Ozan, menghadapi orang yang sedang cemburu itu memang butuh perjuangan. batin Ozan.
Ozan pun segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya, langsung mencari nomor kontak Ramon.
Di kejauhan sana terlihat Ramon melepaskan genggaman tangannya dari Dina, membuat Rangga menghela napas lega, Ramon terlihat menjawab teleponnya.
"Halo, Ram... Lu dimana?" tanya Ozan.
"Gue lagi di taman kota. Napa lu?"
"Lu bisa ke kantor nggak?"
"Gue kan cuti, Zan... Ngapain gue ke kantor,"
Ozan yang tidak tahu harus menjawab apa hanya menatap Rangga dengan ekor matanya, Rangga pun membulatkan matanya. Ozan kembali merasa sedang di bawah ancaman seorang mafia kelas kakap.
"Gue kangen sama lu,"
Ramon terperanjak mendengar ucapan Ozan yang terasa aneh di telinganya, sementara Ozan menepuk mulutnya yang salah bicara itu...
"Lu nggak sakit, kan? Gue jijik loh dengar ucapan lu barusan,"
"Ya udah pokoknya lu ke kantor deh, gue nggak mau tahu, gue tunggu."
Setelah mengucapkan itu, Ozan memutuskan sambungan teleponnya. Membuat Rangga tersenyum senang.
"Makasih ya, Bang..." ucap Rangga dengan manjanya, lalu memeluk tubuh Ozan, membuat laki-laki itu gelagapan.
"Apaan lu, peluk-peluk..." Ozan mendorong tubuh Rangga agar menjauh darinya.
Rangga kembali mengarahkan pandangannya pada Dina dan Ramon. Terlihat Ramon segera naik ke mobil, sedangkan Dina berjalan ke arah gerbang kampus. Rangga pun bernafas lega.
Terkadang cinta memang membuat seseorang menjadi gila.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG