Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Minta maaf


__ADS_3

Ameera masih menangis sesegukan. Bayang-bayang perlakuan Ozan yang sangat kasar padanya terus menghantuinya.


"Apa aku mati saja, ya... Aku tidak kuat hidup lagi," gumam aameera dalam tangisannya.


Ayah, kenapa ayah memaksaku menikah dengan dia. Dia jahat... Lihat apa yang dia lakukan padaku...


****


Pagi hari...


"Ozan, Ameera tidak turun sarapan?" Tanya Hasan di sela- sela sarapannya.


Melihat Ozan sudah rapi dengan setelan jasnya sementara Ameera tidak muncul.


"Tidak Pah, Ameera sedang tidak enak badan."


"Kamu paksa lagi?" tanya Zarima.


Ozan pun terdiam mendapat pertanyaan itu. Memang benar dirinya memaksa Ameera. Sehingga dirinya di usir dari kamar dan harus tidur di kamar tamu.


Setelah selesai sarapan, Ozan meminta seorang pelayan menyiapkan sarapan untuk Ameera. Ozan pun kembali ke kamar dengan membawa sarapan untuk sang istri.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu, Ameera tidak juga menjawab. Akhirnya Ozan memutuskan masuk. Namun, saat memasuki kamar, matanya menangkap Ameera tergeletak di depan kamar mandi.


Ozan pun menjatuhkan nampan sarapan yang di bawanya dan berlari menghampiri Ameera. Ia meraih tubuh Ameera yang dingin dan pucat. Seketika matanya berair mendapati banyaknya busa yang keluar dari mulut Ameera. Lalu melihat botol pembasmi serangga yang terletak di sisi Ameera.


Tidak! Apa Ameera mencoba bunuh diri?


"Ameera...!" panggil Ozan seraya menepuk wajahnya, "MAMA! PAPA!" teriak Ozan dengan kencang mengagetkan Zarima dan Hasan yang sednag berada di lantai bawah.


Mereka pun segera berlari menuju kamar Ozan. Dan alangkah terkejutnya mendapati apa yang terjadi disana.


"Ozan apa yang terjadi pada Ameera?" tanya Zarima seraya menangis. Hasan pun menjadi sangat panik setelah menyadari menantunya itu mencoba bunu diri.


"Ayo Ozan, cepat bawa Ameera ke rumah sakit!" kata Hasan dengan paniknya.


Ozan pun menggendong Ameera menuju parkiran. Seorang sopir dengan sigap menyiapkan mobil begitu melihat Ozan menggendong Ameera. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


***


Hasan mondar-mandir menunggu di depan sebuah ruangan menunggu Ameera sedang mendapat penanganan dari dokter.


"Ozan, apa yang terjadi? Kenapa Ameera mau bunuh diri dengan meminum pembasmi serangga? Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Hasan dengan nada emosi.


Ozan pun hanya dapat terdiam seraya menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan itu. Sementara Zarima masih menangis, takut terjadi sesuatu pada menantu kesayangannya.


"Maafkan aku, Pah... Ini salahku. Semalam aku dan Ameera bertengkar dan aku tidur di kamar tamu. Jadi aku tidak tahu kalau Ameera melakukan itu,"


Tidak lama, dokter keluar dari ruangan itu. Hasan, Ozan dan Zarima langsung berdiri menghampiri dokter itu.


"Bagaimana anakku, Dokter?" tanya Hasan dengan wajah khawatir.


"Mari kita bicara di ruangan saya," ajak dokter itu.


"Dokter, apa kami sudah boleh melihatnya?" tanya Zarima.


"Tentu saja, silahkan masuk." ucap dokter itu.


Ozan dan Zarima masuk ke kamar itu, sementara Hasan ikut ke ruangan dokter.


Zarima menangis melihat Ameera yang terbaring lemah, sedangkan Ozan di penuhi rasa bersalah. Kelakuannya yang melampiaskan cemburu butanya mengakibatkan Ameera memilih mencoba bunuh diri.


Ozan mengecup kening Ameera yang masih belum sadarkan diri itu. Setitik air matanya jatuh.


Aku ini suami macam apa. Maafkan aku, Ameera.


***

__ADS_1


Malam harinya...


Ozan dan Zarima sedang berada di cafe yang terdaoat di dalam rumah sakit, sedangkan Hasan sudah pulang lebih dulu.


"Mama pulang saja, ya... Biar aku yang menjaga Ameera," ucap Ozan.


"Tidak. Kalau dia bangun dan mencari Mama bagaimana?"


"Aku akan menghubungi Mama kalau Ameera bangun. Mama kan butuh istirahat. Aku telepon Papa, ya... untuk jemput Mama."


"Baiklah, Zan... Tapi kamu jangan marahi Ameera kalau dia bangun." pinta Zarima.


"Iya, Mah... Apa aku masih bisa memarahi istriku dalam keadaan begini. Lagipula ini salahku."


***


Ameera membuka matanya perlahan. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Akhirnya ia menyadari sedang berada di rumah sakit.


Seketika matanya kembali berair mengingat apa yang Ozan lakukan padanya.


Kenapa mereka menyelamatkan aku... Kenapa aku tidak mati saja. Aku harus pergi dari sini. batin Ameera.


Gadis itu kemudian bangkit dari posisi berbaringnya, melirik tangannya yang terpasang jarum infus. Ameerapun melepas paksa jarum infus itu sehingga ia meringis kesakitan.


Ameera turun dari tempat pembaringannya dengan tubuh lemahnya. Lalu mengendap-endap mendekati pintu.


Ameera membuka sedikut pintu kamar itu dan mengawasi keadaan sekitar. Saat dirasa aman, ia keluar dari kamar lalu dengan ceoat pergi dari sana.


Dengan menggunakan seragam pasien rumah sakit, Ameera melangkahkan kaki menuju halaman rumah sakit, dengan bertelanjang kaki.


Aku tidak mau pulang ke rumah orang jahat itu lagi. Aku harus pergi ke tempat dimana dia tidak bisa menemukanku.


Ameera terus berjalan meninggalkan rumah sakit itu. Hingga ia sampai di sebuah halte bus tidak jauh dari sekolahnya. Tiba-tiba ia teringat pada Rangga.


Rangga... Kamu dimana... Aku membutuhkanmu.


"Apa kau sakit? Ada yang bisa ku bantu?" tanya wanita itu.


Ameera mendongakkan kepalanya lalu menyeka air matanya.


"Boleh aku pinjam ponselnya? Aku mau menghubungi seseorang," kata Ameera pada orang itu.


Wanita itu pun meminjamkan ponselnya pada Ameera. Dengan segera Ameera menghubungi satu-satunya orang yang selalu diingatnya.


***


Rangga sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper, tiba-tiba ponselnya berdering. Rangga pun meraih ponselnya dan tampak di layar nomor pemaanggil yang tidak di kenal.


"Siapa ini..." gumam Rangga ketika melihat layar ponselnya.


Rangga pun menjawab panggilan itu dan alangkah terkejutnya mendengar suara Ameera yang sesegukan memanggil namanya.


"Ameera..." panggil Rangga.


"Rangga, tolong aku... Jemput aku... Aku ada di halte bus dekat sekolah. " lirih Ameera.


Rangga tiba-tiba di selimuti kepanikan mendengar suara Ameera yang sangat lemah. Dia melirik jam di pergelangan tangannya.


"Kamu jangan kemana-mana aku akan kesana." Rangga pun keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa dan menyambar kunci mobil di atas meja dan dengan segera melajukan mobilnya dwngan kecepatan tinggi menuju tempat dimana Ameera menunggunya.


Tidak butuh waktu lama, Rangga telah sampai di tempat itu, dari kejauhan dia melihat Ameera duduk di halte seorang diri dengan menggunakan seragam pasien rumah sakit. Rangga pun di penuhi pertanyaan dalam benaknya. Tentang apa yang terjadi pada gadis kesayangannya itu.


Rangga segera turun dari mobil dan menghampiri Ameera. Seketika hatinya terasa berdenyut melihat Ameera dalam keadaan lemah dan bersandar di kursi dengan bertelanjang kaki. Rangga bersumpah tidak akan memaafkan siapapun yang membuat Ameera menjadi seperti ini.


Air mata Ameera berjatuhan ketika melihat Rangga mendekat. Ameera pun segera berdiri dan langsung memeluk Rangga.


Tangisnya pecah dalam pelukan Rangga, "Rangga... Kenapa kamu membiarkan aku menikah dengan orang itu? Kenapa kamu tidak membawaku pergi saja? Tolong bawa aku pergi yang jauh sampai dia tidak bisa menemukanku lagi..."

__ADS_1


Rangga mengeratkan pelukannya, "Apa yang dia lakukan padamu? Kenapa kamu di luar di jam seperti ini dalam keadaan begini?"


Ameera pun tidak menjawab pertanyaan Rangga. Ia terus menangis menumpahkan kesedihannya, hingga kakinya terasa lemas. Rangga pun menggendong Ameera menuju mobilnya dan membawanya pergi dari sana.


Sementara itu, Ozan baru saja tiba dari cafe dan masuk ke dalam kamar perawatan Ameera. Seketika matanya membulat melihat ranjang pasien kosong.


"Ameera..." panggil Ozan. Ia kemudian memeriksa kamar mandi namun tetap tidak menemuka sang istri. Ozan pun terperanjak saat mendapati jarum infus menggantung begitu saja di tiangnya.


"Apa jangan-jangan Ameera kabur..." Ozan pun panik bukan kepalang. Ia mencari kesana -kemari dan tak juga menemukan Ameera.


Malam itu, rumah sakit itupun di penuhi kepanikan. Ozan segera menghubungi Ramon dan Hasan untuk memberitahu Ameera hilang.


Ozan pun pergi ke ruang cctv untuk melihat rekaman cctv rumah sakit itu. Tampak Ameera keluar meninggalkan halaman rumah sakit beberapa jam lalu membuat Ozan panik.


"Kemana dia?" gumam Ozan.


Saat akan melajukan mobil, ponselnya berdering. Tampak nomor Rangga tertera di layar ponsel. Ozan pun segera menjawab panggilan itu.


"Ameera ada di rumah lamanya. Lu kesini sekarang," ucap Rangga begitu panggilan terhubung.


Ozan segera melajukan mobil menuju rumah lama Ameera.


***


Rangga duduk di sisi tempat tidur di kamar Ameera, memandangi wajah gadis yang sedang tertidur itu lekat-lekat. Ia membelai puncak kepala Ameera dengan sayang.


Maafkan aku Ameera. Seharusnya sejak awal aku tidak menyerahkahkanmu pada laki-laki itu. Seharusnya aku membawamu pergi yang jauh agar siapapun tidak bisa memisahkan kita. batin Rangga.


"Akan ku buat dia menyesal telah membuat Ameeraku menjadi seperti ini." gumam Rangga.


Setelah mendengar cerita Ameera tentang apa yang Ozan lakukan padanya, Rangga menjadi sangat geram. Ia mengepalkan tangannya, tatapannya yang tajam seolah mampu membelah apapun di depannya.


Tidak lama, mobil milik Ozan memasuki halaman rumah itu. Rangga telah telah berdiri di depan pintu menunggunya dengan kedua tangan terkepal.


Begitu Ozan mendekat, tanpa aba-aba, Rangga memukulinya tanpa ampun. Ia terus menghajar Ozan dengan penuh emosi, melampiaskan seluruh kemarahannya hingga Ozan tersungkur.


"BANGUN! " teriak Rangga seraya menarik kerah kemeja yang di pakai Ozan, "Kenapa? Kenapa lu nggak balas? Lu malu dengan kelakuan lu?" tanya Rangga dan langsung kembali menghujani Ozan dengan kepalan tinjunya.


"Ayo pukul sampai lu puas," ucap Ozan setelah Rangga selesai memukulinya.


"BANGS*T LU!" Rangga mengumpati Ozan dengan keras lalu mendorongnya hingga tersungkur ke tanah, "Gue mengalah dan menyerahkan Ameera bukan buat lu sakiti seenaknya."


Ozan yang menyadari kesalahannya hanya bisa terdiam, menerima apapun yang di lakukan Rangga padanya. Ozan sadar Rangga sanggup melawan satu dunia jika itu untuk melindungi Ameera. Bahkan ayahnya sendiri ia jebloskan kepenjara untuk memastikan Ameera aman, apalagi hanya seorang Ozan.


"Dimana istri gue?" tanya Ozan membuat Rangga berdecih.


Rangga kemudian mendekati Ozan dan kembali mencengkaram kerah kemejanya.


"Lu dengar baik-baik. Sekali lagi lu sakiti Ameera, gue akan bawa dia pergi yang jauh. Sampai lu nggak akan bisa menemukan dia lagi. Lu tahu kenapa? Karena dia segalanya buat gue." Rangga pun mendorong tubuh Ozan lagi.


Setelah itu, Ozan masuk ke rumah itu dan menghampiri Ameera yang sedang tidur di kamarnya. Ozan duduk di sisi tempat tidur lalu membelai wajah Ameera.


Ozan mengecup kening istrinya itu, melepaskan kekhawatirannya, "Maafkan aku, Ameera." bisiknya kemudian.


Ozan pun menggendong Ameera menuju mobilnya. Rangga yang masih ada di halaman depan hanya menatap Ameera dengan perasaan sedih. Ozanpun menghampiri Rangga yang masih berdiri mematung di sana.


"Terima kasih selama ini lu udah jaga Ameera. Gue janji akan jaga dia dengan nyawa gue sendiri," ucap Ozan pada Rangga.


Setelah mengucapkan itu, Ozan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu dan membawa Ameera kembali ke rumah sakit. Ia lalu kembali menghubungi Ramon dan hasan untuk memberitahu bahwa Ameera sudah di temukan.


Rangga menghela napas panjang seraya memejamkan matanya. Hingga tepukan tangan seorang wanita mendarat di bahunya.


"Kamu yang sabar, ya..." kata Bu Yani.


Rangga pun tersenyum pada wanita paruh baya itu lalu memeluknya, setitik air matanya jatuh dalam pelukan wanita itu.


"Aku sudah berjanji pada Om Rudi akan menjaga Ameera seumur hidupku, Bu. Aku akan terus menjaganya walaupun dari jauh," ucap Rangga pada wanita itu.

__ADS_1


"Ibu tahu, Rangga,"


__ADS_2