
"Lu yakin mau kesana? Ini tengah malam loh. Paling mereka udah rebahan, tidur, bobo, mimpi. Besok ajalah lu kesana." ucap Ramon berusaha membujuk Ozan agar membatalkan niatnya menemui Ameera di tempat persembunyiannya. Baru saja ia mendapat informasi dari orang suruhan Ramon dimana titik keberadaan Ameera.
"Pokoknya gue mau sekarang, titik." Ozan tetap kekeh. Membuat Ramon bingung, pasalnya ia akan menghadapi kemarahan Ameera dan Dina jika sampai mereka kesana.
Karena sudah tidak punya pilihan lain, terpaksa Ramon mengikuti keinginan bosnya. Ia pun dengan perasaan malas melajukan mobil menuju titik yang di informasikan kepadanya. Ia mencoba mengulur waktu dengan melajukan mobil pelan-pelan. Selang beberapa saat, Ozan menyadari kejanggalan dalam sikap Ramon.
"Berhenti!" bentaknya. Ramon terkejut tiba-tiba Ozan memintanya berhenti. Ia pun mengerem mendadak saking kagetnya.
"Apaan sih lu, bikin kaget aja." ucap Ramon kesal.
"Turun lu!"
Ramon mengernyit mendengar Ozan menyuruhnya turun dari mobil. Tanpa banyak tanya Ramon pun turun dari mobil di ikuti Ozan. Setelah itu Ozan kembali naik ke mobil dan duduk di jok pengemudi.
"Naik lu cepet. Ngapain bengong disitu." ucapnya pada Ramon yang malah terdiam disana.
Karena merasa Ramon lambat melajukan mobil, Ozan berinisiatif menggantikannya. Sekarang Ozan melajukan mobil bagai kesetanan membuat Ramon beberapa kali mengusap dadanya karena mereka hampir menabrak pengemudi lain. Kecemasannya pada Ameera mengalahkan segalanya. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak saat memikirkan istrinya.
Tubuhnya yang sudah sangat lelah karena belum beristirahat sedikitpun sejak berangkat dari Turki menuju Indonesia, tidak menghalangi langkahnya untuk segera bertemu dengan sang istri yang begitu dirindukannya.
"Pelan dikit napa? Bakalan sampai juga kan?" tegur Ramon saat Ozan hendak menerobos lampu merah.
"Diem lu!" ucap Ozan kemudian.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah apartemen mewah. Ozan dan Ramon saling melirik setelah menatap bangunan tinggi menjulang tersebut. Kenapa mereka saling melirik? Memang mereka tahu yang mana unit milik Rangga yang ditempati Ameera dan Dina?
"Ini pasti apartemen Rangga kan? Coba lu tanya petugas keamanan dimana unit Rangga Agung Darmawan." titah Ozan pada Ramon.
Ramon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebab ia sedang berpura-pura menjadi manusia paling lemot seantero jagat. Padahal ia tahu betul sebelah mana unit milik Rangga.
****
Di sisi lain, Ameera masih mencari lokasi outlet Kebab Turki yang ingin dibelinya. Matanya melirik kesana-kemari sambil melajukan mobil dengan pelan agar tidak kelewatan.
"Mana sih? Tadi katanya di sekitar sini." gumamnya pelan sambil terus mencari. Tidak lama kemudian ia pun telah sampai di outlet tersebut.
Dengan mata berbinar, ia turun dari mobil dan menghampiri outlet tersebut. Benar saja, sang pembuat kebab benar-benar orang Turki. Ameera lalu memesan kebab yang sudah sangat di idamkannya, tak tanggung-tanggung ia memesan sangat banyak kebab isi ayam dan daging, membuat pemilik outlet keheranan.
Ameera pun duduk manis menunggu pesanannya yang sedang dibuat, tanpa memikirkan jalan yang sudah mulai sepi karena sudah pukul 01.00 dini hari.
__ADS_1
****
Antara sadar dan tidak Dina seperti mendengar suara bel berbunyi. Ia membuka matanya, mencoba menajamkan pendengarannya seraya melirik jam dinding.
"Beneran bunyi bel. siapa sih bertamu tengah malam gini?" gumamnya dengan suara serak.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu. Namun, sebelumnya ia mengecek monitor agar mengetahui siapa yang ada di luar.
"Kak Ramon? Ngapain dia kesini malam-malam begini? "
Tanpa Dina ketahui bahwa Ozan juga berada disana. Dina pun segera membuka pintu dan alangkah terkejutnya Dina melihat Ozan juga ada di balik pintu.
"Ka... kalian?" ucapnya terbata-bata saking terkejutnya.
"Hai... Din..." sapa Ramon takut-takut. Dina melirik Ramon dengan tatapan kesal karena ia pikir Ramon yang membocorkan tempat persembunyian Ameera. Mengerti dengan sorot mata Dina yang tajam, Ramon hanya mengedikkan bahu, pertanda ia sudah pasrah menghadapi Ozan.
"Dimana istriku?" tanya Ozan tanpa basa-basi.
"Ameera? " agak ragu menjawab. "Kalian masuk dulu, nggak enak di luar terus." ucapnya.
Ramon dan Ozan pun masuk ke dalam apartemen super mewah tersebut.
"Tidak usah. Aku hanya mau melihatnya dan memastikan dia baik-baik saja."
Dina pun mengantar Ozan menuju kamar Ameera.
Karena rasa rindunya yang seolah menembus ubun-ubun, Ozan membuka pintu kamar Ameera dengan terburu-buru, membuat Dina terlonjak kaget. Namun, saat memasuki ruangan, sosok Ameera tidak ada didalam.
"Sayang..." panggil Ozan lembut saat melihat tempat tidur kosong. Dina lalu memeriksa kamar mandi dan kembali tak menemukan Ameera disana.
"Ameera kemana, ya? Bukannya tadi tidur." gumam Dina, namun gumamannya dapat didengar Ozan.
Mereka pun berkeliling di dalam unit mencari Ameera. Namun tidak di temukan dimana-mana. Ozan sudah sangat panik sekarang. Perasaan lega yang tadi di rasakannya berubah menjadi kepanikan.
Dina pun segera memeriksa laci, ia terperanjak mendapati kunci mobil Rangga sudah tidak ada di tempatnya.
"Ameera pergi membawa mobil." Pekik Dina membuat Ramon dan Ozan panik.
"Ini sudah lewat pukul satu malam, Ameera mau kemana di jam-jam seperti ini. Di luar itu berbahaya." ucap Ozan yang wajahnya sudah berubah pias.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, Kak! Tadi sebelum masuk kamar, aku liat dia sudah tidur. Aku nggak tahu kalau dia mau pergi." ungkap Dina sudah ikut panik.
"Tenang dulu, Zan. Mungkin Ameera cuma keluar sebentar." ujar Ramon mencoba menenangkan kegelisahan Ozan.
"Tapi kemana?" Ozan sudah setengah berteriak.
Apa jangan-jangan Ameera pergi karena tau suaminya akan kemari? Tidak... tidak... bukan itu... aku saja nggak tau apalagi Ameera.
"Ameera nggak tau kan kalau kita mau kesini?" tanya Ozan.
Deg!
Ramon dan Dina mematung mendengar pertanyaan dari Ozan. Tiba-tiba merasa lidahnya kelu.
Habislah gue. Gimana kalau Ameera pergi karena tahu Ozan lagi nyari dia. Batin Ramon.
"Mungkin Ameera lagi keluar mau cari makanan, dia sering ngidam mau makan sesuatu." dugaan Dina.
Ozan memejamkan matanya sejenak. Pria itu sudah sangat frustasi sekarang.
"Din, kamu ada mobil lain disini selain yang di bawa pergi Ameera?" tanya Ozan kemudian.
"Ada mobilku di parkiran."
"Ram... kita berpencar cari Ameera. Lu sama Dina!" titah Ozan seraya segera keluar dari apartemen."
Terburu-buru keluar tanpa tahu harus mencari istrinya kemana.
"Din gimana ini? Apa jangan-jangan Ameera pergi karena tahu Ozan nyariin dia?"
"Nggak. Aku yakin bukan itu, Kak. Aku akan telepon Rizal dulu. Keberadaan Ameera bisa di lacak dari GPS yang terpasang di mobil."
"Rizal?" Ramon mengernyit.
"Orang kepercayaan Rangga." sahut Dina.
Tuh anak kecil bener-bener bikin gue ngeri deh. Udah kayak mafia aja dia. Batin Ramon.
Setelah Dina menelepon Rizal , mereka pun keluar dari apartemen mencari Ameera sembari menunggu informasi dari Rizal.
__ADS_1