Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Janjian


__ADS_3

Keeseokan harinya...


Ameera terbangun dan mendapati dirinya masih berada di kamar rumah sakit, sekertika ia terlonjak kaget, kemudian melirik tangannya yang di genggam oleh tangan kekar.


Ameera melirik kesebelahnya dan melihat Ozan tertidur di kursi dengan posiai telungkup.


Kenapa aku bisa kembali ke sini? Semalam kan aku bersama Rangga.


Ozan yang merasakan pergerakan Ameera akhirnya ikut terbangun, "Ameera, kamu sudah bangun?" ucap Ozan dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Ameera pun kembali ketakutan setiap kali mengingat perlakuan Ozan padanya. Ozan yang menyadari ketakutan Ameera langsung bangkit dan memeluknya.


"Maafkan aku, Ameera. Aku janji tidak akan mengulanginya. Aku khilaf. Tolong jangan buat aku ketakutan seperti semalam. Kalau kamu masih marah, pukullah aku sesukamu. Tapi jangan sakiti dirimu sendiri,"


Tidak lama kemudian, Zarima masuk ke ruangan itu. Ozan pun melepaskan pelukannya.


"Kamu sudah bangun, Nak..." kata Zarima, "Ayo makan dulu, Mama buat sup asparagus kesukaan kamu."


Zarima pun meletakkan mangkuk sup di atas meja, lalu memeluk menantunya itu dan menangis.


"Jangan lakukan itu lagi, Nak.. Kalau kamu ada masalah, kamu bilang sama Mama dan Papa. Kamu kan sudah menjadi anak kami. Jadi apapun masalah kamu, beritahu Mama atau Papa, ya.." kata Zarima seraya mengusap kepala Ameera.


"Aku minta maaf, Mama. Aku membuat kalian susah."


"Tidak... Mama yang harusnya minta maaf karrna membiarkan Ozan menyakiti kamu."


Zarima pun menyuapi Ameera dengan makanan yang sengaja dia masak untuk Ameera. Sejenak Ameera melupakan perlakuan Ozan padanya begitu melihat perhatian dan kasih sayang Zarima padanya.


Ameera bagai mendapat kasih sayang seorang ibu yang lama tidak di dapatkannya.


Hasan masuk ke ruangan itu setelah berbicara dengan dokter yang menangani Ameera. Pria paruh baya itu segera menghampiri Ameera dan mengusap kepalanya.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Hasan.


"Iya, Papa..." jawab Ameera.


"Dokter bilang, kamu sudah boleh pulang hari ini. " ucap Hasan seraya tersenyum.


Ameera pun menatap Ozan dengan raut wajah ketakutan. Zarima dan hasan yang menyadarinya langsung berusaha menenangkan menantunya itu.


"Beritahu Mama kalau Ozan menyakiti kamu. Mama akan usir dia dari rumah kalau berani dengan anak kesayangan Mama ini." ucap Zarima seraya membelai rambut Ameera.


***


Menjelang keberangkatannya ke luar negeri, Rangga menemui Dina di rumahnya. Untuk pertama kalinya Rangga menunjukkan perhatiannya pada gadis itu.


Dina keluar dari kamarnya dengan mengenakan dress berwarna navy. Sangat kontras dengan kulit putihnya. Rangga menatap Dina sekilas, lalu tersenyum. Kemudian kembali sibuk dengan ponselnya.


"Kamu sangat menyebalkan, Kamu bahkan tidak bilang aku cantik." ucap Dina dengan nada kesal.


Rangga berdiri dari duduknya, lalu enghampiri Dina. Sesaat kemudian, Rangga mendaratkan bibirnya di pipi Dina.


"Kamu sangat cantik... " ucap Rangga singkat mwmbuat Dina tersipu malu.


Dina rasanya mau pingsan sekarang karena Rangga tidak pernah semanis itu padanya selama ini. Dina masih mematung di tempatnya ketika Rangga menarik tangannya. Mereka pun pergi ke tempat yang Rangga sudah siapkan.


Setelah makan malam yang romantis, Rangga dan Dina pergi ke sebuah bukit dengan pemandangan gemerlapnya lampu kota di bawah sana.

__ADS_1


"Din, aku minta maaf ya, selama ini aku banyak menyakitimu!" ucap Rangga lalu meraih tangan Dina dan menggenggamnya.


"Aku tidak merasa di sakiti olehmu. Aku sudah cukup senang bisa dekat denganmu."


Rangga melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul 21:55.


"5 menit lagi..." gumam Rangga.


"Apanya?"


"Aku ada kejutan untukmu. " kata Rangga seraya tersenyum.


Jantungku oh jantungku, kenapa rasanya mau melompat keluar. Ada apa dengan Rangga, kenapa dia jadi semanis ini. batin Dina.


Sejak hampir tiga tahun kebersamaannya denga Rangga, inilah perhatian pertama yang Rangga tunjukan padanya. Selama ini Rangga hanya memikirkan Ameera saja, dan kadang membuat Dina terbakar cemburu.


"Tutup matamu sebentar, ya..."pinta Rangga. Dina pun memejamkan matanya.


Dan alangkah terkejutnya Dina ketika membuka mata dan melihat pemandangan di atas sana. Matanya pun seketika dipenuhi cairan bening.


Cahaya kembang api berwarna warni menghiasi langit yang gelap. Menambah keromantisan mereka malam itu. Sebelunya Rangga meminta orang suruhannya menyiapkan semuanya. Dan jadilah, malam penuh kenangan indah yang tidak akan pernah di lupakan Dina seumur hidupnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rangga sambil memandangi langit yang penuh dengan kembang api.


"Rangga, terima kasih untuk hari ini. Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku, aku tidak akan pernah melupakan hari ini." ucap Dina.


"Besok pagi, aku akan berangkat. Aku harap malam ini menjadi akan menjadi malam yang indah untukmu," kata Rangga.


Dina pun memandangi Rangga tanpa berkedip. Entah kapan lagi ia bisa menatap wajah lelaki yang mengalihkan dunianya itu. Sejak kematian kedua orang tuanya, Ranggalah kekuatannya untuk bertahan hidup.


Aku akan menunggumu sampai kapanpun, Rangga. Aku akan tetap bertahan.


***


Ozan pergi ke balkon rumahnya, duduk melamun sambil menatap langit yang bertabur bintang.


Laki-laki itu teringat dengan wajah Naura. Ozan belum bisa sepenuhnya melupakan Naura, meskipun sekarang ada Ameera yang berstatus sebagai istrinya. Kenangannya bersama Naura tidak bisa dia lupakan begitu saja.


Selama ini Ozan terus berusaha membuka hatinya untuk Ameera, ia berusaha dan belajar mencintai Ameera. Berharap kebersamaannya dengan Ameera dapat mengisi kekosongan hatinya setelah sakit yang di rasakannya melihat Naura berkhianat.


Dan, ternyata tidak semudah itu. Bayangan Naura selalu hadir menghantuinya. Bahkan pertemuannya dengan Naura yang tidak di sengaja membuatnya selalu merindukan Naura.


Ia meraih ponsel di saku celana nya dan membuka fitur pengaturan privasi. Ozan kemudian membuka daftar blokir di ponselnya dan membuka blokir untuk nomor telepon Naura.


Ozan pun melakukan panggilan pada nomor Naura.


"Halo..." terdengar suara Naura di seberang sana.


"Halo Naura..."


"Ozan... Kenapa kamu baru menghubungiku. Aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?"


"Aku akan menjelaskannya nanti. Bisakah kita bertemu besok?"


"Tentu saja... Aku akan meluangkan waktu untukmu."


"Baiklah, besok jam pulang kantor, di cafe tempat kita biasa bertemu."


Wajah Naura pun berbinar setelah mendapat telepon dari Ozan.

__ADS_1


****


Keesokan harinya...


Naura sedang berdandan cantik untuk pertemuannya dengan Ozan. Naura yang tidak mengetahui bahwa Ozan sudah menikah berencana kembali merayu Ozan seperti yang biasa ia lakukan dulu.


Setelah berdandan, Naura bergegas menuju cafe temoatnya janjian dengan Ozan. Ia duduk manis menunggu sambil melihat-lihat menu.


"Sudah lama? Maaf aku terlambat." terdengar suara dari balik punggung Naura. Naura menoleh dan melihat Ozan di sana.


"Tidak apa-apa, aku juga baru tiba..."


Ozan pun duduk di kursi berhadapan dengan Naura. Naura menggenggam tangan Ozan, namun segera di tepis oleh laki-laki itu. Tanpa basa-basi Naura langsung ke inti pembicaraan dengan Ozan.


"Ozan, kenapa kamu melakukan ini semua padaku? Aku salah apa?" tanya Naura dengan wajah pura-pura polosnya.


"Bukan salahmu, Naura... Aku yang salah."


Naura pun akhirnya menumpahkan air matanya, "Aku mencintaimu Ozan. Kamu tahu, selama kamu menghilang dua tahun, aku tidak pernah bisa melupakanmu."


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Dion, sekarang kamu bersamanya kan?"


Naura membelalakkan matanya, begitu terkejut karena Ozan langsung menyebut nama Dion.


Dion? Apa dia tau hubunganku dengan Dion? batin Naura.


"Aku tau sekarang kamu berpacaran dengan Dion. Karena itu aku tidak mau mengganggu hubungan kalian." ucap Ozan dengan wajah datar.


"Ozan maafkan aku. Aku akan memutuskan hubunganku dengan Dion. Aku tahu aku salah. Aku akan memperbaikinya. Beri aku kesempatan, Ozan." pinta Naura dengan nada sememelas mungkin.


"Kenapa di awal kita bertemu, kamu tidak jujur?"


"Aku takut kamu akan meninggalkan aku lagi. Ozan, aku berhubungan dengan Dion karena aku pikir kamu sudah meninggal. Begitu kamu datang kembali, aku tidak bisa meninggalkan Dion begitu saja kan? Aku akan menyelesaikan semuanya."


"Sudah tidak perlu Naura. Aku mengajakmu bertemu hanya untuk mengatakan agar kamu melupakan aku. Lanjutkan saja hubunganmu dengan Dion!"


"Ap-Apa maksudmu, Ozan..."


"Aku sudah menikah. Gadis yang bersamaku waktu itu adalah istriku," ungkap Ozan kemudian.


Naura pun teringat dengan gadis remaja yang duduk di cafe bersama Ozan beberapa waktu lalu. Rasanya ia tidak percaya Ozan akan menikahi gadis yang masih remaja.


"Kamu bohongkan?" Mata Naura sudah kembali berkaca-kaca.


"Sejak kapan aku suka bohong?"


Naura pun mengingat kalimat terakhir gadis remaja itu sebelum beranjak keluar dari cafe ketika Naura bertanya tentang siapa dirinya.


"Jangan menanyakan itu. Kalau kamu tau jawabannya, kamu bisa mati bunuh diri." Kalimat yang di ucapkan Ameera ini terngiang di ingatan Naura.


"Jadi itu sebabnya kamu menjauhi aku?" tanya Naura dengan suara yang mulai meninggi.


"Sudahlah Naura aku tidak mau membahasnya lagi. Aku harus pulang. Semoga kamu bahagia. Selamat tinggal." ucao Ozan seraya berlalu pergi meninggalkan Naura yang sedang menangis.


Begitu Ozan sudah pergi, Naura mengusap air matanya. Wajahnya kemudian berubah seperti di penuhi kemarahan.


"Kita lihat saja Ozan, apa yang akan aku lakukan untuk menghancurkan pernikahanmu,"

__ADS_1


***


__ADS_2