Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Habis gelap terbitlah terang


__ADS_3

"Mas, aku mau ngomongin sesuatu." ucap Ameera sesaat setelah melaksanakan kewajibannya sebagai istri.


"Hmmm..." Ozan yang kelelahan hanya menjawab dengan deheman.


"Dengerin dulu..." Ameera malah memaksanya membuka mata. Dengan terpaksa Ozan membetulkan posisinya.


"Dosa tahu yank, gosipin orang." ucap ozan dengan mata yang masih tertutup.


"Siapa juga yang mau ngajakin kamu nge-gosip?"


"Ya udah, bentar... aku minum dulu." Ozan mengambil botol air mineral di atas meja lalu meminumnya. Ia kembali berbaring memeluk Ameera setelahnya. "Apaan?" tanyanya kemudian.


Sebenarnya Ameera agak ragu apakah dia akan membicarakannya atau tidak. Ia bahkan bingung harus mulai dari mana. Setelah Ozan siap mendengarkan, malah sekarang Ameera yang terdiam. Mereka sedang terlibat drama tatap-tatapan.


"Katanya mau bilang sesuatu..." ucap Ozan setelah menunggu beberapa saat namun, Ameera tidak juga mulai bicara.


"Mas... kamu tahu siapa pelaku penyerangan kita waktu itu?" tanya Ameera pelan.


"Aku tahu... Memang kenapa?"


"Rangga sudah menceritakan semuanya." ucap Ameera.


"Semuanya?"


Ameera menjawab dengan anggukan, "Iya, semuanya... Orang yang melakukan itu pada kita adalah papanya Rangga."


"Rangga juga memberitahumu tentang itu?" tanya Ozan. Ia tidak menyangka jika Rangga sudah memberitahu Ameera. Pasalnya selama ini Rangga menyembunyikan kenyataan itu dari Ameera karena takut Ameera akan membencinya.


"Mas sudah tahu?"


"Aku tahu sebelum kita menikah kalau Rangga itu anaknya Hendri Agung Darmawan. Aku juga tahu kalau dia punya dendam pada ayah, dan mau balas dendam melalui kamu. Tapi waktu itu kami belum tahu kalau ternyata dia juga yang merencanakan pembunuhan untukku. Semuanya baru terungkap sehari sebelum kematian ayah. Rangga mengumpulkan bukti kejahatan papanya dan memberikannya ke aku."


"Rangga melakukan itu?"


"Iya, Yank... Rangga memilih jalan itu untuk melindungi kita dari kejahatan papanya. Dia merasa bersalah karena kematian ayah."


Ameera menangis ketika kembali teringat pada ayahnya yang tertembak tepat di hadapannya. Ozan lalu menghapus air matanya.

__ADS_1


"Sudah, yank... semua itu sudah takdirnya."


"Sekarang aku mengerti kenapa ayah nggak pernah mengantarku ke sekolah dan kami nggak pernah keluar bersama. Pertama kalinya setelah kematian ibu, ayah mengajakku pergi bersama adalah ke rumah ini."


Ameera teringat betapa keras Rudi mendidiknya, melatihnya, dan menjadikannya seseorang yang kuat. Jika dulu dia merasa terbebani dengan semua itu, maka sekarang ia bersyukur karena ayahnya tidak menjadikannya seseorang yang manja. Hadirnya Rangga dalam hidupnya juga merupakan anugerah baginya.


"Tapi kamu tidak membenci Rangga setelah tahu semuanya kan? Yank... Rangga sudah banyak berkorban untuk kamu, untukku. Dan itu bukan sesuatu yang mudah."


"Aku tahu, Mas dan aku nggak membenci Rangga. Aku merasa bersalah, karena aku, Rangga sekarang harus duduk di kursi roda."


"Rangga pasti bisa berjalan lagi, Yank. Aku juga pernah mengalaminya. Setelah kecelakaan, aku lumpuh selama hampir 2 tahun. Dan aku bisa berjalan lagi kan."


"Iya, Mas."


"Kamu beruntung punya teman seperti Rangga." ucap Ozan seraya memeluk Ameera. Selama beberapa saat mereka terdiam, hingga Ameera kembali melayangkan pertanyaannya.


"Tapi kenapa kita bisa di jodohkan? Kenapa papa menjodohkanmu dengan anak seorang kepala keamanan?"


Ucapan Ameera yang polos itu mengundang gelak tawa Ozan. Sampai sekarang ia masih mengira ayahnya hanyalah seorang kepala keamanan.


"Yank... apa kamu tahu kita sudah di jodohkan di hari kelahiranmu? Papa dan ayah adalah sahabat sejak kecil. Ah... Satu lagi, ayah bukan kepala keamanan di perusahaan papa."


"Ayah adalah direktur SDM, sekaligus salah satu pemegang saham di perusahaan papa. Jadi, sebenarnya kamu adalah seorang miliarder cilik, pemilik 20 persen saham di Chandra Jaya Group."


Ameera mengernyit, sungguh dia tidak mengerti urusan saham-saham dan tidak peduli soal harta. Baginya memiliki Ozan adalah harta terbesarnya.


Ameera lalu mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menanyakan hal terakhir di benaknya. Sesuatu yang dipikirnya adalah hal yang sensitif bagi suaminya itu.


"Mas... kamu tahu nggak kalau ternyata Naura itu..." sejenak Ameera diam, tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kakaknya Rangga?"


Ameera tertegun, merasa terkejut karena ternyata Ozan sudah tahu. "Kamu juga sudah tahu?" tanya Ameera.


"Aku baru tahu di hari pertama Rangga terbangun dari komanya. Ramon yang bilang, katanya dia juga tahu dari Rizal." Ozan memperhatikan wajah Ameera yang terlihat sedih.


"Aku merebutmu darinya... Aku minta maaf, Mas..."

__ADS_1


"Kenapa kita harus membahasnya lagi? Yank... kamu tidak merebutku darinya. Aku putus dengannya sebelum kita menikah," Ozan mengecup kening Ameera, "lagi pula aku tidak merasakan cinta padanya seperti aku mencintaimu."


"Kenapa? Bukannya waktu itu di taman kamu bilang nggak mau menikah sama aku karena kamu punya orang yang kamu cintai? Itu Naura kan?"


"Karena waktu itu aku tidak tau arti cinta yang sebenarnya seperti apa. Dan aku baru merasakannya sama kamu, " Ozan mengecup bibir Ameera sekilas, "sayangku... kamu tahu, aku bahkan tidak pernah mencium Naura sekalipun. Kamu wanita pertama yang aku sentuh, aku peluk, dan aku cium. Kamu adalah wanita halalku, wanita yang setiap aku sentuh, aku mendapatkan pahala." ucap Ozan dengan lembut.


Mata Ameera bahkan sudah berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya itu.


"Aku mencintaimu, Mas..."


"Aku juga, sayang... Sekarang, kamu jangan memikirkan hal-hal lain lagi, ya... Pikirkan saja kesehatanmu dan anak-anak kita." ucap Ozan seraya mengusap perut Ameera. Ia dapat merasakan gerakan bayi-bayi itu. "Aku jadi tidak sabar menunggu mereka." Setelah pembicaraan itu mereka kemudian tertidur lelap. Menantikan kelahiran anak mereka yang tinggal menghitung beberapa minggu lagi.


****


Habis gelap terbitlah terang, setiap manusia boleh mengalami masa sulit, tapi akan ada kebahagiaan setelahnya. Mungkin itulah bahasa yang paling cocok untuk seorang Rangga. Ia sedang berjuang mendapatkan sesuatu yang pantas untuknya, sebuah kebahagiaan.


Jika dia tidak dapat memiliki Ameera sebagai pendamping hidupnya, maka ia masih beruntung memiliki Dina yang selalu menemaninya. Tidak peduli bagaimana pun keadaan Rangga, ia selalu hadir di belakangnya.


Hari demi hari terus bergulir, Dina tetap setia menemani Rangga menjalani terapi. Memberinya semangat, meyakinkannya bahwa ia dapat melalui semua itu.


Perlahan tapi pasti, tanpa di sadari, Dina berhasil mendobrak tembok kokoh di hati Rangga yang selama ini hanya di isi oleh Ameera.


"Ayo Rangga... Cobalah sekali lagi." ucap Dina sesaat setelah Rangga mencoba menggerakkan kakinya.


"Aku nggak bisa, Din... aku bahkan belum bisa merasakan kakiku." sahut Rangga, ia sedikit mengeraskan suaranya. Mulai frustasi dengan kondisinya sekarang.


"Baiklah, kamu istirahat dulu, ya..." kata Dina dengan penuh kelembutan. Ia begitu sabar menghadapi Rangga yang mudah emosi belakangan ini, "ini minum dulu," Dina memberikan sebotol air mineral pada Rangga.


"Aku minta maaf, Din... aku sering berteriak padamu saat aku emosi. Aku nggak bermaksud menyakitimu." Rangga meneguk air mineral itu,menghela napas kasar.


"Aku tahu kok." Dina berjongkok di samping Rangga yang sedang duduk di kursi roda itu. "Tapi kamu mau kan terus mencobanya untukku?" ucapnya seraya tersenyum.


"Aku akan sangat merepotkanmu."


"Aku melakukannya bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri, untuk kebahagiaanku. Karena kebahagiaanku adalah bersamamu. Jadi, kamu nggak boleh menyerah."


"Terima kasih, Din. Maafkan aku yang selama ini sudah tidak adil padamu."

__ADS_1


Dan hal yang paling menyentuh hati Rangga adalah kelembutan dan kesabaran Dina. Ia tidak pernah marah saat Rangga membentaknya jika lelah menjalani terapi.


****


__ADS_2