
“Saya tunggu kamu di bawah sekarang” titah Adel lalu ia segera keluar dari kamar tersebut.
Hatinya terasa sesak jika mengingat wajah polos adiknya. Ia takut adiknya yang polos akan jatuh hati pada James lelaki yang bahkan bisa bermain dengan wanita lain.
Sedangkan James sendiri, ia sedari tadi masih dalam keterdiamannya. Badannya kaku dan pikirannya pun membeku dengan ucapan bu bosnya itu.
Luna perlahan menyentuh pundak James untuk menyadarkan lelaki itu. James tersentak lalu menatap ke arah Luna.
“Kamu baik-baik aja kan?” tanya Luna.
James hanya mengangguk lalu ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Diruang tamu
Adel sudah menangis tersedu-sedu dipelukan suaminya.
“Jangan sampai hiks hiks Qila suka sama James mas” seru Adel dengan sesegukan.
“Aku gak ikhlas, adikku akan jatuh cinta pada James mas. Ku mohon hiks hiks” pinta Adel menatap wajah Kevin.
Kevin yang menatap wajah istrinya yang sudah lusuh karena tangisan pun akhirnya menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya.
Cup
Kevin mencium kedua mata istrinya.
“Jangan menangis sayang, jika kamu menangis sama saja kamu menyakitiku” seru Kevin pelan
“Tapi mas janji hiks hiks harus menjauhkan Aqila dari James mas. Kumohon” suara Adel mulai lemah. Ia menangis kembali dipelukan suaminya.
“Ia sayang. Mas janji akan menjauhkan Aqila. Aqila sudah mas anggap adik mas sendiri. Jadi tanpa kamu minta mas juga akan menjaga Aqila” Kevin berbicara sambil memeluk erat tubuh istrinya.
Tanpa mereka sadari dari tangga James sudah mendengar semua percakapan keduanya. Ada perasaan sakit dihatinya, rasa menyesal mulai menderanya sekarang. Ia menguatkan hati untuk menemui bosnya tersebut.
Ia berjalan menuju ruang tamu. Bunyi sandal pun terdengar, dengan segera Adel menghapus kasar air matanya dan menegakkan tubuhnya disamping istrinya.
“Permisi tuan” ujar James dengan menundukkan dirinya
“Duduk” titah Kevin tanpa menatap James
James mengangguk lalu duduk satu sofa dengan Alex. Alex sendiri hanya menjadi penonton. Dia diam menunggu keputusan dari bosnya itu.
__ADS_1
“Saya langsung saja, saya mohon tolong jauhi Aqila mulai saat ini” itu bukan suara Kevin melainkan Adel. Adel berbicara tegas dan lantang.
James tersentak, ia memejamkan matanya. Ia sudah faham sedari tadi pasti yang akan mereka bahas adalah ini. James mencoba mengatur nafas dan emosinya. Ia harus mempersiapkan hatinya untuk semua ini.
“Memangnya kenapa bu bos?” masih bertanya tanpa ada rasa bersalah.
“Kamu masih tanya? Dengan apa yang kamu lakuin sekarang, apa kamu pantas untuk adik kecil saya. Apalagi kalian jauh beda umur, Adik saya maish kecil. Jadi saya minta tolong, tolong sekali jauhi adik saya” Adel melipatkan kedua tangannya didepan dadanya dengan memohon
Kevin menoleh dan memegang tangan istrinya yang memohon tetapi Adel menggeleng pelan. Akhirnya Kevin hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
James pun pasrah akhirnya ia hanya mengangguk tanpa bersuara.
“Terimakasih. Saya doakan kamu bahagia dengan wanita itu” sindir Adel.
Lalu dengan cepat Kevin dan Adel langsung berdiri dan meninggalkan James dan Alex ditempat. James hanya bisa memejamkan mata dengan sorot wajah penuh penyesalan.
“aghhh” teriak James.
“Betapa bodohnya aku” tangan James menjambak rambutnya sendiri dengan mata masih terpejam.
Alex membantu James dengan mencoba melepaskan tangan James dari kepalanya.
“Jangan sakiti dirimu sendiri man” seru Alex dengan wajah sedih
“Jadikan semua ini pelajaran oke, kau pasti bisa aku yakin itu” Alex meyakinkan.
James hanya bisa mengangguk dan akhirnya keduanya kembali menuju apartemen mereka tinggal.
--*--
Disekolah SMP internasional
Jam sudah menunjukkan waktu dhuhur, Aqila mencoba bangun dari tidurnya tetapi kepalanya makin sakit. Pusing makin menderanya dan ia juga mulai mual.
Dengan sekuat tenaga ia berlari kekamar mandi meski harus dengan sempoyongan. Kakak PMR pun sudah tidak berjaga karena ia ke musholla untuk sholat.
Aqila yang sudah memuntahkan semuanya dia terduduk lemas di kamar mandi. Rasanya kepalanya berkunang-kunang dan berputar. Hingga akhirnya matanya terpejam dan tak sadarkan diri.
Rossa sendiri dengan langkah riang berlari kecil menuju UKS untuk melihat kondisi sahabatnya. Ia juga membawa satu kantung berisi makan siang untuk sahabatnya itu.
Ceklek
__ADS_1
Bunyi pintu UKS terbuka. Rossa celingukan ke kanan ke kiri, ia berjalan menuju ranjang yang tadi Aqila tiduri tapi kosong.
“Kemana Qila?” gumam Rossa
Ia melihat sepatu Aqila masih berada dibawah ranjang. Berarti Aqila masih diam diruangan pikir Rossa.
Dengan spontan Rossa mencoba melihat dikamar mandi khusus UKS. Ia membuka pintu dan terkejut, matanya terbelalak saat melihat orang yang dia cari tergeletak tak sadarkan diri. Berlari sekencang tenaga didepan pintu UkS dan berteriak.
“Tolong tolong” teriak Rossa
--*--
Dirumah Adel yang baru saja tiba dirumah akhirnya langsung merebahkan dirinya diranjang. Rasanya badannya gampang lelah minggu-minggu ini. Tiba-tiba bunyi..
Pyarr
Adel sontak duduk dan menatap bingkai foto jatuh didekat meja rias. Adel membalikkan bingkai foto itu sontak matanya membulat dan hatinya resah.
Foto sang adik perempuannya jatuh?
Apa ini firasat?
Kenapa dengan hatinya, kenapa resah?
Apa ada sesuatu terjadi dengan sang adik.
Itu semua bersemayam dipikiran Adel. Ia mencoba memunguti pecahan kaca itu tapi ternyata..
“Aw” ringis Adel ketika tangannya tanpa sengaja berdarah. “Aqila” gumam Adel tersentak.
Kenapa ia jadi memikirkan Aqila sekarang. Adel langsung menatap jam dinding waktu masih menunjukkan ba’dha zuhur. Tetapi kenapa pikirannya menjadi cemas begini.
Karena ingin menuntaskan rasa penasaran akhirnya Adel mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan untuk kesekian kalinya.
Tut tut tut
“Kenapa tidak diangkat” gumam Adel frustasi.
-----***-----
Minta VOTE nya dong, kan author udah semangat loh ini buat update tiap hari.
__ADS_1
Jangan lupa like yah dan kasih komentar oke. biar author makin semangat.
Dan Kunjungi karya Author yang baru judul Azkiyah Dan Azzahra . Like yah dan Favorit. ceritanya bakal beda dari cerita author yang lain.