Jodoh Pilihan Mama

Jodoh Pilihan Mama
Pemakaman


__ADS_3

Selama diperjalanan Adel hanya diam, ia menatap keluar dengan pandangan kosong. Ia sudah tak sabar untuk mendatangi makam sang papa. Mulai menikah ia sudah tak pernah mengunjungi makam papanya.


Padahal sebelum menikah ia bisa setiap hari atau 2 hari sekali ke makam papanya.


Setelah menunggu hampir 45 menit akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai didepan gerbang makam.


Perlahan Adel mulai menjejakkan kakinya didepan gerbang makam, mereka berjalan bersama sambil membawa sekantung plastik yang berisi bunga.


Pijak demi pijak, semakin mendekat pada sebuah gundukan. Dan tibalah mereka pada sebuah makam yang terlihat bersih. Adel menatap nanar pada batu nisan itu. Tulisan nama papanya sudah memudar.


Adel mendekat dan jongkok. “Ayah, Kaka datang” lirih Adel dengan mengusap nisan papanya. “Tapi Adel gak datang sendiri pa. Adel bawa menantu papa, calon cucu opa dan kedua adik Adel pa” gumam Adel dalam hati.


Tes


Tak kuasa sudah Adel menahan air matanya. Bahunya mulai bergetar air mata luruh sudah.


“Assalamu”alaykum pa, Ini Adel” ucap Adel dengan memaksakan senyum.


“Dan ini disebelah Adel yaitu menantu pertama papa namanya Mas Kevin pa” Adel mulai mengenalkan.


“Assalamu’alaykum papa mertua” sapa Kevin lirih


Axel dan Aqila mendekat ke samping makam Papanya yang kosong dan ikut berjongkok.


“Halo pa. Ini Axel dan ini Aqila pa” ucap Axel dengan mata berkaca-kaca


“Apa papa sudah bahagia disana?” tanya Axel dalam hati


“Axel selalu doain papa bahagia disana pa, papa disana juga doain kami disini ya pa. Kami sayang banget sama papa. Maaf kami baru nengok papa karena beberapa bulan terakhir kak Adel dalam masa sulit pa. Papa pasti tau kan, pasti sekarang papa lagi main sama cucu opa disana yah. Doakan cucu opa kedua diperut kak Adel sehat ya pa” gumam Axel dalam hati.


Aqila sendiri? Ia diam dengan wajah datar dan pandangan tertuju pada nisan didepannya. Matanya nanar menatap nisan sang papa.


“Assalamu’alaykum papa. Mungkin dari Aqila lahir sampai sekarang Aqila gak pernah liat papa. Aqila gak pernah merasakan pelukan papa, Aqila gak pernah dapat cium dari papa. Tapi Qila yakin papa disana sangat menyanyangi Qila pa. Aqila tau Papa disana pasti sudah bahagia. Qila sangat sayang papa. Doakan mama sehat ya papa dan kami anak papa juga. Tenang disana pa” lirih Qila dengan meneteskan air mata.


Adel sudah berada dipelukan sang suami ia terisak. Rindu yang menyakitkan, rindu yang tak bisa berjumpa harus ia rasakan. Ia teringat ketika Papa nya meninggal dia lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Sekolah mengandalkan beasiswa dan bantuan. Makan dia bekerja paruh waktu. Tak tau tempat dan waktu ia gunakan semaksimal mungkin.


“Aku kangen papa mas” lirih Adel dalam pelukan Kevin


Suaranya pelan tapi masih bisa didengar Kevin. Kevin semakin mengeratkan pelukannya. Mungkin ia belum pernah merasakan tetapi ia faham arti kehilangan sangat menyakitkan.

__ADS_1


“Sabar sayang inget papa udah bahagia disana” ucap Kevin


Adel melonggarkan pelukannya, ia menghapus air matanya dan kembali menatap makam sang papa.


“Papa Adel janji ini yang terakhir kali Adel menangis ketika mengunjungi papa. Adel usahain ketika kemari lagi Adel tak akan menangis lagi pa. Papa pasti bisa melihat kami dari atas sana kan, semoga papa bahagia disana pa. Kami disini juga berusaha bahagia pa. Kami sayang papa.” Mengusap nisan sang papa.


Lalu keempatnya mulai memejamkan matanya untuk berdoa setelah selesai mereka menaburkan bunga. Sampai bunga habis mereka langsung berdiri dan perlahan beranjak meninggalkan makam sang papa.


Adel masih berjalan sambil memeluk sang suami, Axel pun mendekap sang Adik. Ia faham sang adik sangat merindukan sang papa. Sedari kecil ia juga tak pernah mencicipi kasih sayang dari sang papa. Karena Allah lebih sayang sang papa dan mengambilnya terlebih dahulu.


Setelah masuk kedalam mobil mereka langsung meninggalkan makam untuk balik kerumah. Karena kendaraan mulai memadat akhirnya hampir satu jam mereka baru sampai dirumah.


“Kalian ganti baju lalu sarapan yah” ucap Adel pada kedua adiknya.


Axel dan Aqila mengangguk lalu Adel berjalan menuju kamar sang mama.


Ceklek


Terlihat sang mama sedang duduk bersandar diranjang. Mama Angel pun menatap bunyi pintu terbuka, senyumnya pun merekah ketika melihat anaknya masuk.


“Assalamu’alaykum ma” ucap Adel lalu mencium kening sang mama


“Wa’alaykumsalam sayang” jawab Mama Angel


“Kenapa sayang?” tanya Mama Angel


“Mama harus janji untuk sembuh yah” ucap Adel dengan menggenggam kedua tangan sang mama.


“Insya allah sayang. Kalau allah kasih mama kesehatan insya allah mama akan kembali sehat” ucap Mama Angel dengan tersenyum.


“Mama harus semangat sembuh ingat ada cucu mama disini” membawa tangan sang mama untuk menyentuh perutnya. “Cucu mama disini ingin main sama omanya” sambung Adel


“Iya sayang mama janji akan sembuh” ujar semangat Mama Angel. Ia mengusap perlahan perut sang anak. “Hallo calon cucu oma, sehat-sehat diperut mommy kalian yah” ucap Mama Angel lembut.


“Siap oma” Adel menirukan suara anak kecil


Lalu keduanya tertawa bersama, siang itu mereka habiskan bercanda dikamar Mama Angel. Hingga suara ketukan membuyarkan mereka.


Tok tok tok

__ADS_1


“Masuk” teriak Adel


Ceklek


“Sayang” panggil Kevin


“Oh mas Kevin. Ada apa sayang?” tanya Adel lalu perlahan turun dari ranjang


“Kamu belum sarapan lo” Kevin memilih berbisik ia takut membuat mama mertuanya khawatir.


Adel tersentak lalu tersenyum kecil.


“Maaf ya mas, Adel lupa hehe" tersenyum kecil


“Ayo sekarang” ajak Kevin


Adel mengangguk lalu ia berpamitan kepada sang mama sebelum ia pergi dari kamar sang mama.


Adel berjalan menuju meja makan dengan tangan yang masih dipegang erat oleh Kevin. Mulai mengambil duduk lalu menjatuhkan dirinya pada kursi yang tersedia.


Adel mulai mengambil piring tetapi piring itu langsung terbang ketangan Kevin.


“Mas yang ambilin”


“Tapi mas jangan” menggeleng Adel


“Sayang” rayu Kevin


“Baiklah”


Adel hanya bisa mengalah jika berhadapan dengan sang suami. Suami tertampannya sangat mendominan dirinya.


Ia tak bisa berkutik jika sudah ada sang suami. Tatapan tajamnya memang indah tetapi membuat nyali Adel menciut. Tatapan menakutkan dan seringai mengerikan selalu terlintas dalam pikiran Adel. Tetapi ia selalu menepisnya karena memang Kevin tak pernah bersikap kasar pada Adel. Terutama memukul sekalipun dulu pernihan mereka terpaksa atau perjodohan tetapi seinci pun Kevin tak pernah memukulnya.


----*----


Bagaimana dengan part ini?


Komen ya dibawah!!

__ADS_1


Ayo jangan lupa LIKE, VOTE DAN KOMEN YANG BAIK DONG.


apa kalian nangis dalam part ini? Kalau author jujur author nangis. Emang author gak bisa bikin yang cerita yang tentang kematian atau tentang selingkuh begituan bawaannya nangis


__ADS_2