
Malam harinya ketika sudah makan malam, Adel dan Kevin berduaan di balkon kamar mereka. Adel mengeratkan mantelnya sambil menatap bintang dilangit.
Sungguh malam ini ia sangat merindukan sang papa. Tadi sehabis sholat isya’ sekelebat bayangan papanya muncul dipelupuk matanya. Ia merindukan masa dulu ketika bersama sang papa.
Adel memejamkan matanya. Ia mengulang masa-masa kecil yang ia ingat di pelupuk matanya yang tertutup. Badannya ia sandarkan pada kursi yang tersedia dibalkon.
Wajah bahagia sang papa dan mama, kebiasaan sang papa menemaninya tidur. Semua muncul dibenaknya.
“Apa papa bahagia disana? Aku selalu berdoa untuk papa disana, lihatlah dari atas sana pa kalau kami sudah bahagia. Doakan Adel bisa jagain mama dan kedua adik Adel pa” gumam Adel dalam hati
Sungguh rasa rindu yang membuncah dihatinya tak bisa ia salurkan. Rindu yang menyakitkan adalah saat kita tidak bisa melihatnya kembali, tidak bisa bertemu dan tidak bisa menatapnya.
Adel meneteskan air mata di ujung matanya. Ia terisak kenangan sang papa bermunculan di otaknya.
“Hiks hiks”
Kevin spontan menatap sang istri, berpindah duduk didekat Adel.
“Sayang kenapa?” tanya Kevin khawatir
Adel membuka matanya. “Aku rindu papa mas” ucap Adel sambil memeluk tubuh sang suami.
“Aku kangen papa mas, kenangan sama papa bermunculan diotakku mas hiks hiks” Adel makin terisak
Kevin masih mengusap punggung sang istri untuk menenangkan. “Sayang jangan menangis” lirih Kevin
Adel menjauhkan dirinya, matanya masih dibanjiri air mata. Ia menatap kedua mata suaminya. “Apa boleh besok Adel ke makam papa mas” pinta Adel dengan air mata yang berluluran
“Boleh sayang, boleh banget” Kevin mengangguk
“Makasih mas” memeluk Kevin kembali
“Tapi plis jangan nangis lagi sayang, ingat anak kita” Kevin mengingatkan.
Perlahan tangisan Adel mereda, ia menghapus air mata dan ingus di hidungnya memakai tisu yang diambilkan Kevin. Ia menatap perutnya yang sedikit membuncit. Mengusapnya pelan penuh cinta.
“Hallo sayang, kamu sehat kan diperut mommy. Daddy sama mommy sangat mencintaimu nak. Maafin mom malam ini menangis. Mom sangat merindukan almarhum opa sayang” lirih Adel dengan mengusap perutnya.
“Besok kita ziarah ke papa ya sayang” ujar Kevin
Adel mengangguk. “Senyum dong” goda Kevin
Adel pun mengikuti perintah sang suami ia memaksakan senyumnya. Berat pikirannya sedikit berkurang. Mungkin benar jika orang menikah maka kita akan menghadapi masalah itu berdua. Jika kita susah maka kita akan susah bersama. Jika kita bahagia makan kita akan bahagia bersama. Jadi pepatah itu memang benar adanya.
“Ayo masuk yang, angin malam gak bagus buat kamu” ajak Kevin
Adel berdiri dan masuk kedalam kamar, sedangkan Kevin menutup pintu balkon dan tirai. Setelah selesai ia menyusul sang istri diatas ranjang.
Kevin memilih memeluk sang istri, menenggelamkan kepalanya didadanya. Adel merasa hangat, meski hatinya sedih setidaknya ada tempatnya bersandar. Ada tempatnya berbagi dan tempatnya berpulang.
__ADS_1
Kevin juga senang bisa menjadi sandaran dan pundak untuk sang istri. Mungkin ia dulu sempat menolak kehadiran sang istri dan pernikahan mereka. Tetapi sekarang Kevin bersyukur dengan pilihan sang mama. Memang benar jika orang tua akan memilihkan pasangan yang baik untuk anaknya. Mereka tidak akan menjerumuskan anaknya kedalam hal buruk.
Sekalipun diawal kita penuh paksaan tetapi cobalah menerima keadaan itu pasti nanti akan ada hikmah dibalik kejadian yang terjadi.
Kevin bersyukur, setelah ia menikah hati yang dingin selalu hangat ketika bersama sang istri. Ketika ia pusing dengan kerjaan maka ketika sampai rumah lelahnya akan terganti dengan keberadaan sang istri. Suka duka yang dulu ia pendam sendiri sekarang bisa ia bagi bersama istrinya Adel.
Kevin sungguh bersyukur bahwa sang pencipta selalu memberikan kebaikan dibalik kejadian keburukan. Habis hujan pasti akan ada pelangi yang muncul. Itu memang benar.
Hembusan nafas teratur Adel terdengar. Kevin yakini sang istri sudah pasti tertidur pulas. Perlahan Kevin memindahkan kepala sang istri pada lengannya. Ia ingin memberikan kenyamanan sang istri. Karena selama ini sang istri sangat sulit tidur. Ia selalu bolak balik kamar mandi dan letak tidurnya pun selalu tidak nyaman kata Adel.
Kevin pandangi wajah sang istri yang terlelap. Ia cium keningnya perlahan lalu ikut memejamkan matanya.
Keesokan harinya.
Adel dan Kevin memakai pakaian serba hitam keluar dari kamar. Ia berjalan menuju lantai bawah, tapi sebelum itu Adel menghampiri kamar adik perempuannya.
“Qila, sudah bangun” mengetuk pintu sang Adik
“Masuk kak” teriak Qila dari dalam
Ceklek
Aqila menatap kehadiran sang kaka, alisnya mengkerut.
“Kakak mau kemana?” tanya Aqila menatap Adel dari atas sampai bawah.
“Apa kamu mau ikut ke makan papa?” cicit pelan Adel tapi masih bisa didengar Aqila
Jantung Aqila terasa berhenti. Yah dia sudah lumayan lama tidak mengunjungi makam sang papa. Spontan ia langsung menganggukkan kepalanya cepat.
Adel tersenyum. “Ya sudah kamu ganti baju yah” seru pelan Adel
“Iya kak” saut Aqila
“Kaka tunggu bawah” ujar Adel lalu keluar dari kamar sang adik perempuan.
Sedangkan Axel, ia sudah tau dari Kevin. Semalam Kevin sudah mengirim pesan singkat untuk Axel memberitahukan bahwa esok mereka akan ke makam sang papa.
Terlihat sang suami dan adik lelakinya sudah dibawah sambil saling bermain game. Adel tersenyum melihat keakraban sang suami dengan adiknya.
Ya Kevin memang sangat dekat dengan Axel, apa yang terjadi Axel selalu berbicara pada Kevin. Entah masalah sekolah atau apapun. Tetapi jika masalah hati tetap Axel akan lari pada sang kakaknya Adel.
“Kalian mau berangkat apa main game” Adel berkacak pinggang didepan keduanya sambil berpura-pura marah.
“ya mau berangkat sayang tapi kan masih nunggu Aqila sayang” celetuk Kevin menatap sang istri sebentar lalu melanjutkan main game.
“Iya kak bentar lagi” saut Axel tanpa menoleh
“Baiklah” Adel menurunkan kedua tangannya. “Kalau kalian masih main game, Aku bakalan naik taxi sama Aqila” bentak Adel
__ADS_1
Kilat keduanya meletakkan handphonenya dimeja depannya. Menunduk takut pada perempuan yang mereka sayang dan cintai.
“Baru kalau digertak nurut huh” kesal Adel
“Mau berangkat masih sibuk main game” gerutu Adel
Aqila sudah berada dibelakang sang kakak. Ia melihat kakak ipar dan kakaknya kena semprot ibu hamil.
“Hihihi syukurin” ejek Aqila tanpa suara dan memeletkan lidahnya pada Axel
Axel yang memandang pun geram tetapi ia bisa apa. Ia takut bumil didepannya makin murka.
“Ayo” ajak Adel
Adel berjalan bergandengan tangan dengan Aqila. Sedangkan dua lelaki dibelakang mereka.
“Kamu sih” seru Kevin menyenggol tangan Axel
“Lah kok aku sih kak, ya kak Kevin lah” tak mau kalah Axel menyenggol balik
Keduanya masih berdebat sampai didepan mobil.
“Kalian ini udah besar ngapain debat hah” kesal Adel
Kevin dan Axel langsung berhenti. Berjalan perlahan menuju sang istri, Kevin mengusap kepala sang istri.
“Jangan marah terus sayang ingat anak kita” rayu Kevin
“Salah siapa bikin marah terus huh” dengus kesal Adel
“Iya maafin mas yah” rayu Kevin
“Baiklah” Adel memilih mengalah.
Daripada mereka harus berdebat dan berakhir tak berangkat jadinya Adel memilih mengalah.
-----++-----
Bagaimana dengan part ini?
Memang benar kan, Rindu yang menyakitkan itu bukan rindu ketika LDR, tetapi rindu yang menyakitkan adalah ketika kita rindu pada seseorang yang sudah beda alam dengan kita.
Author nangis nulis part ini, soalnya jadi inget sama almarhum cinta pertama author yang ninggalin author😭 ampun dah baper banget
Maafin yah, Agak mellow nih emak malam ini, entah kenapa.
Oh iya ada pengumuman nih, Jangn Lupa iku GC author yah GC JBlack. Disana pasti bakal ada beberapa event kok. Jadi kalian langsung masuk oke.
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE NYA YAH.
__ADS_1
Yang kenceng biar author makin semangat