
"Ai..." panggilan dari arah depannya membuat Airin terbangun dari sebuah lamunannya. Matanya tak fokus menatap untuk beberapa saat, tapi kemudian dia bisa menguasai dirinya kembali.
"Ya,Yan?"
"Sudah waktunya pulang,Ai.apa kamu mau tidur di sini?" goda Yana, sahabat baik Airin, mereka sama-sama mengajar di universitas yang sama.
"Aaa, kamu bisa pulang lebih dulu yan,aku masih ingin di sini sejenak" Memang sudah pukul empat sore, dan waktu nya mereka pulang karena tidak ada jam sore untuk mengajar hari ini,Tapi inilah yang selalu dilakukan Airin satu bulan belakangan ini, Dia akan pulang agak telat setiap harinya. Alasannya sudah pasti karena bosan di rumah sendiri dan malas untuk bertemu sang suami.
Yana mengangguk. Oke,aku duluan ya" jawabnya. Kemudian langsung meninggalkan Airin di dalam ruangannya sendirian.
***
Airin sampai di rumah selepas magrib dan melihat mobil Ibram sudah terparkir di carport rumahnya,
Airin masuk berpura-pura tak melihat ke arah Ibram yang tengah asik berteleponan,saling memuji dan berkata mesra,Airin tau perempuan itu sudah pasti Jenny sang kekasih tapi percuma juga jika Airin melarang tak akan bisa. Airin melewati ruangan itu dan masuk ke dalam dapur rumahnya. Mengambil minuman di dalam kulkas dan meneguknya sampai sisa setengah.
"Apa pantas seorang wanita bersuami pulang jam segini" sindir Ibram
Airin meletakkan gelas nya di atas meja dan menatap Ibram lekat.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Airin sedikit ketus
"Kamu!!"
"Aku punya suami,siapa suami ku?" tanya Airin dengan ekspresi pura-pura tidak tahu
"Jika keluarga mu tau pasti dia akan kecewa anak perempuan nya pulang malam dan tidak mengurus suami! percuma berkerudung"
"Jangan bawa-bawa kerudung ku mas,apa perempuan berkerudung tidak boleh pulang malam" jawab Airin sengit
"Seharusnya kamu bisa menempatkan diri mu Ai"
"Lepas!!"
"Aku suamimu,aku pemilik rumah ini dan kamu hanya menumpang,jadi kamu harus mengikuti semua aturan yang aku buat di rumah ini" tegas Ibram
"Jika kamu tidak suka aku tinggal di rumah ini aku bisa keluar" tantang Airin dengan wajah tak kalah sangar lalu segera pergi.
Ibram juga masuk kedalam kamar nya lalu menutup pintu kamar agak kencang sampai Airin terkejut ketika mendengarnya karena kamar mereka berhadapan.
__ADS_1
Airin semakin hari semakin berani melawan nya tak ada sedikitpun rasa takut perempuan itu pada nya membuat Ibram kesal.
Ibram keluar dari kamar nya pukul 8 malam lalu berjalan ke arah dapur untuk mencari makanan tapi tak di temui nya, biasanya semalam apapun Airin pulang dia akan menyempatkan diri untuk memasak atau pun memanaskan masakan nya untuk Ibram tapi tidak dengan malam ini.
"Ai....mana makan malam nya?" pekik Ibram
"Kamu mau makan? aku pikir kamu sudah kenyang karena puas berteleponan" sindir Airin membuat wajah lelaki itu kaku tak berekspresi dan tatapannya seolah ingin sekali menguliti istrinya yang sedang santai sambil membaca sebuah buku di depan televisi.
"Ai aku sedang tidak ingin berdebat"
"Aku juga tidak sedang berdebat mas,pagi tadi masakan ku tidak kamu sentuh jadi aku bawa semua ke kampus dan aku bagi-bagi kan dari pada mubazir,masih banyak orang yang menyukai masakan ku di luar sana" jawab Airin Santai membuat Ibram naik pitam.
Lelaki yang sudah sah menjadi suaminya ini memang selalu berusaha untuk membuat masalah dan membuat dirinya tak betah. Itu adalah sebuah kesimpulan yang terbentuk di dalam pikiran Airin setelah mereka sudah menjalani pernikahan selama hampir dua bulan ini. Dia tak tahu akan bertahan berapa lama menjalani semua ini, tapi dia tak akan memaksakan dirinya untuk tetap bersama dengan Ibram jika memang dia sudah tak sanggup menjalankannya atau jika lelaki itu yang melepaskan nya.
“Bisakah kamu becus sedikit dalam berperilaku? Saya rasa, kamu tidak perlu saya ajarkan lagi bagaimana caranya melayani suami di rumah "
"Melayani suami bohongan maksud mu" jawab Airin membuat Ibram tak bisa menahan emosi nya,dia segera pergi mengambil kunci mobil lalu keluar rumah.
Sebenarnya Airin tak ingin bertengkar malam ini tapi rasa sakit hati nya terpicu karena mendengar percakapan mesra Ibram dan Jenny tadi sedangkan dengan nya yang berstatus istri sah tak sekali pun Ibram berkata lembut.
__ADS_1