
“Sepertinya aku harus pulang Del” ucap Meli tiba-tiba
Ya setelah drama meledek Rudi yang diakhiri tawa meledak dari semuanya akhirnya mereka memilih menahan tawa. Melihat wajah Rudi yang merah padam mau tak mau mereka semua akhirnya diam. Daripada melihat macan mengaum akhirnya mencari aman.
“Lah kenapa Mel, masih jam berapa ini?” tanya Adel
“Ini lihat, sudah malam. Oh ayolah Aku naik taxi loh” ujar Meli mengingatkan
“Baiklah aku mengalah. Pulanglah” pasrah Adel. “Sejujurnya aku masih rindu padamu hiks” mulai terisak.
Hah kenapa akhir-akhir ini dirinya terlalu melow. Sedikit-sedikit marah, nangis dan bahagia. Adel merasa dirinya juga agak aneh akhir-akhir ini. Tetapi ia tak tau apa masalah pada dirinya.
“Besok kan aku masih bisa kesini” seru Meli memberi pengertian.
“Hah, baiklah” masih dengan nada kecewa
“Kemarilah” menepuk pelan sofa disampingnya. “Aku janji besok aku akan kemari lagi” memeluk tubuh sahabatnya tersebut.
“Janji yah” Tutut Adel menyodorkan jari kelingkingnya
“Iya janji” ujar yakin Meli
Meli berdiri dan mengambil tasnya, cipika cipiki dengan Adel lalu melanjutkan langkahnya mendekati brangkar Aqila. Tetapi belum sampai akhirnya suara berat membuatnya terkejut.
“Mel pulangnya diantar Rudi” ujar santai Kevin
Sontak Meli membalik badannya, membulatkan matanya. Kaget dengan ucapan sang suami dari sahabatnya.
Segera mengibaskan tangannya didepannya. “Tidak perlu” Meli menolak
“Ini sudah malam ,tidak baik wanita pulang sendiri” bukan suara Kevin melainkan suara Rudi menyaut
Glek
Ada apa dengan lelaki ini? Apa dia sakit, atau salah minum obat batin Meli.
Sedangkan Kevin tersenyum tipis. Sejujurnya Kevin sudah tau jika sahabatnya itu memiliki perasaan pada wanita yang tak lain sahabat dari istrinya. Tetapi sayangnya Rudi belum menyadari.
“Aku kan naik taxi, pasti aman” berusaha menolak
“Jika kau tidak mau diantar Kak Rudi. Kau tidur disini” suara terdengar mengancam. Bukan suara kedua lelaki itu melainkan suara Adel.
Dengan pasrah akhirnya Meli mengangguk, mau bagaimana lagi, menolak sahabatnya pun percuma.
Berpamitan pada Aqila lalu meninggalkan ruangan diikuti oleh langkah Rudi yang berada didepannya. Berjalan masih menunduk tak berani mendongak menatap punggung lelaki didepannya.
“Ck dasar jantung melihat dari belakang saja sudah berdetak kencang” gerutu Meli
Akhirnya sampailah mereka ditempat parkir. Sebelum meraih handle pintu belakang suara Rudi membuat Meli mematung.
__ADS_1
“Duduk didepan! Aku bukan supirmu” Ketus Rudi
Mau tak mau Meli menggeser tubuh dan masuk dikursi samping kemudi.
“Kalau bukan demi Adel sudah pasti aku ceburkan lelaki ini ke laut” gerutu Meli dalam hati.
Hanya bisa mencaci dari hati, Adel tak bisa mencerca langsung karena bagaimana pun lelaki disebelahnya itu adalah lelaki baik yang mau membantunya saat keuangan ia rendah.
Mobil melaju di jalan yang masih terlihat padat. Mobil lalu lalang ke kanan ke kiri. Banyak warung yang masih buka dan penjual kaki lima juga tak kalah semangat untuk membuka warungnya.
Melihat makanan yang diinginkan Meli. Dengan tiba-tiba Meli menyuruh Rudi berhenti. “Berhenti”
Ckittt
Dug
“Uhhhh” mengeluh karena tak sengaja kepalanya kepentok stir
“Kenapa kau bilang mendadak sekali” menatap tajam kearah Meli
“Maafkan aku” wajahnya penuh sesal
“Mau apa kau menyuruh berhenti?” tanya dingin Rudi
“Aku ingin membeli cakwe hehe” cengengesan. “Astagfirullah dahimu” sontak Meli mendekat dan memegang dahi lelaki disampingnya yang sudah memar.
Deg
“Oh astaga kenapa jantung tidak tau diri sekali” gerutu Rudi dalam hati
“Sudah tidak apa-apa, sana belilah” berkata lembut
“Baiklah” Meli mengangguk lalu berjalan keluar.
“Tumben sekali dia bisa lembut. Apa karena kepalanya kepentok stir hihi” cekikan dengan menutup mulutnya.
Beberapa menit kemudian Meli kembali dengan membawa 2 bungkus berisi cakwe.
“Ini” menyodorkan 1 bungkus pada Rudi.
“Terimakasih” menerima lalu meletakkannya disamping
Setelah melihat Meli selesai memakai sabuk pengaman akhirnya Rudi melajukan lagi mobilnya. Sesekali telingan Rudi mendengar senandung dari bibir mungil perempuan disampingnya.
Meli yang asyik memakan cakwe sambil bersenandung kecil tak menyadari jika ada yang mencuri pandang kearahnya.
Sesampai didepan Kos Meli.
“Aku pulang dulu ya, terimakasih om” ucap Meli tulus
__ADS_1
“Sebentar” menahan tangan Meli. “Ada apa?” tanya Meli
“Jangan panggil aku om lagi, apa aku setua itu?” tanya Rudi tetapi tatapan dan ucapannya melembut
“Tidak. Baiklah aku panggil mas” saut Meli dengan senyum tipisnya.
“Oke, sana masuk” mengibaskan tangannya ke perempuan disampingnya.
“Bye” melambaikan tangan lalu keluar dari mobil.
Rudi masih menatap punggu wanita itu dari mobil, setelah yakin perempuan itu masuk akhirnya Rudi meninggalkan lokasi kos Meli untuk kembali ke rumah sakit.
“Ternyata dia gak seburuk itu” gumam Meli dan menjatuhkan dirinya di ranjang.
Perlahan Meli langsung terlelap mungkin perut yang sudah kenyang dan mengantuk akhirnya membuatnya cepat tertidur.
Sedangkan Rudi, sepanjang jalan senyum mengembang di wajahnya. Hah mungkin karena ia bisa ramah pada wanitanya atau karena rasa kagum nya berganti cinta.
--*--
Dirumah sakit
“Sayang” panggil Kevin
“Hm” saut Adel
“Menurutmu bagaimana melihat tingkah mereka berdua yang” celetuk Kevin
“Lucu aja mas, Meli yang kocak dan Rudi yang dingin kayak kamu” cekikikan ketika mengingat tadi wajah Meli dan Rudi.
“Semoga mereka berdua berjodoh sayang” doa Kevin
“Aamiin” saut Adel
“Rey Rey itu sayang, apa mereka dekat?” tanya Kevin
“Entah mas, nanti aku hubungi Tio yah” seru Adel
Kevin menganggukkan kepala ke arah istrinya. Ia berdoa semoga Rudi dan Meli bisa menyusul mereka. Meski keduanya sekarang sudah seperti tom & jerry.
--*--
Maaf yah baru up lagi Author. Kemarin mau up 2 episode gak bisa karena anak lagi sakit jadi mohon maaf yah.
Jangan lupa VOTE yah karya author biar author semangat nih.
Jangan lupa masuk GC author yah, taati rules yang ada. Tenang GC saya aman, damai dan nyaman.
terimakasih 😊
__ADS_1