
" Ini" ujar Ibram memberikan satu kartu kredit pada Airin
"Apa ini mas?" tanya Airin tak mengerti
"kartu kredit"
"Ya aku tau ini kartu kredit tapi buat apa? aku tidak butuh mas karena aku tidak pernah belanja utang" jawab Airin jujur tapi justru sedikit menyentil Ibram
"Kamu bisa belanja semau mu sebagai nafkah dari ku Ai,jadi tak ada tuntutan di kemudian hari jika kita berpisah"
"Ha!!! nafkah buat apa mas? nafkah itu di berikan suami untuk istri yang melaksanakan kewajiban aku nggak mau!" tolak Airin
"Kamu nggak perlu melaksanakan kewajiban nya Ai,cukup terima saja"
"Aku juga nggak berhak menerima nafkah nya mas,aku masih ada uang sendiri"
"Ribet amat sih kamu Ai" jawab Ibram mulai kesal
"Mas,aku nggak ribet kamu nya yang buat semua ini jadi ribet, kemarin-kemarin kamu kemana aja,kok baru sekarang ingat nafkah,takut aku aduin atau aku bongkar kalau seorang Ibram Pangestu,akuntan terkenal nggak ngasih nafkah sama istri nya! gitu??"ucap Airin
"Kalau iya nggak usah takut mas,aku nggak akan bongkar kok,aku masih simpan aib kamu rapat-rapat selagi kamu bersikap baik sama aku" lanjut Airin
"Jadi kamu nggak mau terima ini?" tanya Ibram lagi dan di jawab dengan gelengan oleh Airin
"Bukan nggak mau mas tapi nggak pantes aja rasanya,bukan nya kemarin istri tersayang kamu bilang semua keperluan rumah dan kamu dia yang urus jadi aku masih bisa ngidupin diri aku sendiri"tegas Airin lagi
"Ai....tolong jangan bahas dia dulu,kita masih di rumah mama,bukan nya semalam kita sudah sepakat untuk itu"
"Bukan nya kamu yang memancing aku untuk bicara seperti ini mas"
Ibram mengambil kembali kartu kredit yang dia berikan tadi dan keluar dari kamar dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Bisa-bisa nya dia nolak pemberian ku,apa hebat nya dia hanya dosen biasa, seberapa besar sih gaji nya sampai sebegitu sombong nya" gumam Ibram
***
Ibram yang memang lahir di Semarang dan memiliki banyak teman memilih nongkrong malam ini,dia terlanjur kesal pada Airin.Menghidari pertengkaran lebih baik dia memiliki pergi sejenak,jika di Jakarta dia akan memiliki pergi bersama Jenny ini lah yang menyebabkan Ibram bergantung pada Jenny, perempuan itu selalu bisa membuat nya nyaman menurut Ibram.
"Kapan acara Nita,ram?" tanya sahabat Ibram
"Tiga hari lagi"
"Kamu kemari bersama Jenny?"tanya Diko
"Bukan! Airin"
"Jenny?"
"Tinggal di Jakarta,kalau aku bawa dia yang ada bukan acara pernikahan Nita,tapi acara pengusiran aku" jawab Ibram terkekeh kecil
Mereka bersahabat cukup dekat hingga Ibram menceritakan semua tentang dirinya dan Jenny lalu perjodohan nya dengan Airin.
****
Airin melihat jam dinding pukul 11 malam tapi Ibram belum pulang apa dia marah karena tadi pikir Airin.
Beberapa kali Airin menghubungi ponsel Ibram tapi tidak di angkat
"Tok....tok...."
Airin segera membuka pintu kamar nya
"Kak....ini mas Ibram seperti nya mabuk" ucap Nita
__ADS_1
"Mabuk!!"
"Iya,buruan bawa masuk kak,ntar malah ketauan papa sama mama bisa gawat"
"Ayo Nit,mbak bantu" ucap Airin membantu Nita untuk memapah Ibram,tadi nya semua anggota keluarga sudah istirahat tapi Diko menghubungi Nita dan mengatakan kalau Ibram mabuk, akhirnya Nita yang keluar menjemput Ibram.
"Ada-ada aja kamu mas,kenapa bisa mabuk sih" oceh Airin
"Makasih ya Nit"
"Iya mbak,di jaga ya,jangan sampai papa sama mama tau,bisa gawat"
"Iya.. makasih ya"
Nita mengacungkan jempol nya lalu keluar kamar Ibram.
Airin membuka sepatu Ibram lalu mengganti kemeja nya dengan kaos, untuk celana nya Airin tidak berani dia lebih mencari aman.
Di pandanginya wajah tampan Ibram yang sedang tertidur pulas, bibir seksi dengan rahang yang tegas dan alis tebal menggambar kan lelaki keras kepala menurut Airin.
"Ai....kenapa kamu sombong sekali" gumam Lelaki berwajah tampan itu membuat Airin tersentak kaget
"Berapa besar gaji kamu sampai menolak nafkah dari ku" racau Ibram lagi
Airin tersenyum kecil rupanya lelaki ini masih kesal dengan nya hingga sampai mabuk, awalnya Airin sempat mengira Ibram mabuk karena Jenny tapi kini dia tau Ibram mabuk karena kesal pada dirinya ternyata dia cukup berpengaruh dalam hidup Ibram saat ini.
Airin mengusap lembut kepala Ibram
"Andai saja kamu bisa meninggalkan Jenny mas sudah pasti pernikahan kita akan bahagia tanpa perlu kebohongan" gumam Airin
"Ntah sejak kapan hati ku terpaut pada mu mas,tapi harus aku kubur dalam-dalam rasa itu" lanjut nya pelan tanpa sadar menitikkan air mata
__ADS_1
Airin menarik selimut untuk menutupi Ibram dan memberikan pembatas guling di tengah-tengah mereka, meskipun tak bisa jadi istri seutuhnya untuk Ibram setidaknya Airin sudah pernah merasakan satu ranjang dengan suami bohongan nya ini.