
Wham! Wham!
Bomo mengeluarkan aura pembunuhnya mengancam Juli, ‘Bocah gembel! Sekarang rasakan Aura pembunuh ku ini, akan ku buat kau kencing di celana’ batin Bomo semakin meningkatkan aura pembunuhnya untuk menekan Juli,
Wham! Wham!
Juli terlihat biasa saja terhadap aura pembunuh miliknya, hingga membuat Bomo semakin murka, “Bocah Sialan! Apa kau mau mati!” Ancamnya seraya memacu hyena tunggangnya dengan cepat kearah Juli.
Hiak! Hiak! Hiak!
Khing! Khing! Khing!
Hyena terus melaju kencang seolah anak kecil berbaju compang camping itu hendak melarikan dari walaupun kenyataan ia hanya berdiri santai saja, “Cepat! Ke tempatnya sebelum anak itu kabur!” Teriak Bomo pada tunggangannya.
Juli tertawa melihat nafsu membunuh Bomo yang di tujukan terhadapnya, “Hahaha, Tua bangka! Kau selalu bersemangat jika untuk membunuh orang lemah, aku suka orang bersemangat sepertimu, jadi cepat kemari!” Juli tertawa senang, ia bahkan bahkan tidak bergeming dari tempatnya.
Khing! Khing! Khing!
Bomo langsung mencabut pedang dengan murka, “Nak! Kau sungguh anak ayam baru menetas yang hendak menantang Singa!” Teriak Bomo sambil menebas leher Juli yang masih berdiri santai.
Swuuusss!
Tebasan itu sangat cepat kearah leher Juli, tetapi itu bahkan terasa seperti menebas angin yang tidak mengenainya sama sekali, hal itu membuat Bomo penasaran, ‘Kenapa?! Apa pedang ku pendeknya sehingga tidak mengenai lehernya karena aku di atas Hyena ini’ pikir Bomo penasaran.
Juli senyum melihat kebingungan Bomo, sebenarnya Juli menghindar secepat kilat yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata setingkat Bomo, “Hahaha, Kau benar benar anak ayam…” Goda Juli yang membuat Bomo semakin marah.
Bomo kini mulai merasa aneh terhadap Juli, jadi ia ingin menguji kemampuan Juli dengan Hyena tunggangannya, “Dodoh! Makan bocah bau ini!” Teriak Bomo memerintahkan Hyena untuk menyerang Juli.
Khing! Khing!
Hyena berpangkat satu putih itu menerjang maju melompat menerkam Juli, belum dekat mulutnya dengan Juli sebuah tamparan ringan tangan Juli mengarah pada Hyena.
“Smash!!” Gumam Juli senyum.
WUUSSSSSSS PLAK!!!!
Tamparan Juli itu menyebabkan terbentuknya sebuah tapak tangan besar dari Tenaga Dalam yang menyapu habis apapun di depannya termasuk Bomo, begitu mereka terkena tamparan Juli, mereka melesat cepat bagaikan dua butir peluru.
PRAK! PRAK!
Syuuuuuuuu……
Syuuuuuuuu……
Aaaaaaakkkk!!
Aiiinnnnggggg!!!
__ADS_1
Bomo dan Hyenanya menghantam tanah terpental jauh sampai dua puluh meter jaraknya,
BROOOOOOMMMM….!!!
Aaaaaaaaakkkk!!
Aiiinnnnggggg!!!
Bomo dengan cekatan bangkit “Apa aku mimpi?” teriaknya mulai frustasi, dan ia merasa sakit di sekujur tubuhnya terutama di gusinya, ia segera meraba memeriksa gigi depannya,
Saat itu lah ia sangat terkejut dan frustasi. “Apa ini! Kemana semua gigi-gigi ku?!” Teriak Bomo marah karena giginya telah copot.
Melihat kepanikan Bomo kehilangan gigi, Juli tertawa lantang, “Hahaha… Dasar tua bangka, kau ini sungguh lucu, kau malahan lebih baik ompong.. Kau ini.. Baru pangkat dua perak telah congkak dihadapan ku” Tawa Juli seraya mendatangi Bomo dan tunggangannya yang telah terluka di sekujur tubuhnya.
Mendengar perkataan Juli orang itu kini mulai gemetar, “Ba.. Bagaimana Anak sepertimu yang bahkan belum memiliki Pangkat sudah memiliki kemampuan sehebat itu” Bomo mulai pucat saat didatangi Bocah gembel yang kini telah menjadi momok yang menakutkan baginya.
Juli senyum dingin, “Bukankah, kau bilang kau itu singa.. dan aku anak ayamnya?” Ejek Juli mulai mengepalkan tinjunya.
Bomo semakin pucat saat melihat gepalan tangan kecil Juli itu dapat membentuk gepalan angin raksasa di atasnya, “Ja… Jangan pukul aku.. a.. anak baik, jangan pukul kakek” Bomo mengangkat tangannya menyerah.
Juli senyum tinju masih di gepalkan belum dihantam, Juli menoleh pada Hyena tunggangan Bomo yang telah Pingsan,
“Kau lumayan kuat Bomo! Tamparan pertamaku Hyena mu mati dan kau masih bertahan dengan kondisi yang memperihatinkan, nah sekarang aku akan menghajar mu, hahhah, ini sungguh menyenangkan” galak tawa Juli sambil menghantamnya dengan tangan kecil disusul hantaman tenaga dalamnya .
Wussss… WUUUSSS….
Bhom!
BROOOOMM!!
AAAAAAAAKK!!
Bomo menempel di tanah yang membentuk kawah dengan keadaan tergeletak menyedihkan. “Aaaaaakkk.. semua tulang-tulang ku patah.. Tengkorak ku retak semua.. se.. sebenarnya… si.. siapa kau? Kenapa orang sekuat diri mu tidak terkenal di dunia persilatan” tanya Bomo terbata-bata, ia kini benar-benar tidak berdaya di depan bocah gembel yang baru ditemuinya.
Juli perlahan menuruni kawah yang terbentuk akibat hantaman tenaga dalamnya, wajah Juli senyum gembira saat mendatangi Bomo yang tergeletak tak berdaya,
“Bomo! Aku lihat tadi kamu punya cincin ruang, sini berikan padaku” Juli menjulurkan tangannya meminta,
Sementara kondisi tubuh Bomo saat ini bahkan untuk membuka mulutpun hampir tidak memungkinkan apa lagi harus mengangkat tangan yang telah patah-patah.
"Amm.. Ampun"
Juli tertawa senang “Hahaha, maaf aku lupa.. kau bahkan tidak mampu bergerak, baiklah aku akan membantumu mengambilnya” Juli langsung menarik tangan patah Bomo secara paksa.
Whap! Krek!
Aaaaaakkk!!!
__ADS_1
Begitu tangan Bomo dihentakan secara kasar oleh Juli, kesakitan luar biasa akibat patah tulang langsung dirasakannya, sehingga Bomo menjerit sejadi-jadinya.
“Aaaakkhh! Ja.. Jangan… itu cincin pusaka ku” teriak lemah Bomo yang berusaha mempertahankan Cincin Ruang dari rampokan Juli, akan tetapi Juli terus mematahkan jari-jari tangan Bomo guna mempercepat mengambilnya.
AAAAAAKKK!!
SAKIT.. AMPUN.. JANGAN……!!
Jeritan kesakitan Bomo sampai terdengar menyayat hati, akan tetapi Juli justru tersenyum senang,
“Hehehe, Tua bangka, kau telah banyak merampok, membunuh, menyiksa, sekarang ini harta rampasan mu menjadi milikku! Hahaha, Lagi pula, kau sebentar lagi akan mati…” Juli senang setelah merampas cincin milik Bomo.
Bomo menjadi stress dan frustasi berat, karena kekayaannya yang ia kumpulkan selama hidupnya kini dirampok oleh Juli, dan dirinya telah dihajar sampai tak berbentuk, akhirnya ia hanya bisa berteriak lemas,
“To.. Tolooong… A… Ada rampok.. Siapapun.. Tolong.. Anak kecil ini merampok ku.. Merampok kekayaan ku.. siapapun tolong aku….”
“Hahaha..”
Juli terus tertawa mendengar jeritan Bomo, teriakan minta tolong Bomo tidak ada seorangpun yang mendengarkan karena di daerah ini merupakan tempat yang sunyi dari keramaian,
Juli segera memeriksa isi cincin Bomo, “Coba ku periksa, apa saja barang dalam cincin ruang mu?” Juli terus memeriksa isi satu persatu, “Hahaha, kau rupanya sangat kaya, banyak batu siluman tingkat menengah dan beberapa tingkat tinggi, dan ini ada ribuan keping emas, sepertinya ini hasil simpanan mu dari semenjak muda ya? Kau memang orang yang hemat,” Juli menoleh kearah Bomo dengan senyum penuh makna.
“Syit!” Juli menggigit ujung jari telunjuknya hingga berdarah, perlahan ia menghampiri tubuh Bomo yang masih tergeletak hampir tidak sadarkan diri, Bomo semakin gemetar hingga kencing tanpa terasa keluar, karena Bomo dapat merasakan apapun itu pasti hal yang mengerikan akan segera terjadi kepadanya.
“Ja.. Jangan! Apa yang hendak kau lakukan padaku..” Bomo telah pucat pasi bagai mayat, ketakutannya tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata lagi.
Juli senyum dingin, “Jangan takut tua bangka! Aku akan mengambil ingatan mu, dan menjadi kau sebagai budak ku, hahaha” tawa Juli sambil menulis tuliskan kutukan kuno di jidat Bomo, dengan kutukan ini Bomo sepenuhnya atas kendali Juli sehingga Bomo tidak bisa melakukan apapun tanpa seizinnya.
Bomo memelas dengan sisa-sisa tenaganya, “Jangan! Jangan! Tolong! Jangan! Jangan lakukan itu” teriak putus asa Bomo terkencing-kencing, namun hal itu tidak mengurungkan niat Juli untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Teriak Kesakitan Bomo terdengar mengerikan, setelah pekerjaannya selesai baru Juli melepaskan Bomo.
Bomo sekarang bisa merasakan bagaimana menakutkan Juli sebenarnya ia tidak pernah terbayangkan bahkan dalam mimpinya sekali pun seorang anak kecil berwatak monster seperti Juli, tubuhnya terus gemetar ketakutan dia bahkan tidak berani menatap Juli lagi, namun satu hal yang aneh, “Tubuh Bomo Sembuh seperti sedia kala”.
“Bomo!”
“I.. Iya Dewa! Hamba menurut!”
“Coba katakan siapa aku! Bomo”
“Dewa.. adalah Tuan Hamba!”
“Baik! Mulai sekarang mari kita Berburu… hehehe, Sebenarnya, tidak asik hanya mendapatkan pelayan tua ompong ini, tapi.. dari pada tidak ada sama sekali, ya sudah lah.. nanti kita cari yang gagah-gagah dan cantik-cantik.. sementara yang ‘Metik’ ini kita daur ulang saja.. hahahah” ujar Juli sambil geleng-geleng kepala.
“Aaa Aku.. di daur ulang?! Apa itu daur ulang Dewa?”
“Huh! Apa ya?!”
__ADS_1
**